Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 264 S2 (Ulat Bulu Tak Tau Malu)


__ADS_3

Dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar tempat si kembar biasa menghabiskan waktu saat bersamanya, Ivan melihat dua buah mobil beriringan meninggalkan rumah Khaira di pagi Jum’at yang sangat tenang itu. Ia sudah mendapat bocoran dari ustadz Hanan, kalau setiap hari Jum’at Khaira akan kembali ke kota membawa si kembar mengunjungi saudaranya.


Ia pun hari ini bermaksud mengunjungi mamanya, tak lupa ia ingin mengawasi aktivitas si kembar saat jauh dari rumah. Sudah satu bulan ia tidak kembali ke rumah. Hanya lewat ponsel Ivan menghubungi Laras untuk menceritakan posisinya berada.


Ia pun kebetulan besok ada janji untuk bertemu dengan George.  Ivan tidak tau maksud George menemuinya.  Tapi  sebagai teman lama rasanya tidak sopan jika ia menolak untuk bertemu.


“Sudah satu bulan kamu nggak pulang. Bobby sering mampir kemari dan menanyakan kamu,” Laras menyambut kedatangan Ivan di sore itu.


“Mama nggak usah terlalu akrab dengan mereka,” dengan cepat Ivan mengomentari perkataan Laras.


“Mama kesepian di rumah. Bobby anaknya lucu dan menggemaskan. Keberadaannya membuat mama terhibur. Laura juga perempuan yang baik,” Laras mulai berkata lirih. Ia tidak ingin Ivan menolak keinginannya untuk dengan Laura dan putranya.


“Terserah mama. Tapi jangan libatkan aku untuk menuruti semua keinginan mama. Sampai kapan pun tidak ada tempat untuk perempuan lain.”


“Sampai kapan kamu akan seperti ini Van. Usiamu sudah hampir 40 tahun. Mama nggak mau kamu kesepian di hari tua. Tidak selamanya mama ada. Siapa yang akan mengurusmu nanti jika mama lebih dulu dipanggil Yang Kuasa ....”


Ivan yang sudah hampir melangkah menuju ke kamar, membalikkan badan dan menghampiri Laras. Ia menggenggam kedua tangan yang semakin renta di makan usia.


“Ma, aku sedang berjuang untuk menemukan Rara kembali. Aku yakin Allah akan memberikan lebih dari yang kita inginkan selama mama mau bersabar,” Ivan berkata dengan lembut.


Ia tau niat baik Laras untuk kepentingannya. Tapi yang mamanya tidak tau, bahwa bukan hanya Rara, tapi juga si kembar adalah hadiah terindah yang bakal mengejutkan Laras jika ia mengetahuinya.


“Baiklah nak. Tapi biarkan mama tetap berhubungan baik dengan Laura. Mama menyukai Bobby,” Laras menatapnya dengan sendu.


“Terserah mama, tapi jangan libatkan aku dalam pertemanan kalian.”


Laras merasa lega mendengar jawaban Ivan. Sebagai orang tua yang baik ia tidak ingin putra semata wayangnya menua sendirian. Tetapi ia tetap berdoa yang terbaik untuk Ivan agar keinginannya untuk menemukan Rara berhasil.


Sudah hampir satu jam Ivan menunggu kehadiran George di restoran mewah yang telah mereka sepakati bersama. Ia membuka email kiriman Danu yang kini berada di proyek bersama ustadz Hanan dan rekan mereka.


“Sudah lama menunggu?” terdengar suara bass menghentikan kegiatan Ivan.


“Sudah satu jam,” jawab Ivan seadanya begitu George sudah berdiri di hadapannya, “Silakan duduk.”


“Thanks,” George menjawab singkat dan duduk di hadapannya.


“Ada keperluan apa menghubungiku?” Ivan tak ingin berbasa-basi.


“Aku mohon kamu mencabut semua tuntutan pada Claudia,” pinta George serius, “Sekarang ia masih tertahan di Singapura. Tidak bisa bepergian kemanapun selama  enam bulan.”


“Dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah ia lakukan,” jawab Ivan singkat.


“Tidakkah ada rasa ibamu padanya? Walau bagaimanapun, ia pernah menjadi orang spesial di masa lalumu,” George berusaha membujuk Ivan untuk menarik tuntutan yang telah dibuatnya terhadap Claudi.


“Cih!” Ivan menatap George sinis, “Kau tidak tau betapa bahayanya Claudia.”


“Bukankah mantan istrimu yang membuat Byan meninggal?” George masih berusaha membela Claudia.


