Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 261 S2 (Curhat Ivan)


__ADS_3

Sesudah salat Zuhur Khaira kembali ke rumah. Ia melihat suasana begitu hening dan sepi. Langsung melangkah ke dapur menghampiri pak Totok dan Mas Dipo penjaga rumah yang sedang makan bersama bi Minah dan bi Giyem.


“Assalamu’alaikum .... “ sapa Khaira.


“Wa’alaikumussalam. Eh, Mbak Rara sudah pulang,” dengan cepat pak Totok menyudahi makannya.


“Makan aja dulu pak, jangan terburu-buru,” Khaira tak bisa menahan senyum melihat kelakuan lelaki tegap itu, “Tumben sepi, si kembar saya lihat tidak ada di kamar.”


Walaupun usianya hampir kepala lima, tetapi masalah pengawalan dan penjagaan terhadap tuannya pak Totok memang patut diacungi jempol.


“Belum Mbak,” jawab bi Giyem cepat, “Kayaknya masih main di samping. Biar saya panggil ya .... “


“Nggak usah Bi. lanjutkan saja makannya. Saya akan menyusul mereka,” Khaira kembali melangkah meninggalkan para pegawainya yang kembali menikmati makan siang mereka.


Sementara itu di rumah sebelah, Ivan kini menatap si kembar yang baru saja tertidur sambil memegang botol susu di tangannya masing-masing. Keduanya merasa lelah setelah bermain tanpa henti mencoba semua jenis mainan yang telah disediakan Ivan, dari mini car, perosotan hingga ayunan.


Dengan pelan ia memindahkan botol susu yang telah kosong di atas nakas samping tempat tidur.  Tatapannya lurus memandang kedua buah hatinya yang tertidur lelap. Perasaan melow kembali menghinggapi Ivan.


Jemarinya membelai rambut Embun yang kini jilbab mininya telah ia buka. Senyum penuh rasa haru tersungging di sudut bibir Ivan melihat dan menemani kedua buah hatinya bermain. Anugerah terindah yang ia syukuri hari ini. Rambut kriwil Embun mengingatkannya pada Khaira. Secara fisik wajah Embun adalah fotocopi-an dirinya, tetapi rambut ikalnya yang lebat adalah milik Khaira, dan Ivan merasa bangga akan hal itu.


Tatapannya beralih pada Fajar yang tidur sambil memeluk robot mainan edisi terbaru. Rasa rindu akan sang bidadari terobati dengan memandang wajah putra kecilnya.  Mata bulat bening, bibir penuh adalah kepunyaan Rara.


Tak henti-hentinya Ivan mengecup wajah kedua malaikat kecilnya yang kini tidur semakin pulas. Ingin ia menghentikan waktu, agar tidak terpisah lagi dengan kedua buah hatinya. Rasanya ia tak sanggup untuk berjauhan dengan kedua malaikat kecil yang kini telah mencuri hatinya.


Ketukan di pintu kamar menghentikan aktivitas Ivan. Ia segera bangkit dari pembaringan. Dengan pelan ia membuka pintu. Tampak Danu datang dengan tergesa-gesa.


“Ada apa?” suara Ivan terdengar pelan khawatir si kembar terbangun.


“Ada bundanya si kembar di depan,” Danu berkata dengan nafas memburu. Ia tidak menyangka Khaira akan datang untuk menjemput si kembar.


“Kenapa tidak diajak masuk?” Ivan akan menyiapkan diri untuk menghadapi Khaira.


“Apa Bos ingin bertemu dengannya sekarang?”


Ivan berpikir sejenak, rasanya belum tepat ia menemui Khaira.  Ia akan membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan ustadz Hanan.  Ia ingin meminta bantuan ustadz Hanan dalam menyikapi  permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya dan Khaira.


“Aku masih perlu menyiapkan diri untuk berhadapan dengan Rara,”  Ivan  berkata lirih.


Ia belum siap dengan penolakan Khaira, baru saja beberapa saat ia merasakan kebahagiaan karena dapat menghabiskan hari mendampingi kedua buah hatinya bermain. Dan ia tak ingin suasana hatinya berubah karena bubungan antara ia dan Khaira belum membaik.


“Baik Bos,” Danu menganggukkan kepala dan berjalan menjauh dari pandangan Ivan.


