Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 318 S2 (Drama Pagi Di Kediaman Hasya)


__ADS_3

Tepat jam sembilan malam keduanya tiba di tempat tujuan. Valdo terkejut melihat kehadiran adik iparnya di malam yang sudah mulai sepi pada saat penghuni rumah mulai memasuki peraduan.


“Hei, apa gerangan yang membawa kalian malam-malam sampai di sini?” Hasya dengan semangat menyambut Khaira yang langsung memeluknya.


Ivan hanya tersenyum sambil mengucapkan salam melihat keterkejutan yang tergambar di wajah keduanya.


“Ih aceem..... “ Hasya melepaskan pelukannya dan langsung menggandeng tangan Khaira menuju ruang keluarga.


Khaira mencubit lengan saudaranya, “Nggak kok, masih wangi ini ....”


Ivan dan Valdo saling melempar senyum mendengar kehebohan kakak dan adik di tengah keheningan malam.


“Ada apa?” Valdo tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya dan langsung menahan langkah Ivan yang membuntuti istri dan kakak iparnya.


“Bumil lagi ngidam pengen nginap di sini .... “ ujar Ivan to the point.


“Serius?” Hasya menghentikan langkahnya seketika dan berbalik menghadap Khaira.


Khaira menganggukkan kepala dengan raut wajah yang langsung berkaca-kaca  tak mampu membendung rasa bahagia.


“Alhamdulillah ya Allah.... Engkau kembali memberikan kepercayaan pada ade kami .... “ Hasya langsung berucap syukur dan memeluk Khaira kembali, “Udah berapa lama?”


Khaira menggelengkan kepala seketika.


Hasya memandangnya dan Ivan bergantian, “Kok gak ketauan? Udah USG?”


“Belum mbak. Taunya baru tadi siang, karena Rara pingsan dan dilarikan ke Puskesmas,” jelas Ivan merasa bersalah.


Kini ia yakin bakal disidang atas kealpaannya membiarkan sang istri dilarikan ke Puskesmas tanpa ia dampingi. Bisa-bisa terjadi perang dunia ketiga atau ia bakal mendapat tausiyah sepanjang malam.


“Astagfirullahal’adjim, kok sampe pingsan?” Hasya menatap tajam pada Ivan yang kini mengalihkan pandangan pada sang istri dengan tatapan memelas.


“Harus kita rayakan ini, karena akan menambah anggota keluarga baru lagi .... “ Valdo berkata sambil menepuk pundak Ivan untuk mengalihkan pertanyaan istrinya.


“Aku nggak tau kalau sudah isi mbak. Begitu diperiksa di Puskemas bidannya bilang kalo udah ada .... “ Khaira memahami kegundahan yang tergambar di wajah Ivan.


Tangisan Hasya langsung tumpah, karena berita yang dibawa keduanya benar-benar di luar dugaannya. Tanpa meminta pendapat Khaira, ia segera menghubungi saudara mereka yang lain untuk menyampaikan kabar bahagia itu.


Ivan dan Valdo duduk berdua di ruang keluarga, sedangkan Khaira dan Hasya sudah ke kamar tamu yang biasa mereka gunakan  selama menginap di tempat Hasya.


“Istriku memang sensi kalau sudah menyangkut adik perempuannya itu,” Valdo berkata pelan saat sudah tinggal berdua Ivan.


Tak lama bi Asih datang menyediakan kopi dan snack untuk menemani keduanya yang bercerita dan saling bertukar informasi.


“Ini benar-benar diluar dugaan kami, mas,” Ivan berkata dengan perasaan bahagia campur haru yang luar biasa.


“Saat mengandung si kembar, kondisi ade benar-benar drop .... “ Valdo membuka kembali awal kehamilan Khaira, “Hasya menangis gak pake berenti, hingga Qeela ku titip di rumah ibu, karena ia ingin menjaga ade sepanjang hari.”


Ivan terdiam mendengar ucapan  Valdo. Ia menarik nafas dengan perasaan berkecamuk membayangkan kesusahan yang dialami sang istri.


“Kami mengetahui kehamilan ade, ketika bulan ketiga kamu pergi membawa Bryan dan mantanmu .... “


Rasanya tidak sanggup bagi Ivan mendengar cerita Valdo. Tapi ia sangat penasaran dan tidak ingin melewatkan semua fase yang dilalui Khaira saat membawa si kembar dalam kandungannya.

__ADS_1


Walaupun perasaan sedih dan sesal bercampur di kepalanya, tapi ia bersyukur karena Valdo mau bercerita tentang semuanya hingga ia bisa mengambil sikap untuk menjaga dan mendampingi Khaira selama kehamilannya kali ini.


