Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 209 S2 (Bulan Madu Yang Sempurna)


__ADS_3

Sementara itu di The Lombok Lodge, di suite luxuri Meri  merasa puas. Tidak sia-sia ia membayar salah satu OB yang tugas malam memberikan kunci cadangan untuk dapat memasuki kamar sang Ceo yang telah mencuri hatinya sejak awal ketemu.


Ia membuat racikan khusus yang mengandung obat tidur dosis rendah di tambah obat perangs*** dosis tinggi yang akan membuat sang Ceo tunduk dan takluk padanya. Dengan perasaan puas ia memasuki kamar yang kini tampak gelap bertepatan dengan jam sebelas malam.


Melihat sesosok tubuh yang sudah tidur di bawah selimut  membuat Meli tersenyum dengan perasaan senang. Walau pun hanya ONS tapi itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi Meli yang bisa berbagi  kehangatan  bersama sang Ceo.


Hari terkejut merasakan sesuatu yang kenyal menempel hangat di dadanya. Hari membuka mata. Ia tak percaya  begitu menyadari ada seorang perempuan dengan tubuh polos tidur memeluk tubuhnya. Ibarat pepatah kucing disodori ikan asin, siapa yang menolak rejeki?


Pikirannya bekerja cepat menyambungkan peristiwa yang ia alami saat makan malam bersama klien terbaru mereka. Dalam sayup temaram lampu ia mengenal perempuan yang berusaha menarik perhatian Ivan kini tampak pasrah dalam pelukannya.


Meli yang merasa hangat dalam pelukan tubuh kekar merasa bahagia ketika sentuhan-sentuhan ringan mulai terasa. Ia begitu terhanyut dan mulai mengeluarkan desa*** yang membuat naluri Hari semakin meningkat.


Saat Hari mulai  merangkak naik, Meli membuka mata. Dalam temaram lampu kamar ia melihat raut wajah yang berbeda, tidak seperti ekspektasinya saat mulai memasuki kamar suite luxuri itu.


Dengan cepat ia mendorong tubuh Hari yang sudah berada di atasnya. Tapi Hari yang sudah dikuasai obat perang**** tidak melepaskan mangsa yang sudah terperangkap dalam jebakan.


Karena sama-sama sudah dikuasai pil seta* akhirnya perbuatan terkutuk itu terjadi diantara kedua anak manusia yang sama-sama tidak menjalankan akal sehat di dalam pikiran mereka masing-masing. Keduanya telah dibutakan dengan  naf** keduniaan sehingga tidak memikirkan lagi halal haram, langsung hantam. Sadiss!


Meli terbangun lebih dahulu di subuh yang sangat dingin. Dengan cepat ia mengenakan pakaian dan segera menyelinap keluar dari kamar sambil menahan kekesalan, karena ia bercinta dengan orang yang salah.


Saat merasakan hawa dingin yang menusuk terasa sampai ke tulang\, Hari membuka mata. Ia melihat ke kiri dan kanan sudah tidak ada seorang pun yang bersamanya. Senyum tipis terbit di wajah Hari. Lumayan malam ini terhangatkan pikirnya sambil mengu*** senyum.


Suara ponsel yang berdering di pagi buta, membuat Hari bangkit dari pembaringan. Ia meraih ponsel di atas nakas. Tampak nama Bagong muncul di layar ponsel.


“Ada apa mas?” Hari tak mampu menahan kantuknya sambil menutup mulutnya yang masih menguap.


“Aku ingin kita menyutting tarian adat Lombok dengan musik asli daerahnya,” ujar Bagong dengan serius.


“Kenapa tidak ngomong langsung sama bos,” Hari masih menguap, ia benar-benar tak bisa menahan kantuk karena tenaganya sudah terkuras semalaman.


“Mana aku berani mengganggu bos yang sedang honeymoon. Bisa-bisa bonus dan liburan keluargaku dibatalkan.”


“Menyusahkan saja,” akhirnya Hari menyetujui keinginan Bagong untuk menyampaikan idenya yang menampilkan tarian asli Lombok pada saat syutting besok, dengan demikian progresnya lebih cepat selesai.


