Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 239 S2 (Kemana Gerangan?)


__ADS_3

Ivan tidak bersemangat saat berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Hanya di rumah mamanya tempat yang dapat ia tuju sekarang. Ia tidak memiliki tempat untuk kembali. Surganya dengan sang bidadari yang memberikan ketenangan dan kenyamanan telah pergi darinya menghilang tanpa kabar berita.


Ia kembali menghubungi Hari. Ia tidak bisa terlalu lama sendiri tanpa mengetahui dimana keberadaan Khaira sekarang.


“Hallo bos, ada yang bisa saya bantu?” dengan cepat Hari menyambut panggilan Ivan.


“Katakan pada Yoga untuk mencari keberadaan Rara. Aku ingin secepatnya mendapat informasi tempat tinggalnya sekarang” perintah Ivan sambil memandang kejauhan dari rooftop kamarnya.


“Baik bos,” Hari berkata dengan cepat.


Ivan segera menghempaskan tubuhnya di pembaringan. Matanya menatap langit-langit kamar. Rasanya baru kemarin ia meninggalkan rumah, tapi begitu ia kembali semuanya telah berubah.


Senyum yang ia harapkan dapat membuang segala gundah di hatinya, serta pelukan hangat yang mengangkat setiap permasalahan yang ia hadapi kini sudah tidak ia temui. Ivan tercenung mengingat setiap detik kebersamaan yang selama 9 bulan ini telah hilang dari kehidupannya. Bagaimana ia semudah itu meninggalkan Khaira hanya karena kesalah pahaman dan hasutan dari orang yang tidak berarti sedikit pun baginya.


“Sayang ... dimana gerangan keberadaanmu saat ini? Kembalilah, aku sangat merindukanmu,” Ivan bermonolog dalam hati sambil membayangkan wajah sang istri yang begitu dekat di pikirannya.


Karena lelah hati dan tubuhnya membuat Ivan tak bisa  menahan rasa kantuk. Selama perjalanan dari Jerman hingga tiba di Jakarta ia tidak memejamkan mata barang sedetikpun. Keinginanannya untuk bertemu kembali dengan Khaira membuatnya menahan keinginan untuk tidur selama di  perjalanan.


Pikirannya dipenuhi dengan segala rencana yang akan ia buat saat kembali bersama dengan Khaira. Ia akan membayar semua kesalahan selama 9 bulan  saat jauh dari perempuan yang sangat ia cintai. Ivan akhirnya tertidur lelap setelah pikirannya berkelana berusaha mencari alternatif lain untuk mencari keberadaan Khaira.


Tepat jam delapan malam Ivan terbangun dari tidur lelapnya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian rumahan ia segera turun ke bawah. Rasa lapar tak bisa ia hindari. Selama di perjalanan pun ia tidak menikmati makanan. Tiada rasa lapar yang menyerangnya.


Laras sedang mempersiapkan menu makan malam kesukaan Ivan. Cumi asam manis, udang goreng tepung dengan kangkung asap adalah menu favorit Ivan yang selalu disediakan Laras di meja makan.


Ivan mengambil porsi makan sangat sedikit dan menikmati hidangan yang tersedia tanpa semangat.  Sulit baginya menelan nasi hingga melewati tenggorokan. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Khaira.


Setelah  Ivan menyudahi makan dan meminum air putih yang telah disediakan Laras, ia hendak beranjak kembali ke kamar untuk menghubungi Hari untuk menanyakan sampai dimana Yoga mencari keberadaan Khaira.


“Van .... “ Laras memanggilnya dan menahannya untuk membicarakan masalah rumah yang telah diserahkan Khaira kembali pada Ivan melalui dirinya, “Ada yang ingin mama sampaikan mengenai Rara.”


Dengan cepat Ivan memandang mamanya. Apa pun yang berkaitan dengan Khaira membuat telinganya langsung berdiri karena respon otaknya yang sangat cepat jika mendengar nama perempuan yang telah bersemayam di hatinya dan karena kekhilafan membuat ia melepasnya.

__ADS_1


Sebelum bercerita Laras menarik nafas dalam-dalam. Terbayang mendung yang menggelayuti wajah menantunya saat  pembicaraan terakhir mereka.


“Apa mama mengetahui di mana  Rara sekarang?” Ivan langsung menebak dan berharap mamanya bisa memberikan informasi tentang tempat tinggal Khaira.


Laras menggelengkan kepala perlahan. Ia dapat melihat raut kekecewaan tergambar jelas di wajah Ivan.


“Saat hari ketiga kepergianmu Rara datang mengunjungi mama .... “ Laras berkata dengan lirih sambil menghela nafas secara perlahan.


Ivan menajamkan pendengarannya mendengar ucapan Laras. Ia diam tak berkomentar, berharap ada berita baik dari perkataan mamanya.


“Rara mengembalikan kunci rumah,” Laras berkata dengan lirih, “Ia tampak berputus asa dan berduka karena tidak bisa mempertahankan pernikahan kalian....”


“Aku belum mengurus proses perceraian kami.” Ivan langsung memotong perkataan mamanya, “Dan aku tidak akan pernah menceraikannya.”


“Bagaimana dengan Claudia? Apa dia menerima semua keputusanmu?” Laras berusaha mengingat perkataannya pada Khaira, “Mama sempat mengatakan bahwa kamu akan segera menikahi Claudia dan memberikan keluarga yang utuh pada Bryan.”


