
Ivan menatap video yang menampilkan wajah Khaira. Video yang dikirim Edward ada dua bagian, yang pertama saat resepsi pernikahan dan yang kedua pada acara pagelaran. Tak bosan-bosannya Ivan menonton video tersebut, walau dalam hatinya merasa kesal melihat kedekatan Khaira dan Anwar pada dua video itu.
Tapi saat ingatannya kembali pada kepemilikan, senyum terbit di wajah tampannya. Ia yakin, siapa pun tidak bisa memiliki Khaira, hanya dia seoranglah yang bisa memiliki janda Abbas.
Sementara itu Khaira sedang bermain bersama Babby A di kediaman Hasya. Ia melihat saudari perempuannya sibuk berbenah karena acara pernikahan Junior satu minggu lagi akan dilaksanakan. Hasya sibuk memadu madankan seragam yang akan keluarga mereka gunakan di resepsi Junior.
“De, gimana kabar Anwar? Mbak dengar dari mas Ariq kalian cukup dekat selama di Paris.” Hasya mulai menghempaskan tubuhnya di samping Khaira yang sekarang memberi MP-ASI pada Babby A.
“Kita baik-baik aja kok mbak.” Khaira tetap asyik menyuapi Babby A sambil mengajaknya berbicara. Ia merasa senang berinteraksi dengan bayi mungil yang mulai berceloteh dengan bahasa planetnya.
“Apa kamu sudah bisa melupakan Abbas?” Hasya menatapnya dengan lekat, “Jangan jawab jika pertanyaanku membuatmu sedih.”
Hasya menyadari perubahan raut wajah Khaira saat ia mulai mengorek isi hati adiknya itu. Ia tersenyum sambil menepuk pundak Khaira.
“Mbak lebih paham apa yang ku rasakan,” ujar Khaira lirih sambil menatap Hasya dengan raut sendu.
“Kamu harus kuat seperti almarhum bunda,” Hasya menghela nafas. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengingat bundanya.
Khaira tertegun mendengar perkataan Hasya. Ia memang belum pernah mendengar secara lengkap kisah kehidupan almarhumah bundanya.
“Banyak kisah sedih yang dialami bunda. Mba mendengar semuanya dari cerita oma. Tapi bunda mampu melewati semuanya.”
Khaira menghentikan kegiatannya menyuapi Babby A yang tampaknya sudah mulai kekenyangan.
Kembali Hasya menatapnya lekat, “Semoga kamu bisa melewati segalanya. Allah memberi cobaan karena kamu mampu melewatinya.”
“Terima kasih mbak,” Khaira tersenyum tipis.
Dering ponsel Hasya menghentikan pembicaraan keduanya. Dengan cepat Hasya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Terpampang wajah Rheina dari ponselnya yang melakukan panggilan vc.
“Assalamu’alaikum …. “ Hasya mengerutkan jidatnya mendengar suara yang agak ribut dari butiq Rheina.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam. Mbak jadikan hari ini kita belanja untuk persiapan hantaran pernikahan Junior minggu depan,” Rheina bertanya dengan penuh semangat, karena memang hobbynya adalah shopping.
Hasya sebenarnya malas untuk keluar. Ia tidak tega membiarkan Babby A bersama pengasuh. Apalagi untuk berbelanja barang hantaran memerlukan waktu yang tidak sedikit, belum lagi memilih barang yang sesuai tentu akan memakan waktu.
“Kamu pergi sama Rara aja. Kalo udah cari barang, tinggal vc-an, mba bisa bantu dari rumah.”
“Mana Rara?” Rheina merasa semangat, karena ia tau Khaira orangnya tidak cerewet pasti akan menuruti apa pun barang yang ia pilih.
Hasya mengulurkan ponsel pada Rara yang kini asyik menggoda Babby A yang mulai kelihatan mengantuk sehabis makan pagi.
“Rheina mengajakmu keluar untuk berburu barang hantaran. Kamu nggak keberatan kan?” tanya Hasya hati-hati.
Khaira menggelengkan kepala dengan cepat. Ia menyetujui usul Hasya untuk megikuti Rheina. Terus terang ia merasa suntuk karena sudah tiga minggu mengurung diri di rumah. Dan kebetulan ada yang mengajaknya keluar dengan senang hati Khaira mengikutinya.
Khaira tinggal menggelengkan kepala melihat belanjaan Rheina yang sudah menggunung. Tapi ia masih kelayapan di mall mewah itu mencari barang yang ia inginkan. Khaira tidak banyak komentar saat Rheina meminta pendapatnya tentang pilihannya yang memang selalu terbaik.
Rheina segera meminta pegawai butiq yang berjumlah 4 orang untuk mendampinginya selama membawa barang belanjaan.
Khaira hanya mengenal Mimi dan Lila sedangkan pegawai lelaki dua orang yang mengiringi mereka ia tidak terlalu dekat.
Saat hendak memasuki restoran perasaan Khaira merasa tidak nyaman. Tapi ia tetap melangkahkan kaki mengikuti Rheina menuju tempat yang telah di pesan. Ia berucap dalam hati semoga tidak terjadi sesuatu.
Ketika sudah duduk di meja yang telah dipesan, telinga Khaira samar-samar mendengar suara yang mulai tidak asing di telinganya. Dengan spontan Khaira memandang ke samping.
