
Rumah keluarga Faiq kini tampak meriah. Ia mengundang keluarga besar mereka serta anak-anak panti asuhan untuk ikut menikmati acara empat bulanan Hani. Rasa syukur dan kebahagiaan ia wujudkan dengan berbagi bersama beberapa panti asuhan yang didatangkan ke rumah.
Menu makanan yang tersedia didatangkan dari restoran Hani yang dikelola Mawar. Mereka sangat senang mengetahui Hani sudah kembali. Beraneka hidangan yang sangat menggugah selera diolah karyawan Mawar yang berjumlah 10 orang. Para tamu yang hadir merasa puas dengan menu yang dihidangkan.
Wajah Faiq berbinar membuat ketampanannya bertambah. Ia selalu berada di samping Hani mendampingi istrinya. Kebetulan Fery dan Gigi sedang berkunjung ke Indonesia. Mereka telah menetap di Denmark, karena Fery telah mengembangkan usahanya di sana. Perusahaan di Indonesia telah ia serahkan pada Ammar dan Caca.
Marisa dan Darmawan turut menyambut keluarga besar mereka yang turut hadir di acara itu. Linda menemani si kembar menikmati hidangan yang tersedia. Kondisinya sudah dikatakan pulih. Perawatan selama 4 bulan membuatnya dinyatakan sembuh total. Ia kini menikmati hidup dalam kebahagiaan.
Adi tersenyum miris melihat mantan istrinya begitu mendapat perhatian dari banyak orang. Aura kecantikan yang terpancar pada kehamilannya kali ini membuat siapapun tidak bosan memandangnya. Begitulah sifat manusia, setelah bukan miliknya, baru merasa menyesal.
Setelah pengajian dan pembacaan doa yang dipimpin oleh seorang ustadz pemimpin pondok pesantren, acara pun berakhir.
Hani duduk diapit Marisa dan Linda. Ia mendengarkan wejangan kedua wanita yang sangat ia sayangi.
“Apa jenis kelaminnya sudah diketahui?” Linda bertanya dengan serius sambil membelai perut Hani yang kian berisi.
“Saya dan mas Faiq tidak mempermasalahkannya tante. Yang penting bayinya selamat.”
“Aamiin.” Marisa menjawab dengan cepat. “Eh, jeng. Mulai sekarang aku nggak iri lagi denganmu. Karena aku juga akan punya cucu sendiri.”
__ADS_1
Hani tersenyum bahagia. Ia meraih tangan Linda dan Marisa, “Saya merasa senang karena punya dua orang ibu hebat yang bisa saya andalkan. Saya menyayangi kalian berdua.”
“Semoga kamu bisa melahirkan dengan selamat, sayang.” Marisa mengecup kening Hani dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu Fery, Adi dan Faiq masih asyik berbincang. Hanif tidak bisa datang di acara tasyakuran ini, karena esok hari bertepatan dengan sidang sang jaksa duren. Mereka sempat melakukan video call siang tadi.
“Kapan kamu mengakhiri kesendirianmu. Sudah pantas ku kira untuk mencari pengganti Helen.” Fery menepuk bahu Adi yang fokus pada satu titik.
Faiq mengetahui bahwa pandangan Adi tak teralihkan dari istrinya yang kini mengobrol bersama Gigi dari jarak 5 meter dari mereka.
“Hm…” Faiq berdehem membuat Adi tak nyaman, karena ketahuan memandang Hani dengan intens. “Aku sangat berterima kasih pada bang Tama. Dengan menikahi Hani, aku merasa sempurna sebagai seorang lelaki. Dia benar-benar bidadari yang dikirim Tuhan untuk menyempurnakan hidupku.”
“Tapi kamu seorang lelaki normal. Apa tidak membutuhkan kehangatan lagi?” Pancing Fery seketika.
“Melihat senyum dan tawa ketiganya saat bersamaku, sudah merupakan mood boster yang terbaik buatku. Tuhan telah menghukumku, sehingga tak ada keinginku untuk memulai lagi.” Mata Adi kembali memandang Hani yang tertawa kecil, namun cukup sampai di telinga mereka.
Selama dua kali kehamilan Hani, ia sangat jarang berada di rumah. Tentu saja ia melewatkan apa yang diceritakan orang, bahwa wanita hamil memancarkan aura kecantikannya sendiri. Dan kini ia melihatnya, dan baru menyadari kecantikan Hani saat mengandung.semakin bertambah.
Hati Faiq merasa panas melihat pandangan Adi pada istrinya. Tapi ia berusaha menahannya. Sebagai tuan rumah yang baik ia tetap menahan diri. Toh, Hani kini istrinya, siapapun tak bisa mengingkarinya.
__ADS_1
“Mas sudah makan?” Suara Hani terdengar lembut di telinganya.
Faiq langsung bangkit melihat Hani sudah berdiri di belakangnya. Ia berdiri dan merangkul pinggang Hani dengan mesra. Ia ingin menunjukkan pada Adi betapa beruntungnya ia yang berhasil memiliki Hani.
“Biar mas yang ambilkan buatmu. Mas yakin kamu juga belum makan.” Faiq memandang Fery dan Adi, “Aku akan menemani Rara …” Sambil menganggukkan kepala pada keduanya, Faiq menggandeng Hani membawanya berlalu dari hadapan Adi dan Fery.
Fery menyadari kesedihan yang terpancar di wajah sahabatnya. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah jalannya masing-masing.
“Kau tau Fer, saat berada di dekat Hani duniaku terasa terhenti. Aku terlambat menyadari bahwa dialah perempuan yang sangat tepat untuk menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku.”
“Sudahlah Tama, kamu harus move on. Hani bukan milikmu lagi. Tapi anak-anakmu akan tetap bersamamu. Anggap saja itu hadiah terindah yang Hani berikan untukmu.”
“Aku tau. Itulah yang mampu membuatku tetap bertahan. Anak-anaklah penyemangatku saat ini. Dan mama pun tidak pernah menuntutku untuk menikah lagi. Ia bahagia bisa bersama anak-anak. Sekarang prioritasku adalah membahagiakan mama dan anak-anakku.”
Fery dapat melihat raut sendu Adi saat memandang Faiq yang begitu memanjakan Hani. Ia tak membiarkan Hani sedikit pun jauh dari sisinya. Ia dengan sabar menyuapi Hani hingga menghabiskan makanan yang seharusnya untuk ia nikmati sendiri.
Semenjak usia kandungan Hani memasuki lima bulan, Faiq memindahkan kamar utama mereka di lantai bawah. Ia tidak ingin Hani kesusahan turun naik tangga karena membawa janin kembar di dalam rahimnya.
Hani merasa bahagia karena perlakuan Faiq semakin hangat dan selalu memanjakannya. Setelah rumah tangga mereka berjalan dengan tenang, dan Faiq telah kembali bekerja, Darmawan dan Marisa melanjutkan lawatan mereka kembali.
__ADS_1