
Khaira masih duduk bersama si kembar saat Ivan dan Danu melaksanakan salat Magrib di mushola yang tersedia di dalam mall mewah itu. Fajar dan Embun yang sudah kelelahan duduk dengan anteng di kursi sambil memegang mainan yang baru saja dibeli.
Tak sengaja robot Transformer Fajar terlepas dan jatuh, membuat Khaira jadi iba pada Fajar yang sudah tampak enggan untuk bangun mengambilnya.
“Bunda …. “ Fajar memanggilnya dengan lesu.
Sesosok tubuh tegap lewat dan langsung meraih mainan Fajar dan mengulurkannya sambil tersenyum ramah.
“Wah, mainannya bagus sekali …. “ suara bariton lelaki itu membuat Khaira menegakkan badannya.
“Telima kacih Om …. “ Fajar merasa senang karena mainannya telah kembali dan ia menerima dengan senang hati saat sosok tegap itu mengembalikan mainannya.
“Iqbal …. “ Khaira menyapa lelaki gagah yang kini menatapnya dengan heran.
Lelaki itu menatap Khaira sejenak. Ia merasa mengenal suara lembut itu, tetapi dengan wajah tertutup khimar membuatnya tidak yakin.
“Rara?” Ia setengah tak yakin saat menyebut nama Khaira, perempuan bercadar yang sedang bersama sepasang bocah imut.
“Alhamdulillah kamu masih mengingatku,” Khaira merasa bersyukur karena Iqbal masih mengingatnya.
Iqbal adalah teman SMAnya dan mereka bertetangga kemudian kuliah di fakultas yang sama hingga akhirnya pindah ke luar negeri saat memasuki semester tiga. Ia cukup dekat dengan Abbas kala itu dan persahabatan mereka terjalin cukup akrab sebelum kepindahannya.
“Anak-anakmu?” Iqbal menatap dua bocah kembar yang menatapnya dengan wajah imut dan polos mereka membuatnya gemas.
“Benar. Yang ini Fajar dan adiknya Embun,” Khaira merasa senang saat memperkenalkan keduanya, “Salim Om gih …. “
Iqbal merasa senang melihat si kembar yang mengulurkan tangan padanya dan mencium tangannya saat bersalaman.
“Deddy …. “ sontak Khaira menoleh ketika Iqbal memanggil seorang lelaki yang berjalan bersama perempuan modis dan bocah berumur 6 tahun.
Ia mengenal lelaki itu, tetapi ia tidak menyangka perempuan yang bersamanya adalah Laura dan Bobby.
__ADS_1
“Wah, kita seperti reunian saja …. “ Iqbal tertawa renyah melihat Deddy teman satu angkatan yang juga dikenal Khaira walau tidak terlalu dekat.
“Iqbal, bagaimana kabarmu …. “ sambil menggandeng Bobby, Deddy berjalan mendekat, terpaksa Laura mengikuti langkah keduanya.
Babby sitter yang menemani mereka telah kembali karena malam ini ia dan Deddy berjanji untuk makan malam bersama Bobby.
Melihat Bobby yang tak mau lepas dari sang ayah, membuat kedua belah pihak keluarga menginginkan ia dan Deddy rujuk kembali demi anak semata wayang mereka yang menginginkan keluarga yang utuh. Dan kini Laura dan Deddy mencoba untuk kembali bersama.
Laura menatap Iqbal dan Khaira bergantian. Ia tidak melihat keberadaan Ivan diantara mereka. Ia malas berada di lokasi yang sama dengan Khaira, perempuan yang telah membunuh impiannya membuatnya harus menerima kembali keinginan kedua orangtuanya dan Deddy.
Deddy menatap Khaira dan Iqbal bergantian, dan memandang si kembar yang kini berdiri di samping kanan dan kiri Khaira. Ia mengagumi kedua bocah yang imut dan menggemaskan.
“Anak lo Bal,” bahasa lama mereka saat di kampus telah kembali.
“Maunya sih iya,” Iqbal tertawa pelan, “Lo ingat Rara?”
Deddy memandang perempuan yang berpakaian tertutup di samping Iqbal. Ia masih mengerutkan keningnya.
Deddy terkejut menyadari bahwa perempuan yang berpakaian tertutup di samping Iqbal adalah Rara, gadis yang banyak ditaksir senior mereka.