“Deg!” Jantung Khaira terasa ingin melompat ke luar melihat sosok menjulang itu berjalan dengan gagah di sampingnya.
Khaira segera menundukkan wajah dan menutupi dengan buku menu. Debaran jantungnya semakin kuat. Ia belum siap untuk bertemu sosok tegap yang telah menyentuhnya. Bayangan malam kelam itu kembali muncul di benaknya.
“Mbak, aku langsung kembali pake ojol aja,” dengan cemas Khaira berbisik pada Rheina yang sedang memilih menu di sampingnya, “Ada urusan dengan mbak Andini di gerai.”
Khaira lebih memilih membohongi Rheina dari pada harus terjebak dengan sosok yang tak ingin ia temui. Belum sempat Rheina menjawab Khaira langsung memutar badannya dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar.
__ADS_1
Sesampai di luar ia mencari tempat tersembunyi untuk memesan ojol yang akan membawanya dari mall dan dari sosok yang ingin ia hindari.
Sementara itu Ivan yang berjalan mendampingi Bambang klien barunya yang akan mengajak bekerja sama rumah produksinya dalam membuat film kolosal, merasakan sesuatu yang berbeda saat memasuki restoran.
Perasaan berdebar dan jantungnya yang berdetak cepat membuat Ivan mengerutkan jidatnya. Saat melewati sekelompok orang yang sudah duduk menunggu pesanan datang, jantungnya berdetak semakin kuat.
Tetapi karena fokus mendengar perkataan Bambang membuat Ivan tak menghiraukan yang ia rasakan. Walaupun saat berjalan, ia sempat melirik pada sosok perempuan yang membaca buku menu hingga menutupi wajah sehingga tak kelihatan.
“Wah, sampai segitunya melihat harga menu di restoran ini,” Ivan berjalan sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan pelanggan di restoran itu.
Begitu memasuki ruang VIP, rasanya ia melihat sosok yang ia cari selama ini. Walau pun berjalan, tapi sudut mata Ivan masih melirik kelakuan sosok yang menarik perhatiannya. Dan saat sosok itu meletakkan buku menu dan langsung berjalan, seketika Ivan memandang Bambang dan Roni yang berada di sampingnya.
“Silakan tuan Bambang asissten saya akan mendampingi anda, saya ada keperluan sedikit.” Ivan menatap Roni dengan wajah tegang,
“Baik tuan,” Roni mengangguk dengan cepat. Ia tidak tau kenapa wajah Ivan jadi berubah seperti ini, dan ia tak berani membantah.
Ivan melihat perempuan yang ia yakini adalah Khaira sudah keluar dari restoran. Ia mempercepat langkahnya untuk mengejarnya. Saat keluar dari pintu restoran Ivan menghentikan langkahnya. Banyak orang yang berseliweran di mall megah itu sehingga ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
Ivan mengepal jemarinya dengan kesal. Seharusnya saat ia melewati perempuan yang menutup wajah dengan buku menu itu ia langsung berhenti. Ia benar-benar menginginkan Khaira. Hasrat kerinduan yang membuncah serasa memecahkan kepala.
Ia menggelengkan kepala dengan perasaan kecewa, karena tidak menemukan perempuan yang telah mencuri segenap jiwa dan raganya. Ivan membalik badannya kembali ke restoran. Walau pun saat ini ia belum menemukan Khaira tapi namanya telah terukir di lubuk hatinya yang terdalam. Walau pun jauh dari pandangang mata namun terasa dekat di hati.
Khaira yang bersembunyi di sebuah butiq yang berhadapan dengan restoran mewah tersebut merasa lega saat melihat Ivan sudah kembali. Dengan perasaan was-was ia melihat ke kiri dan ke kanan, khawatir Ivan melihat keberadaannya. Begitu merasa aman ia langsung keluar dari butiq dan melangkah keluar dari mall dengan cepat karena mas ojol yang ia pesan sudah menunggunya.
Dari pantulan kaca Ivan melihat sosok Khaira yang keluar dari butiq pakaian dengan tergesa-gesa, sambil matanya menoleh ke kiri dan kanan khawatir di temukan. Ia membalik badan dan melihat kepergian Khaira sambil tersenyum tipis.
“Mencobalah untuk pergi dan menghindariku sejauh mungkin, aku akan selalu menemukanmu. Tunggu saat kau sudah ku dapatkan, tak akan mudah bagimu untuk lepas dariku,” ujar Ivan pelan.
Senyum tak hilang dari wajahnya. Dengan santai Ivan kembali ke ruangan VIP untuk menemui Roni dan Bambang. Kebetulan hidangan yang mereka pesan tampak sudah memenuhi meja.
Roni merasa heran melihat wajah Ivan tampak cerah dengan senyum tersungging di wajah tampannya. Ia merasa tenang melihatnya, karena sudah beberapa hari ini wajah bosnya itu tampak kusut dengan aroma kemarahan yang selalu menghiasi hari-hari kerja di kantor.
__ADS_1
Kini perasaan Khaira jadi lega saat mulai menaiki motor ojol yang akan membawanya kembali ke rumah. Ia tidak ingin mampir ke mana-mana lagi, tempat teraman baginya sekarang adalah rumah dan ia tidak tau sampai kapan akan bersembunyi dari sosok tinggi menjulang itu.
Bertemu lagi di dunia Ivan dan Khaira. Dukung terus ya, kritik, like, komen saran serta votenya. Sayang pada reader semua....