Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 79


__ADS_3

Hani bersama Faiq dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengontrol kandungannya. Dengan wajah sumringah Faiq menggandeng tangan Hani menuju ruang obgyn di rumah sakit Pondok Indah.


Wajah Faiq kelihatan bahagia mendengan ucapan dr. Budiman yang mengatakan bahwa kondisi kedua janin dalam keadaan sehat.


“Wah, senang ya lihat si kembar. Keduanya tampak lincah dan bersemangat.” Dr. Budiman menggeser-geser tranduser untuk melihat gerakan si kembar.


“Tapi yang harus diperhatikan adalah tekanan darahnya ya, bunda” Dr. Budiman memandang wajah Hani dengan penuh perhatian. “Saya pantau dalam dua bulanan ini tekanan darah bunda di atas 150/100. Apakah bunda sedang memikirkan sesuatu?”


Hani menggelengkan kepala dengan cepat.  Ia menyadari tatapan Faiq  yang tak teralihkan darinya.


“Seharusnya dalam usia kandungan semakin mendekati melahirkan bunda tidak boleh berpikiran terlalu berat. Dalam artian bunda harus berpikir relax, selalu happy…” Dr. Budiman memandang Hani dengan rasa iba.


Sebagai seorang dokter ia menyadari, bahwa pasiennya mengalami masalah, tapi ia tak berani berspekulasi, dan itu di luar wewenangnya sebagai seorang dokter kandungan.


“Tuan Al Fareza saya ingin berbicara berdua dengan anda.” Dr. Budiman menahan langkah Faiq ketika pemeriksaan terhadap Hani sudah selesai dilakukan dan keduanya beranjak hendak meninggalkan ruangan praktek dr. Budiman.


“Yang, tunggu aku di depan.” Faiq berbisik pelan pada Hani.


Ia kembali duduk di hadapan dr. Budiman.


“Sebagai seorang suami, anda harus lebih peka,” dr. Budiman memandang Faiq, “Anda harus bisa menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang sehingga bunda bisa menikmati kehamilan tanpa beban.”


Faiq diam tak bergeming. Perasaannya jadi tidak nyaman. Wajah Hani tampak sendu akhir-akhir ini dan ia sangat menyadarinya. Istrinya tidak ceria seperti biasa, setiap Faiq menatapnya yang ada hanya kesedihan dari sorot mata bening itu.


“Tapi pernikahan kami tidak ada masalah…” Faiq membalas tatapan dr. Budiman. Ia tidak senang kehidupan rumah tangganya dicampuri orang luar.


“Bukannya saya mencampuri urusan rumah tangga  anda. Saya hanya khawatir bunda mengalami  Preeklamsia.”


Faiq terkejut mendengar ucapan dr. Budiman. Ia memandang dr. Budiman dengan perasaan berkecamuk.


“Apakah ini berbahaya dok?” Faiq merasa cemas mendengar perkataan dr. Budiman, “Dokter bisa jelaskan lebih spesifik?”

__ADS_1


Dr. Budiman menghela nafas berat, “Preeklamsia adalah kondisi yang terjadi akibat dari tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol pada ibu hamil. Kondisi preeklamsia pada ibu hamil harus segera ditangani. Jika tidak, kondisi preeklamsia dapat berkembang menjadi eklampsia dan memiliki komplikasi yang fatal baik bagi ibu maupun bagi janinnya.”


Faiq terhenyak, “Saya percayakan semua pada dokter. Saya ingin yang terbaik buat istri dan anak-anak saya.”


“Sebagai dokter, kami berusaha melakukan yang terbaik bagi istri anda dan kandungannya. Tapi saya berharap, ayah sebagai suami harus membantu menjaga  dan jangan membuat  bunda emosi. Jika bunda tertekan dan menyimpan emosi bisa menyebabkan  tensi darah akan meningkat. Jadi bantu bunda agar tetap dalam lingkungan yang nyaman. Bunda hamil itu harus selalu dibuat bahagia, karena itu juga berpengaruh pada janinnya.”


“Saya akan selalu mengingatnya dokter.”


“Semoga tekanan darah bunda bisa normal dan stabil, karena akan bermasalah pada saat melahirkan yang diperkirakan 3 mingguan lagi, jika tidak ada penurunan tensi.”


“Terima kasih dokter.” Mata Faiq berkaca-kaca karena tak lama lagi akan menyaksikan putranya lahir ke dunia, walaupun di dalam hatinya menyisakan perasaan cemas.


Faiq memandang Hani yang melamun menunggunya di depan ruang praktek dr. Budiman. Ia berusaha mengingat perkataan dr. Budiman untuk menciptakan suasana yang menenangkan dan selalu membuat istrinya senang.


“Sayang, kita pulang sekarang…” Faiq berdiri tepat di hadapan Hani.


Hani memandang Faiq sekilas, dan langsung mengalihkan pandangan dari suaminya. Ia tidak suka kebohongan Faiq. Dan itulah yang membuatnya susah tidur  belakangan ini. Hani masih menunggu Faiq untuk menceritakan apa yang ia sembunyikan selama ini. Tetapi Faiq tetap menyimpan semuanya sendiri. Ia tidak menyadari kebohongan yang ia sembunyikan telah diketahui istrinya.


