Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 212 S2 (Saling Terbuka)


__ADS_3

Khaira tak bisa menahan senyum ketika Ivan mulai melancarkan aksinya. Ia segera menggulung diri di dalam selimut berusaha menahan tawa atas kelakuan suaminya.


Ivan tak peduli ketika Khaira menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Handuk yang sejak tadi membungkus tubuhnya sudah dilempar Ivan ke sembarang tempat. Saat Ivan mulai membuka kaos dan celana pendeknya dengan cepat Khaira turun dari tempat tidur.


“Hei mau kemana kucing nakal?”  Ivan merasa geram melihat Khaira berjalan seperti mumi hendak keluar dari kamar.


Karena meladeni kiss membara suaminya membuat Khaira merasa haus. Ia ngeloyor ke pantri dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Melihat tatapan Ivan seperti siap menerkam Khaira mempercepat langkahnya.


Ivan semakin gemas dengan kelakuan istrinya. Ia turun dari tempat tidur. Khaira sengaja mengerjai suaminya, semakin cepat ia berjalan menghindar.  Ivan menghadang langkahnya. Khaira menghindar, dan mencari jalan lain. Akhirnya keduanya saling mengejar seperti anak kecil. Ivan tinggal geleng-geleng kepala meladeni kelakuan istrinya.


“Awas kalau dapat, tidak akan ku beri ampun.”


Khaira menjulurkan lidahnya mendengar ancaman suaminya. Ia berlari di antara sofa menghindari kejaran Ivan. Karena terbungkus selimut, Khaira tidak bebas bergerak.


Melihat istrinya yang tampak kelelahan, senyum lebar terbit di wajah Ivan. Khaira yang sedang menyeka keringatnya tidak menyadari ketika Ivan sudah berada di belakang dan langsung memeluknya.


“Akhirnya tertangkap juga,” Ivan merasa puas ketika berhasil mengurung Khaira dan memeluknya erat.


Khaira pasrah ketika Ivan membaringkan tubuhnya di sofa besar  kamar president suite itu. Keringat mengaliri  pelipisnya.


“Kamu akan mendapat hukuman,” kecupan Ivan bertubi-tubi mendarat di wajah dan lehernya.


“Bukannya mas  mengantuk. Ku lihat tadi sudah tiduran,” Khaira menahan wajah Ivan yang kini akan mendarat di bibirnya.


“Mana bisa aku tidur, kalau belum menidurkanmu,” ujar Ivan santai. Tangannya mulai bergerilya.


“Ku pikir capek  seharian bersama staf yang manis itu,”  Khaira mencibir, “Dipanggil-panggil nggak denger, rupanya sedang asyik ngobrol dan  makan berdua, istri sendiri dicuekin.”


Saat selepas Magrib, Khaira sempat melihat  Ivan makan hanya berdua Irma di ruang Dewo yang merangkap kantor administrasi pusat oleh-oleh Sekarbela. Keduanya tampak berbincang akrab.


Ivan mengerutkan kening, saat makan bersama Irma ia memang merasa ada yang memanggil namanya, tapi karena tertarik dengan topik pembicaraan  Irma membuatnya tidak menghiraukan panggilan itu.


“Yang lagi syutting pun serius amat, karena bersama dengan pejabat lupa sama suami yang hanya seorang pekerja seni,” sindir Ivan tak melepaskan jemarinya pada squisy favoritnya.


“Mas .... “ padahal Khaira sudah tidak tahan dengan sentuhan suaminya, “Tawaran mas Bagong untuk audisi iklan terbaru kelihatannya menarik. Aku jadi pengen mencoba dunia akting.”


“Kamu senang dikelilingi lelaki hidung belang itu?” nafas Ivan mulai memburu dengan sesuatu yang mulai menegang apalagi desa*** Khaira mulai terdengar pelan seperti dering nada panggilan  yang membuat gairahnya semakin meningkat.


“Senang sih,” Khaira semakin menggoda suaminya, “Seperti itu rasanya jadi pusat perhatian ....”


Ivan langsung menggigit  bibir Khaira gemas, karena godaan istrinya membuatnya semakin terpancing, “Memang seorang Alexander masih tidak cukup memuaskanmu?” nafas Ivan semakin memburu.


“Puas sih, tapi emph.... “ Khaira tak bisa mengelak ketika Ivan langsung mengungkungnya dan tak membiarkan dirinya lepas begitu saja.


“Malam ini aku tidak akan membiarkanmu istirahat. Biar kamu tau, bagaimana rasanya menantang seorang Alexsander ....” Ivan semakin melancarkan aksinya.


“Mas, aku tuh haus pengen minum,” Khaira  merasa tenggorokannya benar-benar kering setelah bersilat lidah saling menggoda dengan kata-kata yang membuat Ivan semakin tak ingin melepaskannya.

__ADS_1


Karena sentuhan-sentuhan memabukkan suaminya\, Khaira yang masih berusaha menahan diri akhirnya terpancing juga. Keduanya saling melu*** dan menghi***  menyatukan rasa yang seharian ini hanya bisa saling menatap tanpa sentuhan-sentuhan lembut yang mengisi keseharian mereka.


