
Dokter sedang melakukan room visit pagi itu ketika Ivan dan Laras duduk di depan ruang inap si kembar. Jam 10 siang mereka akan kembali ke rumah.
“Aku mendengar percakapan mama dan Rara tadi malam,” ujar Ivan pelan.
“Maafkan mama, karena tidak bisa mengubah keputusan Rara,” raut kesedihan tergambar di wajah Laras saat mengatakannya.
“Aku tau. Rara seperti membangun dinding yang kokoh untuk dirinya,” Ivan berkata dengan penuh kesedihan, “Entah sedalam apa luka yang ku tinggalkan, sehingga sulit baginya untuk menerimaku kembali.”
“Mama tidak akan berhenti berusaha agar kalian bisa bersama lagi.”
“Cukup doa mama yang ku harapkan.”
Tatapan Laras memandang ke arah taman. Wajahnya kelihatan berduka. Ia tidak ingin terlalu lama membiarkan anak dan cucunya terpisah.
“Mungkin usia mama tidak akan lama lagi. Di saat-saat terakhir mama ingin kalian bersama, agar mama tenang meninggalkan dunia ini …. “
“Mama ngomong apa?” Ivan terkejut mendengar nada keputusasaan dari bibirnya, “Kami akan bersama dan mama ada di dalamnya.”
“Van, umur manusia tidak ada yang tau. Mama sudah tua, mama ingin kamu bahagia. Mama pasti akan mewujudkan keinginanmu sebelum Yang Kuasa menjemput.”
Ivan meraih tangan Laras dan menciumnya. Ia merasa tidak nyaman mendengar perkataan mamanya.
“Kita akan bersama membesarkan si kembar. Aku selalu berdoa agar kita selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang agar bisa berkumpul kembali dengan bundanya Fajar dan Embun.”
Laras memandang Ivan dengan lekat. Ia tau kesedihan yang disembunyikan putra kesayangannya. Walaupun di luar kelihatan tegar dan kuat, tetapi saat-saat tertentu ia dapat melihat kerapuhan yang tergambar dari mata kelamnya.
“Mama akan selalu berjuang untukmu,” Laras mengusap bahu kokoh putranya untuk terus menyemangati agar tidak putus asa dalam meraih keluarganya kembali.
“Terima kasih ma. Aku tidak menginginkan yang lain lagi,” Ivan berusaha tersenyum untuk membuktikan pada mamanya bahwa dia akan sanggup menunggu sampai kapan pun.
Fatih dan Ali datang bersamaan. Keduanya sudah mengetahui bahwa si kembar hari ini akan kembali ke rumah. Karena Ariq ada pertemuan dengan rekan bisnis, terpaksa keduanya yang datang untuk menjemput si kembar pulang.
“Assalamu’alaikum …. “ keduanya memberi salam dengan kompak.
“Wa’alaikumussalam …. “ Ivan dan mamanya menjawab seketika.
“Kami ke dalam dulu,” ujar Ali langsung membuka pintu.
“Iya mas,” Ivan menganggukkan kepala menyetujui.
Taklama kemudian dokter dan asistennya keluar dari dalam ruangan. Ivan dan Laras masuk ke dalam menyusul Ali dan Fatih.
Beberapa tas yang berisi perlengkapan si kembar dan Khaira sudah tersusun rapi di atas bed. Semuanya sudah siap untuk kembali.
__ADS_1
Ivan merapikan tas miliknya dan kepunyaan mamanya. Perasaan sedih perlahan menyelimuti hatinya. Mulai malam ini ia tidak akan bisa berkumpul dan tidur bersama si kembar lagi. Walau keakraban ia dan si kembar tetap terjalin, tetapi ia tidak akan bisa menatap Khaira dan berdekatan lagi dengannya.
Suaranya, tawanya omelannya pada si kembar dan, ah ….
Ivan tak bisa membayangkan mereka akan berpisah. Musibah dibalik sakitnya si kembar ia merasakan anugerah terindah karena dapat tinggal satu atap bersama si kembar dan bundanya. Rasanya ia ingin menghentikan waktu agar mereka selalu bersama seperti saat ini.
“Van … sabarlah. Mama yakin saat itu akan segera tiba,” Laras menepuk punggung Ivan yang tak bersemangat memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Senyum Laras terkembang penuh keyakinan saat mengatakannya.
“Aku baik-baik saja ma,” lirih suara Ivan hampir tak terdengar.
Tatapan Ivan beralih pada Khaira yang terlibat percakapan dengan kedua saudaranya. Ia memandangnya dengan sendu. Selama beberapa hari ke depan ia tidak akan melihat senyum dan sorot mata teduh dari wajah yang selalu ia rindukan sepanjang malam.
“Tante dan ayahnya si kembar sarapan aja dulu …. “ Khaira tersenyum pada Laras dan Ivan yang duduk terpaku di bednya si kembar yang telah rapi.
Hati Laras terasa perih melihat wajah sendu Ivan saat menatap Khaira dengan lekat. Ia sedih menyaksikan semuanya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Baiklah,” Ivan menganggukkan kepala menyetujui perkataan Khaira.
Dengan cepat Khaira menyiapkan sarapan pagi yang dibawakan Ali dan Fatih di dalam box yang tampak rapi dan mengundang selera.
Ali dan Fatih menemani si kembar bermain, saat Ivan dan mamanya menikmati sarapan yang sudah terhidang di meja.
Khaira datang membawakan beberapa cup kopi dan the yang sudah tersaji dari paper bag yang dibawa Fatih.
“Bunda tidak ikut sarapan?” Ivan menatap Khaira yang kini duduk di seberangnya.