“Perasaan cinta pada Claudia membuatmu dibutakan  kebenaran,” Ivan berkata dengan tajam, “Sebelum kematian Bryan, ia menceritakan padaku, bahwa Claudia yang mendorongnya dan menuduh Rara melakukan kejahatan itu. Sandiwara Claudia atas bantuanmu telah membuat rumah tanggaku hancur tak bersisa.”


George terkejut mendengar perkataan Ivan. Ia menolak jika Ivan menuduhnya mencintai Claudia. Ia hanya bersimpati atas hubungan masa lalu mereka.   Dan lagi Claudia masih bekerja sebagai sekretarisnya dan paling tau apa yang ia inginkan.


“Please, hubungan aku dan Claudia tidak seperti yang kau tuduhkan,” ujarnya cepat.


“Terserah,” Ivan tak peduli dengan sanggahan George, “Kau tau yang membuatku tidak akan memaafkan Claudia, dia telah menghina Rara dan putriku.”


George tak percaya mendengar ucapan Ivan tentang Rara dan putrinya. Selama ini ia sering mendengar cerita Claudia bahwa istri Ivan hanyalah seorang perempuan yang mandul. Karena itulah Ivan meninggalkannya setelah mengetahui bahwa Bryan adalah satu-satunya pewaris yang ia miliki.


“Ceritamu tidak masuk akal,” George mulai menegakkan posisi duduknya mendengar perkataan serius Ivan.


“Aku tak peduli masuk akal atau tidak bagimu atau siapa pun. Tapi aku telah memiliki sepasang anak kembar buah cintaku dengan Rara. Dan aku akan melindungi mereka dari siapapun,” Ivan berkata dengan sorot tajam pada George, “Jadi jangan pernah meminta apapun padaku.  Claudia harus menerima akibat perbuatannya sendiri.”


George terdiam. Ia tak berkata apa pun saat Ivan pergi meninggalkannya dengan segala pemikiran yang bergejolak di kepalanya. Ini sungguh berita yang tidak pernah ia ketahui. Claudia juga telah menutupi kebenaran darinya. Dan merasa dirinya pihak yang paling menderita dan tersakiti.

__ADS_1


Akhirnya George bangkit dari restoran mewah itu tanpa memesan apa pun. Selera makannya jadi hilang setelah mendengar kebenaran yang telah diungkap Ivan. Ia akan memikirkan langkah selanjutnya untuk membebaskan Claudia dari tuntutan yang membuatnya kini tertahan dan tidak bisa meninggalkan Singapura.


“Hanya membuang waktu saja,” kesal Ivan begitu kembali ke mobil.


Siang itu Laura merasa senang karena Laras memintanya menemani shopping di pusat perbelanjaan terkenal. Ia telah mendengar cerita Laras bahwa Ivan baru kembali dari bepergian setelah satu bulan dari perjalanan bisnisnya. Ia berharap Laras mengundangnya makan malam bersama agar mereka bisa bertemu.


“Bobby pingin mainan apa? Hari ini boleh pilih mainan yang Bobby sukai,” ujar Laras sambil menggandeng sebelah tangan Bobby.


“Benar eyang?” Bobby menatap Laras dengan perasaan senang.


“Tentu saja. Eyang tidak pernah bohong sama Bobby kan?”  Laras merasa bahagia karena telah membuat bocah lelaki itu senang.


Setelah melihat model tas terbaru dan belanja untuk dirinya dan Laura, kini Laras mengajak Laura dan Bobby menuju pusat mainan anak.  Bobby begitu antusias saat melihat segala jenis mainan yang ada, apalagi sudah lama ia tidak dibawa ke pusat mainan anak membuat matanya berbinar-binar melihat mainan edisi terbaru yang dipajang memanjakan indera penglihatannya.


“Aku mau yang ini,” Bobby merampas mainan robot yang akan diambil seorang bocah lelaki yang tampan.


Ustadzah Fatimah yang kebetulan menemani Fajar memilih mainan terkejut saat melihat seorang bocah dengan tidak sopannya mengambil mainan yang sudah berada dalam genggaman Fajar.


Ia dan Khaira sudah berjanji untuk berbelanja keperluan pondok di hari Sabtu yang cerah itu. Setelah belanjaan pondok sudah dibeli, mereka akan membawa si kembar untuk mencari mainan baru.


“Eh, kan udah ada yang punya! Kasian adiknya .... “ ustadzah Fatimah berkata pelan agar Bobby mengembalikan mainan yang sudah dipilih Fajar.


“Mami, Bobby mau yang ini!” Bobby bersikeras menahan mainan yang sudah ada dalam genggamannya.


Laura memandang sinis ustadzah Fatimah yang kini memandang Fajar  dengan perasaan iba. Ia mengingat keduanya saat Ivan memborong mainan buat Bobby.


