Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 254 S2 (Entah Apa Yang Tersimpan Di Hatimu.... )


__ADS_3

“Bagaimana kau mengurus pembatalan pernikahannya? Bukankah itu perbuatan ilegal?” Edward tidak mengerti dengan kasus yang dihadapi Ivan, “Apalagi itu berkaitan dengan keyakinan mereka yang berbeda denganmu.”


Ia benar-benar  tak percaya, bahwa keluarga Khaira mampu melakukan perbuatan yang diluar dugaan mereka. Ia merasa kini  Ivan akan semakin tersiksa.


“Aku menggandeng seorang pengacara yang berkeyakinan sama dengan klienku. Bukti-bukti yang mereka miliki untuk pengajuan pembatalan juga lebih dari cukup. Belum lagi bukti penunjang lain yang membuat klien kami ingin lepas dari pernikahan yang membelitnya.”


“Astaga!”  Edward menggelengkan kepala tak percaya mendengar perkataan Gilbert, “Saat proses pembatalan itu apa kamu berbicara langsung dengan klienmu?”


“Aku hanya berkomunikasi dengan tuan Ariq. Dia tidak memperkenankanku bertemu nona Aisya. Ia tidak ingin adiknya mengalami tekanan akibat perpisahannya dengan suaminya, apalagi mereka  baru saja  mengetahui kalau nona Aisya dalam keadaan mengandung. Mereka khawatir klienku mengalami keguguran untuk keempat kalinya, itu yang ku dengar dari percakapan tuan Ariq dan saudara perempuannya. Apa lagi  aku sempat  mendengar pihak suaminya menyangsikan bahwa nona Aisya tidak mampu memberikan mereka keturunan yang telah dimilikinya dengan perempuan lain,” Gilbert menjawab dengan panjang lebar.


“Ya, Allah .... “ Ivan merasakan perih di hatinya mendengar ucapan Gilbert.


Edward menatap Ivan tajam. Ia merasa kesal saat Gilbert bercerita dengan lugas permasalahan yang terjadi antara Ivan dan Khaira.


“Kenapa kasusnya jadi pembatalan pernikahan bukan perceraian saja? Dan  atas dasar apa kamu mengajukan pembatalan pernikahan klienmu?”  kini Ivan memberanikan diri mengajukan pertanyaan langsung pada Gilbert.


Ia ingin mengetahui dengan pasti alasan pembatalan pernikahan yang baru kali ini kasusnya ia dengar, bahkan ia sendiri yang mengalami. Semua benar-benar di luar logika Ivan. Ia tidak terima mengetahui fakta  yang terjadi  bahwa pernikahan antara ia dan Khaira dianggap tidak pernah ada, dan itu sangat  menjatuhkan egonya.


Sedangkan ia sendiri masih beranggapan bahwa Khaira adalah istrinya, dan ia merasa bahagia karena belum sempat mengurus perceraian karena kesibukan merawat dan mengupayakan kesembuhan Bryan, yang akhirnya Tuhan berkehendak lain.


Edward menatap Ivan datar, kini ia malas mengomentari setelah tau kisah sebenarnya. Ia hanya menyimak perdebatan yang terjadi di hadapannya.


“Alasan pembatalan pernikahan karena klienku masih berstatus menikah dengan lelaki lain. Dan menurut kompilasi hukum Islam itu termasuk syarat yang dibolehkan untuk membatalkan pernikahan, walau pun tidak dilakukan yang bersangkutan. Orang tua atau saudara pihak perempuan boleh melakukan pembatalan pernikahan. Apalagi mantan suaminya telah memiliki anak dari perempuan lain ditambah bukti-bukti lain yang memudahkan kami memenangkan kasus ini,”  Gilbert berkata dengan enteng.


“Bagaimana tuan Gilbert bisa memastikan bahwa klien anda masih memiliki suami. Apa suaminya langsung yang datang pada Tuan  dan meminta pembatalan ini?”  Ivan tak percaya keluarga Khaira membatalkan pernikahannya dan melegalkan pernikahan dengan almarhum Abbas. Ini tentu merupakan pelanggaran yang tidak bisa dianggap sepele dan  bisa dituntut balik karena telah melecehkan  berbagai pihak.


“Ayolah tuan Alexander, mana ada manusia suci di dunia ini. Anda pikir para hakim yang duduk di peradilan dan menjatuhkan vonis adalah  manusia tanpa dosa?”  Gibert tertawa  meremehkan komentar Ivan yang tidak terima dengan kasus yang telah membelitnya, “Mereka bukanlah malaikat yang tercipta tanpa dosa.”