“Aku akan menyuapi si kembar dulu. Kasian mereka dari tadi pagi hanya minum susu,” Khaira menjawab santai sambil mengeluarkan bubur ayam dari boxnya.
Laras tersenyum mendengar keduanya yang berbincang dengan penuh keakraban, tidak terkesan kaku dan datar seperti saat ia datang pertama kali. Ia berharap keakraban yang terjadi akan membuka pintu hati Khaira untuk menerima Ivan.
Tepat jam 10 siang, semua sudah siap untuk kembali ke rumah. Embun dan Fajar sudah tidak sabar berlari-lari kesana kemari dengan riang.
“Aku akan mengurus administrasi si kembar sekalian obat dan vitamin untuk di rumah,” Ali bangkit dari kursi.
“Biar saya yang mengurus semua mas,” Ivan segera bangkit dari duduknya dan berjalan melewati Khaira yang menatapnya dengan dahi berkerut.
“Itut ayah …. “ Embun berlari menghampiri Ivan.
“Jangan sayang, sama bunda aja,” Khaira berusaha menahan Embun.
“Sayang ayah …. “ Ivan meraih Embun dan menyerahkan ke gendongan Khaira.
Pandangan keduanya bertemu. Ivan melihat senyum tipis tersungging di bibir penuh Khaira. Sejenak dunianya terasa berhenti. Ini kali pertama ia melihat senyum ketulusan tergambar di sana.
__ADS_1
“Ayo kita berangkat sekarang. Nanti keburu panas,” Ali mulai mengangkat dua tas besar milik Khaira dan si kembar, “Sisanya biar ku suruh pak Karmin membawanya.”
Khaira menggendong Fajar, sedangkan Fatih menggendong Embun. Keduanya tidak dibiarkan berjalan sendiri khawatir kelelahan.
Laras membawa tas tangan miliknya, sedangkan tas yang berisi pakaian miliknya serta milik Ivan masih tertinggal di kamar inap si kembar.
Sepasang mata tajam mengintai dari balik kemudi sebuah mobil. Rasa frustrasi serta kecemburuan telah membakar hati nuraninya.
“Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku,” Claudia mendesis tajam dengan menyalangkan mata melihat jalanan rumah sakit yang masih sepi.
Rasa benci pada Ivan yang menuntutnya membuat Claudia menyimpan dendam yang membara. Apalagi setelah Ivan menolak permintaan George untuk mencabut tuntutan yang ia ajukan pada Claudia.
“Kau pikir aku akan membiarkan perempuan murahan itu menikmati kekayaan Alex,” Claudia berkata dengan berapi-api saat George mengunjunginya di apartemen tempatnya menjalani tahanan rumah dan tidak boleh meninggalkan Singapura selama 6 bulan.
“Kamu tidak tau siapa istri Alex?” George menatap Claudia dengan perasaan iba.
“Perempuan yang beruntung karena menikahi Alex,” jawab Claudia dengan angkuh.
“Kamu salah. Istri Alex adalah pemilik gerai Kara Jewellery. Dia saudara perempuan kesayangan pengusaha kembar ternama di negaranya,” George berkata dengan serius, “Walau pun ia tidak bersama Alex, mereka sudah mapan sejak awal.”
Claudia terperangah tak percaya mendengar perkataan George. Berita yang benar-benar mengejutkan. Kecemburuan serta dengkinya semakin besar. Teringat Ivan yang menuntutnya karena mengejek Khaira dan putrinya.
Lamunan Claudia terputus saat melihat rombongan Khaira keluar dari lobi rumah sakit. Ia sudah mengintai selama tiga hari, karena medapat informasi terakhir dari George bahwa Ivan dan keluarganya berada di rumah sakit karena anaknya dirawat inap. Ia tidak melihat keberadaan Ivan diantara rombongan yang berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
Karena mobil terparkir agak jauh, terpaksa Fatih mengajak semua berjalan menuju parkiran. Khaira tidak keberatan untuk berjalan. Laras masih menunggu Ivan, karena ia sudah meminta supir keluarganya yang menjemput dan akan mengikut rombongan Kharia dari belakang.
Menggendong Fajar membuat langkah Khaira lebih lambat dari Fatih dan Ali. Ia tidak menyadari sebuah mobil dengan kecepatan tinggi meluncur ke arahnya dan Fajar. Saat ia memandang ke arah kanan ….
“Brakkk!”
Khaira terdorong jauh ke depan dan terjatuh dengan Fajar yang masih berada dalam gendongannya. Ia berusaha melindungi Fajar hingga jidatnya terantuk di jalanan beraspal dan lengan bajunya sobek menyebabkan darah mengalir di pelipisnya.
“Duarrrr!” suara mobil menabrak papar pembatas mengejutkan semua orang, sehingga berlarian keluar dari ruang tunggu rumah sakit.
“Bunda …. “ Fajar langsung menangis keras.
“Sayang … “ Khaira tertegun seketika melihat kerumunan orang yang mengelilingi mereka. Tatapannya melemah saat memandang Fajar yang menangis semakin keras.
Ia merasakan kepalanya berdenyut karena benturan keras di jalan membuat matanya berkunang-kunang.
“Rara, Fajar …. “ Ali dan Fatih terkejut melihat kondisi Fajar dan Khaira yang masih terbaring di pinggir jalan.
“Ada korban tabrakan …. “ suara petugas pengaman.
__ADS_1
Khaira sudah tidak ingat apa-apa lagi begitu matanya mulai mengabur dan suara-suara yang ia dengar semakin menjauh.