Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 262 S2 (Rahasia Ustadzah Aisya)


__ADS_3

“Aku tau perbuatanku mungkin meninggalkan luka yang dalam terhadap Rara sehingga saudaranya melakukan semua ini .... “  Ivan berkata dengan tidak bersemangat.


“Ganti identitas, pembatalan pernikahan, penerbitan buku nikah baru dengan lelaki yang sudah meninggal .... “ ustadz Hanan memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut saat mengomentari permasalahan rumit yang menimpa sahabatnya.


“Hatiku sudah terlanjur terikat dengan si kembar,  apalagi mereka darah dagingku. Rasanya berat bagiku untuk menjauh dari mereka .... “ tatapan Ivan mengarah ke rumah tempat orang-orang yang dicintainya bernaung.


“Akhirnya aku memahami apa yang disembunyikan ustadzah Aisya selama ini .... “ ustadz Hanan berkata pelan sambil menatap Ivan.


“Apa maksudmu?” kejar Ivan cepat.


Ustadz  Hanan teringat saat untuk kedua kalinya ia berniat mengkhitbah Khaira saat keduanya berada di masjid.


“Ustadzah Aisya mengatakan bahwa dirinya memiliki rahasia kelam dalam hidupnya, yang tak mungkin ia bagi dengan siapa pun,” Ustadz Hanan berkata nyaris tak terdengar, “Beliau berkata bahwa ia akan menanggung semua dosa masa lalu yang telah ia lakukan. Aku jadi berpikir, dosa besar apa yang ia lakukan sehingga menutup diri seperti itu .... ”


“Apakah Rara mengatakan itu saat kamu melamarnya untuk yang kedua kali?” Ivan langsung menembak ustadz Hanan yang terkejut  dengan pertanyaannya.


“Darimana kamu mengetahui itu?” ustadz Hanan tak percaya dengan pertanyaan Ivan yang bernada sinis dengan tatapan tajam padanya.


“Mata dan telingaku ada dimana-mana. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengusik kepunyaanku,” Ivan berkata dengan serius.


“Jangan berpikir negatif,” sela ustadz Hanan cepat, “Aku tidak akan merebut milik sahabatku sendiri.”


Ivan langsung terdiam mendengar tanggapan ustadz Hanan terhadap perkataannya. Ia tau ustadz Hanan konsisten dengan perkataannya dan selalu menepati janji.


“Ustadzah Aisya memang perempuan terbaik yang pernah  ku kenal setelah istriku,” ustadz Hanan kembali menyuarakan isi hatinya pada Ivan, “Beliau pun sangat menghargai perasaanku. Walau pun dia menolak, tapi perkataannya tidak membuatku tersinggung.”


“Apa yang Rara katakan padamu?” Ivan jadi penasaran mendengar ucapan ustadz Hanan.


“Dia bersimpati atas perasaan yang ku miliki padanya. Tapi ia merasa dirinya bukan perempuan terbaik yang bisa mendampingiku untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Hanya rasa sesal atas dosa masa lalu serta niat dan ikhtiar untuk berbuat yang lebih baik yang ia inginkan untuk si kembar, serta kebahagiaan mereka berdua yang jadi prioritasnya di masa yang akan datang,” ustadz Hanan membayangkan wajah Khaira saat mereka berbicara serius di sore itu, “Aku sempat berpikir negatif tentang masa lalu kelam yang  ia lalui sehingga menolak niat baikku.”

__ADS_1


“Menurutmu?”


“Sekarang aku dapat menyimpulkan, mungkin ... karena kasus pembatalan pernikahan kalian dan pembuatan buku nikah baru yang melibatkan almarhum suaminya itu yang membuatnya menutup diri,”  ustadz Hanan menatap Ivan dengan perkataannya yang meyakinkan, “Aku mengerti sekarang, ternyata inilah rahasia terbesar yang disembunyikan ustadzah Khaira dari kami semua.”


“Danu pun berkata seperti itu,” desis Ivan, “Bukankah menurutmu itu dosa besar?”


“Tidak ada manusia yang suci tanpa dosa Ivan. Termasuk aku sendiri, kadang nafsu keduniawian lebih berat dari pada  pikiran kita tentang akhirat. Kita manusia makhluk lemah yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa.”


“Yah, aku sangat paham akan hal itu. Aku pun merasa melakukan kesalahan yang mungkin membuat saudara Rara tidak akan memberikan maaf atas semua perbuatanku pada Rara.”


Ustadz Hanan tersenyum tipis, “Dalam keyakinan kita dosa besar itu adalah  syirik yaitu perbuatan menyekutukan Allah. Memang apa yang dilakukan saudara ustadzah Aisya adalah sebuah pelanggaran dan penistaan terhadap lembaga keagamaan dan pemerintah, karena telah mempermainkan sebuah janji suci serta persaksikan di hadapan Allah. Tapi kembali lagi, jika mereka telah melakukan taubatan Nasuha  dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menerima tobat para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?”


Mata Ivan berkabut mendengar ucapan panjang lebar ustadz Hanan. Ia tidak bisa menahan emosi yang terasa menusuk di hatinya. Semua perbuatan masa lalu harus ia bayar dengan sangat mahal.


“Aku sudah merasakan tersiksanya hidup dalam penyesalan selama tiga tahun belakangan ini  karena jauh dari Rara. Apa lagi setelah mengetahui bahwa dia telah melahirkan si kembar, darah dagingku sendiri ....” suara Ivan terasa sangkut di tenggorokan saat mengucapkan itu, “Bagaimana aku meragukan kekuasaan Allah dan mengatakan pada Rara bahwa dia tidak mampu memberikanku keturunan.”


“Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Bisa jadi ini jalanmu untuk menggapai kebahagiaan di masa yang akan datang, walaupun penuh rintangan onak dan duri. Tapi yakinlah kalau ustadzah Aisya adalah jodohmu, cinta tidak akan salah dalam memilih. Yang penting harus fokus untuk menggapai apa yang kita niatkan. Dan selalu berdo’a mengharap pada Yang Kuasa,” ustadz Hanan menepuk bahu Ivan yang kelihatan terpukul mengingat semua perkataan dan perbuatannya di masa lalu.


“Ketika kecelakaan kecil yang menimpa Fajar pagi itu,” Ivan mengingat kembali disaat ia mengikuti ustadz Helmi mengisi biodata pasien di puskesmas, “Aku melihat nama kedua orangtua Fajar.  Aku melihat nama sahabatku almarhum Abbas Setyawan sebagai ayah kandungnya.”


“Apa saat itu kamu sudah tau bahwa ustadzah Aisya adalah istrimu yang selama ini kau cari?”  rasa penasaran ustadz Hanan semakin kuat.


Ivan langsung menceritakan kembali perjumpaan pertama  hingga ia berinisiatif mengikuti kepergian Khaira ke Singapura dan menemukan fakta-fakta terbaru dalam kehidupan rumah tangganya dan Rara.


“Jadi rumah ini milikmu bukan Danu?”  ustadz Hanan langsung menanyakan kecurigaannya atas kepemilikan rumah megah yang dibangun dalam tempo yang tidak terlalu lama.


Ivan menganggukkan kepala dengan cepat.  Setelah cukup lama bercerita dan mencurahkan segala asa yang tersimpan di dadany, perasaannya lebih lega. Ivan  merasa lega mengakhiri semua unek-unek yang telah membelenggunya selama ini pada orang yang tepat.


“Aku sengaja meminta Danu melakukannya untukku. Jika Rara mengetahui bahwa akulah pemilik rumah ini, aku khawatir dia akan semakin menjauh,” Ivan berkata sendu.

__ADS_1


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” ustadz Hanan mengernyitkan dahi mendengar ucapannya.


“Aku dan Rara 3 tahun membina rumah tangga. Dia perempuan tertutup, selalu menyembunyikan kesedihannya seorang diri dan menganggap seolah semua baik-baik saja.”


“Bagaimana dengan perempuan yang ku lihat mulai memberi perhatian lebih padamu. Aku khawatir kamu akan terpengaruh dengan hal-hal seperti itu lagi,” bayangan Laura yang menatap Ivan dengan sorot berbeda membuat ustadz Hanan mengingatkannya.


“Aku hanya fokus pada Rara dan si kembar. Merekalah keluargaku yang akan ku perjuangkan. Aku akan membatasi diri dengan semua pekerjaan karena keinginanku hanya satu membawa Rara dan si kembar bersamaku kembali.”


Ustadz Hanan manggut-manggut mendengar perkataan Ivan yang penuh dengan ketegasan.


Lamanya waktu yang mereka lewati saat Ivan menumpahkan semua beban di hatinya tak terasa hingga azan Subuh berkumandang di masjid pondok.


“Masya Allah tak terasa sudah memasuki waktu Subuh,” ustadz Hanan berguman sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


“Mohon dukung aku demi si kembar,” Ivan menatap ustadz Hanan penuh harap, “Aku selalu mencintai Rara dan tidak bisa jauh dari mereka.”


“Insya Allah sebagai sahabatmu aku akan mendo’akan yang terbaik untuk masa depan kalian. Dan tetap bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah. Semoga Allah segera menyegerakan segala yang terbaik untuk kehidupan rumah tanggamu. Dan semoga Allah segera menyatukan kalian dalam ikatan sunnah Rasulullah membentuk keluarga sakinah mawaddah dan warahmah,” ustadz Hanan berkata dengan tulus sambil menepuk bahu Ivan berusaha menyemangatinya.


“Aamiin ya Rabbal ‘alamiin,” mata Ivan berkaca-kaca saat mengaminkan doa yang telah diucapkan ustadz Hanan untuk mendukung perjuangannya demi menyatukan keluarga mereka dalam ikatan suci pernikahan yang telah terlepas karena pembatalan yang telah lalu.


“Kamu ikut salat Subuh di masjid?” ustadz Hanan memandang Ivan saat keduanya sudah berjalan beriringan menuju pintu depan rumah.


“Ya,” Ivan mengangguk cepat.


“Eh, pak Ustadz belum pulang?” Danu terkejut melihat Ivan dan ustadz Hanan jalan berbarengan. Ia dan kedua orang tuanya sudah bersiap ke masjid untuk mengikuti salat Subuh berjamaah.


“Mendengar curhat bosmu ini, sampai waktu Subuh tidak terasa,” ujar  ustadz Hanan sambil tersenyum.


Bu Warti dan pak Marno memandang Ivan dan ustadz Hanan dengan bingung. Mereka bertiga tidak menyadari kalau keduanya tidak tidur semalaman suntuk karena saling bercerita dan memberi solusi terbaik bagi salah satunya yang sedang dilanda kesedihan.

__ADS_1


Akhirnya mereka berlima berjalan bersama menuju masjid yang kini mulai ramai dengan para penghuni pondok yang akan melaksanakan salat Subuh berjamaah.


__ADS_2