Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 144 S2 (Kau Begitu Sempurna)


__ADS_3

Khaira membaringkan tubuhnya di kamar suite  Paris Marriott Champs Elysees Hotel. Perjalanan selama 17 jam lebih dari Jakarta – Paris membuat tubuhnya merasakan kelelahan luar biasa. Kali ini perjalanan ke dua ia bepergian ke luar negeri. Yang pertama kali ia lakukan adalah saat melakukan umroh bersama oma dan saudara-saudaranya yang lain 4 tahun yang lalu. Dan ini kali ke dua ia melakukan perjalanan ke luar negeri.


Yang membuat Khaira merasa senang Ariq dan Ali  datang bersamanya karena ada perjalanan bisnis yang tak bisa mereka tinggalkan. Sedangkan Rheina pingin ikut saat mengetahui bahwa Paris Fashion Week  yang menjadi kiblatnya mode pakaian dunia akan diadakan di hotel yang sama.


Semalaman istirahat, tubuh Khaira merasa segar kembali. Saat turun untuk sarapan di restoran ia sudah agak terlambat. Ketiganya sudah duduk dengan santai menikmati menu restoran berkelas tersebut.  Rheina menyatakan keinginannya untuk membeli beberapa barang branded yang sudah menjadi incarannya belakangan ini.


Terpaksa ia menuruti keinginan mbak Rheina untuk berburu barang mewah di Galerie des champs Elysee.  Dengan berat hati Khaira mengikuti langkah kaki Rheina yang shopping seharian di pusat perbelanjaan mewah diiringi  kedua saudara kembarnya.


Rheina berhenti saat matanya tertuju pada dua buah gaun pesta yang sangat menarik. Setelah pelayan mengambilkan apa yang ia inginkan, senyum lebar terbit di wajahnya. Ali geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya yang tarik sana tarik sini, seperti orang kesurupan saat membeli barang branded.


“Ini untuk dijual lagi beb, bukan untuk pakai sendiri juga kali …. “ Rheina cemberut melihat tingkah suaminya.


“Biarin aja, mas. Toh buat usaha juga,” Khaira membela iparnya yang kini tersenyum mendengar ucapannya.


Seharian ini selain shopping akhirnya Ariq dan Ali menuruti keduanya untuk berkeliling menikmati suasana kota Paris di musim semi yang begitu nyaman. Khaira hanya tersenyum saat Rheina menariknya untuk berfoto bersama mengabadikan perjalanan mereka.


Sudah tiga hari mereka menikmati keindahan kota Paris. Rheina tidake menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memborong apa saja yang menarik di matanya. Tatapan mata suaminya yang menyorotkan ketidaksukaan atas perbuatannya tidak ia hiraukan.


“Kapan lagi bisa ke sini, beb. Aku shopping juga bukan buat pribadi, ini tuh buat putri mahkota juga,” matanya melirik Khaira yang masih asyik memotret sudut indah kota Paris.


“Maksudmu?” Ali dan Ariq jadi penasaran mendengar ucapannya.


“Nanti malam kan resepsinya temen ade tuh, kali aja dia ketemu jodoh. Aku sengaja beliin dia dua buah gaun untuk pesta. Salah satunya dia pake buat malam ini. Besok malam dia kan harus memenuhi undangan  Paris Fashion Week, nggak mungkin juga kalau pake gaun yang  biasa. Kalau ade disuruh milih sendiri, nggak bakalan  mau dia.” Rheina  kembali memandang Khaira yang berjalan menjauh, mencari angle yang tepat untuk hasil jepretannya.


Keduanya melihat Khaira yang masih sibuk dengan aktivitas memotretnya, tak mempedulikan apa yang diomongkan kedua saudara serta iparnya.


“Aku juga mikirin nasibnya, kehidupannya ke depan. Makanya ntar malem, dia tak dandani biar beda gituu …. “


Ariq tersenyum mendengar  alasan iparnya. Ia turut senang karena bukan hanya mereka, tetapi istri dan ipar-iparnya juga memikirkan kehidupan adik kesayangan mereka.


