
Ivan membuka mata. Ia terkejut saat menyadari dirinya sudah berada di sebuah kamar yang lampunya temaram. Ia mengingat, beberapa jam yang lalu ia masih menikmati anggur yang dihidangkan Claudia untuk menjamu Edward dan temannya.
Pikiran Ivan bekerja cepat berusaha mengingat keberadaannya saat ini. Dengan cepat Ivan bangkit dari tempat tidur ketika menyadari bahwa ia berada di dalam kamar Claudia. Ia terkejut saat menyadari bahwa dirinya hanya menggunakan boxer.
Suara keran air mengalir di kamar mandi menyadarkan Ivan bahwa ia tidak sendiri. Ia merasa haus dan melihat juice lemon yang terhidang menggugah selera di atas nakas di samping tempat tidur.
Mengingat mimpi yang baru ia alami dengan terburu-buru Ivan kembali ke kamarnya yang berdampingan dengan kamar Claudia. Secepat kilat ia berpakaian. Ivan tak ingin terjebak untuk kesekian kali. Fokusnya hanya satu, akan kembali pada Khaira. Istri yang selalu ia cintai sampai kapan pun.
Ia akan meminta maaf atas segala tuduhan yang ia buat karena hasutan dan fitnahan Claudia terhadap Khaira. Dengan berpakaian seadanya, tanpa membawa tas travel berisi semua perlengkapannya, Ivan keluar dari apartemen dengan cepat. Ia hanya mengambil ponsel, identitas serta pasport dan dompet yang tergeletak di dalam kamar yang selama ini ia tempati bersama Bryan.
Setengah jam kemudian ia sudah berada di sebuah klub mewah bersama dengan Edward yang selalu ada saat ia butuhkan.
“Apa rencanamu sekarang?” Edward menghisap rokoknya begitu ia dan Ivan duduk santai di ruang VVIP klub tersebut.
“Aku ingin pulang sekarang,” ujarnya cepat.
Ivan tak ingin menunggu lebih lama. Mengurus Bryan dan meninggalkan rumah hampir 9 bulan membuatnya sangat merindukan sentuhan sang istri.
“Bagaimana dengan Claudia?” Edward memandang Ivan seksama, “Bukankah kau akan menikahinya?”
“Aku hanya mencintai istriku. Bagaimana mungkin aku bisa membagi hatiku pada perempuan yang tidak aku cintai?”
“Apa kau akan mengingkari janji yang telah kau buat pada Bryan?” Edward menatap Ivan tak mengerti.
Ivan menghela nafas berat. Dari awal niatnya hanya ingin kesembuhan pada Bryan dan membawanya bersama dengan Khaira menjadi satu keluarga yang utuh.
Tapi Claudia telah menghancurkan semua rencana yang telah ia susun, dan melibatkan Bryan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
__ADS_1
“Bryan telah menceritakan semuanya padaku. Dengan kepergiannya, aku tidak akan menikahi Claudia. Tetapi aku akan menyerahkan setengah harta milikku atas nama Bryan pada Claudia. Sisanya akan ku bangun rumah sakit kanker khusus anak yang tidak mampu di negaraku.”
“Bagaimana kalau Claudia menolak?” Edward merasa heran, hanya dalam hitungan jam pikiran Ivan berubah. Ia tak ingin Ivan terjebak dengan Claudia.
“Aku mohon bantuanmu untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan Claudia. Aturlah dengan pengacaramu,” Ivan tercenung sesaat mengingat percakapan terakhir antara ia dan Bryan, “Aku juga mengetahui fakta baru bahwa bukan Rara yang mendorong Bryan ke dalam air. Tapi Claudia-lah yang melakukannya.”
Edward tersenyum sinis mengetahui Ivan menyadari kebodohannya, “Apa kamu tidak melihat cctv di rumahmu.”
“Aku terlambat menyadari kebodohanku.”
“Semoga saja nona Rara masih mau menerima suami bodohnya,” Edward berkata tajam menyindirnya.
“Aku ingin menumpang jet pribadimu untuk kembali malam ini,” Ivan memohon dengan sangat. Kerinduan akan sang istri tiba-tiba menyesakkan dadanya.
“Kalau saja orang lain, tidak akan ku turuti keinginanmu .... “ mata Edward mulai jelalatan melihat perempuan seksi yang menari pole dance di luar yang terlihat dari ruangan mereka.
Akhirnya keduanya beranjak dari ruangan VVIP klub tersebut. Ivan tersenyum puas melihat Edward yang mulai menghubungi Rafhael asisten pribadinya dan memintanya menyiapkan pesawat pribadi yang akan mengantar Ivan kembali ke Indonesia.
Saat tiba di bandara Ivan langsung memeluk Edward dengan erat. Seumur hidup ia tidak akan melupakan kebaikan sobatnya itu. Keduanya memiliki rasa persaudaraan yang kuat walau pun tidak ada ikatan darah yang mengalir pada keduanya.