Setelah melaksanakan salat Subuh bersama, Ivan masih ingin bermanja dengan istrinya. Tapi panggilan telpon Hari yang diminta Bagong menghubunginya membuat Ivan merasa kesal. Dengan terpaksa ia segera meraih ponsel  dan berbicara dengan Hari kemudian disambung Bagong, hingga ia menghubungi Roni.


Ivan masih menelpon Bagong cs untuk koordinasi kegiatan di lapangan. Sudah setengah jam ia berbicara sekaligus mendelegasikan pada  Roni untuk menghandel semua pekerjaan yang ditinggal di Jakarta karena akan melanjutkan kegiatan di Lombok selama 6 hari ke depan.


“Hari ini aku akan menghabiskan waktu bersama istriku. Jangan ada lagi yang mengganggu aktivitasku. Ponselku tidak akan aktif  dua hari ke depan,” tegas Ivan.


Setelah semua koordinasi terlaksana, Ivan  pun mengakhiri pembicaraan. Ia  buru-buru  kembali ke kamar, ternyata Khaira tidak berada di sana. Tempat tidur sudah tersusun dengan rapi. Ivan merasa kecewa tidak menemukan sang istri.


Ponsel Khaira berbunyi membuat Ivan menghentikan langkahnya. Ia meraih ponsel istrinya di atas meja rias. Terpampang wajah Dewo yang melakukan panggilan vc.


“Ada apa?” dengan memasang wajah datar  Ivan menjawab panggilan Dewo.


Perasaannya menjadi kesal karena sepagi ini sudah ada lelaki lain yang menelpon istrinya, ditambah lagi gangguan dari Hari dan Bagong membuat rencana yang sudah ia susun sejak semalam terancam ambyar.

__ADS_1


“Maaf tuan Ivan, bisakah saya berbicara dengan nona Khaira?”


“Istriku masih tidur,” jawab Ivan cepat.


“Istri .... “ Dewo terkejut mendengar ucapan Ivan. Apa dirinya orang terakhir yang mengetahui bahwa pemilik gerai Kara Jewellery adalah istri Ceo terkenal itu?


“Tidak mungkin aku memperlihatkan istriku yang masih tidur pada lelaki lain,” Ivan berkata dengan tegas, “Apa ada hal yang ingin anda sampaikan?”


“Ti... tidak tuan. Maafkan saya karena mengganggu istirahat anda.” Dewo mengakhiri perbincangan karena  perasaannya jadi tak nyaman.


Dengan kesal Ivan langsung meletakkan ponsel Khaira kembali ke tempat semula. Ia berjalan menuju pantry. Tampak sang bidadari masih menggunakan kemeja miliknya yang baru diambil di lemari pakaian. Rambutnya masih tergerai basah. Aroma kopi semerbak mewangi memanjakan indera penciumannya.


Ivan berjalan mendekati Khaira dan langsung memeluknya dari belakang, membuat Khaira terkejut. Tangan kokoh itu kini melingkar di perutnya dengan dagu menopang di bahunya.


“Mas mau sarapan apa sekarang? Yang ada baru kopi .... “ Khaira membalik badannya hingga keduanya berhadapan dengan jarak beberapa senti.


Tanpa melepas pelukan di tangan kirinya, tangan kanan Ivan langsung meraih kopi yang begitu wangi aromanya. Ia menghirupnya dengan cepat, tak ia pedulikan hawa panas kopi.


Khaira terkejut kopi yang baru saja ia buat seketika habis  diminum Ivan. Matanya membulat seketika, “Aku belum mencicipi kopi itu ....”


Dengan cepat Ivan menaikkan tubuh Khaira ke meja pantri  dan memeluk pinggangnya. “Sini aku bagi rasa kopinya....” Ia langsung meraup telaga madu yang pemiliknya menatap Ivan tak mengerti.


