Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 224 S2 (Berusaha Menjadi Orangtua Yang Baik)


__ADS_3

“Miss Mercy bisakah anda membawa Bryan ke kamarnya?” Ivan segera memberi isyarat pada Khaira untuk mengantar Bryan beserta perawatnya ke kamar tamu.


Khaira mengangguk sambil tersenyum pada Ivan. Dengan sopan ia mengajak Mercy dan Bryan ikut bersamanya.


Ivan ingin menyampaikan beberapa hal yang sudah ia bahas bersama iparnya. Ia ingin memberi batasan pada Claudia tentang hubungan mereka serta langkah yang akan ia ambil untuk mengobati Bryan.


Setelah tinggal mereka bertiga di dalam ruang tamu itu, Ivan mulai mengatakan keinginannya.


“Aku sudah memutuskan akan membawa Bryan bersama kami.”


Claudia terkejut. Bukan ini yang ia inginkan. Apa lagi setelah melihat kediaman Ivan dan Khaira, tidak mungkin ia melepas Bryan begitu saja. Walau pun Ivan telah menghadiahi apartemen mewah serta biaya bulanan yang cukup fantastis, keserakahannya timbul. Ia ingin memiliki segalanya.


“Aku tidak akan melepas Bryan begitu saja. Aku ibunya yang telah bersusah payah melahirkannya ....” ia mulai bermain drama dengan wajah muram dan sedih.


“Aku tau,” potong Ivan cepat, “Selama bersamamu, apa lagi dengan kondisi  Bryan saat ini. Aku menyangsikan kamu bisa memberikan kesembuhan pada Bryan.”


“Tidak bisakah kita melakukannya bersama-sama?” Claudia menatap Ivan penuh harap.


George menatap keduanya sambil menyandarkan diri di sofa. Ia tau, keinginan tersembunyi Claudia. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Toh mereka berdua adalah orang tua Bryan.


“Aku dan istriku yang akan merawat Bryan. Kami akan mencari dokter terbaik.”


“Kamu tidak memikirkan perasaanku .... “ Claudia menatap Ivan dengan lekat. Ia menginginkan Ivan memandangnya sebagai perempuan yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu.


“Aku akan memberikan sepertiga hartaku padamu. Itu cukup untuk membiayai kehidupanmu, walau pun kamu tidak bekerja. Aku menghargaimu sebagai ibu kandung Bryan.


”Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu?” Claudia tidak terima atas keputusan Ivan, “Perempuan yang bersamamu tidak mampu memberikan kamu seorang anak, bagaimana mungkin kamu lebih memilihnya dari pada aku?”


“Claudia, please!” Ivan tak senang mendengar perkataan Claudia, “Rara istriku. Kita hanya masa lalu. Aku sangat berterima kasih karena ada Bryan diantara kita.”


Khaira yang sudah kembali bersama mereka tidak nyaman mendengar perkataan Claudia yang menyinggungnya.


“Sayang .... “ Ivan terkejut menyadari kehadiran Khaira di belakangnya. Ia meminta Khaira kembali duduk di sisinya.


George mentap  Khaira dengan santai. Ia tak melepaskan pandangan sedetikpun berusaha melihat perubahan di wajah perempuan cantik yang berpakaian tertutup itu.


Claudia menatap Khaira dengan rasa kesal. Ia tau, dirinya tidak ada apa-apanya di banding istrinya Ivan. Tapi karena ada Bryan diantara mereka membuatnya di atas angin. Ia yakin Ivan-lah yang telah memberikan segala fasilitas kemewahan pada Khaira. Dan ia tidak ingin melewatkan semuanya. Ia layak mendapatkan apa pun dari Ivan.


“Dengan kesibukanmu sekarang, aku yakin kamu tidak bisa menjaga dan merawat Bryan secara maksimal,” Ivan menatap Claudia dengan tajam.


“Aku akan berhenti bekerja,” tegas Claudia.”


“Hei, kamu tidak bisa memutuskan kontrak kerja dalam jangka waktu satu tahun,” George memotong pembicaraan mereka, “Ayolah Claudia, biarkan Alex dan istrinya merawat Bryan. Selama ini Bryan lebih nyaman bersama Mercy dari pada denganmu.”


“George .... “ Claudia melotot mendengar perkataan George yang tidak mendukungnya.


Ivan tersenyum sinis menatap Claudia, “Sudahlah Claudia, terimalah apa yang sudah ku putuskan. Aku tidak akan memisahkanmu dari Bryan. Setiap hari Sabtu dan Minggu, aku memberikan kebebasan padamu untuk mengunjungi Bryan dan membawanya menginap bersamamu. Di hari lain ia akan bersama kami.”