“Semua ini sangat tidak masuk akal .... “ Ivan menggelengkan kepala mendengar pembelaan Gilbert.


“Kami sebagai lawyer memang bertugas untuk melindungi dan memberikan pembelaan pada klien kami. Apalagi sebagai seorang perempuan yang memang kodratnya harus dilindungi, dimanja, dan diperhatikan. Tetapi yang terjadi pada klien kami, sudah dibohongi, ditinggalkan dalam keadaan mengandung dengan membawa beban di rahimnya selama sembilan bulan tanpa ada  dukungan suami di sisinya.  Bahkan ia harus mengasingkan diri untuk mencari ketenangan demi janin yang ada agar tetap nyaman dan sehat hingga masanya lahir,” Gilbert berkata sambil menghela nafas dalam mengingat kisah Khaira yang ia dengar dari Ariq, “Jadi apa menurut kalian salah apa yang telah kami perbuat untuk klien kami?”

__ADS_1


Ivan terdiam mendengar ucapan Gilbert. Matanya berkabut membayangkan semua kesusahan yang dialami Khaira, apalagi dengan dua janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya tentu tak mudah, tak dapat ia bayangkan bagaimana hari-hari yang dilalui Khaira selama mengandung kedua buah hatinya.


“Aku salut dengan tuan Ariq. Ia  hanya ingin melindungi saudari dan keponakannya. Klienku  juga tidak ingin mantan suaminya mengetahui ia telah mengandung, itu yang dikatakan tuan Ariq padaku.  Mereka mampu dan memiliki kekayaan yang banyak. Uang bisa mengendalikan semua. Bukankah itu yang terjadi sekarang ini?” Gilbert menatap Ivan tajam, “Aku berkesimpulan mengingat mereka dengan tegas menginginkan pembatalan pernikahan dari pada perceraian,  mungkin ada perkataan mantan suaminya yang membuat ia merasa harga dirinya direndahkan, hingga akhirnya ingin  mengubur semua kenangan bersama sang mantan.”


Gilbert kini menatap Ivan dengan tatapan penuh selidik. Ia dapat melihat beberapa kali Ivan mengepalkan jemari dengan mimik wajah susah ditebak.


Edward  melihat  perubahan  wajah  Ivan.  Ia kesal sekaligus sedih mendengar  semua cerita Gilbert dalam menangani permasalahan yang terjadi antara Ivan dan Khaira. Tapi ia tidak bisa berbuat apa pun. Walau pun ia selalu mendukung semua keputusan Ivan, tapi kali ini ia pun bingung harus berpihak pada siapa.  Yang pasti kesalahan terbesar tetap berada di pihak Ivan.


Ivan terdiam tidak ingin menanggapi perkataan Gilbert lagi.  Semua kesalahan memang  bertumpu pada dirinya. Ia terdiam setiap sesalan sudah tidak berguna. Ia dapat membayangkan bagaimana Khaira menjalani kehamilan tanpa dirinya.


Tatapan Gilbert tertuju pada Ivan  yang kini tertunduk sedih dengan kedua tangan memegang kepala. Tak sanggup Ivan menahan air mata atas semua perbuatan yang ia lakukan pada Khaira.


Ia tak bisa menyalahkan semua tindakan yang telah dilakukan saudara Khaira, karena ia sudah mendengar sendiri alasan dibalik tindakan yang menjadi konsekuensi atas perilakunya yang lebih memilih mempercayai perempuan yang nyata-nyatanya tidak ada hubungan dengannya dibanding istrinya sendiri.


“Aku curiga .... “ Gilbert memandangnya dengan penuh selidik.


“Tebakanmu tepat. Akulah lelaki itu,” Ivan berkata dengan penuh kesedihan.


“Aku sangat berterima kasih atas semua yang kau ceritakan,” Ivan berkata lirih tak bersemangat, “Kau tinggal sebut nomor rekening, dan berapa yang harus ku bayar atas semua waktumu yang terbuang untuk kami.”


“Aku tidak pernah meminta bayaran pada orang yang kesusahan,” Gilbert merasa bahwa lelaki  tegap yang berada di hadapannya kondisinya tidak sedang baik-baik saja, “Aku harus pergi sekarang.”


“Thanks Gil.” Edward bersalaman dengan Gilbert yang segera berlalu dari hadapan keduanya.


