Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 285 S2 (Sempurna)


__ADS_3

Khaira kembali ke kamar tepat jam 10 malam setelah beberes dengan beberapa art.  Ia merasa bahagia, di malam ke tujuh hari kepergian almarhumah Laras   sanak saudara masih banyak yang mengunjungi mereka. Tak sia-sia ia dan mbak Ira mempersiapkan hidangan untuk menjamu para saudara yang masih datang untuk menyampaikan bela sungkawa.


Badannya terasa lengket dengan keringat. Ia tersenyum tipis menatap ketiga sosok yang sudah terlelap dalam pelukan malam. Khaira menatap lekat wajah suaminya yang terdengar dengkuran halus dalam tidurnya.


Ketiganya tertidur di tempat yang sama dengan gaya masing-masing. Senyum Khaira semakin lebar melihat kaki Embun yang nangkring di atas wajah Ivan, sedangkan Fajar beralaskan lengan ayahnya sebagai bantal.


Khaira meninggikan suhu ac agar suhu ruangan tidak terlalu dingin. Ia segera menutupkan selimut yang berada di sisi tempat tidur ke tubuh Ivan dan si kembar.


Bagaimana mungkin ia merebut kebahagiaan si kembar untuk berkumpul bersama dengan ayah mereka hanya karena keegoisannya yang tak bisa melepas masa lalu menyakitkan yang pernah terjadi antara ia dan Ivan. Kali ini ia harus berkompromi dengan hatinya demi masa depan Fajar dan Embun. Ia pun dapat melihat bagaimana sikap dan perilaku yang ditunjukkan Ivan bukan hanya pada dirinya, tetapi dengan keluarga besar mereka.


Ia pun merasa terharu atas kesungguhan Ivan dalam mengurus si kembar dalam seminggu ini. Bukannya ia tak memperhatikan bagaimana repotnya Ivan mengasuh dan menjaga Fajar dan Embun yang sedang aktif-aktifnya berbicara serta beraktivitas sepanjang hari, tentu bukan perkara yang mudah, tapi ia tidak ingin melawan keinginan Ivan. Ia ingin melihat dan menyaksikan sendiri sampai Ivan menyerah untuk mengasuh keduanya.


Ia saja yang selama ini dibantu bu Nuri dan bu Mila merasakan kelelahan luar biasa, apalagi Ivan yang menyanggupi untuk mengurus si kembar sendirian. Harusnya bu Nuri dan bu Mila sudah mengakhiri masa liburan mereka. Tapi saat bu Mila dan bu Nuri menghubunginya dua hari yang lalu Ivan menolak dan meminta Khaira untuk menambah liburan keduanya hingga mereka kembali ke pondok minggu depan.


Hujan disertai angin dan petir mulai bersahutan di luar. Pantas saja seharian ini panas begitu luar biasa rupanya pertanda akan datang hujan di malam hari. Karena kegerahan, Khaira tak bisa menahan keinginan untuk mandi. Ia pun teringat belum melaksanakan salat Isya.


Dengan cepat Khaira menyudahi mandi. Karena cuaca yang mulai dingin, membuatnya tak kuasa berlama-lama di kamar mandi. Merasa Ivan sudah lelap dalam tidurnya, Khaira santai menggunakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.


Ternyata taklama setelah Khaira menutupi tubuhnya dengan selimut, Ivan tersadar. Selama ini ia memang tidak pernah nyenyak dalam tidur. Pergerakan sekecil apa pun akan membuatnya terbangun.


Aroma wangi sabun dan sampo menguar di penciumannya. Mata Ivan langsung terbuka lebar melihat pemandangan Indah yang tersaji di depan mata. Ia menelan ludah saat di depan meja rias Khaira memakai krim malam dan menyapukan di seluruh tubuhnya.


Rambutnya yang masih terbungkus handuk membuat lehernya yang jenjang dan putih begitu menggoda iman. Ivan menahan nafas saat Khaira melewatinya menuju ruang walk-in closed. Kalau saja akal sehat tak bisa menguasai diri, rasanya saat ini juga ia ingin menarik Khaira ke tempat tidur mereka yang sudah lama dingin.


“Sabar Ivan, akan tiba masanya …. “ monolognya dalam hati ketika Khaira sudah menghilang di balik pintu.


Paha putih dan mulus itu melambai-lambai pengen dibelai. Ivan kembali menelan ludahnya mengingat semua pemandangan indah yang kali ini terpaksa harus ia lewatkan. Tak mungkin ia memaksa Khaira untuk melayani keinginannya walaupun semua sudah menjadi haknya sebagai seorang suami.

__ADS_1


Ia memejamkan mata berusaha menahan gemuruh di dada, sementara yang di bawah sudah begitu sesak ingin mencari kehangatan tersendiri. Ivan menggelengkan kepala berusaha menahan hasrat yang sudah lama tidak tersalurkan.  Ia membalikkan badan, dan tidur dengan posisi tengkurap.


