
Selama 2 hari belakangan ini Ivan merasa bahagia karena mulai berinteraksi dengan Bryan. Atas bantuan Mercy ia bisa berkomunikasi dengan Bryan yang kondisinya mulai berangsur pulih.
Pertama kali saat bisa berhadapan langsung dengan putranya, Ivan tak mampu berkata-kata. Matanya memerah, menahan rasa haru menyadari bahwa ia telah memiliki seorang anak yang tak pernah ia sadari kehadirannya.
Bryan yang saat itu sedang dibawa Mercy untuk menikmati kesegaran udara pagi, terkejut melihat seorang lelaki gagah yang berjalan mendekat padanya.
“Selamat pagi Bryan …. “ sapa Ivan semakin mendekat, hingga akhirnya ia duduk di kursi santai berhadapan dengan Bryan yang menatapnya dengan bingung.
Mercy mulai berbisik pada Bryan yang menatap Ivan tidak berkedip. Kemudian ia meninggalkan Ivan dan Bryan untuk mendekatkan keduanya. Ia mengenal Ivan karena Claudia telah memberitahunya, dan komunikasi intens yang dilakukan Ivan selama ia berada di rumah sakit untuk mengetahui perkembangan Bryan.
“Kamu daddy saya …. ?” mata Bryan tampak berkaca-kaca saat mengatakan itu ketika Ivan memandangnya dengan penuh kasih sayang.
Ia merasa terkejut sekaligus bahagia ketika Mercy dua hari yang lalu menceritakan bahwa ia mempunyai seorang ayah yang sangat mencintainya.
Selama ini ia hanya hidup bersama grandma yang selalu mendampingi dan memberinya kasih sayang. Dua tahun yang lalu grandma meninggal, ia hidup bersama sang paman hingga setahun belakangan ini ketika tubuh kecilnya semakin ringkih, pamannya memberitahukan kondisi Bryan kepada Claudia. Karena tidak memiliki keturunan bersama Paul, akhirnya Claudia mengakui bahwa dia telah memiliki seorang anak dari hubungan masa lalunya.
Paul tidak terima atas kebohongan Claudia. Ia merasa kecewa dan terpukul. Seandainya dari awal Claudia mengakui semua, ia akan menerima dengan lapang dada. Perpisahan keduanya tidak bisa dihindari. Paul segera mengajukan cerai, dan memberikan sepertiga hartanya kepada mantan istrinya.
Dengan uang pemberian Paul, Claudia mulai mengobati Bryan dan mencari dokter ahli demi kesembuhan sang putra.
Sebelum perpisahan terjadi antara Paul dan Claudia, Bryan sempat dikenalkan mommynya dengan Paul. Rasa bahagia sempat hadir di hati Bryan mengetahui bahwa ia mempunyai orang tua yang lengkap. Tapi begitu Paul keluar dari rumah dan berpisah dengan mommy-nya, harapan Bryan langsung kandas.
Kini dihadapannya lelaki dewasa, tegap dengan wajah tenang memandangnya penuh perhatian. Bryan dapat melihat ketulusan yang tergambar di wajah lelaki itu. Inilah wajah yang sering hadir di dalam mimpinya.
“Daddy …. “ Bryan berkata dengan suara lirih.
“My son …. “ Ivan tak bisa menahan perasaan hangat yang memenuhi segenap sanubarinya ketika anak laki-laki itu kini berada dalam pelukannya.
Keduanya larut dalam keheningan menyatukan asa yang selama ini terpendam. Tak terasa air mata jatuh menetes, dengan cepat Ivan menghapusnya. Ia tak ingin kebahagiaan karena telah bertemu dan kehadirannya diterima putranya dengan sepenuh hati. Tiada lagi yang ia inginkan sekarang.
Setelah puas bercengkrama dan menumpahkan kerinduan, akhirnya Ivan mengakhiri kunjungannya. Ia merasa lega sekarang, satu beban telah terangkat dari pundaknya. Kini ia tidak akan memikirkan masalah anak lagi, sudah ada Bryan yang akan menjadi pewaris satu-satunya semua harta kekayaan yang ia miliki.