“Kalau kartu kredit suamimu di ambang batas, kirim saja tagihannya padaku,” ujar Ariq santai.


Mata Rheina langsung berbinar mendengar perkataan iparnya, “Makasih iparku tersayang. Ini yang aku tunggu dari kemarin.”

__ADS_1


Ali melengos mendengar perkataan istrinya. Tapi ia cukup senang, karena istrinya juga perhatian pada Khaira dan sering mencoba menjodohkan Khaira dengan saudaranya yang telah mapan maupun  rekan bisnis Ali.


Ali tau, kriteria Rheina dalam memilihkan pasangan buat Khaira memang selalu best of the best, tapi yang mau dijodohkan selalu berkelit, sehingga semua usaha Rheina selalu zhonk. Tapi ia tak pernah putus asa.


“De, pulang dari sini kita langgung perawatan di hotel ya. Mbak yang traktir. Nanti malam kita harus tampil sempurna untuk menghadiri resepsi Agnes.”


“Biasa aja kali mbakk …. “ Khaira mencibirkan bibir mendengar perkataan Rheina.


“Kamu itu. Kita ini di Paris lho, bukan resepsi di kompleks yang ada dangdutannya. Gimana sih kamu!”


Khaira tersenyum mendengar gerutuan Rheina mengingatkan ia saat menemani mertuanya pergi kondangan resepsi di kampung sebelah. Biduan dangdut kampung dengan baju kekurangan badan, asyik meliuk-liukkan badan seperti cacing kepanasan membuatnya menahan rasa malu.


“Pasti lu ngebayangin penyanyi yang kayak cacing itu kan?” Rheina menatapnya curiga.


Khaira tak bisa menahan tawanya dan langsung mendaratkan cubitan di tangan Rheina, “Kok mbak tau?”


“Wajahmu itu tak bisa bohong.” Rheina tersenyum penuh kemenangan, “Sekarang waktunya untuk we time. Kita harus tampil sempurna malam ini.”


Ariq dan Ali hanya tersenyum berpandangan mengikuti langkah kaki keduanya. Setengah hari mengulik kota Paris sudah cukup melelahkan bagi mereka kini waktunya istirahat.


Rheina merasa puas melihat hasil kerja kerasnya setelah me-make over Khaira.  Ia berusaha memadukan gaun pesta rancangan desainer ternama yang awalnya terbuka kini  lebih stylish dengan penampilan Khaira dan dirinya yang berhijab hingga akhirnya di tangan dingin Rheina gaun tersebut semakin sempurna.


“Mbak rasa cantikan tamu dari pada pengantin itu sendiri,” ujar Rheina memuji hasil pekerjaannya.


“Jadi turun nggak nih?” Khaira udah cape mendengar Rheina yang sibuk memuji dirinya dari tadi.


“Ntar,” Rheina menjawab cepat.


Setelah selesai berdandan, keduanya segera keluar dari kamar dan menghampiri Ariq dan Ali yang sudah menunggu beberapa jam yang lalu.


“Bisa-bisa tamu salah sangka,” Ali berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat penampilan istri dan adiknya yang baru keluar dari kamar.


Sementara itu Ivan yang baru tiba di Paris Marriott Champs Elysees Hotel  masih santai di lobby. Ia belum menuju kamar yang sudah direservasi. Ia datang bersama rombongan sebanyak 7 orang, 4 diantaranya Sandra serta Gisel asistennya dan 2 model yang telah dikontrak. Dua orang asistennya Yosef dan Hary yang akan mengurus segala keperluan selama mengikuti fashion show serta pemotretan brand kecantikan terkenal di Paris.

__ADS_1


Sandra merasa kesal karena ia harus berada satu kamar dengan Gisel yang ia ketahui begitu mengidolakan Ivan. Ia yakin selama seminggu di Paris, banyak kesempatan yang ia punya untuk kembali meraih cinta bos mereka.


Ivan tak mempedulikan apa yang ada di benak model dan asistennya. Sebenarnya ia malas untuk memenuhi undangan Peter, tapi  ia harus profesional. Apalagi jalinan kerja sama antara ia dan Peter sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Bukan hanya rumah produksi mereka yang digunakan Peter, tetapi model serta teamnya satu paket komplit sudah dipilih Peter untuk mempromosikan produk mereka.


