Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 29


__ADS_3

Setelah menelpon supir kantor untuk menjemput mamanya, Adi kembali ke kafetaria dimana Fery  sudah menunggunya.  Dengan lesu Adi menghenyakkan tubuhnya di hadapan Fery. Kesedihan atas kemalangan dalam rumah tangganya membuat Adi tampak berbeda.


“Apa yang terjadi padamu? Ku lihat akhir-akhir ini kau tidak bersemangat seperti biasa…” Fery merasa heran melihat perubahan sikap sahabatnya itu.


“Aku ingin berterus terang padamu tentang satu hal.” Adi menatap Fery dengan gelisah. Selain Johan, ia yakin Fery merupakan orang yang tepat untuk ia menceritakan permasalahan yang kini sangat mengganggu pikirannya.


“Wah, baru kali ini aku melihat seorang Aditama Prayoga tampak putus asa. Masalah apa yang membuatmu tampak kacau? Selama ini kau begitu perfect dalam keseharian.”


“Helen keguguran. Ia selama-lamanya tidak akan bisa melahirkan anakku.” tandas Adi sambil menghisap rokok yang baru saja ia nyalakan. Ia menghembuskan asapnya dengan kuat, berusaha mengurangi beban di hatinya. “Aku sangat kecewa, hingga membunuh semua perasaan yang ada untuknya.”


“Wah, bukannya kalian saling mencintai. Apa karena Helen mengalami keguguran sehingga kamu frustrasi.” Ia barusan mendengarkan cerita Marisa tentang masalah yang dialami menantu Linda, “Harusnya kalian saling mendukung dan menguatkan…” sebagai seorang teman yang baik Fery berusaha menasehati Adi agar tidak menyesal di kemudian hari.


Adi mengusap wajahnya dengan gusar, “Kau tau kesalahan terbesar yang kulakukan? Telah menceraikan Hani dan tidak mengakui Hasya sebagai darah dagingku…” tandas Adi membuat Fery melongo tak percaya.


“Astaga!” Fery terperanjat hingga meja bergetar karena tanpa sadar ia menyenggol meja saking tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, “Apa kamu mabuk?”


Adi membalas tatapan Fery yang tertuju padanya, “Aku bersungguh-sungguh. Si kembar dan si mungil cantik itu putri kandungku. Anak-anak yang telah kutelantarkan karena terjebak dengan masa lalu yang penuh dengan kebohongan.”


Fery menggeleng-gelengkan kepala setelah memahami kenyataan yang terjadi. “Pantas saja wajah dede Sasya sangat mirip denganmu. Pada saat menyadarinya pertama kali aku sudah curiga. Tetapi Hani tidak pernah menceritakan tentang dirimu.  Dan Gigi juga tidak tau, siapa suami Hani.”

__ADS_1


Adi meneteskan airmata mengingat wajah buah hatinya yang hingga kini tidak bisa ia peluk, hanya bisa ia sentuh. “Aku baru menyadari kesalahan yang telah ku perbuat. Selama ini aku telah menyia-nyiakan si kembar dan menyeraikan Hani karena menuduh ia berselingkuh dengan sahabatnya sehingga hamil Hasya.”


Fery ingin meninju Adi setelah mendengar ceritanya, “Kebodohan yang akan kau sesali seumur hidup. Rasanya mencekikmu saja tidak membuatku puas. Lantas bagaimana kau terlibat dengan Helen?”


Tanpa menyembunyikan sedikitpun, Adi menceritakan kisahnya tanpa ditutupi lagi. Ia tau hanya Fery yang akan bersikap tulus dan memberi solusi terbaik untuknya. Dan ia siap berjuang kembali untuk merengkuh kebahagiaan yang selama ini hilang dalam hatinya.


“…ternyata hidup 3 tahun bersama Helen tidaklah seperti yang ku harapkan. Bukan kebahagiaan yang aku dapatkan, tetapi kesepian. Aku merasa hampa. Kerja keras yang kulakukan selama ini tidak menghasilkan apapun. Ditambah lagi dia telah menyimpan kebohongan terbesar, dan itu menghancurkan egoku sebagai seorang lelaki.”


Fery menghembuskan nafas kesal  setelah Adi mengakhiri ceritanya.