Ia menggenggam jemari Hani sekali-kali mengecupnya, menyalurkan kehangatan yang saat ini sedang ia rasakan. Perasaannya membuncah bahagia, walau ada terselip kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.


“I love you…” bisiknya di telinga Hani begitu mereka memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah sakit.


Begitu selesai mengantar Hani kontrol ke rumah sakit. Faiq membawanya kembali ke rumah. Ia tak ingin istrinya kecapean, apalagi dengan usia kandungan yang semakin tua dan mengandung kembar tentu sulit bagi Hani untuk melakukan aktivitas di luar rumah.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Faiq sudah bersiap untuk kembali ke rumah. Ia sudah berjanji pada anak-anak makan di restoran sehabis magrib. Ponselnya berdering tiba-tiba, saat Faiq mulai melangkahkan kaki keluar dari ruang kerjanya. Dengan cepat Faiq mengangkatnya.


“Assalamu’alaikum nak Faiq…” suara Dewi menghentikan langkah Faiq.


“Bisa tolong antar ibu ke dokter ortopedi. Andre sudah kembali ke kampung. Hesti tidak bisa melakukan sendiri.”


“Baik bu.  Dua puluh menit lagi saya akan tiba di sana.” Tanpa berpikir  panjang Faiq memenuhi keinginan Dewi.

__ADS_1


Kurang dari tiga puluh menit, Faiq sudah berada di apartemen Hesti. Keduanya merasa senang karena Faiq tidak menyuruh Rudi untuk mengantarkan dan menemani Dewi dan Hesti ke rumah sakit.


Faiq segera mengangkat Dewi untuk naik ke dalam mobilnya. Hesti mengikuti mereka dari belakang dengan perasaan senang. Walaupun keinginannya untuk kembali bersama Faiq belum tercapai, tapi melihat kepedulian Faiq terhadap ibunya membuatnya yakin  bahwa suatu hari nanti ia bisa mencapai keinginannya untuk membina rumah tangga bersama Faiq.


Saat berjalan menuju ruang praktek dr. Winarto, tanpa sungkan Hesti melingkarkan lengannya pada lengan kokoh Faiq yang mendorong kursi roda ibunya.


“Hes…” Faiq merasa keberatan dengan perlakuan Hesti.


“Aku merasa capek, mas. Seharian di kantor badanku lelah.” Hesti membuat alasan sehingga Faiq terdiam, dan akhirnya membiarkan perlakuan Hesti.


Melihat Faiq yang tidak mempermasalahkan perbuatannya Hesti tersenyum puas. Kali ini ia tak akan mengalah lagi. Ia dan ibunya akan berjuang bersama untuk mendapatkan hati Faiq kembali.


Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hani mengelus perutnya yang terasa kram. Sudah lewat dua jam Faiq belum kembali ke rumah. Padahal ia sudah berjanji akan mengajak mereka makan malam di luar. Hani berusaha berpikir positif.


Berusaha berdamai dengan hatinya, walaupun ia sudah tahu pemilik nota dan kuitansi berobat di saku kemeja kerja Faiq. Tapi Hani masih berharap Faiq berterus terang padanya. Dan ia berusah tidak mempermasalahkan itu, karena sikap Faiq tetap hangat dan mesra seperti biasa, dan ia tetap menunggu inisiatif Faiq menceritakan semuanya.


Dengan membawa ponselnya Hani beranjak menuju ke lantai atas. Ia ingin menemani si kembar dan Hasya bermain. Notip pesan berbunyi dari ponselnya.


Mata Hani terbelalak tak percaya melihat Hesti bergayut dengan mesra pada lengan kokoh suaminya. Lututnya terasa lemas melihat foto-foto yang dikirim. Faiq masih menggunakan kemeja kerja. Berarti Faiq bersama mereka. Dada Hani bergemuruh menahan kesedihan. Tampak Faiq mengajak keduanya memasuki restoran mewah, dengan Faiq yang mendorong kursi roda dan Hesti yang menempel seperti prangko.


“Kamu masih tidak percaya bahwa antara aku dan mas Faiq memiliki hubungan? Tenanglah, tak lama lagi hubungan kami akan diresmikan di catatan sipil.” Pesan chat sempat terbaca Hani, hingga air mata mengaburkan pandangannya dan lututnya sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang sudah sangat berat.


“Bruk…” Tubuh  Hani menggelinding jatuh dari pijakan kelima tangga menuju lantai dua. Sementara kepalanya membentur tangga pertama.


Mendengar bunyi benda jatuh Ariq dan Ali yang sedang belajar di kamarnya berlarian ke luar. Mereka berdua terkejut melihat bundanya sudah pingsan dengan darah yang mulai mengalir di sela-sela pahanya.


“Bunda…” Ariq dan Ali berteriak penuh kekhawatiran melihat bundanya sudah dalam keadaan pingsan.


Mendengar teriakan keduanya, sontak Lina yang menemani Hasya menonton tv, langsung berlari secepat kilat.


 

__ADS_1


 


__ADS_2