Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 177 S2 (Malam Pertama)


__ADS_3

Ivan membelai wajah ayu yang masih terlelap dengan rona pucat yang menghiasi wajahnya. Raut kekhawatiran masih tergambar di wajah tampannya melihat Khaira terkulai tak berdaya.


Beberapa saat yang lalu ketika ia masih terlibat percakapan dengan Fatih dan Valdo, sudut matanya menangkap pemandangan yang ganjil. Ia melihat Khaira berjalan pelan dengan berurai air mata melewatinya dengan tatapan kosong. Hingga tubuh Khaira mendadak lunglai, beruntung ia cepat menangkapnya dan membopongnya dengan cepat. Ia meminta saudara Khaira menyiapkan mobil untuk membawanya ke rumah sakit terbaik.


Beberapa saat yang lalu dokter piket telah memeriksa keadaan Rara, dan Ivan cukup lega saat dokter mengatakan bahwa Rara hanya kelelahan dan perlu istirahat yang cukup apalagi ia dalam keadaan hamil muda. Senyum tambah lebar di bibirnya ketika dokter mengingatkan  untuk mengurangi frekuensi berhubungan karena kandungan istrinya yang sangat lemah.


Senyum tipis kembali terbit di wajahnya saat beberapa menit yang lalu ia membantu para perawat membuka gaun pengantin yang sedang dipakai istrinya. Kulit putih halus mulus membuat jantungnya berdetak cepat ketika ia menahan tubuh Khaira saat perawat mulai melepas gaun pengantin dan menggantinya dengan baju pasien. Sudah setengah jam Khaira masih belum membuka mata. Ivan menatap wajah istrinya dengan penuh perasaan.


Entah bagaimana ia bisa jatuh cinta sedalam ini dengan perempuan yang kini telah sah menjadi istrinya bahkan mengandung janin miliknya. Ivan mendaratkan kecupan singkat di kening Khaira. Setelah puas memandang wajah istrinya, ia mulai membangunkan Khaira.


“Ra, Rara …. “ belaian lembut di pipinya membuat Khaira membuka kedua matanya.


Ia terkejut melihat wajah Ivan yang tepat berada di depannya hanya terpisah beberapa senti sehingga ia bisa merasakan hembusan nafasnya yang memburu dengan sorot penuh kekhawatiran.


Khaira memandang sekelilingnya. Ia merasa heran melihat ruangan yang serba putih, dan hanya ia dan Ivan yang berada di sana. Padahal beberapa menit yang lalu, ia masih berada di ballroom hotel. Khaira menyadari gaun pengantin yang ia pakai sudah berganti dengan baju pasien, sedangkan Ivan masih menggunakan kemeja yang ia pakai saat berada di pelaminan tapi lengannya sudah digulung hingga ke siku dengan jas yang sudah dilepas.


Khaira mencari sosok yang ingin ia temui, dan berusaha bangun dari pembaringan.


“Kamu kelelahan hingga tak sadarkan diri,” Ivan menahan bahunya yang sudah siap untuk duduk, “Berbaringlah, aku akan menjagamu.”


Khaira memandang Ivan sekilas. Dapat ia lihat mata hitam itu penuh intimidasi yang membuatnya tak berani membantah. Ia menghela nafas dengan berat.


“Jangan berpikir macam-macam. Aku akan mengurus semuanya, percayakan padaku.”


Khaira memejamkan mata tak mampu membalas mata hitam kelam yang tak beralih dari wajahnya. Ia malas bertatapan dengan wajah tampan yang masih memandangnya dengan lekat, rasa benci masih terasa kuat mengikat hatinya mengingat lelaki itu yang telah merampas hak Abbas di sisinya.


Ivan menahan senyum melihat wajah ayu yang kini memejamkan mata di hadapannya baru sepersekian detik yang lalu masih menatap wajahnya dengan tajam. Tatapannya beralih pada kedua tangan Khaira yang terlipat di atas perut.


Senyumnya semakin mengembang saat menyadari bahwa tidak ada lagi cincin almarhum Abbas yang melingkar di sana. Dengan perlahan ia meraih tangan Khaira dan mengecupnya  mesra. Senyumnya hadir saat Khaira kembali membuka mata dan menatapnya dengan pasrah. Kini pandangan itu tidak segalak tadi.


Tanpa diduga Khaira Ivan mendekatkan wajah padanya. Terasa kecupan hangat mendarat di keningnya. Mata Khaira membulat. Kecupan Ivan beralih, bibirnya mendarat dengan sempurna pada bibir  penuh milik istrinya yang sejak tadi mengundangnya untuk merasakan telaga madu yang sangat ia rindukan.


Walau pun Khaira tidak membalas\, Ivan tetap melanjutkan aksinya. Ia menghi**p dan melu***nya dengan sepenuh jiwa. Perasaan hangat membalut hatinya\, kalau tidak ingat mereka berada di rumah sakit sudah ia lakukan tugas sebagai suami di malam pertama kebersamaan mereka.