Khaira kembali ke kamar setelah memakai baju tidur.  Ia tidak menyadari sepasang mata yang menatapnya seperti pemburu yang siap menerkam mangsanya. Khaira lupa kalau ia sekarang bukanlah perempuan lajang yang terbiasa sendiri menemani kedua buah hatinya. Apalagi sekarang mereka bukan di rumah sendiri. Seharusnya ia sadar jangan memancing di air keruh, dan membuat singa semakin kelaparan melihat mangsa yang begitu menggiurkan di depan hidungnya.


Baju tidur yang ia pakai  membuat sang singa kelaparan semakin tak menentu. Bagaimana tidak kaos lembut tanpa lengan di atas lutut berwarna kulit membuat imajinasi Ivan berkelana membayangkan isi di dalamnya.


Khaira sekarang semakin sempurna di matanya. Tidak ada lagi kekurangan yang membuatnya harus melepas Khaira seperti di masa lalu. Ia benar-benar bodoh dan terus menyalahkan masa lalu yang membuatnya berpisah dengan Khaira. Walau kini mereka telah kembali bersama, tapi tak semudah membalikkan telapak tangan untuk membuat Khaira dengan mudah menerima dirinya dan memberikan haknya sebagai seorang istri.


Dengan santai Khaira segera meraih mukena dan melaksanakan salat Isya serta salat Witir. Ia berdoa untuk kedua orangtua, oma Marisa serta semua keluarga yang terlebih dahulu di panggil yang Kuasa. Tak lupa ia mendoakan keutuhan rumah tangga yang baru mulai kembali terbina. Air matanya mengalir tak kuasa membayangkan wajah Fajar dan Embun yang tak bisa lepas dari ayahnya. Ia memohon kepada sang Pemilik Hati agar memberikan keikhlasan pada dirinya untuk memulai semua dari awal bersama Ivan.


Setelah puas mengadu dengan sang Khalik, sebelum tidur Khaira menyempatkan diri membaca al-Qur’an. Kebiasaan ini telah mengakar semenjak ia tinggal di pondok. Begitu hatinya merasa tenang ia menyudahi aktivitasnya. Khaira segera menyimpan alat salatnya di tempat semula.


Ia berjalan mendekati tempat tidur. Senyumnya kembali terkembang melihat posisi tidur Embun telah normal, tapi kedua kaki Fajar kini naik ke punggung Ivan yang tidur dalam keadaan telungkup.


Khaira mencium si kembar dengan penuh sayang. Ia menatap keduanya dengan lekat sambil membetulkan letak selimut.


Ivan terkesiap mendengar ucapan Khaira yang begitu dekat di telinganya. Ia merasakan saat tempat tidur bergoyang karena Khaira naik ke tempat tidur.  Ia menghirup aroma wangi yang menguar begitu dekat sambil menahan nafasnya yang memburu.


Rasanya kali ini ia ingin egois dan mengurung Khaira hanya untuk dirinya. Kerinduan yang teramat dalam dan keinginan yang begitu besar untuk memadu kasih terasa memecahkan kepala.


“Maafkan aku Mas. Semua masih terasa berat bagiku menerima kenyataan ini,” Khaira berkata pelan berusaha mengungkapkan apa yang ia rasa di hatinya, “Biarkan aku mengobati semua luka yang masih berdarah atas peristiwa lalu. Aku belum siap untuk menjadi istri yang sempurna untukmu …. “


Ivan merasakan gemuruh di dadanya mendengar ucapan Khaira. Masih sesakit itukah hati Khaira atas perbuatannya tiga tahun yang lalu, Ia merasakan Khaira sudah turun dari tempat tidur karena ada pergerakannya sesaat yang lalu.


“Tidak sayang … kaulah perempuan sempurna yang telah Allah ciptakan untukku. Hanya aku orang yang tidak bersyukur  dan kurang bersabar …. “ desah Ivan dalam hati merasakan kesedihan atas curahan hati Khaira yang mengiranya tidur.


Khaira mengambil selimut dan bantal yang tersusun di sisi tempat tidur. Ia segera membaringkan tubuhnya di sofa lebar yang beberapa hari ini menjadi tempat tidur suaminya. Ia tidak ingin membangunkan Ivan yang tampak begitu lelah dan menikmati tidur bersama si kembar. Ia tidak akan egois untuk ketiganya. Ia akan membiarkan apapun yang ingin Ivan lakukan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu pada kedua buah hati mereka.