“Kamu tau saudara iparmu yang lain? Mereka begitu overprotectif  menjaga ade hingga ia merasa aman selama menjalani masa kehamilan.”


“Maafkan semua kesalahanku mas,” Ivan  mengusap wajahnya dengan perasaan sedih membayangkan masa itu.


“Kamu sempat bersenang-senang dengan mantanmu?” akhirnya Valdo tak bisa menyembunyikan rasa penasaran akan perilaku Ivan saat bersama perempuan masa lalunya.


Ivan terdiam.


“Maafkan aku,” Valdo cepat menyadari bahwa pertanyaannya terlalu menyimpang jauh, “Kamu gak perlu jawab. Kita sudah sama dewasa, dan kita tau kebutuhan  kita.”


Valdo tertawa sumir setelah melihat Ivan tak menjawab. Ia yakin bahwa terjalin hubungan antara Claudia, apalagi Ivan adalah laki-laki normal.


Kucing mana yang menolak jika di hadapannya terhidang santapan segar, ya kan ....?


“Semuanya hanya tentang Bryan. Tidak ada hal istimewa yang terjadi antara aku dan Claudia. Semua hanya masa lalu.”


Valdo menatap Ivan tak percaya. Ia menggelengkan kepala masih dengan keyakinannya sendiri.


“Mas Ariq dan yang lain memutuskan untuk mengganti identitas ade, begitu mendengar kamu akan menikahi Claudia untuk memberikan keluarga kecil bagi Bryan. Apalagi media luar  banyak memberitakan kedekatan kalian .... “


“Sungguh masa lalu yang sangat ingin ku lupakan .... “ Ivan berkata dengan penuh penyesalan.


Valdo memandang Ivan dengan kening berkerut. Ia dapat menangkap raut keseriusan Ivan baik dari sikap maupun tutur kata yang keluar dari bibirnya.


“Hingga ade melahirkan si kembar di Singapura, kami semua mendampingi selama prosesnya,” Valdo mengenang kembali saat-saat semua disibukkan dengan kelahiran si kembar.


“Memang ku akui, hampir terjebak dengan permainan Clo ... “ Ivan mengusar rambutnya dengan kasar, “Entah kenapa, tiba-tiba perasaan mual datang saat ia sudah memasrahkan dirinya di hadapanku ....”


“Hingga kepergian Bryan membuka mata dan pikiranku, bahwa Rara tidak salah dan aku yang terlalu terburu-buru .... “


“Sudahlah. Semua memang sudah berlalu,” Valdo tersenyum tipis, “Kini Allah telah menakdirkan kalian untuk bersama membina keluarga kecil, dan bahkan sudah dipercayai untuk menambah momongan lagi.”


“Benar mas. Dan aku sangat bersyukur kali ini.”


“Hoaaammmm ..... “ Valdo tak bisa menahan rasa kantuknya, “Maaf ....”


Ia tersenyum dengan perasaan tak enak karena menguap panjang. Apalagi jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Tak terasa sudah hampir tiga jam mereka menghabiskan waktu bersama.


“Sebaiknya kamu istirahat sekarang,” ucap Valdo seketika, “Aku yakin kamu juga lelah menempuh perjalanan semalaman ini.”


Ivan mengangguk lega. Ia senang telah bertukar cerita dengan Valdo tentang masa lalu Khaira selama kehamilannya, karena iparnya yang lain tidak mungkin sebebas Valdo dalam mengungkapkan pendapat mereka.


Dengan pelan  Ivan membuka pintu kamar. Lampu kamar masih terang benderang. Senyum tipis hadir di sudut bibirnya melihat pakaian santai telah tersedia di atas nakas di samping tempat tidur.


Ia berjalan mendekati tempat tidur. Khaira telah tertidur dengan lelap dalam balutan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya menyisakan kepala saja yang terlihat.


Untung saja dalam perjalanan mereka telah meluangkan waktu mampir di masjid melaksanakan ibadah Magrib hingga Isya dan mengisi perut, karena Ivan sadar, Khaira harus teratur jam makannya. Bukan hanya ia sendiri, tetapi janin yang kini mulai bertumbuh memerlukan nutrisi.


Dengan cepat Ivan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar dapat bergelung dengan istrinya yang kini telah mengarungi mimpi. Ia juga memerlukan istirahat agar staminanya kembali pulih.


Senyuman terbit di wajahnya saat telah membaringkan tubuh di samping Khaira. Aroma wangi shampo memanjakan indera penciumannya. Ivan meraih istrinya membuat keduanya kini berhadapan.