Tiga jam telah berlalu. Keduanya kini berbaring dengan posisi saling menghadap di sofa, tanpa keinginan untuk pindah ke kamar.


Ivan menyeka keringat yang mengalir di pelipis istrinya  dengan penuh kasih. Tatapan matanya lembut menyapu wajah ayu yang menatapnya lekat. Ia penasaran dengan kehidupan masa lalu istrinya yang hingga saat ini belum pernah ia dengar secara langsung.


“Siapa laki-laki yang sangat berarti dalam hidupmu?” Ivan bertanya pelan sambil membelai rambut Khaira dengan mesra.


Khaira mengerutkan jidatnya sambil menatap langit-langit kamar. Senyum tipis menghias bibirnya membayangkan wajah almarhum papa yang sangat menyayangi dan melindunginya dari segala hal negatif dari luar.


Ivan penasaran dengan senyum yang tergambar di wajah istrinya. Ia memegang dagu Khaira untuk menatap wajahnya, “Hayo lagi mikirin siapa?”


“Laki-laki yang spesial dalam hidupku,” Khaira berkata sambil membelai rahang kokoh suaminya.


“Siapa dia?” Ivan jadi penasaran mendengar jawaban istrinya.


“Yang pertama papa...” mata Khaira berkaca-kaca saat mengingat kebersamaan dengan almarhum papanya.


“Yang kedua?” kejar Ivan cepat. Ia tak ingin istrinya merasa sedih karena menceritakan almarhum papanya yang sangat berarti dalam hidupnya.


“Aa Abbas,” Khaira tidak melihat perubahan wajah sang suami saat ia menyebut nama Abbas dengan penuh perasaan, “Dia lelaki pertama yang mengenalkanku arti cinta dan ketulusan. Bersamanya aku merasakan ketenangan .... “


Ivan berusaha menekan perasaan cemburu yang tiba-tiba hadir menyelimuti hatinya, “Berapa lama kamu dan Abbas dekat hingga bertunangan?” tak ayal rasa penasaran hadir mengingat Abbas tidak pernah menyentuh istrinya. Dengan hubungan yang sekian lama terjalin sangat mustahil bagi Ivan keduanya tidak saling bermesraan dan berhubungan intim.


Sambil menatap wajah Ivan, Khaira menumpukan kepala di tangan kanannya. Ia berusaha mengingat kembali kebersamaan mereka.


“Kenapa kita tidak pernah bertemu saat aku datang ke kafe Abbas?” rasa penasaran Ivan muncul mengingat keduanya tidak pernah bertemu secara langsung.


“Aku jarang mampir ke kafe aa. Apalagi semenjak menggantikan oma mengurus gerai. Ketemuannya paling hari Minggu, sekalian nonton rame-rame.”


Senyum Ivan muncul mengingat kencan pertama mereka di bioskop yang berakhir dengan kekesalan sang istri.


“Mulai kapan kamu tertarik pada suami tampanmu ini?” gaya narsis Ivan membuat bayangan Abbas langsung sirna. Ivan tidak ingin kenangan tentang Abbas mengganggu malam romantis mereka.


Khaira geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan suaminya, “Aku nggak pernah kenal yang namanya Alexander Ivandra. Jangankan tertarik, melihatnya saja enggan. Lelaki sombong dan arogan.” Khaira berkata jujur mengungkapkan perasaannya saat pertama kali bertemu.


“Hei!” Ivan merengkuh Khaira dengan erat membuatnya tidak bisa bernafas dan langsung mencubit perut suaminya.


“Mas sendiri kenapa tertarik padaku, kita kan tidak saling mengenal?” Khaira menatap wajah Ivan lekat setelah pelukan Ivan terlepas, “Kekasih  mas Ivan kan  model yang terkenal itu?”


“Aku tidak suka mengingat masa lalu,” Ivan malas mengungkit hubungan masa lalunya.


“Kenapa harus menanyakan kisahku dengan a Abbas kalau mas sendiri nggak ingin mengingat masa lalu?” Khaira merasa heran melihat Ivan yang tidak tertarik membicarakan kisahnya yang telah lalu.


“Aku heran, kalian berhubungan lama. Apa saja yang dilakukan Abbas saat bersamamu?” rasa penasaran Ivan bangkit lagi. Tangannya mulai menyusuri tulang selangka istrinya yang putih dan leher jenjangnya yang bebercak kemerahan akibat tanda cinta yang ia buat.


“Penasaran apa penasaran banget?” Khaira membelai bibir Ivan dengan jari telunjuknya, “Kami hanya membicarakan tentang masa depan, tak lebih tak kurang .... “

__ADS_1


Ivan menangkap jari Khaira dan menciumnya penuh perasaan, “Saat bertemu pertama kali di rumah sakit, aku mengira kamu hamil hingga terjadi pernikahan mendadak antara kamu dan Abbas.”