Di penginapan di Inter Continental, Ivan baru kembali dari rumah sakit. Ia merasa lega mendengar keterangan dr. Chang bahwa dua hari kedepan, Bryan sudah bisa dibawa pulang kembali ke Indonesia.
Setelah salat Isya, Khaira membuka ponselnya mengharapkan berita dari Ivan. Sudah seharian ia menunggu, tapi tidak ada berita dari sang suami. Padahal hari ini adalah hari jadinya yang ke-29. Sudah empat hari Ivan di Singapura, belum ada kabar kapan ia kembali, Khaira merasa cemas akan keadaan suaminya.
Ivan meraih ponsel yang berada di atas nakas. Tampak panggilan dari Khaira sudah ke 50 kalinya. Ia tersadar, seharian ini ia tidak menghubungi sang istri karena keasyikan menemani Bryan dan berbincang dengannnya. Dengan cepat Ivan mengalihkan ke panggilan video, ia sangat merindukan melihat wajah sang istri yang sudah empat hari ia tinggalkan.
“Assalamu’alaikum mas …. “ wajah segar Khaira langsung memenuhi layar ponsel Khaira.
“Wa’alaikumussalam sayang …. “ Ivan langsung merebahkan diri begitu wajah sang istri sudah nampak di layar.
“Sudah salat?” Khaira melihat wajah suaminya tampak kusut tak terawat.
__ADS_1
Ivan tertegun. Selama empat hari ini ia telah melewatkan kewajibannya, karena terfokus mengurus Bryan dan menemaninya selama proses pengobatan.
“Mas …. sesibuk apa pun jangan sampai melewatkan dan menunda-nunda salat,” suara lembut Khaira kembali menyadarkan Bryan.
“Ya sayang. Sebentar lagi aku salat. Aku masih ingin memandangmu. Empat hari di sini membuatku tersiksa. Aku sangat merindukanmu …. “ baru Ivan merasakan kerinduan setelah melihat wajah Khaira yang menatapnya dengan lekat.
Tiba-tiba perasaan sedih menyelimuti hati Ivan karena telah membohongi istrinya. Sampai saat ini, ia belum menceritakan bahwa kepergiannya ke Singapura untuk menemui putra dari hubungan masa lalunya yang sedang menjalani pengobatan.
Khaira dapat melihat perubahan wajah Ivan yang tiba-tiba murung saat menatapnya. Ia tidak tau apa yang dipikirkan suaminya, tapi ia berusaha tetap tenang dan tak ingin mendesak Ivan untuk menceritakan apa yang sedang mengganggu dan disembunyikan Ivan darinya.
“Mas mandi dulu gih, makan lalu salat …. “ suara lembut Khaira kembali menyadarkan Ivan.
Ia menatap wajah istrinya yang begitu teduh dan membuatnya tenang saat memandangnya. Bagaimana ia akan menceritakan tentang keberadaan Bryan. Ia khawatir Khaira tidak bisa menerima dan menolaknya. Ia terlanjur mencintai istrinya terlalu dalam. Sedangkan perasaannya pada Bryan mulai kuat, tak mungkin ia membiarkan Bryan pergi dari sisinya.
“Jika ada beban yang mengganggu pikiran mas Ivan, bersegeralah memohon kepada Allah. Dia-lah satu-satunya yang akan memberi jalan keluar kepada kita hamba-Nya yang lemah,” Khaira dapat melihat keraguan yang terpancar di wajah suaminya, “Aku mencintai mas Ivan …. “
Ivan dapat melihat embun yang menggelayut di mata bening istrinya. Rasa sedih semakin terasa menggerogoti hati Ivan. Perasaan berdosa karena membohongi Khaira semakin besar. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
“Mas, apa pun yang terjadi kita akan saling menguatkan. Aku percaya, dengan izin Allah mas Ivan bisa menghadapi semuanya,” senyum tipis Khaira sedikit mengurangi beban di hati Ivan.