Ciuman yang pertama terasa lembut, lama-lama makin menuntut. Ivan tak membiarkan  hari ini terlewat begitu saja. Ia sudah memberitahu Hari agar tidak mengganggunya seharian ini. Ia akan menghabiskan waktu bersama sang istri tanpa ingin bertemu siapa pun serta kegiatan apa pun.


Khaira terpaksa melingkarkan kedua pahanya pada tubuh Ivan, ketika dengan santainya Ivan mengangkat tubuhnya membawa kembali ke kamar tanpa melepaskan tautan kedua bibir. Dengan kaki kanannya Ivan menutup pintu kamar dan membaringkan tubuh istrinya perlahan ke tempat tidur.


Khaira membalik tubuhnya memandang wajah tampan yang masih terlelap dengan suara dengkuran halus yang terdengar.


Ia membelai wajah suaminya yang kini mulai ditumbuhi cambang halus dengan penuh perasaan. Khaira tidak tau, kenapa sekarang hanya wajah ini yang selalu terbayang di pelupuk matanya. Walau ia berusaha fokus akan pekerjaan, tapi tetap saja tak bisa mengusir senyumnya dari rutinitas kesehariannya.


“Kenapa?” Ivan tiba-tiba membuka mata, merasakan sentuhan-sentuhan halus di wajahnya.


Tangannya semakin rapat memeluk tubuh hangat istrinya. Rasanya ia tak ingin melepas tubuh ramping dan wangi itu seharian ini. Tidak ada rasa jemu dan bosan bagi Ivan untuk menghabiskan waktu bersama istri tercinta yang sangat ia damba begitu lama.


Khaira tidak menghentikan sentuhan di wajah suaminya. Kini ia menyadari cinta yang sesungguhnya disertai gairah yang membuncah dengan perasaan cemburu yang tanpa diundang hadir menyiksa saat yang dirindukan memberikan perhatian pada  yang lain.


“Sayang ....” Ivan meraih jemari Khaira dan mengecupnya dengan mesra. Ia merasa heran dengan sikap istrinya.


Ivan menatap mata bening Khaira yang juga menatapnya penuh makna. Ia dapat melihat pantulan wajahnya di mata istrinya yang memandangnya penuh arti. Keduanya saling menatap dan mengunci pandangan.


“Kenapa?” Ivan tak bisa menyembunyikan penasarannya atas tatapan Khaira yang mendalam dan penuh makna.


Khaira menggelengkan kepala. Ia malu untuk mengungkapkan bahwa ia telah jatuh cinta pada suaminya, dan merasa takut kehilangan untuk kedua kalinya. Dan ia tak ingin kebahagiaan yang baru seumur jagung ini berlalu dengan cepat.


Ivan tersenyum mesra. Ia memahami apa yang dirasakan sang istri. Kini ia tau, Khaira telah menyerahkan seluruh hatinya hanya untuknya. Walau pun ia tidak berkata tapi dari sorot matanya mengungkapkan semua.


“Masss....” Khaira terkejut ketika Ivan dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


“Kita akan mandi bersama,” pandangan nakal Ivan membuat Khaira bergidik.


Ia yakin durasi mandi kali ini akan memakan waktu lebih lama dari biasa. Tapi mau bagaimana lagi, jika menolak akan dicap istri durhaka. Ia mengikuti alur permainan yang diciptakan suaminya.


Kali  ini Ivan benar-benar puas, keinginannya mengeksplor semua ruangan untuk memadu asmara bersama sang bidadari terlaksana dengan sempurna. Tiada sudut yang terlewati  untuknya memanjakan sang istri dengan mencoba berbagai variasi dan teknik untuk terbang bersama menggapai kenikmatan surgawi.


Sudah dua hari ini ia meng-off-kan ponsel dan segala aktivitas luar untuk beristirahat sejenak menikmati bulan madu yang sangat sempurna bersama sang istri.


Ia tersenyum saat Khaira merajuk sepagi ini ingin menghubungi Andini untuk mengirimkan pakaian dari kamarnya.


“Nggak perlu,” Ivan langsung meraih ponsel sang istri dan meletakkannya kembali ke atas nakas, “Aku senang melihatmu menggunakan semua milikku.”