“Maaf ya Bu, mainan ini lebih pantas buat putra saya. Apa ibu mampu membayarnya, harganya sangat mahal,” Laura berkata dengan senyum meremehkan.


Ustadzah Fatimah menghela nafas mendengar dan melihat kesombongan yang dipertontonkan dihadapannya.


“Kita cari yang lain saja ya Mas?” ustadzah Fatimah mengalah. Ia membujuk Fajar untuk berpindah ke lorong yang lain.


“Umi atu punya balbi syantik .... “ Embun tertawa riang dengan diikuti bu Mila di belakangnya.


Laras yang mendekati Laura dan Bobby terkejut saat melihat sepasang bocah kembar berdiri di hadapannya.


Ia menatap lekat Embun dan Fajar.  Jantungnya berdetak saat melihat wajah Embun yang karena kepanasan telah melepas jilbab yang telah menutupi kepalanya. Ia melihat raut belia Ivan di wajah bocah perempuan cantik itu. Hanya rambutnya yang kriwil yang membuatnya tampak berbeda. Tapi mata, hidung, bibir dan senyumnya sangat mirip.


“Ini putri anda?” Laras memandang ustadzah Fatimah yang kini menggandeng Embun untuk mengikuti langkahnya.


“Benar Bu,” ustadzah Fatimah tersenyum ramah sambil menganggukkan kepala.


Mata Laras menatap bocah lelaki yang berada di belakang ustadzah Fatimah.


“Mereka kembar?”  kembali Laras menahan langkah ustadzah Fatimah yang hendak melangkah.


“Ya,” ustadzah Fatimah menjawab singkat.


Tatapan Laras mengamati si kembar bergantian. Wajah keduanya terasa tidak asing bagi Laras. Ia membelai kepala kedua bocah yang menatapnya dengan heran. Perasaan hangat tiba-tiba menyergap relung hatinya. Laras bingung dengan yang terjadi dengan perasaannya.


“Eyang, Bobby mau yang ini saja,” ujar Bobby dengan nada riang, karena keinginannya tercapai, “Robotnya bagus Eyang. Teman Bobby di sekolah semua memiliki ini.”


Tatapan sedih tergambar di wajah Fajar saat melihat Bobby membanggakan mainan yang berada di tangannya.


Laras dapat melihat raut sedih di mata bocah tampan yang memandang mainan robot di tangan Bobby. Sementara tangannya masih kosong tanpa satupun mainan yang ia bawa. Tatapannya beralih pada bocah perempuan yang memegang boneka barbie.


“Mau mainan apa nak? Biar Eyang yang belikan?” Laras berjongkok di hadapan bocah lelaki yang kini mengingatkannya pada seseorang.


Mata bening Fajar menatap Laras dengan lekat. Ia melayangkan pandangan ke ustadzah Fatimah.


“Nggak usah Bu. Permisi,  assalamu’alaikum,” ustadzah Fatimah menjawab dengan cepat.


Tatapan Laras terus mengikuti rombongan yang berjalan menjauh darinya. Tiba-tiba perasaan hampa menyergapnya ketika rombongan itu hilang dari pandangan mata.

__ADS_1


“Tante, kita mau kemana lagi?”  perkataan Laura mengejutkan Laras dari pikiran aneh yang tiba-tiba hinggap di kepalanya.


Laura merasa tidak senang ketika Laras memandang kedua bocah yang telah hilang dari hadapan mereka. Ia ingin hanya Bobby yang bisa membuat Laras bahagia karena tidak ada orang lain yang dekat dengannya.


“Tante ingin ke toilet sebentar,” Laras merasa kelelahan setelah menemani Bobby dan Laura memilih mainan di pusat permainan anak.


Karena ia pun mempunyai keinginan yang sama akhirnya Laura menggandeng Bobby mengikuti langkah Laras ke toilet wanita.


“Rara .... “ Laras terpaku tak percaya melihat perempuan muda yang sedang membersihkan wajahnya di depan wastafel.


“Tante .... “ Khaira terkejut melihat mantan mertuanya kini berdiri di hadapannya, “Bagaimana keadaan tante?”


Laras langsung memeluk mantan menantunya. Perasaan sedih menghinggapi hatinya mengingat  sampai saat ini Ivan masih berusaha mencari Khaira.


“Tetaplah seperti dulu. Kamu tetap anak perempuan mama yang mama sayangi,” Laras menatapnya lekat.


Khaira tidak menjawab. Perasaan terharu sekaligus sedih hinggap di hatinya melihat mantan mertuanya yang kini kelihatan kurus dan wajah yang menua dimakan usia.