Sementara itu di kamar mandi apartemen, Claudia merasa bahagia. Ia yakin penantiannya akan terbayar lunas malam ini. Sambil merendam tubuhnya di bathtub ia mulai membayangkan malam yang akan ia lewati bersama Ivan malam ini.
Saat Bryan meninggal, kelihatan bahwa Ivan sangat terpukul. Walau pun ada sedikit kesedihan dalam dirinya atas kepergian Bryan, tapi rasa bahagia yang ia rasakan lebih besar, karena yakin bahwa ia dan Ivan akan saling menguatkan. Untunglah Edward dan beberapa teman datang menghiburnya dan ini adalah kesempatan bagi Claudia untuk mengambil peran dalam memperbaiki hubungan mereka ke depannya.
Claudia yakin, mulai malam ini Ivan akan menjadi miliknya. Ia tau hubungan Ivan dan Rara telah selesai. Semenjak mereka turun dari rumah siang itu, ia tidak pernah melihat Ivan menghubungi istrinya lagi. Perhatiannya hanya tertuju pada Bryan, semua hanya tentang Bryan. Apalagi Ivan telah menjual 50 % saham miliknya di New Stars Corps untuk kesembuhan putra semata wayangnya.
Claudia yakin, Ivan akan menanggung semua biaya hidupnya setelah kepergian Bryan. Dan ia merasa senang memikirkan hal itu. Merasa puas merendam diri dalam aroma wewangian, Claudia segera keluar dari bathtub.
__ADS_1
Dengan memakai bathrobe, Claudia keluar dari kamar mandi. Senandung lirih keluar dari mulutnya membayangkan kemesraan yang akan terjalin malam ini antara dirinya dan Ivan. Ia merasa puas, karena Ivan mulai memberikan perhatian padanya saat mereka mengetahui kondisi Bryan yang semakin kritis.
Ia melihat suasana kamar yang tampak hening. Pandangan matanya beralih ke tempat tidur. Senyum tipis tersungging di bibirnya melihat tempat tidur yang tampak masih sama saat ia tinggalkan untuk membersihkan diri.
Ketika Edward dan teman-temannya pamit sore tadi, Ivan sudah dalam keadaan mabuk berat karena terlalu banyak minum. Dengan bersusah payah, Claudia membawa Ivan untuk pindah ke kamarnya yang selama ini selalu ia tempati sendiri.
Aroma anggur membuat Claudia tidak tahan. Akhirnya ia mulai melepas pakaian luar Ivan satu demi satu. Gairahnya sudah sampai di ujung rambut saat melihat betapa kekarnya sosok laki-laki yang selalu menghangatkan malamnya di masa lalu.
Walau selama kebersamaan mereka merawat Bryan, belum ada ketertarikan Ivan pada dirinya, tapi Claudia yakin Ivan tetaplah seorang lelaki yang membutuhkan sentuhan wanita.
Setelah melepas semua pakaian luar Ivan, Claudia akhirnya membersihkan dirinya sendiri. Ia yakin banyak waktu luang yang bakal ia miliki bersama Ivan untuk saling menghangatkan satu sama lain.
Claudia segera membuka lemari pakaian dan mengambil gaun tidur tipis yang telah ia persiapkan sejak awal jika suatu saat ia memiliki kesempatan untuk memulai kembali bersama Ivan.
Dengan santai ia berjalan menuju tempat tidur. Ia melirik racikan jus lemon yang masih utuh dengan senyum mengembang. Tangan Claudia menyibak tumpukan selimut yang ada di tempat tidur.
“Honey …. “ Claudia tertegun.
Tempat tidur kosong tanpa ada seorang pun di atasnya. Hanya bantal yang tersusun seperti orang yang sedang berbaring ditutupi selimut. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat tidak ada Ivan di sana. Padahal satu jam yang lalu saat ia memasuki kamar mandi Ivan masih tertidur pulas.
Ia yakin durasi tidur Ivan akan lebih lama. Semenjak dua minggu terakhir menunggu Bryan di rumah sakit, kelihatan bahwa Ivan kekurangan jam istirahat. Ia begitu fokus menjaga Bryan seperti menjaga barang miliknya yang paling berharga.
“Honey …. “ Claudia masih memanggil namanya dan mencari hingga ke kamar yang biasa digunakan Ivan untuk beristirahat selama mereka di apartemen.
Matanya terpaku begitu melihat kamar Ivan kosong tanpa ada penghuni satu pun. Tidak ada ponsel maupun dompet Ivan yang tertinggal. Ia membuka lemari pakaian, tampak masih utuh, tetapi dokumen berharga Ivan sudah tidak tampak di sana.
Kepergian Bryan telah membuktikan bahwa tidak ada lagi yang dapat membuat Ivan kembali padanya. Claudia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur Ivan dengan perasaan kecewa. Kini ia yakin, bahwa Ivan memang ditakdirkan bukan untuknya.
__ADS_1