Setelah merasa puas mengakrabi telaga madu, Ivan menjauhkan wajah dari Khaira. Dapat ia lihat wajah istrinya kini bersemburat merah. Ia membelai pipi Khaira yang kini mulai berisi.


“Wah, sayang malam pertama tertunda karena mempelai wanita kelelahan,” celetukan Junior yang datang bersama ipar-iparnya serta saudara Khaira membuat Ivan terkejut. Ia tak menyangka saudara Khaira kini berkumpul di ruang rawat istrinya.


“Benar de.  Untung saja saat pernikahan kami mba mu dalam keadaan fit,” cetusan Valdo membuat Hasya merasa geram, “Aduh!”


Valdo meringis merasakan capitan tajam di perutnya. Ia memandang wajah istrinya dengan sorot memelas.

__ADS_1


“Rasain!” Hasya memandang Valdo dengan kesal.


Ivan berdiri menyambut kedatangan ipar-iparnya. Dapat ia lihat sorot tajam dari mata Ali. Kini ia menyadari di antara semua saudara istrinya, Ali lah  yang punya temperamen paling keras, dan akan melakukan tindakan cepat jika sesuatu terjadi pada adik kesayangan mereka.


“Ada yang harus kita bicarakan di luar,” Ariq segera memotong pembicaraan unfaedah yang terjadi di dalam ruangan.


Ivan kembali menatap wajah Khaira yang kini sudah normal kembali, “Aku akan keluar sebentar.”


Tanpa mempedulikan kependiaman istrinya, dengan santai Ivan kembali mendaratkan bibirnya di kening Khaira.


“Suit, suit …. “ Junior mulai lagi dengan tingkah konyolnya.


Ivan tak peduli, ia menatap Hasya, “Mbak saya titip  Rara sebentar.”


“Baiklah, kami akan menunggumu di sini,” Hasya tersenyum sambil menganggukkan kepala, “Jangan khawatir nggak bakal ada kuman yang masuk sini.”


Ivan tersenyum mendengar perkataan ambigu kakak iparnya. Tatapannya kembali terarah pada istrinya. Keduanya saling berpandangan. Ivan tersenyum lalu melangkah segera menyusul Ariq, Ali serta Fatih yang berjalan ke luar dari ruang rawat inap kelas VVIP di rumah sakit Jakarta.


Keempat lelaki dewasa itu kini kembali ke hotel Grand  Horisson memasuki sebuah kamar yang dijaga 4 orang lelaki kekar.


Ardi bangkit dari kursi begitu melihat kedatangan Ivan dan ketiga lelaki yang tidak ia kenal. Ia habis bertengkar hebat dengan keempat lelaki yang menjaga kamar no 315 tersebut.


“Van, tolong keluarkan Sandra dari dalam ruangan itu,” Ardi menghadang langkah Ivan.


Kini mereka berlima berada di sebuah kamar suite yang telah disulap menjadi kamar pengantin.


Ali melemparkan amplop kuning dengan kasar ke wajah Ivan hingga  membuat isinya jatuh berserakan  di lantai.


“Tidak ku sangka di malam pernikahan kalian inilah kado yang sangat istimewa yang akan diterima Rara,” dengus Ali penuh kemarahan.


Ivan terpaku melihat foto-foto intimnya bersama Sandra menjadi konsumsi ipar-iparnya. Ia mulai berpikir jangan-jangan hal inilah yang membuat Khaira jatuh hingga tak sadarkan diri.


“Jika keadaan Rara membaik, kami akan membawanya kembali ke rumah,” Ariq mulai membuka suara.


Ia kini benar-benar kecewa dengan lelaki yang baru saja resmi menjadi adik iparnya. Padahal ia sudah berharap banyak pada Ivan untuk memberikan kebahagiaan pada Khaira. Tapi melihat kenyataan yang terjadi langsung membuang harapannya hingga ke dasar. Ia tidak rela jika Khaira merasakan kesedihan melihat foto-foto tak senonoh antara Ivan dan perempuannya.


“Tidak! Kalian tidak bisa melakukan itu padaku. Rara adalah istriku. Aku akan membawanya bersamaku,” suara Ivan meninggi.


Ardi melihat pertentangan yang terjadi. Ia merasa hawa panas kian melingkupi ruangan yang awalnya terasa dingin saat mereka masuk.  Ia tidak menyangka bahwa istri Ivan bukan perempuan sembarangan, tetapi keluarga pemilik perusahaan multi nasional yang sepak terjangnya sudah melanglang buana di seluruh dunia.


“Aku menyesal menerima lamaranmu. Kalau tidak karena perbuatanmu pada Rara, rasanya aku ingin menggantungmu hidup-hidup,” akhirnya Ariq mengungkapkan kemarahan yang berusaha ia tahan.

__ADS_1


“Sekarang kami ingin kamu menjatuhkan talak pada Rara. Dengan begitu tidak ada lagi hubungan kalian di masa yang akan datang. Pernikahan ini pun bukanlah sesuatu yang diinginkan Rara,” Ali menatap Ivan dengan tajam, “Kami tidak mau memiliki ipar yang memiliki hubungan bebas dengan perempuan. Ini baru satu, entah masih berapa banyak lagi perempuan yang menyimpan foto  dan video asusilamu, yang suatu saat akan datang meminta pertanggung jawabanmu.”