“Mampirlah ke rumah sayang .... “ Laras mengajaknya dengan penuh harap, “Pintu rumah masih terbuka lebar untukmu.”


Laura menatap tidak suka pemandangan di depannya. Ia mengingat Khaira, perempuan yang pernah berbicara dengan Ivan saat mereka bertemu di bandara. Ia tersenyum meremehkan melihat penampilan Khaira yang hanya menggunakan gamis sederhana.  Tidak ada yang istimewa dari perempuan yang usianya sebaya dirinya.


“Terima kasih Tante, saya sangat menghargainya,” Khaira tetap dengan sapaannya tak ingin merubah seperti keinginan Laras.


“Banyak yang ingin mama ceritakan padamu,” Laras meraih kedua tangan Khaira dan menggenggamnya erat. Ia berharap Khaira mengabulkan keinginannya dalam waktu secepatnya, “Mama mohon datanglah ke rumah.”


“Saya belum bisa memastikan tante,” Khaira tersenyum, “Tapi jika ada waktu akan saya usahakan.”


“Baiklah sayang, mama akan selalu menunggumu.” Laras kembali memeluknya erat begitu Khaira pamit.


“Siapa perempuan itu tante?” Laura tak bisa menahan rasa ingin taunya.


“Dia mantan istri Ivan,” Laras berkata dengan sedih.


Laura terdiam. Ia tidak menyangka perempuan yang berpenampilan sederhana itu adalah mantan istri dari laki-laki yang telah ia targetkan untuk menjadi ayah sambung bagi putra semata wayangnya.


“Kenapa mereka berpisah?” Laura tak berhenti dengan rasa penasaran yang begitu mengganggu pikirannya. Ia harus bergerak cepat agak target dapat ia raih.


“Kesalahpahaman yang membuat mereka terpisah,” mata Laras berkaca-kaca saat mengucapkan itu, “Walau pun dia tidak bisa memberikan keturunan pada Ivan, tapi tante sangat menyayanginya.”


Mendengar ucapan Laras, perasaan senang terbit di hati Laura. Ia merasa banyak kelebihan yang ia miliki dibanding perempuan yang tidak ada apa-apanya di matanya. Ia yakin bisa mempengaruhi Laras untuk menerima dirinya dan Bobby sebagai senjata untuk menaklukkan Ivan.


Laura meninggalkan Bobby bersama Laras di salah satu restoran mewah yang berada di dalam mall megah itu. Ia ingin membeli produk skin care miliknya yang semakin menipis di rumah.


Saat berada di produk perawatan wajah ia melihat  Khaira yang berdiri di depan etalase sedang mengambil beberapa merk kecantikan yang harganya bukan kaleng-kaleng.


Laura tersenyum sinis sambil berdiri di samping Khaira yang masih memilih lipstik yang akan ia pakai.


“Permisi,” ia sengaja menyenggol Khaira membuat lipstik yang berada di tangan Khaira terjatuh.


“Maaf Bu .... “ Khaira terkejut melihat sikap kasar yang ditunjukkan Laura. Ia berjongkok mengambil  lipstik yang terjatuh.


“Kasian, hanya seorang perempuan mandul,” Laura mencibir sinis padanya.


“Apa kita saling mengenal?” Khaira merasa heran mendengar ucapan Laura yang ditujukan padanya.


“Walau kita tak saling mengenal. Tapi aku tau siapa dirimu,” Laura memandang Khaira dengan tatapan merendahkan.


Khaira  ingat bahwa perempuan yang berpenampilan modis di depannya adalah perempuan yang bersama mantan mertuanya. Pikirannya melayang cepat, kini ia ingat bahwa perempuan itu juga pernah bersama laki-laki masa lalunya.


“Saya permisi,” karena tak ingin membuat masalah Khaira ingin cepat berlalu dari hadapan Laura.


“Suatu saat kita akan bertemu, dan saat itu kamu akan melihat aku lah yang akan menjadi menantu yang memberikan cucu pada tante Laras.”

__ADS_1


Khaira tersenyum mendengar ucapan Laura. Ia tidak terpengaruh sama sekali dengan perkataan perempuan yang mencoba memprovokasi dirinya. Dengan santai ia berjalan tanpa memikirkan apa pun yang ia temui dan ia dengar. Semua ia anggap hanya angin lalu.


***Happy weekend readerku tercinta. Jangan bosan ya untuk mengikuti dan mendukung karyaku. Kritik dan saran serta komentar membuatku bersemangat dalam melanjutkan kisah Ivan dan Khaira dalam perjuangannya untuk kembali bersama membina keluarga yang utuh. Sayang reader semua .... ***


__ADS_2