Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 202 S2 (Godaan Disaat Berjauhan)


__ADS_3

Ivan sudah berpakaian dengan rapi saat Roni menjemputnya. Jam telah menunjukkan pukul 19.30 menit. Kamera dan peralatan pemotretan sudah dipersiapkan Roni. Keduanya  bersiap menuju apartemen milik Jhony.


Mobil hotel telah mengantarkan keduanya ke apartemen mewah milik Jhony. Saat sampai di apartemen suasana tampak ramai. Suara musik terdengar samar-samar karena ruangan yang kedap suara.


Ivan langsung menghubungi Jhony via ponsel. Ia mengerutkan kening, tidak ada jawaban sama sekali. Ivan mencoba sekali lagi.


“Aku sudah di depan,” Ivan berkata seperlunya begitu mendengar suara Jhony.


Pintu apartemen langsung terbuka. Saat memasuki apartemen mewah tersebut, Ivan dikejutkan dengan  pemandangan yang di luar dugaannya.


Musik hingar bingar. Suasana di dalam apartemen berubah seperti di klub. Meja panjang telah disusun berjejer seperti sebuah panggung. Beberapa orang lelaki muda dengan tampilan necis duduk di sofa lebar yang sengaja disusun melingkar.


“Sebuah kejutan! Akhirnya raja pesta kita tiba.”  Jhony langsung merangkulnya begitu Ivan dan Roni tiba di hadapannya.


Roni mengerutkan keningnya mendengar ucapan sahabat bosnya itu. Ia tidak menyangka mendengar julukan raja pesta yang disematkan sahabat bosnya itu.


“Kita ke ruanganku dulu, sambil menunggu kejutan lainnya.” Jhony berjalan santai menuju ruang kerjanya.


“Mana tunanganmu? Bukankah kalian ingin diambil gambarnya?” Ivan meras tidak sabar melihat gaya Jhony.


“Siapa bilang aku ingin melakukan pemotretan. Hasil kerja pegawaimu patut diacungi jempol. Aku mengundangmu untuk mengikuti pesta lajang. Besok statusku sudah berubah. Jadi aku ingin kita menikmati pesta bersama malam ini,” Jhony tersenyum lebar, “Kau tau, aku mengundang  seorang DJ terkenal dan beberapa penari klub.”


“Astagfirullahaladjim!” Roni terperanjat mendengar perkataan Jhony.


“Maaf Jhon, bagaimana dengan keinginanmu untuk dipotret ulang bersama Sela? Aku tidak punya banyak waktu,” Ivan berkata dengan datar.


Sebenarnya ia merasa kesal karena Jhony telah berbohong. Tapi ia harus tetap proesional. Tidak mungkin ia marah karena Jhony pasti punya alasan tersendiri melakukannya.


Jhony menatapnya serius, “Apa semenjak menikah dengan model terkenal itu kamu jadi tidak doyan party? Biasanya kau lah yang paling semangat jika party tertutup seperti ini. Kau tau, DJ itu mantan model yang pernah berrkencan denganmu. Makanya aku mengundangmu datang. Dia sudah putus dengan tunangannya dan menanyakanmu. Tampaknya dia penasaran denganmu,” Jhony bekata dengan penuh semangat.


Roni melongo mendengar penjelasan panjang kali lebar Jhony. Ia tidak menyangka bosnya pernah terlibat kehidupan seperti itu.


Ivan menggelengkan kepala. Perkataan Jhony semakin melantur. Ia berusaha tersenyum menutupi rasa kesal yang sudah sampai ke ubun-ubun.


“Maafkan aku karena tidak mengundangmu saat resepsi pernikahanku,” akhirnya Ivan menyadari kesalahannya karena tidak mengundang Jhony.


Jhony tersenyum seketika, “Tidak masalah. Aku memaafkanmu. Bagaimana apa kita bisa melanjutkan pesta? Nampaknya di depan semakin ramai. Aku mengundang beberapa teman klub yang mungkin kamu juga mengenalnya.”


“Aku sudah lama keluar dari klub,” Ivan tersenyum tipis, “Aku juga tidak menikah dengan Sandra.”


“Wah, kenapa aku baru tau sekarang… Lantas siapa perempuan beruntung yang berhasil mengikat raja pesta ini?” Jhony penasaran menatapnya.


