
Faiq tersenyum puas setelah menandatangani kontrak dengan relasinya Guntur dari Bandung yang ingin memesan supercar sebanyak 10 buah. Ia menggenggam jemari Hani dengan lembut. Kemudian menciumnya dengan mesra.
“Rezeki anak-anak.” Ujar Faiq sambil menatap istrinya mesra.
“Alhamdulillah.” Hani membalas ucapan suaminya sambil menyunggingkan senyum.
“Makan dulu, ya. Setelah ini mas akan mengantarmu pulang.” Faiq berkata pelan sambil membelai tangan Hani yang masih berada dalam genggamannya yang dibalas Hani dengan anggukkan, "Mas nggak ingin kamu terlalu lama berada jauh dari rumah, apalagi dengan kehamilanmu yang sudah semakin mbulet."
"Ih mas .... " Hani cemberut mendengar gurauan suaminya.
"Mbulet yang bikin mas selalu bergairah." Faiq tersenyum puas melihat Hani kini mencubit perutnya dengan kesal.
Ia memandang istrinya dengan lekat. Perempuan yang dengan setia selalu berada di sampingnya, walau pun tanpa ia sadari sering mengecewakan istrinya, tapi Hani selalu menerima segala kekurangan yang ia miliki dan tetap di sisinya.
Jemari Faiq beralih ke perut Hani yang kini sudah masuk 9 bulan. Setelah beberapa kali konsultasi ke dokter kandungan, Faiq merasa lega karena tidak ada lagi gejala preeklampsia yang dialami Hani. Kondisi Hani selama kehamilan dan segala keinginannya selalu dipenuhi baik oleh suami maupun mertuanya. Dan Hani benar-benar merasa bahagia pada kehamilannya kali ini.
Hanif pun sudah kembali ke Jakarta. Ia sekarang bekerja menjadi pengacara tetap perusahaan Aditama. Wulan sudah melahirkan anak pertama seorang bocah perempuan yang lucu. Sekarang Wulan juga dalam kondisi hamil 6 bulan. Ia merasa tenang sekarang, karena tiada lagi permasalahan berat yang menimpa keluarga mereka. Kondisi mulai stabil dengan anak-anak yang semakin besar.
Setelah menikmati makan siang dengan Hani, Faiq segera bergegas untuk mengantar istrinya pulang ke rumah. Dalam perjalanan menuju rumah ponsel Faiq berbunyi. Ia tidak menghiraukannya. Tapi ponsel terus menerus berdering.
“Mas, mungkin penting ….” Hani mengingatkannya. “Aku juga pingin pipis udah nggak nahan.”
“Baiklah.” Faiq menepikan mobil mencari tempat yang agak lapang dan sepi dekat dengan taman kota.
Tiba-tiba tanpa disadari keduanya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah mereka. Belum sempat Faiq menghindar sebuah mobil hitam memotong kompas mobil berwarna merah.
Duarr!
Tabrakan kuat terjadi antara mobil mewah hitam dan mobil merah, yang juga menyeret mobil Faiq 2 meter ke samping, akibat tabrakan beruntun yang menyenggol depan mobilnya.
__ADS_1
“Ya, Allah Rara …. “ Faiq memandang istrinya yang terseret, karena pada saat kejadian Hani baru keluar dari mobil dengan tangan masih memegang pintu mobil.
Sementara keadaan Faiq juga tidak begitu baik, akibat tabrakan beruntun dadanya menghantam dashboard mobil membuat nyeri yang ia rasakan tiba-tiba.
Sontak warga langsung mengerumuni tempat kejadian. Sambil menekan dadanya Faiq turun menghampiri istrinya yang terbaring dalam keadaaan tak sadarkan diri. Ia memangku Hani dengan perasaan takut. Wajah Hani kelihatan pucat. Faiq terkejut melihat area mata Hani mengeluarkan darah dengan serpihan kaca yang menempel disana. Rembesan darah juga mulai mengalir dari sela-sela pahanya.
“Ya Allah apa yang terjadi pada istri hamba?”
Tangan Faiq bergetar saat menghubungi Rudi, dan memintanya datang ke lokasi di mana tabrakan terjadi.
Dalam waktu 10 menit, Rudi beserta ambulan serta petugas kepolisian sudah berada di TKP. Dengan perasaan berdebar Faiq menggendong tubuh istrinya hingga memasuki ambulan yang membawa mereka ke rumah sakit.