Khaira mendelik mendengar ucapan sang suami. Suaminya nggak masalah mereka berbagi pakaian, tapi Khaira merasa tidak nyaman sudah dua hari hanya menggunakan kemeja milik Ivan tanpa embel-embel. Justru itu yang diinginkan Ivan, membuat segalanya menjadi mudah.


“Memberikan kemudahan pada orang lain besar pahalanya .... “ Ivan tersenyum senang saat Khaira menatapnya dengan kesal, “Apalagi suami sendiri.”


Ketukan di pintu kamar menghentikan percakapan unfaedah keduanya, Ivan yang masih menggunakan handuk dengan santai merangkul Khaira mengikutinya membukakan pintu.


“Mas ihh!” Khaira berusaha melepas tangan kokoh yang membelit di pinggangnya.


Dengan santai Ivan membuka pintu. Ia mengerutkan keningnya melihat sosok tinggi semampai menatap mereka berdua dengan mata membulat.


Khaira merasa tidak enak hati. Ia tau, perempuan itu adalah manajer hotel yang menemani suaminya saat acara pembukaan pameran.


“Ada masalah apa sepagi ini nona Dewi kemari?” tanpa melepaskan rangkulannya Ivan menatap datar sang manajer yang pagi itu datang ke kamarnya tanpa diundang.


Dewi Ayu merasa tidak nyaman melihat pemandangan di depannya. Tanpa diomongkan pun dia sudah dapat menebak apa yang terjadi, apalagi perempuan muda yang bersama dengan lelaki yang sudah dibidiknya tidak menggunakan apa-apa selain kemeja kedodoran yang melekat di tubuhnya. Matanya dengan tajam menelisik Khaira dari ujung rambut ke ujung kaki.


Khaira merapatkan tubuhnya pada Ivan berusaha menyembunyikan aset yang tampak menerawang.


“Mas, nggak sopan banget,” Khaira semakin kesal menatap suaminya yang cuek memamerkan kemesraan mereka.


“Maafkan kami nona, masih banyak urusan yang harus saya selesaikan. Siang ini kami akan kembali ke Lombok. Terima kasih atas pelayanan anda.” Dengan santai Ivan menaikkan Khaira dan memanggulnya di atas bahu seperti karung beras. Dan langsung menutup pintu tanpa meminta persetujuan  Dewi Ayu.


Khaira memukul pundak kokoh suaminya, saat dengan santai Ivan kembali membawanya ke pantri untuk mencoba spot baru tempat mereka mengayuh gelora asmara. Ia merasa heran dengan suaminya yang kekuatannya seolah-olah tak ada habis-habisnya.


Bersama istrinya Ivan merasakan kebahagiaan yang sempurna. Dua hari yang berarti penuh dengan keintiman yang selalu ia dambakan sejak awal pernikahan mereka. Tapi ia pun tidak bisa mengurung Khaira selamanya.


Saat makan malam ia sudah menyampaikan keinginannya bahwa mulai besok Khaira akan mendampinginya selama di Lombok. Ia telah memanggil Herlan dan Andini untuk mengurus kepulangan mereka kembali ke Jakarta esok hari, karena tadi malam pameran berlian telah ditutup.


Khaira hanya mendengarkan perkataan suaminya tanpa bermaksud menyanggah. Ia merasa sungkan pada Herlan dan Andini. Sejak awal kedatangan mereka Ivan tak membiarkan ia menjauh dari sisinya. Tangannya yang berada dalam genggaman Ivan sesekali dikecup suaminya di depan Herlan dan Andini, sehingga kedua bawahan mereka memandang ke arah lain.


“Dasar bos bucin.” Herlan melirik Andini yang memiliki pemikiran yang sama dengannya.


 


***Maafkan author yang sedang di luar kota\, ada urusan kenegaraan demi masa depan yang lebih cemerlang. Ha ha ha .... Terima kasih atas dukungan readerku tersayang. Persiapkan diri kalian dengan ujian pernikahan yang akan membuktikan kekuatan cinta keduanya. Pantau terus ya .... ***

__ADS_1


__ADS_2