Ivan menggelengkan kepala mendengar perkataan Ariq dan Ali yang telah menyudutkannya. Kebahagiaan yang baru beberapa jam yang lalu ia rasakan kini akan dirampas hanya karena perilaku di masa lalu yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi momok baginya untuk mendapatkan perempuan terbaik yang ia kenal bahkan telah ia miliki.


“Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Rara. Aku mencintainya. Antara aku dan Sandra tidak ada hubungan apa pun. Kami telah berakhir setahun yang lalu.” Ivan berkata dengan sungguh-sungguh, “Sekarang Sandra bersama Ardi sahabatku.”


Mendengar perkataan Ivan dan melihat tatapannya yang  penuh harap padanya membuat Ardi berpikir kalau Ivan sangat membutuhkan dukungannya saat ini. Ia yakin bantuannya akan membuat Ivan keluar dari permasalahan yang cukup berat.


“Apa yang dikatakan Ivan benar. Sekarang aku memang bersama Sandra. Aku mohon kalian melepaskan Sandra secepatnya, karena aku akan membawanya pergi dari sini,” Ardi langsung menyela pembicaraan mereka.


“Tidak semudah itu kami melepaskannya. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya membuat Rara jatuh pingsan. Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, kami tidak akan segan menghukumnya dengan cara kami,” ancam Ali sambil menatap Ivan dan Ardi bergantian.


“Aku mohon jangan pisahkan aku dan Rara. Aku ingin bersamanya dan anak kami yang berada dalam kandungannya,” Ivan memohon dengan penuh harap, “Ijinkan aku membuktikan bahwa aku mampu membahagiakan Rara.”


Ariq dan Ali terdiam mendengar permohonan tulus yang diucapkan Ivan. Mereka yakin Ivan adalah lelaki yang bertanggung jawab, tapi masa lalu Ivan membuat mereka menyimpan kekhawatiran yang mendalam jika suatu saat masalah baru muncul lagi dalam kehidupan rumah tangga Ivan dan Khaira.


Sandra terpaku melihat Ivan yang menatapnya dengan raut dipenuhi kemarahan. Ia tak menyangka apa yang ia lakukan membuat dirinya berada di situasi kurang menguntungkan.


“Mulai detik ini aku memecatmu dari agensi milikku. Dan aku akan menjebloskanmu ke penjara,” Ivan berkata tanpa perasaan.


“Aku mohon jangan lakukan itu. Tidak adakah cinta yang tersisa sedikitpun di hatimu?” Sandra menatap Ivan dengan sendu.


“Bukankah sudah ku bilang kita sudah selesai!” bentak Ivan kasar, “Aku kasihan padamu. Setelah semua pengkhianatan yang kau lakukan, kau masih berharap aku menginginkanmu. Cih!”


Rasanya Ivan ingin mencekik Sandra saat itu juga. Tapi nuraninya masih jalan. Ia tau, Sandra berasal dari keluarga tidak mampu, karena itulah ia tidak ingin mematikan karir Sandra, dan lagi masih banyak produser yang ingin memakai jasanya.


“Aku mencintaimu Van, tak bisakah kau memberiku kesempatan?” Sandra masih berusaha mengungkapkan perasaannya yang benar-benar tulus.


“Cintailah laki-laki yang tulus padamu. Maafkan aku, kita sudah bersimpangan jalan. Aku mencintai istriku,” Ivan memandang Sandra sekilas, “Jangan pernah untuk mengganggu kehidupanku dan istriku. Aku tidak main-main dengan apa yang ku katakan.”


Sandra terdiam. Ia tau, bukan hanya Ivan tetapi saudara Khaira telah mengancamnya, dan itu membuat dirinya sadar, bahwa ia memang harus mundur dari kehidupan Ivan dan Khaira jika masih sayang dengan nyawanya.


“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?” Sandra berkata dengan penuh harap. Ia berjanji akan segera menjauh dari kehidupan keduanya.


Ivan menggelengkan kepala dengan cepat. Ia tak ingin memberikan kesempatan sekecil apa pun pada Sandra. Pikirannya hanya satu, ia ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya.


Sandra terkejut saat keluar dari kamar melihat  Ardi dan ketiga laki-laki yang telah mengintimidasinya masih menunggu dengan tatapan yang berbeda. Ia menghela nafas dengan berat. Tidak ada pilihan baginya, mengikuti Ardi lah yang terbaik untuknya saat ini.


“Ayo kita pergi dari sini,” Ardi  segera mengulurkan tangan padanya yang disambut Sandra dengan lemah tak bersemangat.


Ivan keluar dari kamar dengan perasaan lega. Satu masalah sudah terselesaikan dengan baik tanpa harus terjadi pertumpahan darah.

__ADS_1


Dukung terus author ya. Salam sayang untuk semua ....


__ADS_2