__ADS_1


“Bagaimana kamu bisa memutuskan itu sendirian?” Claudia menggelengkan kepala tak percaya mendengar keputusan Ivan.


Ia tau, Ivan adalah lelaki yang memegang teguh pendirian. Tidak akan mudah merubah keputusan yang telah ia ambil. Rasa penyesalan karena mengkhianati Ivan di masa lalu kini kembali lagi.


“Jika kamu bersikeras menolak, aku akan menyelesaikan semuanya dengan pengacaraku,” Ivan mulai melancarkan ancaman, “Selama ini Bryan dalam pengasuhanmu. Dengan kondisi Bryan sekarang, sulit bagimu untuk mempertahankan Bryan. Aku akan menuntutmu karena telah membuat Bryan mengidap penyakit kronis .... “


“Mass .... “ Khaira menggelengkan kepala pelan.


Ia mengusap pundak Ivan lembut. Melihat  Claudia yang terdiam dengan wajah memerah membuat Khaira merasa tidak nyaman.


Ivan memandang Khaira yang menatapnya dengan cemas. Ia menghela nafas berat. Emosinya memuncak melihat Claudia yang bersikukuh melawan keinginannya.


“Baiklah, aku menghormati keputusanmu Alex.” Claudia merasa perlawanannya sia-sia.


Suasana hening sesaat. Khaira masih mengelus pundak Ivan mencoba meredam kemarahannya yang sudah dibangkitkan Claudia.


“Aku akan berhenti dari semua aktivitasku untuk merawat Bryan,” ujar Khaira lembut sambil menatap wajah Ivan dengan lekat.


Ia sudah memutuskan sendiri. Ia tau, saat seperti ini Ivan butuh dukungan darinya. Apa lagi Bryan putra satu-satunya yang sangat dinantikan Ivan.


“Kita akan memberikan yang terbaik demi kesembuhan Bryan,” Khaira berkata pelan untuk meyakinkan Ivan yang menatapnya tak percaya atas keputusan yang telah ia buat.


George menatap Claudia sambil mengangkat bahu. Ia tau, pasangan Ivan memang perempuan sempurna, bukan hanya menyenangkan saat dipandang tetapi perkataannya juga menenangkan.


Claudia semakin kesal melihat George yang sedikitpun tidak mendukungnya bahkan perkataan George membuatnya tak bisa berkutik. Untuk kesekian kali ia mengalah. Ditambah lagi dengan keputusan istri Ivan membuatnya mati gaya.


“Kita pergi sekarang?” George menatap Claudia sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Sudah dua hari Bryan tinggal bersama mereka. Karena ingin mengakrabkan diri dengan Bryan, Khaira sengaja tidak datang ke gerai dan menghadiri undangan pameran perhiasan di Yogya. Baginya bersama Bryan untuk membangun quality time lebih berharga dari pada menjadi narsum di pameran berlian tingkat nasional di Yogya kali ini.


Ia pun sudah yakin dengan keputusan yang ia ambil. Walau pun belum membicarakan ini dengan keluarga besarnya ia yakin mereka akan menghormati keputusannya. Khaira akan mengelola gerai dan kafe cukup dari rumah. Ia akan mendedikasikan dirinya untuk merawat Bryan yang memang perlu perawatan khusus.


Pertama  kali berdekatan dengan Bryan, ia dapat melihat penolakan dari mata Bryan saat ia mencoba untuk lebih dekat dengan mengajaknya berbicara. Tapi Khaira tidak kehabisan akal.


“Selamat pagi nona Mercy .... “ Khaira membawa sarapan di atas nampan yang terdiri atas segelas susu serta roti pilihan yang telah disiapkan bi Risma dan art yang lain.


Ia pun sudah mengingatkan para art untuk memasak makanan sehat demi menunjang nutrisi Bryan yang sudah ia konsultasikan bersama mbak Hasya, yang sedikit banyak lebih paham tentang kondisi anak seperti Bryan.


“Pagi nyonya,” Mercy tersenyum melihat kedatangan Khaira.


“Bagaimana tidur kalian semalam?” Khaira menatap keduanya dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya.


“Sangat nyenyak, nyonya. Bryan pun merasa segar saat bangun pagi ini,” Mercy berkata dengan jujur.


“Aku senang kalau kalian berdua merasa nyaman di sini,” tutur Khaira pelan.


“Suasana di sini sangat nyaman dan menyejukkan,” Mercy berkata dengan jujur.

__ADS_1


Ia sangat senang berkenalan dengan nyonya sang pemilik rumah mewah ini sekaligus ibu sambung Bryan. Ia dapat melihat ketulusan yang terpancar di wajah Khaira. Walau pun ia tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi nyonya rumah ini sangat paham dan bercakap menggunakan bahasa Inggris seperti dirinya dan Bryan dengan sopan dan menyenangkan.