Khaira masih mematung di teras rumah megah tersebut. Ia tidak nyaman jika harus ikut masuk ke dalam rumah kepunyaan Danu lelaki lajang yang jadi tetangganya. Ia memutuskan untuk menunggu saja, saat tiba di rumah Danu melihat keadaan sepi hanya terdengar suara para pekerja di dapur.  Hingga akhirnya Danu keluar  menemuinya setelah beberapa kali ia membunyikan bel.


“Maaf Ustadzah, si kembar masih tidur di kamar tamu.”  Danu muncul dihadapan Khaira.


Khaira tertegun mendengar perkataan Danu. Bagaimana mungkin si kembar bisa tidur di tempat yang asing. Selama ini keduanya sangat susah berada di tempat baru, apalagi sampai tiduran.


“Wah, saya jadi nggak enak .... “ Khaira memandang Danu dengan perasaan tidak nyaman, “Bangunin aja mas,  bu Mila dan Bu Nuri membawa si kembar pulang.”


“Biar saja Ustadzah. Kasian kan .... keduanya baru saja tidur kelelahan setelah bermain,” Danu bersikeras dengan perkataannya, “Biasanya anak-anak akan rewel jika waktu tidur mereka diganggu.”


Khaira berpikir sesaat. Perkataan Danu cukup masuk akal. Tapi ia tidak enak hati dengan Danu.  Apa  kata orang, ia yang seorang janda membiarkan anaknya bermain di rumah lelaki lajang.


“Nggak apa-apa Ustadzah. Kita ini sodara harus saling membantu. Nggak usah mikirin pendapat orang,  toh tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” Danu berkata dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Baiklah mas,” Khaira akhirnya mengalah, “Tolong sampaikan pada bu Mila, saya akan pulang ba’da Asar. Masih ada rapat wali kelas hari ini.”


“Jangan khawatir, pasti saya sampaikan,” Danu menjawab sambil menganggukkan kepala.


“Assalamu’alaikum,” Khaira segera berpamitan walaupun dengan perasaan yang masih berkecamuk di benaknya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” Danu menjawab cepat.


Pandangan Danu terus mengikuti Khaira yang berjalan menjauh dari hadapannya. Ia menghela nafas prihatin setelah mengetahui masalah yang terjadi antara Khaira dan bosnya hingga menyebabkan bosnya tidak bisa berkumpul dengan si kembar.


Saat mulai menutup pintu pagar pembatas rumahnya Khaira merasa ada yang mengawasi. Spontan ia memandang ke jendela kaca rayban besar dari rumah megah itu. Tidak tampak siapa pun. Tapi ia melihat tirai bergerak seperti habis disenggol seseorang. Khaira membuang pikiran negatifnya.


Jantung Ivan berdetak cepat saat mengamati kepergian Khaira meninggalkan kediamannya. Ia melihat dari jendela tempatnya saat ini berdiri. Ia langsung bergeser ketika tatapan Khaira mengarah padanya. Tangannya menekan dada. Ia seperti seorang pencuri yang hampir tertangkap dengan perbuatan yang ia lakukan.


“Bos!” Danu terkejut melihat Ivan masih berdiri di balik tirai dengan tangan menekan dadanya, “Apa yang terjadi?”


“Tidak apa-apa,” Ivan menetralisir suasana.


Ia berjalan dengan santai untuk membuktikan pada Danu bahwa tidak terjadi apa pun. Begitu sampai di sisi tempat tidur Ivan langsung merebahkan tubuhnya di samping si kembar dan segera memejamkan mata berharap di alam mimpi hubungannya dan Khaira telah membaik.


Sehabis salat Isya kediaman Ivan telah dipenuhi para tamu undangan yang berasal dari pondok serta lingkungan di sekitarnya. Ustadz Hanan beserta para sesepuh pondok duduk melingkar dengan Danu sebagai tuan rumah yang duduk diantara para ustadz lain yang turut hadir.


Fajar dan Embun karena sudah merasa akrab dengan pemilik rumah tidak bisa diam. Keduanya berlari kesana-kemari  sehingga bu Nuri dan bu Mila kerepotan mengikuti keduanya.  Kini keduanya berdiri di depan kamar tempat mereka bermain siang tadi yang tertutup.