Ivan  masih memeriksa  email masuk di ponselnya sambil menunggu Edward teman kampusnya yang kini adalah pewaris hotel tempat mereka menginap sekarang. Persahabatan ia dan Edward terjalin sangat erat. Edward lah yang pertama kali memperkenalkan dirinya dengan dunia malam, hingga ia terjebak dalam pergaulan bebas dan terbiasa bersenang-senang di klub saat masih kuliah di Amerika Serikat.


Begitu mereka menamatkan studynya di Harvard University, Edward kembali ke Perancis, dan Ivan harus kembali ke tanah air untuk meneruskan usaha sang ayah yang bergerak di bidang enternainment.


Ivan terpaku saat melihat sosok anggun dengan berpakaian pesta melintas di depannya bersama dua orang lelaki dan seorang perempuan. Ia kembali menatap ponselnya yang berbunyi menandakan chat masuk.


Ivan menggelengkan kepala tak percaya dan menganggap itu hanyalah ilusinya tentang janda Abbas yang tiba-tiba melesak di pikirannya yang sedang kosong. Tapi suara itu terdengar nyata, dan terdengar tawa renyah membuat telinga Ivan berdiri.


Tanpa sadar Ivan bangkit dan mengikuti keempat orang yang berjalan menuju lift. Saat ia tiba di depan lift, kondisi lift sudah full dan ia harus tertahan di pintu. Tatapan mata Ivan tak teralih pada sosok yang ia yakini janda Abbas. Begitu sosok itu membalikkan badan ….


Ivan terkesima melihat pemandangan di depan matanya. Seorang perempuan cantik dengan penampilan menawan dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sampai pintu lift tertutup Ivan masih memandang lift yang kini telah naik ke lantai atas, dengan bayangan  perempuan muda yang telah membuatnya terpesona.


“Alex …. “ tepukan di bahunya menyadarkan Ivan dari keterpakuannya.


“Edward …. “ keduanya langsung berpelukan karena sudah hampir tiga tahun tidak pernah bertemu.


Ivan mengikuti langkah Edward yang mengajaknya menuju ruangan yang menjadi kantornya di lantai 3 hotel mewah tersebut. Saat melewati sebuah aula, tampak ada perayaan. Ia teringat dengan wajah Khaira jandanya Abbas yang sempat ia ikuti hingga di lift.


“Ada perayaan apa di ruangan itu?” rasa penasaran Ivan tak bisa ia sembunyikan.


“Sepupu jauhku Agnes Caroline menggelar resepsi pernikahannya,” jawab Edward santai, “Jika kamu lama di Paris ini, aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang menyenangkan. Gadisnya bukan main, dari semua negara lengkap. Kamu tinggal pilih, aku yang traktir.”


Ivan tersenyum kecut, bayangan Khaira kembali melesak di pikirannya. Sekarang ia sudah tidak bisa mengusir dan menghapus wajah itu dari benaknya. Racun istri Abbas sudah menjalar. Ia sudah tak bisa berpikir jernih.


“Apa kamu sudah menikah?” Melihat Ivan yang kurang respon terhadap perkataannya membuat Edward  melayangkan pertanyaan seketika.


“Entahlah. Aku tidak mengerti yang terjadi pada diriku sekarang. Semenjak melihatnya ke sekian kali, otakku seperti tidak bisa berpikir. Semuanya hanya tentang dia …. “ Ivan berusaha jujur dengan perasaannya pada Edward.


“Wah, kamu telah jatuh cinta.” Edward menepuk bahunya, “Perempuan seperti apa yang membuat Alex mampu melupakan Sandra?”

__ADS_1


“Malam ini ia begitu sempurna di mataku.”


Ayo dukung terus! Kritik, saran, like dan votenya ya. Kalian begitu sempurna. Sayang selalu untuk reader yang selalu menunggu kisah babang Ivan dan dede Khaira ya ....


__ADS_2