“Aku yakin, jika Helen tidak mengalami keguguran, belum tentu kamu akan menyadari kesalahan yang telah kau perbuat selama ini. Aku tak bisa memberi solusi terbaik untukmu. Hani adalah sahabat Gigi. Dan ia berhak untuk berbahagia setelah apa yang telah kau lakukan terhadapnya dan putra-putrinya.”


“Tuan Faiq lelaki yang baik. Ia sangat tulus memberikan kasih sayang pada putra-putrimu yang telah kau telantarkan. Maafkan aku, kali ini aku tidak berada dipihakmu.”


“Menurutmu, apa aku bisa kembali pada Hani dan anak-anakku?” Adi menatap Fery dengan penuh kecemasan. “Aku menyadari semenjak Hani meninggalkanku, tiada lagi kebahagiaan yang ku rasakan. Semua hanya tentang keberhasilan dan pencapaian. Hidupku kosong tak berarti…”


“Tama, setiap perbuatan kita selalu ada konsekuensinya. Selama ini aku dan Gigi sangat prihatin dengan kehidupan Hani dan anak-anak. Semenjak perceraian, kehidupan Hani sangat menyedihkan. Bagaimana dia harus mengasuh dan menghidupi ketiga anaknya hanya mengandalkan warung makan peninggalan kedua orangtuanya yang tidak seberapa serta bantuan Hanif adiknya. Dia tidak pernah mengeluh, tapi kami paham melihat sikapnya yang tertutup. Gigi menceritakan perselingkuhan suami Hani dengan sekretarisnya, hingga pernikahan suaminya membuat Hani terluka. Dapat ku rasakan kecewanya Hani saat suaminya membawa madunya ke rumah…”


Adi terdiam mendengar sindiran Fery. Setiap ucapan Fery membuatnya kembali ke masa lalu.  Rasanya ia sendiri tidak kuat untuk mengingat setiap perbuatan yang telah ia lakukan.

__ADS_1


Fery  memandang  Adi dengan raut kesal. “Saat si kembar sakit, apa kamu pernah mengunjungi mereka, memberikan perhatian walau hanya secuil. Tentu tidak bukan?  Aku mendengar cerita Gigi bahwa Hani menolak pemberian mertuanya, karena ia tidak ingin  terlibat lagi dengan keluarga mantan suaminya. Untung pengacara mantan mertuanya berbaik hati dan membujuk Hani, agar tidak memberatkan almarhum. Dan jika Hani menerima warisan itu, otomatis tidak ada ikatan apapun lagi diantara mereka, walaupun hanya sebatas ayah dan anak …” Fery menghentikan ceritanya melihat wajah Adi yang semakin menekuk sedih.


“Aku tidak tau, apa yang telah menutupi mata hati dan pikiranku, hingga melakukan perbuatan yang sangat melukai Hani. Saat itu aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Pernikahan kami karena keinginan almarhum papa.”


“Jadi karena itu kamu  berselingkuh dengan Helen, membuat Helen hamil dan menikahinya hingga membawanya serumah dengan Hani?”


“Aku telah dibutakan dengan cinta masa lalu.” Adi merutuk dirinya sendiri. “Walau kuakui, aku sudah merasa nyaman dengan Hani.”


“Sampai detik ini kalau kau tidak terus terang aku tidak akan pernah tau, bahwa suami Hani adalah pengusaha terbesar di negeri ini.  Dan ternyata itu kau, sahabatku sendiri. Benar-benar mengesalkan.”


Adi tertegun mendengar penuturan Fery, “Sekarang Tuhan sedang menghukumku atas perbuatan yang telah kulakukan. Tapi aku mulai mencintai Hani, aku sangat mencintai anak-anakku. Dan aku ingin kembali bersama mereka.”


Fery menepuk pundak Adi dengan kuat, “Seharusnya kamu menyadari  hal ini tiga tahun yang lalu. Maaf, aku akan kembali ke ruangan. Nanti Gigi curiga kalau aku terlalu lama pergi.”


Sepeninggal Fery, Adi termangu. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Penyesalan yang kini ia rasakan sudah tidak ada gunanya lagi. Ia menenggelamkan diri dalam lamunan yang berkepanjangan, sambil memikirkan langkah yang akan ia tempuh selanjutnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2