__ADS_1


Setelah yakin Khaira tidur, Ivan segera bangkit dari peraduan. Ia tersenyum melihat Fajar dan Embun yang semakin lelap dalam tidurnya. Ia mencium keduanya bergantian. Aroma bayi begitu kuat membuatnya tak ingin lepas dan jauh dari si kembar walau hanya sedetik. Puas memandangi wajah kedua buah hatinya Ivan  melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan salat malam.


Ia ingin segera mengadukan kegundahan serta segala beban pikiran yang ada di kepalanya. Dalam doanya Ivan memohon dengan penuh harap, agar sang Khalik segera membukakan pintu hati istrinya agar dapat menerimanya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan seperti yang pernah mereka rasakan selama mengarungi hidup berumah tangga.


Tak dapat menahan air mata dengan sepenuh hati Ivan meminta secara bersungguh-sungguh dengan mengakui semua perbuatan dimasa lalu yang masih menyisakan sakit di hati sanubari istrinya. Ia ingin semua kembali seperti semula. Tidak ada batasan yang dibangun Khaira dalam rumah tangga yang kini mulai mereka arungi bersama.


Puas mengadukan dan meminta kepada sang Empunya hati dan jiwanya, Ivan segera mengakhiri khalwatnyadengan sang Khalik. Ia segera merapikan dan menyimpan peralatan salat di tempat semula.


Sebelum kembali ke tempat tidur, Ivan mendekati sofa dimana Khaira telah terlelap dalam mimpi panjangnya. Ia merasa iba melihat Khaira yang meringkuk di sofa seperti orang yang kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan, selimutnya sudah terjatuh di lantai.


Dengan menahan hasratnya, Ivan mengangkat tubuh ramping istrinya kembali ke tempat tidur. Aroma wangi tubuh Khaira begitu kuat mengganggu naluri kelakiannya. Perlahan Ivan membaringkan Khaira ke tempat tidur. Paha mulus itu kembali mengganggu pemandangan Ivan. Ia menatap wajah ayu itu dengan lekat. Pesona kecantikan Khaira tidak pernah luntur di matanya.


Kesempurnaan perempuan yang telah Allah pilihkan hanya untuk dirinya. Bagaimana mungkin ia sanggup berpisah dan melepas ketiganya dari hidupnya? Andaikata mamanya tidak meninggal dunia, apa mungkin ia bisa ikhlas melepas mereka bersama orang lain?


Ivan menggelengkan kepala menyadari bahwa semua yang terjadi dan ia alami tak lepas dari campur tangan dan kuasa Allah. Di saat hatinya mulai ikhlas, Allah telah mengembalikan semua miliknya walau pun ia harus merelakan kepergian mamanya.


Ia akan membuktikan janjinya pada almarhumah mamanya, bahwa ia akan menjaga keutuhan keluarga mereka dari segala mara bahaya yang akan timbul di kemudian hari yang akan mengganggu keutuhan rumah tangga mereka.


Tatapan Ivan beralih pada bibir penuh Khaira yang begitu mengundang dirinya untuk merasakan manisnya madu yang pernah ia reguk saat  kebersamaan mereka di masa lalu. Ia menelan ludah. Tak bisa ia menahan diri.


Ivan menjatuhkan bibirnya dan mengecup bibir Khaira sekilas. Melihat tak ada pergerakan membuatnya tak bisa menahan diri. Ivan kembali menemukan bibirnya dan mulai melu*** telaga madu yang sudah lama tak ia rasakan.


Terdengar lengu*** suara Khaira seperti mengundang Ivan untuk melakukan lebih. Ia tersadar\, jangan sampai Khaira terbangun. Dengan cepat Ivan menutupi tubuh Khaira dan kembali ke sofa untuk membaringkan tubuhnya.


Jantung Ivan berdetak tak karuan. Ia seperti pencuri yang baru selesai  melakukan aksi kejahatan.  Ia segera memejamkan mata begitu melihat pergerakan di tempat tidur. Dari sudut matanya Ivan dapat melihat Khaira yang bangkit dari tidurnya dan memandang kiri dan kanannya dengan bingung.


Senyum tipis tersungging di sudut bibir Ivan. Walaupun belum bisa melakukan hal yang menyenangkan lainnya, paling tidak ia sudah menemukan cara untuk mengobati kerinduan akan kebersamaan yang pernah hilang dari hidupnya bersama Khaira.

__ADS_1


***Mohon maaf reader pecinta Ivan dan Khaira\, Author tumbang lagi\, tampaknya virus Covid masih sayang lom mau pergi dari Auhor\, kepaksa istirahat dulu dari dunianya babang Ivan dan akak Rara. Alhamdulillah hari ini author udah bisa up lagi. Sayang sama reader semua yang masih setia menunggu. Jangan lupa baca juga ya cerita kedua author "MERAJUT SERPIHAN CINTA" tidak kalah seru dari karya pertama author yang tinggal beberapa bab lagi akan tamat. Dukung terus karya author ya.... "


__ADS_2