Kerinduan terhadap sang istri kembali membuncah di dada Ivan ketika Jhony menanyakan istrinya. Rasanya ia ingin kembali malam ini juga.


“Perempuan bersahaja, dan bukan dari lingkungan artis dan  model,” jawab Ivan sambil membayangkan wajah merona sang istri saat ia telpon tadi.


Jhony menatap Ivan tak percaya. Memang selama ini keduanya jarang bertemu, tetapi komunikasi mereka sangat lancar. Dan ia tak menyangka sikap Ivan berubah semenjak pertemuan mereka kali ini.

__ADS_1


“Apa perempuan itu yang memaksamu menjauhi dunia malam? Yang ku tau, tak seorang pun bisa merubah sosok seorang Alexsander kecuali Sandra,” sindir Jhony.


“Itu hanya masa lalu. Yang sekarang adalah masa depanku,” Ivan berkata dengan sungguh-sungguh, “Aku berusaha menjadi lebih baik untuk bisa meraih hatinya.”


“Jadi kamu tidak ingin bergabung bersamaku malam ini?” Jhony masih berusaha membujuknya, “Kamu boleh pilih salah satu DJ untuk menemanimu malam ini.


“Tidak usah,” Ivan langsung menolak, “Terima kasih Jhon. Aku mengucapkan selamat atas pernikahanmu dan Sela yang akan dilakukan esok hari. Semoga kalian selalu langgeng dan menua bersama.”


Jhony langsung memeluk Ivan begitu ia bangkit dari kursinya. Ia tak menyangka perubahan sikap Ivan yang menolak undangannya untuk bergabung bersama mereka menikmati malam ini.


“Hadiah pernikahanmu akan ku kirim besok.”


“Apa kamu tidak datang di resepsi sore besok?”


“Akan ku usahakan,” Ivan menatapnya dengan serius, “Semoga tidak ada jadwal yang mendesak membuatku meninggalkan Singapura dengan cepat.”


“Memangnya jadwal apa yang tidak bisa kau hindari?” Kini Jhony menatapnya dengan serius.


“Aku masih melewatkan bulan madu setelah penikahan kami.”


“Wah, kasian sekali dirimu. Aku penasaran dengan sosok istrimu yang bisa merubah dirimu sedrastis ini….”


“Suatu saat aku akan memperkenalkannya,” Ivan tersenyum, “Aku akan pergi sekarang. Sukses atas pesta lajangmu.”


“Terima kasih kau berkenan hadir, walau pun tak ikut berpesta bersama kami.” Jhony menepuk pundak Ivan.


“Mr. Alexsander?” suara lembut seorang perempuan peranakan yang sedang berdiri berbicara dengan dua orang pria menyapa Ivan yang sudah bersiap meninggalkan ruangan itu.


Jhony tersenyum, “Dia Sherly perempuan yang ku ceritakan tadi,” bisiknya.


Roni melongo melihat perempuan yang berpakaian kekurangan bahan dengan tubuh menonjol di sana-sini membuatnya menelan ludah. Sementara di atas meja panjang yang sudah disulap menjadi panggung mini, tiga orang perempuan muda sedang menari meliuk-liuk dengan pakaian yang tak kalah menggoda.


“Astaghfirullahhaladjim …. “ Roni berkali-kali beristighfar dalam hati melihat pemandangan di depan mata.


Sherly berjalan melenggang menghampiri mereka. Tatapannya terfokus pada Ivan. Ia berusaha menarik perhatiannya.


Ivan langsung memundurkan tubuhnya melihat gelagat perempuan yang pernah menghangatkan malamnya di masa lalu.


“I’m sorry.” Ivan memandang Sherly sekilas.


Ia tidak ingin berlama-lama di ruangan ini. Aroma rokok dan alkohol membuatnya tidak nyaman.


Sherly menatapnya dengan raut kekecewaan. Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa melempar senyum hambar, karena keinginannya untuk mendekati sang pengusaha tajir tidak membuahkan hasil.


“Wah saya tidak menyangka masa lalu bos penuh warna,” Roni mulai mengeluarkan uneg-uneg yang tersimpan di kepalanya.


Ivan tersenyum kecut, “Kamu bukannya baru setahun dua tahun bersamaku. Malah sudah hampir 8 tahun. Tidak ada yang dapat ku banggakan dari kehidupanku di masa lalu.”

