Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 99


__ADS_3

Sesampai di rumah wajah Hani masih diliputi kesedihan. Ia tidak tau harus bertanya pada siapa. Tidak ada seorang pun yang terbuka padanya untuk menceritakan hal-hal yang masih terus mengganggu pikirannya, termasuk penyebab ia mengalami kecelakaan. Ia mulai berpikir kalau kecelakaan yang terjadi padanya berkaitan dengan Hesti perempuan yang pernah dinikahi Faiq.


Marisa menatap Hani yang tampak diam saat melayani Faiq di meja makan. Wajah sedihnya berusaha ia sembunyikan dari suaminya.


“Sayang, apa ada yang mengganggu pikiranmu?” suara Faiq mengejutkan lamunan Hani saat keduanya sudah berada di pembaringan.


“Aku tidak apa-apa, mas.” Jawab Hani lirih.


Ia tidak sanggup menatap wajah suaminya, jika masih ada kebohongan yang tersimpan di sana.  Ia ingin suaminya berterus-terang tentang masa lalunya. Ia akan siap menerima walaupun akan terluka.


Faiq mengangkat dagu Hani yang berusaha menghindari pandangannya. Ia tau istrinya menyembunyikan sesuatu darinya.


Hani tidak bisa menolak keinginan Faiq. Ia berusaha mengimbangi permainan suaminya, walaupun di hatinya diselimuti luka.


"Terima kasih sayang .... " Faiq mengecup keningnya lama.


Tangan Faiq melingkar di perut istrinya, tak lama kemudian nafasnya mulai berhembus teratur. Hani memandang wajah suaminya dengan perasaan sedih. Haruskah perasaan cinta yang baru ia rasakan terhadap suaminya ia musnahkan secara perlahan? Ia tidak bisa hidup dalam kebohongan.


Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya Hani menemukan solusi. Besok pagi ia akan mulai menyelidiki sendiri kejadian yang menimpanya hingga membuatnya hilang ingatan.


Keadaan  rumah mulai sepi, Faiq dan Darmawan sudah berangkat ke kantor sejak satu jam yang lalu, begitu pun Marisa yang baru saja keluar bersama Karman karena akan ada pameran perhiasan yang akan di laksanakan di JCC.


Hani melangkahkan kakinya menuju kamar lamanya di lantai dua yang sekarang dibiarkan kosong, tetapi tetap dibersihkan secara berkala.  Matanya mulai menelisik satu demi satu barang yang bisa ia jadikan sebagai petunjuk. Tidak ada perubahan yang berarti di kamar mereka, semuanya masih sama.


Ia membuka lemari pakaian berusaha mencari petunjuk. Tapi tidak ada apa pun yang mencurigakan. Hani berjalan pelan menuju nakas di samping tempat tidur. Ia membuka satu demi satu laci nakas untuk mencari apa pun yang bisa membantunya untuk menjawab semua pertanyaan yang masih menggantung.

__ADS_1


Hani melangkah menuju meja riasnya yang tetap di tempatnya tidak bergeser sedikit pun. Ia menatap wajahnya di cermin. Bekas tangisan sesudah salat Subuh masih membekas. Walau pun ia telah menyamarkan dengan sapuan bedak tipis, tapi tetap saja tak menutupi matanya yang masih sembab dan memerah.


Tangannya menarik laci meja rias tersebut. Hani melihat ponsel lamanya berada di sana, tapi dengan kondisi kacanya yang sudah retak. Ia meraih ponsel tersebut dan menatapnya tak berkedip. Hani mencoba menghidupkannya, usahanya gagal karena ponsel tersebut tidak mau menyala.


Hani berharap semoga ia bisa menemukan petunjuk dari ponsel yang ia bawa. Saat turun ke lantai dasar ia bertemu dengan Lina yang baru datang dan sedang membantu menyiapkan makanan Fatih dan Khaira.


“Ibu dari mana?” Lina bertanya dengan nada khawatir.