Laura terdiam mendengar percakapan yang terjadi. Ia tidak percaya suaminya mengenal Khaira, perempuan yang telah ia remehkan.
“Apa kabar Ded?” Khaira menyapa Deddy sambil menganggukkan kepala.
“Alhamdulillah,” Deddy membalas sapaan Khaira dengan ramah, “Anakmu kembar?”
Khaira mengangguk santai. Ia dapat melihat raut kesal tergambar di wajah Laura melihat perbincangan yang terjadi antara dirinya, Deddy dan Iqbal.
Ivan yang baru keluar dari mushola terkejut melihat istrinya berbincang dengan dua orang lelaki asing yang tidak pernah ia lihat, Bobby dan Laura juga berada di sana. Dengan cepat ia berjalan mendekat meninggalkan Danu yang masih berzikir.
“Kok gak ada yang mirip Abbas?” Iqbal menatap Khaira dengan bingung. Ia sudah yakin bahwa Khaira telah menikah dengan Abbas, satu-satunya lelaki yang berhasil menggenggam hati Khaira, teman main yang sempat mencuri hatinya begitu mereka beranjak dewasa dan kuliah di tempat yang sama, “Cantik banget putrimu …..”
__ADS_1
Ivan yang sudah berada di belakang Iqbal tidak senang mendengar nama almarhum Abbas disebut. Matanya tajam menatap Khaira yang sudah menyadari kehadirannya.
“Ayah …. “ Embun langsung turun dari kursi menghampiri Ivan yang langsung menggendongnya.
Khaira pun bangkit dari kursi melihat Ivan yang kini berdiri di sampingnya membuat Iqbal terpaku melihat sosok berkharisma yang berdiri di samping perempuan yang sempat mengacaukan pikirannya di masa lalu.
“Mas, perkenalkan Iqbal. Kami tetanggaan sejak kecil,” Khaira merangkul Ivan agar suaminya tidak salah paham melihat ia berbicara dengan lelaki asing, “Dan ini Deddy teman satu kampus dulu.”
Ivan berusaha memasang wajah ramah. Ia dapat melihat sorot kekaguman yang terpancar dari raut lelaki yang usianya sebaya dengan istrinya. Tatapannya beralih pada Deddy yang berdiri berdampingan dengan Laura dan Bobby.
“Uncle, terima kasih mainannya.” Bobby menunjukkan dua paper bag yang berada di tangan maminya.
Ivan hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Tatapannya beralih pada Iqbal yang masih memandang Embun yang berada dalam gendongannya.
“Iqbal Pramudya,” dengan ramah Iqbal mengulurkan tangannya ke arah Ivan. Ia dapat melihat raut tidak senang dari mata hitam yang memandangnya penuh selidik.
“Alexander Ivandra,” Ivan menggenggam tangan Iqbal dengan erat untuk menunjukkan kepemilikannya.
“Deddy Hardinata,” Deddy pun mengulurkan tangannya yang disambut Ivan dengan cepat.
“Ayah, mas mau ma’em …. “ Fajar langsung mengatakan keinginannya membuat wajah Ivan yang masam langsung berubah.
Untuk menunjukkan pada Khaira bahwa ia bisa bersikap ramah dengan temannya terpaksa Ivan mengundang Iqbal dan Deddy sekeluarga untuk makan malam bersama mereka. Ia jadi penasaran dan tertarik dengan cerita di masa muda istrinya.
Mungkin dengan sedikit beramah tamah dengan Iqbal dan Deddy, ia bisa mengetahui masa muda Khaira dan semua tentangnya agar hubungan mereka semakin baik tidak ada kesalah pahaman lagi di masa depan.
“Tuan Iqbal dan tuan Deddy, atas nama keluarga dan pertemanan anda di masa lalu dengan bundanya anak-anak, saya ingin mengundang anda makan malam bersama keluarga kami,” suara Ivan terdengar ramah membuat Khaira tak percaya mendengarnya.
Iqbal tertegun, ia tidak menyangka tampang kaku berwajah dingin saat perkenalan mereka pertama tadi langsung lumer dan ramah terhadapnya. Ia tidak nyaman menolak undangan dari lelaki yang sangat terkenal di masanya sebagai pemilik perusahaan entertaint.
"Dukung terus ya .... "
__ADS_1