__ADS_1


Jemarinya mulai menyusuri wajah ayu dengan pahatan alami ciptaan sempurna dari Yang Kuasa dan  selalu bertahta di dalam sanubarinya. Hembusan nafas teratur terdengar lirih di telinganya.


Ia mencium kening Khaira dan memejamkan mata meresapi  wangi lembut wajah sang istri. Walau pun keinginannya untuk mengayuh bahtera asmara belum tercapai, Ivan tak memusingkannya lagi. Berita bahagia atas kehamilan Khaira telah mengenyampingkan semua hasrat yang bergelora di dada.


Pagi sekali Khaira terbangun mendengar suara muntah-muntah. Ia membuka mata dan menyadari bahwa Ivan tidak berada di sampingnya. Ia mengalihkan tatapan pada jam dinding yang menunjukkan pukul empat.


“Hoek ... hoek .... “ suara itu terdengar lagi.


Khaira bangkit dari pembaringan dan menuju arah suara. Ia melihat Ivan sedang memuntahkan semua isi perutnya di dalam wastafel kamar mandi.


“Mas .... “ Khaira menghampiri suaminya dengan perasaan khawatir.


Ia langsung memijit tengkuk Ivan, berusaha membantu menghilangkan rasa mual suaminya.


Ivan merasakan lemas. Tapi  sentuhan dan pijitan istrinya membuatnya merasa nyaman. Ia berdiri tegak. Rasa mual kembali datang menyerang.


“Kenapa rasanya lemes sekali. Perasaan aku gak ada makan yang aneh ....” Ivan berkata dengan lesu.


Senyum kecil terbit di ujung bibir Khaira. Ia mengambil tissue yang berada di sisi wastafel, dan membersihkan bibir Ivan yang kelihatan pucat.


“Ayo kembali ke tempat tidur. Aku akan membuat  teh hangat untuk mas .... “ ujar Khaira lembut sambil menggandeng lengan kokoh suaminya.


“Aku ikut .... “  Ivan tak mau ditinggal sang istri.


“Katanya lemes,” Khaira menatap Ivan yang membuntutinya ke dapur.


“Nggak bisa jauh dari kamu,” Ivan berkata terus terang.


Entah kenapa sejak terbangun dari tidurnya karena merasa mual hingga akhirnya memuntahkan seluruh isi perutnya, Ivan tak bisa melepaskan pandangan dari sang istri, maunya berdekatan terus.


Tawa lirih keluar dari bibir Khaira. Ia tidak pernah melihat sisi lemah dari sang suami. Tapi pagi ini kelakuan Ivan benar-benar aneh. Ia membiarkan Ivan terus menempel saat ia mengambil air di dispenser.


“Eh, mbak Rara dan mas Ivan .... “ bi Asih terkejut melihat keduanya di dapur sepagi itu dengan Ivan yang berdiri rapat dengan sang istri.


Ia tersenyum malu membuang muka melihat keduanya yang tampak mesra seperti prangko.


“Mas Ivan gak enak badan, lemes katanya .... “ Khaira berkata sejujurnya pada perempuan  yang sudah lama bekerja pada saudarinya.


“Apa mbak Rara hamil, dan mas Ivan yang ngidam?” akhirnya bi Asih menebak langsung.


“Apa benar Yang?” Ivan merasa tertarik mendengar ucapan bi Asih.


Tanpa mempedulikan bi Asih, dengan santainya ia merangkul Khaira yang sedang menyeduh teh.


“Mas .... “ Khaira merasa tidak nyaman karena ada bi Asih yang menyaksikan segala tingkah laku Ivan.


“Biar aja mbak. Namanya orang ngidam. Kalo gak dituruti nanti dedenya ileran,” sela bi Asih cepat.


“Lho ... lho ... ada apa rame-rame di dapur?” pertanyaan Hasya membuat ketiganya menoleh serempak.


Ia melihat Ivan yang masih merangkul Khaira dengan erat tanpa mempedulikan kehadiran mereka.


“Ini lo bu, mas Ivan maunya nempel terus kayak prangko sama mbak Rara. Ngidamnya ini beda ....” jelas bi Asih membuat Hasya tertawa seketika.

__ADS_1


“Rasain,” Hasya terus tertawa membuat Valdo pun muncul sehingga dapur menjadi rame.


Valdo tinggal geleng-geleng kepala mendengar pembicaraan mereka yang mentertawakan kekonyolan Ivan yang tak bisa jauh dari sang istri. Pada kehamilan Khaira kali ini nampaknya Ivan akan terbebani dengan hamil simpatik.


__ADS_2