Khaira terkejut mendengar perkataan Ivan. Dengan cepat ia bangkit dan duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Mas pikir aku gadis apaan?” Khaira memandang Ivan tidak senang, “Selama ini a Abbas menjagaku dan menghormatiku. Cinta itu tidak melulu soal nafsu, tapi saling menghargai dan saling mengingatkan untuk menjaga kehormatan hingga sampai ke jenjang pernikahan.”


Ivan berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh mulus istrinya. Tapi Khaira sudah terlanjur kesal mendengar tuduhan suaminya.


“Maafkan aku sayang .... “ Ivan berusaha membujuk Khaira yang wajahnya langsung mendung akibat perkataannya.


“Jangan samakan kami dengan mas Ivan  dan kekasih mas Ivan .... “ air mata Khaira luruh karena tidak terima perkataan suaminya.


“Aduh sayang, maaf  sayang .... “ Ivan langsung menarik tubuh Khaira dan memeluknya erat, Khaira berusaha menolak.


Ia benar-benar sakit hati sekarang. Bagaimana tidak, dengan mudahnya Ivan meremehkan dan menuduhnya telah hamil duluan hingga terjadi pernikahan mendadak di saat Abbas menghadapi sakaratul mautnya.


“Awal pertemuan kita memang banyak kesalah pahaman yang terjadi,” ujar Ivan pelan ketika ia dapat menenangkan Khaira dalam pelukannya, “Kesalahpahaman itu yang membuatku semakin mendekat padamu.”


Ivan mencium rambut istrinya yang masih terisak di dalam pelukannya. Ia tersenyum mengingat pertemuan demi pertemuan yang membuatnya semakin tak bisa lepas dari pesona Khaira.


“Kamu adalah perempuan terbaik yang dikirim Allah melalui Abbas untuk menjadi jodoh terakhirku .... “ ujar Ivan pelan ketika isakan Khaira sudah tidak terdengar, “Aku tidak ingin mengingat masa laluku, karena tidak ada yang dapat dibanggakan  atas masa laluku. Tetapi yang perlu kamu tau, aku sangat mencintaimu ....”


Ivan mengangkat dagu Khaira agar menatap wajahnya, tapi Khaira memalingkan muka. Masih tergambar sisa kekesalan atas tuduhan tak mendasar suaminya.


Ivan tersenyum tipis melihat Khaira yang enggan memandang wajahnya. Bibirnya menyapu telaga madu yang tampak mengerucut terkunci rapat.


“Mulai hari ini, ku harap tidak ada lagi rahasia diantara kita.” Ivan menatapnya lekat setelah mengecup bibirnya sekilas, “Aku dengan masa lalu kelam, tapi dengan kebaikan Allah mendapatkan istri seorang bidadari yang telah mengubah hidupku menjadi lebih baik.. Apa kamu mau memaafkan semua masa lalu dan menerima lelaki yang tidak tau diri ini menjadi pendamping di masa depanmu?”


Khaira diam tak bergeming. Rasa kesal atas tuduhan tak mendasar Ivan masih membekas di hatinya. Tapi akal sehatnya bekerja. Allah saja Maha pengampun terhadap umat-Nya, apalagi dirinya yang hanya manusia biasa.


Selama  hampir 4 bulan pernikahan mereka Ivan telah menunjukkan perubahan sikapnya menjadi lebih baik, dan mulai taat menjalankan ibadah, serta mulai membiasakan diri menjadi imam baginya disaat mereka beribadah bersama. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang ia dustakan?


“Sayang .... “ Ivan memandangnya lekat, “Maafkan kebodohan suamimu ini. Tapi percayalah, aku akan menjagamu selama sisa umur yang diberikan Allah padaku.”


Khaira kini membalas tatapan lekat suaminya. Tampak ketulusan yang tergambar di wajah tampan suaminya.


“Tolong ingatkan jika aku melakukan kesalahan. Bersamamu aku ingin memperbaiki diri, merubah masa lalu menjadi lebih baik.” Ivan menangkup wajah Khaira dengan kedua tangannya, “Aku tidak ingin ada rahasia antara kita berdua. Aku percaya padamua. Ku harap kau pun selalu mempercayaiku.”


Anggukan kecil dari istrinya membuat Ivan merasa lega. Kini ia percaya bahwa antara dirinya dan Khaira akan selalu saling menjaga dan mengingatkan demi kedamaian dalam rumah tangga mereka yang akan datang.


“Kita lanjutkan .... “ senyum nakal Ivan kembali membuat Khaira bergidik. Ia tau yang diinginkan suaminya sekarang.


Di luar dugaan Khaira, Ivan langsung mengangkat tubuhnya yang masih bergulung selimut kembali ke kamar. Melanjutkan memadu kasih setelah terlerai beberapa waktu akibat kesalah pahaman yang terjadi di masa lalu.


 


***Ketemu lagi readerku tersayang. Dukung terus ya ... Semoga di Senin besok author bisa up lebih banyak untuk memulai babak baru kehidupan berumahtangga Ivan dan Khaira dengan ujian pernikahan sesungguhnya....***

__ADS_1


__ADS_2