Bibir Faiq tak henti-hentinya mengucap zikir serta Asmaul Husna. Ia tidak ingin terjadi sesuatu apa pun pada belahan jiwanya. Apalagi sekarang Hani sedang mengandung anak mereka. Faiq menunggu di depan IGD Rumkit Jakarta. Ia tidak memperdulikan kemejanya yang sudah ternoda darah Hani.
“Bos, sebaiknya anda ganti baju dulu.” Ujar Rudi sambil mengulurkan paper bag yang berisi kaos kasual untuk mengganti bajunya yang sudah berubah warna.
“Aku masih menunggu dokter yang menangani Rara.” Jawab Faiq tegas.
Ia termangu di depan ruang operasi. Sudah satu jam berlalu, Faiq masih menunggu dengan penuh kekhawatiran. Rudi tetap setia berdiri di sampingnya.
“Siapa yang bertanggung jawab atas pasien yang bernama …. ?”
“Saya suaminya dok.” Faiq menjawab dengan cepat sebelum dokter menyelesaikannya pertanyaannya.
“Mari ikut ke ruangan saya.”
Dengan cepat Faiq mengikuti langkah dokter yang bername tag dr. Billy Antariksa, SpoG. ke dalam ruang prakteknya.
“Bagaimana keadaan istri saya, dok?” Faiq sudah tidak sabar menunggu dr. Billy melepas snelli dan duduk di hadapannya.
__ADS_1
“Istri anda mengalami pendarahan yang hebat. Rahimnya mengalami cacat, tetapi jagoan anda sudah berhasil diselamatkan. Fisiknya sangat kuat walaupun dengan kondisi bundanya yang sangat memprihatinkan.” Dr. Billy menghela nafas dengan berat.
Faiq menatap dr. Billy dengan mata membulat tak percaya. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan. Lidahnya terasa kelu mendengar ucapan dr. Billy.
“Untuk sementara junior anda kami masukkan ke dalam inkubator, karena berdasarkan perhitungan kelahiran normal, paling tidak seminggu lagi baru ia dilahirkan.”
“Saya ingin fasilitas terbaik untuk istri dan anak saya dok.” Faiq berkata dengan sedih.
“Ada dua berita penting yang harus saya sampaikan pada anda tuan Al Fareza.” Dr. Billy menatap Faiq dengan wajah tegang.
“Katakanlah dok, saya akan siap mendengar apapun yang akan dokter sampaikan.” Ujar Faiq pasrah.
“Karena benturan akibat terhempas ke jalan, istri anda tidak mungkin hamil lagi.” Dr. Billy menatap Faiq untuk melihat raut wajahnya yang langsung berubah. “Rahimnya mengalami cacat.”
“Yang kedua.” Faiq tidak sabar mendengar berita selanjutnya.
“Kemungkinan istri anda mengalami kebutaan, karena serpihan kaca mobil yang pecah mengenai mata nyonya Hani.”
“Ya, Allah ujian apa lagi ini?” guman Faiq penuh kesedihan.
Ia tidak akan menuntut Hani untuk hamil lagi. Tetapi bagaimana dengan penglihatan istrinya, apa yang harus ia lakukan?
Faiq merasa terpuruk. Langkahnya terasa berat saat kembali ke ruang operasi. Dengan sigap Rudi segera berdiri di sampingnya.
“Mbak Hani sudah dipindahkan di ruang VIP A. Bos bisa langsung masuk ke sana.” Ujar Rudi menjelaskan sambil mengulurkan paper bag yang masih di tangannya.
“Terima kasih atas bantuanmu Rud.” Faiq menatap Rudi yang masih siaga di sampingnya, “Kamu boleh pulang sekarang.”
“Baiklah, bos.” Rudi memberi hormat padanya sebelum berlalu dari pandangannya.
__ADS_1
Setelah mengganti kemejanya yang kotor, kini Faiq duduk di samping tempat tidur Hani yang masih terlelap karena pengaruh obat anestesi yang disuntikkan selama ia menjalani operasi.
Pikiran Faiq masih buntu, ia belum memikirkan peristiwa dibalik kecelakaan yang menimpa istrinya. Ia berharap itu hanya sekedar musibah yang bisa terjadi menimpa siapa pun.