“Baiklah sayang, mas akan mandi dan langsung salat. Kita akan berbicara lagi nanti,” Ivan segera mengakhiri pembicaraan, tak lupa ia mengucapkan I love you dengan bahasa bibirnya begitu menutup pembicaraan. Senyum tipis terbit di wajah Khaira sambil melekatkan dua jari ke bibirnya dan menempelkannya di layar ponsel.
Ivan merasa lebih tenang ketika sudah berbicara dengan istrinya. Kini perasaannya benar-benar lega setelah melaksanakan salat Isya. Ia telah mencurahkan segala keluh kesah yang tersimpan di hatinya kepada sang Penggenggam hatinya. Senyum cerah terbit di bibirnya setelah yakin apa yang akan ia lakukan begitu bertemu dan kembali ke rumah.
Ketukan di pintu kamar, membuat Ivan bangkit dari tikar sembahyang yang selalu dibekalkan istrinya lengkap dengan baju koko dan kain sarung kemana pun saat ia bepergian.
“Hei apa yang kau lakukan di sini? Keluarlah,” Ivan tidak enak dengan kedatangan Claudia di kamar hotelnya.
“Aku hanya ingin berbincang denganmu,” Claudia berkata dengan lirih.
“Baiklah, kita akan berbincang di luar. Sekarang keluarlah,” Ivan menatap Claudia dengan tajam.
“Tidak adakah tersisa sedikit pun perasaanmu padaku?” Claudia menatap Ivan dengan pasrah. Ia rela merendahkan dirinya di hadapan Ivan.
“Jangan berkata yang tidak masuk akal Claudia. Kita sudah berakhir,” tegas Ivan. Ia tidak ingin Claudia memanfaatkan Bryan untuk mengganggu keutuhan rumah tangganya dan Khaira.
“Bryan memerlukan keluarga yang utuh. Tak bisakah kita mengabulkan keinginannya?” Claudia mulai mendekati Ivan.
“Jangan membuat kesabaranku habis Claudia,” Ivan merasa geram atas sikap Claudia, “Walaupun kau ibu dari putraku, tapi aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu. Aku akan membawa Bryan bersama kami. Segala biaya akan ku keluarkan dan ku berikan padamu. Kamu tinggal sebutkan nominalnya.”
Claudia mengalah kali ini. Ia akan menarik ulur rencananya, selama Bryan berada di sisi Ivan ia akan berusaha menahan segala keinginannya. Jika Bryan sudah berada di rumah Ivan, ia akan memulai permainannya.
Siang ini Khaira baru selesai menjamu rekannya dari Martapura yang sudah membawakan beberapa set berlian lokal. Ia masih menikmati kesendirian sambil membuka chat dari Ivan yang mengatakan akan kembali dari Singapura sore ini. Senyum langsung mengembang di wajah ayunya.
__ADS_1
“Nikmati saja saat-saat bahagiamu sebelum datang masa kehilangan …. “ suara perempuan menghentikan jemari Khaira membalas pesan sang suami.
“Sandra …. “ Khaira terkejut melihat perempuan masa lalu suaminya kini duduk di hadapannya dengan wajah sinis.
“Ku kira Ivan memegang komitmen untuk setia padamu,” Sandra menatapnya meremehkan, “Tenyata lelaki sama saja.”
Khaira malas mengomentari perkataan Sandra. Ia kini membuka galeri foto melihat perhiasan yang di kirim Asep dari Bandung.
“Kau tidak mengetahui kebohongan terbesar Ivan,” suara Sandra kembali menghentikan aktivitas Khaira, “Ivan tidak akan puas hanya dengan satu wanita.”
“Aku mengenal suamiku,” Khaira merasa tidak sabar setelah Sandra terus memprovokasinya, “Jangan pernah untuk memfitnah mas Ivan.”
“Kau tau apa yang dikerjakan suamimu di Singapura?” Sandra menatap Khaira tajam, “Kau pikir dia bekerja?”