“Sini sama Abi ....” ustadz Hanan melambai si kembar untuk duduk bersamanya.


“Main tama Ayah .... “ suara kenes  Hasya terdengar cukup nyaring.


Pandangan matanya  sibuk memandang satu demi satu para lelaki yang duduk bersama Danu. Kelakuan Fajar pun tak kurang tak lebih dengan adiknya. Keduanya ingin bermain seperti siang tadi dengan semua permainan yang memanjakan rasa penasaran keduanya.


“Gara-gara si bos sekarang aku yang kena dampaknya,” batin Danu kesal sambil melayangkan pandangan ke lantai atas, dimana Ivan berada saat ini.


Ustadzah Fatimah dan Khaira yang duduk bersama dengan para ustadzah yang lain berpandangan saat mendengar suara Embun.


“Wah, dede udah punya ayah ya sekarang? Kok kita nggak tau?” ustadzah Fatimah menatap Khaira dengan senyum terulas di sudut bibirnya.


“Ini pasti kerjaan mas Danu,” bisik Khaira pada ustadzah Fatimah, “Seharian tadi si kembar bermain di rumah mas Danu karena ada orang tuanya yang merasa kesepian. Ibunya mas Danu meminta si kembar tinggal.”


“Wah, baguslah itu. Mbak siap mendukung semua pilihanmu,” ustadzah Fatimah meneruskan perkataannya.


“Aku akan mengingatkan mas Danu agar tidak memberi harapan pada si kembar. Kasian mereka masih anak-anak, tidak tau arti dari apa yang mereka sebut .... “ Khaira berkata dengan perasaan sedih.


Ustadzah Fatimah pun turut merasakan kesedihan Khaira. Akhirnya ia hanya mengusap bahu Khaira yang kini terdiam memandang si kembar yang kini duduk di pangkuan ustadz Hanan.


Ivan melihat semua dengan perasaan sedih. Ia belum bisa duduk bersama dengan para tamu yang hadir. Padahal ia ingin mengungkap kebenarannya, bahwa dialah ayah kandung si kembar yang telah mencuri perhatian para tamu yang hadir.


Ustadz Hanan mewakili tuan rumah memperkenalkan Danu serta kedua orangtuanya  kepada para kyai sepuh serta tamu di lingkungan sekitar pondok sebagai tetangga baru mereka yang sedikit banyak juga akan memberikan kontribusinya pada pondok pesantren.


“Mas, Ade ayo pulang sudah malam .... “ Khaira dan ustadzah Fatimah sudah berdiri menunggu Fajar dan Embun yang masih pingin main dan tetap berdiri di depan kamar yang masih terkunci.


“Besok lagi mainnya ya .... “ Danu berkata pelan sambil berjongkok di hadapan Embun, “Barbie dan robotnya sudah pada bobo semua. Kan hari sudah malam.”


Khaira tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar ucapan Danu. Ia merasa terbantu.


“Balbie naa bobok yaa .... “ Embun masih berdiri tegak tak percaya. Mata bulatnya menatap Danu dengan lekat.

__ADS_1


“Benar princess cantik,” Danu mengangguk dengan tangannya didekatkan ke pipi sambil memejamkan mata seolah-olah tidur.


“Dede puyang duyu ya, besyok main syini yagii ...” Ia meraih jemari Khaira dan berjalan sambil melambaikan tangan pada Danu.


Ustadzah Fatimah dan Khaira beriringan dengan menggandeng si kembar meninggalkan kediaman megah tempat acara syukuran diselenggarakan.


Ivan mememandang kepergian mereka dengan perasaan berkecamuk. Rasanya ia tidak ingin berjauhan lagi dengan kedua buah hatinya, tetapi takdir belum menyatukan mereka. Ivan hanya menghela nafas begitu bayangan Khaira dan si kembar sudah hilang masuk ke dalam rumah.


Ia sudah mengingatkan Danu untuk menahan ustadz Hanan agar tidak pulang bersama tamu yang lain. Ia akan membuat pengakuan malam ini dan meminta pendapat beliau tentang permasalahan yang tidak akan mampu ia hadapi sendirian


“Ivan .... “ ustadz Hanan terkejut ketika melihat Ivan turun dari lantai dua dan berjalan menghampirinya yang masih terlibat percakapan dengan pak Marno.