__ADS_1


“Kenapa bos menolak perempuan itu. Dia sangat menarik lho bos ….” Roni berusaha memancing Ivan.


“Bukannya kamu dari tadi istighfar terus,” Ivan mencibirnya.


“He he ….” Roni terkekeh mendengar sindiran Ivan.


Walau pun dalam hati berucap, tapi matanya penasaran juga melihat pemandangan yang tak pernah ia saksikan sumur hidupnya. Anggaplah rezeki mata pikir Roni santai.


“Aku mencintai Rara. Dan aku telah berjanji pada almarhum Abbas tidak akan mengkhianatinya. Walau apa pun yang terjadi aku akan berusaha menjaga pernikahan kami,” tatapan Ivan menerawang jauh membayangkan wajah ayu sang istri.


“Jadi kita pulang besok pagi bos?”


“Tunda saja, setelah menghadiri resepsi Jhony baru kita kembali. Sudah terlanjur di sini, rasanya tidak sopan kalau tidak menghadiri resepsinya.”


“Baik bos.”


Sesampai di kamarnya Ivan langsung membersihkan diri dan segera mengambil wudu untuk melaksanakan salat Isya.


Begitu selesai salat, ia langsung menghempaskan diri di pembaringan. Tangannya kembali meraih ponsel di atas nakas. Jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Ia langsung mencari nomor My Angle dan segera menghubunginya.


“Assalamu’alaikum ….” Suara lembut nan syahdu dengan wajah ayu langsung menghangatkan perasaan Ivan begitu panggilan vc-nya diangkat.


“Wa’alaikumussalam,” Ivan langsung memandang wajah Khaira dengan lekat, “Maafkan aku menelpon jam segini. Belum tidurkan?”


“Nggak bisa tidur,” Khaira berterus-terang.


Suasana baru di kamar yang asing baginya dan jauh dari suami membuatnya kesulitan untuk memejamkan mata. Dalam hati ia merasa senang saat Ivan menghubunginya.


“Apa karena tidur nggak dipeluk?” Ivan tersenyum melihat mata Khaira yang membulat mendengar perkatannya, “Di sini aku juga sama. Rasanya nggak bisa tidur. Sudah terbiasa memeluk yang hangat dan lembut.”


“Masss …. “ Khaira cemberut mendengar perkataan suaminya.


Ivan terkekeh, “Bagaimana kegiatanmu bersama mama hari ini?”


Khaira berpikir sebentar, ia kemudian menceritakan rutinitas kesehariannya dari kafe hingga ke gerai Kara dan menemani sang mertua arisan bersama geng sosialitanya.


Ivan tersenyum bahagia melihat Khaira yang bercerita dengan lancar tanpa perasaan sungkan sedikitpun. Keduanya saling menceritakan aktivitasnya masing-masing hingga tak terasa jam 12 malam Khaira mulaui menguap sambil menutup mulutnya. Matanya pun mulai memerah menahan kantuk karena masih melayani obrolan ringan sang suami yang masih belum mau mengakhiri pembicaraan mereka.


“Tidurlah, malam sudah larut,” Ivan tidak tega melihat Khaira yang beberapa kali menutup mulutnya tak bisa menghindari kantuk, “Jangan lupa mimpikan aku.”


Khaira tersenyum mendengar ucapan suaminya. Perasaannya menghangat saat sebelum mengakhiri perbincangan Ivan mengungkapkan I love you dengan isyarat mulutnya. Akhirnya Khaira pun menjawab I love you to dengan pipi merona.


Perasaan Ivan membuncah bahagia saat menutup pembicaraan, melihat Khaira telah membalas perasaannya. Rasanya saat ini juga ia ingin terbang dan menghabiskan malam bersama istrinya. Tapi mengingat ia sudah berjanji bersama Roni, tampaknya keinginan untuk menikmati malam bersama sang istri harus tertunda.


“Terima kasih ya Allah engkau telah menganugerahkan seorang bidadari yang dengannya aku ingin sehidup sesurga,” Ivan bermonolog dalam hati mensyukuri pertemuannya dengan  Khaira, hingga menikahinya dan kini telah membuka hati seutuhnya padanya.


*** Jangan lupa\, like\, komennya dibanyakin yah untuk suplemen author agar lebih banyak up-nya.  Salam sayang untuk reader semua. ***

__ADS_1


__ADS_2