Ia melihat raut Hani tidak kelihatan ceria seperti biasa. Wajahnya tampak sedih. Walaupun Lina mempunyai keterikatan yang sudah lama dengan Hani, tapi ia tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga majikannya. Apa lagi sejak Hani kembali ke rumah pasca operasi dan sembuh dari komanya, Marisa sudah mengingatkan semua art untuk tidak sembarangan berbicara hal yang tidak penting.


“Aku hanya mencari angin dari balkon kamar si kembar.” Hani berkata lirih.


Ia berjalan kembali ke kamar dan mulai mengecas ponsel lamanya yang ia temukan di kamar lama mereka.


Dari kamar Hani bergegas keluar, ia akan membawa Fatih dan Khaira untuk berjemur sebentar di bawah sang fajar yang telah bersinar dengan cerah.


“Sayang bunda …. “ Hani mencium keduanya dengan perasaan yang sukar dilukiskan.


Diah dan Wati tampak telaten memberi keduanya makan.  Hani ikut berjongkok melihat keduanya yang bergerak dengan lincah kesana kemari.


“Nyonya, telpon dari tuan …. “ ujar Diah sambil mengulurkan ponselnya pada Hani.


Hani menyambut ponsel dari Diah yang sudah dalam mode video call. Tampak wajah tampan Faiq sudah memenuhi layar ponsel.


“Assalamu’alaikum, mas …. “ Hani berusaha tersenyum walau hatinya tergores melihat senyum yang tercetak di wajah suaminya.

__ADS_1


“Dari tadi mas menghubungi ponselmu, tapi tidak ada jawaban.” Ujar Faiq penuh perhatian.


Ia  dapat merasakan kegundahan yang dialami istrinya. Tapi ia tidak tau, apa yang sedang dipikirkan Hani. Sejak kemarin ia juga melihat Hani lebih pendiam dari biasa.


“Aku sedang menemani si kembar berjemur.” Hani tersenyum tipis.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Mas akan pulang secepatnya. Kita akan bertemu dr. Thomas sore ini.”


Hani menggelengkan kepala dengan cepat. Ia tidak ingin Faiq khawatir padanya. Ia mengalihkan layar ponsel pada Fatih dan Khaira yang kini berjalan sambil tertawa riang.


Faiq merasakan Hani menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi ia tidak berani menebak apa yang ada di dalam otak istrinya sekarang, karena Hani sangat tertutup. Dan ia belum sempat untuk menggali informasi lebih dalam tentang perubahan sikap istrinya.


“Baiklah sayang, mas tutup dulu ya. Jaga dirimu dan anak-anak.”


Hani menganggukkan kepala pelan. Ia langsung mengembalikan ponsel pada Diah yang kini sedang membersihkan tangan Fatih dan Khaira yang habis bermain di rerumputan. Kedua batita itu tertawa kesenangan saat tubuh mereka digendong untuk dibawa ke kamar mandi.


Setelah keduanya tertidur pulas, Hani kembali ke kamarnya. Ia melihat batre ponsel lamanya telah terisi full. Dengan perasaan berdebar  Hani mulai membuka ponsel yang sudah lama tak ia pergunakan.


Perasaannya berdebar saat mulai membuka galeri ponsel. Mata Hani membulat tak percaya melihat foto-foto terakhir yang dikirim sebelum terjadinya kecelakaan.


Air matanya lolos tak terbendung melihat kedekatan Faiq dengan perempuan bernama Hesti yang mengaku pernah dinikahi dan telah diceraikan Faiq.


“Ya, Allah apa lagi yang mereka sembunyikan dariku …. “ guman Hani dengan perasaan sedih dan terluka.


Ia menepuk dadanya yang terasa sakit, "Kenapa aku harus merasa sesakit ini ya Allah .... "

__ADS_1


Hani tidak tau apa yang harus ia lakukan. Perasaannya berkecamuk tak menentu. Ia menyadari sikap Faiq tidak berubah terhadapnya. Dan ia memang tidak menunjukkan perilaku yang mencurigakan.


Tapi yang ingin Hani ketahui, bagaimana hubungan yang sebenarnya antara Faiq dan Hesti. Ia tidak ingin dicap pelakor dan berbahagia di atas penderitaan orang lain.


__ADS_2