“Aku menjadi tamu tak diundang dirumahku sendiri,” Ivan berkata dengan santai sambil memberi isyarat pada Danu agar membawa pak Marno segera berlalu dari hadapan mereka.


“Pak, sebaiknya bapak istirahat sekarang .... “ Danu berkata pelan.


“Tamune seh ono Le .... “ pak Marno memandang ustadz Hanan dan Ivan  dengan perasaan tidak nyaman.


“Saya dan ustadz Hanan akan berbincang di ruang sebelah pak,” Ivan tersenyum saat mengatakan keinginannya pada pak Marno.


“Lho ndak pa pa to ....”


Ivan mengangguk cepat.


Kini keduanya sudah berada di dalam ruangan luas merangkap kamar bermainnya si kembar yang sudah dipersiapkan Ivan.


“Wah, tidak ku sangka arena bermain anak pindah di sini .... “ ustadz Hanan tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat mengatakan hal itu pada Ivan.


“Rumah ini adalah salah satu ikhtiar saya untuk mendekati anak-anak dan bundanya,” Ivan berkata seketika.


Pandangan ustadz Hanan langsung terfokus pada Ivan. Ia merasa bahwa temannya telah merencanakan sesuatu yang harus ia ketahui.


“Apa kamu tertarik pada ustadzah Aisya karena si kembar?” ustadz Hanan langsung menembaknya karena ingin mengetahui dengan pasti.


Ivan terdiam sesaat. Ia memikirkan harus memulai dari mana untuk menceritakan semua kisah masa lalu serta rumah tangga yang pernah terbina antara ia dan Khaira.


“Van .... “ ustadz Hanan menepuk bahu Ivan yang tenggelam dalam pemikirannya, “Aku ingin mendengar alasanmu jika memang kamu ingin serius membina rumah tangga dengan bundanya si kembar.”


“Rara adalah istriku dan si kembar darah dagingku yang baru ku ketahui,” tukas Ivan seketika dengan perasaan sedih.


Ustadz Hanan terkejut sampai tidak bisa berkata apa pun mendengar pengakuan Ivan. Ia memandang wajah Ivan tanpa berkedip berusaha mencari kebohongan dari semua yang tergambar di sana. Tapi melihat wajah Ivan yang tampak sedih dengan mata berkabut membuatnya mengurut dada menyadari bahwa apa yang dikatakan Ivan adalah kebenaran.


“Maaf, bukannya aku ingin mencampuri permasalahanmu, kenapa kamu sampai berpisah dengan ustadzah Aisya?” ustadz Hanan kini merasa penasaran dengan kehidupan pribadi Ivan.


Saat pertemuan pertama dulu, Ivan hanya menceritakan sekilas tentang kepergian Bryan dan tidak menceritakan secara detail perpisahan yang terjadi antara ia dan Khaira.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Ivan mulai menceritakan semua yang terjadi antara ia dan Khaira hingga fakta terakhir yang ia dengar dari Gilbert saat mereka berada di Singapura.


“Astaghfirullahal’adjim .... “ ustadz Hanan menggelengkan kepala tak percaya mendengar semua cerita Ivan, “Ya Allah Ivan, tragis benar kisahmu .... “


“Aku tidak tau harus berbuat apa untuk mengembalikan semua,” Ivan berkata dengan suara parau saat sudah mengungkapkan semua beban yang ada di hatinya.


Ustadz Hanan terpekur setelah Ivan mengakhiri ceritanya. Ia kini dapat melihat raut kesedihan yang tergambar jelas di wajah Ivan yang selama ini mampu ia sembunyikan di balik ketegaran serta sikap datarnya.


“Permasalahan kamu dan ustadzah Aisya memang sangat pelik. Apalagi melibatkan banyak pihak di dalamnya. Aku tidak bisa berkata apa pun, karena baru kali ini aku mendengar kasus seperti yang kamu alami,” ustadz Hanan berpikir sejenak, “Semua kita kembalikan kepada Allah, hanya Dia-lah Maha pembolak-balik hati manusia. Semoga kamu bisa menemukan jalan terbaik untuk kehidupan rumah tanggamu.”

__ADS_1


__ADS_2