Padahal sebelum kedatangan mereka bersama di rumah daddy-nya Ivan, Claudia sudah menanamkan bibit kebencian dan mempengaruhi Bryan dengan mengatakan bahwa istri daddy-nya perempuan muda yang sombong.


Tapi saat bertemu untuk pertama kali dan Khaira mengajak mereka berkeliling untuk melihat lingkungan rumah, Mercy sudah melihat kebaikan hati dan ketulusan yang terpancar di wajah nyonya rumah.


“Bryan pengen sarapan apa pagi ini?” Khaira berdiri di hadapan Bryan yang masih menatapnya dengan enggan.


Bryan malas menjawab. Ia teringat perkataan Claudia bahwa Khaira adalah orang yang telah merebut daddy-nya dari dirinya dan mommy.


“Bry .... “ Mercy menepuk pelan pundak Bryan yang tertunduk, “Aunty Rara sedang berbicara padamu.”


Bryan menggelengkan kepala dengan cepat.  Walau pun sarapan yang dibawakan Khaira sangat menarik, tapi hatinya masih belum terbuka untuk menerima kebaikan istri daddy-nya itu.


“Maafkan Bryan nyonya, ia belum terbiasa,”  Mercy berkata dengan sopan khawatir menyinggung perasaan Khaira.


“Tidak apa-apa Mercy. Saya ke dalam dulu ya, menyiapkan keperluan mas Ivan,” Khaira pamit meninggalkan keduanya yang masih santai menikmati suasana pagi di taman belakang rumah.


“Nyonya Rara sangat baik. Aku senang berkenalan dengannya,” ujar Mercy sambil menyiapkan roti untuk sarapan Bryan.


“Aku membencinya, dia telah merebut daddyku,” ceplos Bryan seketika.


Mercy terkejut mendengar perkataan Bryan. Ia tau, Claudia telah meracuni pikiran Bryan. Tapi ia tidak akan membiarkan hal itu. Ia harus mengatakan pada Bryan bahwa yang dikatakan mommynya tidak benar.


“Sayang .... “ Ivan yang baru keluar dari kamar mandi terkejut saat tidak melihat keberadaan Khaira di kamar.


Ia mengerutkan jidatnya sambil berpikir. Pakaian kerjanya sudah disiapkan di tempat tidur, tapi sosok Khaira tidak berada di sana. Ia mengedarkan pemandangan ke sekeliling kamar, tapi tetap saja sosok Khaira tidak kelihatan.


“Maafkan aku mas,” Khaira kembali ke kamar dengan cepat, “Aku baru mengantarkan sarapan Bryan di taman.”


“Jangan terlalu memaksakan diri,” Ivan menatapnya lekat, “Bryan berwatak keras sepertiku.”


“Aku hanya ingin belajar menjadi ibu yang baik untuknya,” ujar Khaira sambil menyunggingkan senyum.


"Cukup kamu selalu ada di sisiku. Aku tidak membutuhkan yang lain," Ivan menatapnya dengan penuh kasih.


"Mas, kita akan menjadi orang tua bagi Bryan," Khaira menahan jemari Ivan yang mulai tidak bisa dikondisikan.


“Istri siapa sih ini, sudah cantik, baik hati, tidak sombong .... “


“Mulai dehh .... “ Khaira memanyunkan bibirnya mendengar Ivan mulai melancarkan rayuan mautnya, “Udah jam berapa ini?”


“Bentar aja yaa .... “ Ivan langsung melorotkan handuk yang menutupi tubuh polosnya.


Khaira tinggal geleng-geleng kepala menghadapi kelakuan bayi besarnya yang tidak pandang waktu, tempat serta kondisi kalau sudah datang hasr**nya.


Bryan mengamati interaksi yang terjadi antara Ivan dan Khaira setiap hari. Ia dapat melihat kemesraan antara daddy dan ibu sambungnya. Rasa sedih mengingat perkataan mommynya muncul lagi di benak Bryan. Alangkah indahnya jika ia, daddy dan mommynya bisa bersama.

__ADS_1


Tapi mengingat apa yang dikatakan Mercy membuatnya mulai merubah cara berpikirnya terhadap Khaira. Apa lagi Khaira selalu mengajaknya berbicara dan menemaninya membaca buku cerita di saat Mercy melakukan pekerjaan ringan lainnya. Walau pun tidak secara keseluruhan, tetapi ia mulai menyukai Khaira yang selalu ada di sisinya di saat ia membutuhkan seseorang.


***Hayo\, kritik\, like\, saran\, komen dan vote-nya jangan lupa. Author sudah siap dengan bumbu penyedap. Jangan marah sama author ya.  Author sayang reader semua .... ***


__ADS_2