Kini keduanya saling berdiam diri sibuk dengan pikiran masing-masing. Ivan masih berdialog dengan batinnya mengingat kesalahan-kesalahan yang ia lakukan selama tiga tahun terakhir pada pernikahannya dan Khaira.


“Aku sangat kecewa atas pernikahan kamu dan Rara .... “ Edward langsung menyampaikan pendapatnya, “Kenapa kamu bisa terjebak dengan permainan Claudia?”


“Aku tidak tau,” Ivan menatap kejauhan dengan suara tak bersemangat, “Ku pikir saudara Rara tidak akan bertindak sejauh ini.”


“Uang bisa mengendalikan semuanya. Bukankah kau telah mendengar apa yang dikatakan Gilbert?”

__ADS_1


“Aku tau.” Ivan menjawab cepat.


“Sudahlah, terima apa yang  terjadi. Mungkin jodohmu memang bukan untuk bersama Rara dan anak-anak kalian. Biarkan Rara memulai kebahagiaannya sendiri. Semoga ia segera menemukan lelaki yang bisa mempercayainya  dan mampu memberikan kebahagiaan padanya dan anak-anaknya serta tidak mudah terpedaya dengan tipuan orang lain.”


Ivan melotot mendengar ucapan tulus yang ditujukan Edward padanya. Bagaimana mungkin ia membiarkan semua terjadi.


“Kau pikir aku akan membiarkan lelaki lain mengambil alih posisiku serta mengurus anak-anakku?” Ivan menatap Edward tajam. Ia tidak terima dengan perkataan temannya, “Tidak akan ku biarkan siapa pun merampas apa yang seharusnya menjadi milikku.”


“Hei, Bro! Apa kamu melupakan perkataan Gilbert. Tidak ada hubungan apa pun yang terjadi antara kalian. Semua itu masa lalu. Kini semuanya telah dibatalkan oleh pengadilan agama. Jadi sedikitpun kau tidak berhak untuk menahan Rara dan anak-anak agar tetap bersamamu. Mungkin saatnya kau harus melepaskan Rara”


“Aku akan berjuang seperti awal aku mendapatkannya,” suara Ivan akhirnya melemah, “Aku tak akan lelah hingga semua bisa kembali seperti di awal.”


“Apa kau yakin kali ini akan mendapat dukungan saudara Rara?”


“Aku akan berjuang sendiri untuk mendapatkan hatinya kembali,” senyum tipis terbit di wajah Ivan mengingat rencana awal yang telah ia susun menjadi berantakan setelah mendengar cerita Gilbert.


Kini ia harus berpikir keras untuk menjalankan rencana B dengan matang sehingga dapat terlaksana dengan sempurna.


“Aku melihat raut optimis terpancar di wajahmu,” Edward melihat kesedihan di wajah Ivan berangsur-angsur hilang, “Kau sudah memiliki plan B untuk langkah selanjutnya?’


“Aku tak perlu menjelaskan secara rinci padamu,” Ivan kini tersenyum misterius, “Si kembar akan menjadi senjata awal bagiku untuk memulai kembali bersama Rara.”


“Semoga saja semua yang  kau inginkan bisa berjalan dengan mudah. Aku akan selalu mendukung dengan segala kesalahan yang pernah kau perbuat,” Edward berkata sambil menyindirnya, “Sekarang sudah pukul 12 malam, aku ingin kembali ke kamar.”


Ivan mengangguk, ia pun merasa lelah hati dan pikiran setelah menjalani keseharian yang penuh drama dan menyakitkan. Ia berharap esok akan lebih baik.


Dalam sujud panjangnya Ivan memohon kepada  Sang pembolak balik hati agar membukakan pintu maaf Khaira bagi dirinya. Ia tak bisa jauh dari perempuan yang begitu ia damba, bahkan telah memberinya sepasang permata yang tak ternilai harganya.


"Entah apa yang ada di hatimu sayang? Sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini? Izinkan aku mengobati semua luka yang pernah ada dan menggantinya dengan kebahagiaan demi si kembar yang telah ada diantara kita ..."


Ivan menutup malam dengan mengadukan semua permasalahan dan kesedihan yang ia rasa dan teramat kuat menyiksanya hingga ia tidak mampu untuk mengangkat muka di hadapan keluarga Khaira.  Tapi demi si kembar, ia akan berusaha melakukan yang terbaik.  Dan ia berjanji pada diri sendiri, kali ini tidak akan memberikan peluang  pada siapa pun yang akan merusak rencana yang akan ia rancang mulai malam ini.

__ADS_1


__ADS_2