Khaira tercekat. Memang kepergian Ivan kali ini membuatnya merasa bimbang. Biasanya Ivan selalu menceritakan aktivitasnya saat berada dimana pun, tapi kini ….
“Lihatlah ini,” dengan kasar Sandra melemparkan amplop besar di atas meja di hadapan Khaira, “Kau akan mengetahui kebohongan terbesar Ivan.”
Sebenarnya Khaira tidak ingin mengambil amplop yang tergeletak di atas meja. Ia khawatir isinya foto jadul Ivan saat bersama Sandra. Tapi rasa penasaran membuatnya meraih amplop dan langsung membukanya.
Jantung Khaira berdetak cepat. Jemarinya bergetar melihat foto pertama yang menunjukkan Ivan sedang memeluk seorang anak laki-laki yang duduk di atas kursi roda. Foto kedua memperlihatkan seorang perempuan memasuki kamar hotel Ivan. Gambar ketiga hingga yang terakhir membuat hati Khaira langsung meluruh. Foto Ivan bertiga sedang menikmati makan bersama perempuan dan anak laki-laki yang dipeluknya pada foto pertama.
“Ya Allah ….kenapa sesakit ini?” Khaira berbisik lirih di dalam hatinya.
Inikah perjalanan yang dilakukan Ivan selama lima hari meninggalkannya. Lalu siapa anak lelaki yang bersamanya itu?
“Ivan dan Claudia memiliki anak atas hubungan mereka di masa lalu. Bersiaplah, tak lama lagi kamu akan merasakan ditinggal Ivan.”
“Terima kasih atas informasinya,” dengan menahan tangis Khaira meninggalkan Sandra.
Kini Sandra tersenyum puas melihat reaksi Khaira yang pergi dengan wajah yang menunjukkan kesedihan dan kekecewaan secara bersamaan.
Sesampai di kamarnya Khaira langsung mengurung diri. Inikah perasaan yang tidak nyaman mengganggunya selama beberapa hari ini. Ia terkejut dan terluka mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa Ivan dan Claudia memiliki hubungan di masa lalu bahkan telah mempunyai anak.
Khaira menepuk dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. Air mata langsung terjun bebas di wajah tirusnya. Wajah bahagia Ivan tergambar jelas di foto yang kini ada di tangannya. Apa yang dapat ia lakukan sekarang?
Ia kembali membuka satu demi satu foto yang ada di tangannya. Ketiganya tampak berbahagia dengan wajah sumringah saat menikmati hidangan yang tersedia. Khaira sudah tidak kuat melihat foto saat Claudia menyuapi Ivan dengan senyum lebar yang tergambar di wajah Ivan.
Ia terpekur menyadari posisinya saat ini. Dirinya hanya seorang istri yang tidak mampu memberikan keturunan yang akan menjadi pengikat dan pewaris Ivan di masa depan.
Apa yang dapat ia harapkan sekarang? Haruskah ia tetap mengikat Ivan yang sangat menginginkan seorang keturunan? Walau pun di bibir Ivan tak terucap, tapi dari sorot matanya dapat Khaira lihat, betapa Ivan begitu bahagia saat melihat anak-anak kecil yang biasa mereka temui di mana pun saat mereka bersama.
Inilah kenyataan yang ia hadapi sekarang. Claudia yang mereka temui saat makan malam bersama adalah mantan Ivan di masa lalu. Bahkan mereka memiliki seorang anak lelaki yang sangat tampan. Khaira mengelus dadanya perlahan. Sampai kapan Ivan menyembunyikan kebenarannya, sedangkan ia sudah mengetahuinya bahkan dari orang lain. Fakta yang benar-benar menyakitkan.
__ADS_1
***Dukung terus ya\, bumbu-bumbunya udah mualai author keluarin. Tetap semangat mengikuti perjalanan bahreta rumah tangga Ivan dan Khaira\, hingga tiba di dermaga. Salam dan sayang reader semua ..... ***