“Pengacara Edward akan membantuku menyelesaikan urusan antara aku dan Claudia. Dia tidak akan berani mengusik kehidupan kami lagi.” Ivan berkata dengan yakin.


“Ini kunci rumah kalian,” Laras meletakkannya di atas meja makan.


Ivan terpaku melihat kunci rumah yang kemarin telah ia serahkan pada Khaira, karena ia belum sempat menyelesaikan urusan mereka berdua.


“Apa Rara mengatakan di mana ia akan tinggal?” tatapan Ivan nanar memandang wajah mamanya.


Laras menggelengkan kepala dengan cepat. Semenjak kepergian Ivan, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Khaira.


“Seminggu yang lalu mama memenuhi undangan Indah untuk selamatan tujuh bulanan Irene. Mama sempat bertemu  Sasya dan suaminya serta Azkia dan Fatih.”


“Apa mama sempat berbicara dengan mereka?” Ivan mengejar ibunya dengan tak sabar berharap ada berita baik.


“Mereka hanya datang sebentar. Mama yakin, mereka berusaha menghindar saat mama mengajak mereka berbicara.”

__ADS_1


Ivan terhenyak mendengar jawaban mamanya. Ia tidak bisa mengharapkan siapa pun untuk mencari keberadaan Khaira. Ia harus mencari tau sendiri, dan mengandalkan semua kemampuan serta relasinya untuk mengetahui tempat tinggal dan bersama siapa Rara saat ini.


Ivan kembali ke kamar tak bersemangat. Ia mengutak-atik ponselnya berusaha mencari melalui medsos keberadaan Khaira. Tapi apa yang ia cari tak ia temukan. Baru ia ingat, bahwa Rara bukanlah perempuan yang suka bermain medsos. Apa lagi sampai mengumbar dan tebar pesona di dunia maya yang memang bukan dunianya.


“Bagaimana dengan pekerjaan Yoga? Apa sudah ada titik temu?” suara Ivan langsung mendominasi saat Hari mengangkat ponsel begitu tau Ivan menghubunginya.


“Belum ada bos. Keamanan data perusahaan dan keluarga tuan Ariq sangat rapi dan berlapis sehingga tidak mudah diretas,” jawab Hari cepat.


“Baiklah,” Ivan berkata tak bersemangat, “Besok tolong carikan aku supir baru. Aku akan memulai pencarian sendiri.”


“Siap bos,” Hari menyanggupi permintaan Ivan, “Kebetulan di kantor ada satu supir baru yang menganggur. Tuan Ardi tidak suka menggunakan supir pribadi.”


Dengan malas Ivan melempar ponsel di tempat tidur. Raganya seperti terlepas dari nyawa, tiada gairah untuk melakukan aktivitas saat orang yang begitu ia harapkan tidak berada di sisi.


Ivan mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Khaira. Ia begitu kejam tak berperasaan menuduh Khaira mendorong Bryan ke kolam renang bahkan berkata-kata yang sangat menyakitkan dan menyudutkan Khaira yang tidak bisa memberinya keturunan.


“Ya Allah, apa yang telah ku lakukan?” Ivan meremas rambutnya dengan perasaan menyesal.


Harusnya ia melihat cctv yang berada di sekitar  kolam renang untuk mengetahui kejadian sesungguhnya. Bagaimana ia begitu bodoh mempercayai perkataan Claudia. Padahal ia sudah mengetahui sendiri bahwa Khaira begitu tulus merawat Bryan selama empat bulan tinggal bersama mereka.


“Seandainya waktu dapat diputar kembali?” Ivan bermonolog sendiri di dalam hati menyesali semua peristiwa yang membuatnya terpisah dengan Khaira.


Harusnya ia tak melibatkan diri dalam pengurusan serta perawatan Bryan. Ia cukup mengeluarkan uang dan memberikan kompensasi pada Claudia atas anak masa lalu yang mereka miliki, yang pada akhirnya tidak bisa bersama karena Yang Kuasa lebih tau mana yang terbaik untuk dirinya.


“Rara .... “ Ivan menyebut nama istrinya dengan perasaan sedih.


Tiba-tiba ia ingat pernah menginstal aplikasi pada ponselnya untuk mengetahui lokasi keberadaan sang istri. Dengan cepat Ivan meraih ponsel di ujung tempat tidur. Ia bersemangat membuka aplikasi yang ia rasa dapat melacak keberadaan Khaira.


Senyum yang sempat terukir di sudut bibirnya langsung menghilang begitu aplikasi yang ia cari tidak ada di ponselnya. Ivan langsung melempar ponsel ke dinding kamar hingga hancur berkeping. Ia ingat mengganti nomor dan ponsel baru saat tiba di Singapura sebelum keberangkatan mereka di Jerman.


Ia tidak ingin mengingat orang dan lingkungan yang telah melukai putra semata wayangnya. Ia akan membuka lembaran baru dan bergaul dengan komunitas baru yang membuatnya mudah melupakan masa lalu yang hanya membuatnya akan membenci perbuatan mereka.

__ADS_1


Kini Ivan terpaku sendiri menyadari bahwa kesempatannya untuk menemukan Khaira semakin kecil dengan aplikasi yang ia miliki di ponsel lama yang entah di mana keberadaannya.


__ADS_2