
Dr. Abimanyu keluar dari ruangan dengan wajah tegang. Ariq dan Ali bergegas menghampirinya dengan raut tak kalah tegang.
“Maaf, tim kami sudah berusaha. Tapi Allah berkehendak lain,” dr. Abimanyu menggelengkan kepala dengan wajah berubah muram.
“Omaaaaa …. “ Khaira tidak tahan mendengar perkataan dr. Abimanyu.
“De, ade….” Hasya terkejut menyadari Khaira yang terkulai lemah di sampingnya.
Ivan dengan cepat berusaha mengangkat Khaira. Ia mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh istrinya.
“Jangan sentuh Rara. Semua ini akibat perbuatanmu.” Ali dengan cepat menepis tangan Ivan yang sudah memegang pundak istrinya.
Ali langsung mengangkat Khaira dan membopongnya. Ia memandang Ivan dengan tajam. Sorot matanya memancarkan kemarahan.
“Kita akan membawa oma kembali ke rumahnya,” Ariq segera memberikan instruksi kepada saudaranya untuk menyegerakan pemakaman Marisa. Ia tidak ingin membuang waktu. Ia yakin Junior akan memakluminya.
Ivan menghela nafas dengan berat. Ia tidak menyangka ketidakjujurannya telah mendatangkan masalah terbesar dalam keluarga. Ia mengikuti langkah Ali dengan pandangan tak lepas dari wajah istrinya.
Dengan perasaan sedih ia melihat Khaira yang masih belum sadarkan diri dalam gendongan iparnya. Semua kembali ke mobil masing-masing tanpa berbicara.
Ivan menuju mobilnya. Ia tidak akan membiarkan iparnya memisahkan dirinya dan Khaira. Ia harus membuat semuanya menjadi jelas. Ia membuka ponselnya menghubungi Hari.
“Malam bos …. “ Hari menjawab panggilan Ivan dengan cepat. Ia baru saja mmembersihkan diri dan baru mengenakan pakaian.
“Tolong kamu urus semua keperluan Bryan. Selama beberapa hari ke depan aku tidak bisa mengunjunginya,” ujar Ivan cepat, “Aku bersama Rara di rumah oma Marisa. Beliau telah meninggal dunia ….”
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un …. “ Hari terkejut mendengar perkataan Ivan. Ia merasa semua ini berkaitan dengan masalah Ivan. Walau ia pun tak ingin berprasangka, karena semuanya sudah menjadi takdir yang kuasa.
Ivan kembali ke rumah untuk berganti pakaian. Tidak mungkin ia memakai kaos mendampingi istri dan iparnya yang dalam keadaan berduka dengan baju yang tidak sopan. Setelah mengganti celana kain dan baju koko, Ivan segera menyusul ke rumah oma.
Saat Ivan tiba di rumah di sana, semuanya sudah duduk mengelilingi jenazah oma Marisa yang sudah dibungkus kain kafan. Paman Hanif dan keluarganya juga sudah berada di sana. Beliaulah yang mewakili sebagai tuan rumah menyambut para tetangga yang datang bertakziyah.
Junior yang masih berada di Jepang juga sudah diberitahu. Karena jarak waktu tempuh sekitar 7 jam 20 menit, tidak memungkinkan bagi Junior untuk melihat jenazah oma yang terakhir kalinya, ia pasrah dan menyerahkan semua keputusan pada Ariq.
Ivan melihat Khaira yang duduk menyandarkan kepalanya di bahu Fatih. Ia merasa sedih. Di saat begini, harusnya ia yang berada di samping istrinya.
“Ivan …. “
Laras berjalan dengan cepat menghampiri Ivan yang duduk di belakang Khaira. Ia segera duduk di samping putranya.
“Maafkan mama karena terlambat datang,” Laras menatap putranya yang tampak sedih, “Mama tidak menyangka tante Marisa pergi mendahului kita.”
Ivan tidak menjawab perkataan mamanya. Matanya tak lepas menatap pundak istrinya yang turun naik menahan isak tangis. Ia menghela nafas dengan berat.
Bacaan zikir dan tahlil dikumandangkan beberapa kelompok pengajian yang dipimpin ustadz Dasuki imam masjid adz-Zikri. Ivan melihat sangat banyak tetangga dan kerabat yang hadir dan ikut menyolatkan jenazah oma Marisa, hingga akhirnya mereka bersiap-siap mengantar oma ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Ivan mengikuti iparnya mengangkat keranda yang berisi jenazah oma Marisa menuju liang lahat. Semuanya terdiam, begitu keranda mulai dimasukkan ke dalam liang lahat.
Ingin rasanya Ivan melompat untuk menangkap tubuh Khaira yang kembali lunglai begitu tanah mulai menutupi keranda oma. Ia menahan perasaan melihat istrinya yang begitu terpukul. Ia cukup lega mamanya dan Hasya menahan tubuh Khaira agar tidak jatuh.
__ADS_1
Ivan menelpon Roni dan memintanya untuk membawakan beberapa pakaian. Ia yakin selama beberapa hari ini tidak mungkin Khaira akan kembali ke rumah mereka. Dan Ivan akan mengikuti kemana pun istrinya menginap. Ia tidak ingin Khaira dan saudaranya semakin membencinya.
Hingga malam hari banyak rekan dan relasi Ariq, Ali, bahkan Fatih yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa atas kepergian oma Marisa. Ivan ikut menyibukkan diri membantu ipar-iparnya yang terus menghadapi tamu yang tak putus.
Hasya merasa kesal sekaligus kasihan melihat Ivan yang kelihatan lelah wara-wiri membantu para pekerja yang membereskan sisa-sisa jamuan. Ia pun tak segan membantu saat para pekerja menggulung karpet.
“Van, mbak tau kamu capek,” suara Hasya menghentikan aktivitas Ivan, “Istirahatlah, sejak datang dari sore tadi mbak tau kamu belum beristirahat.”
“Terima kasih, mbak. Tanggung, tinggal tiga karpet lagi,” jawab Ivan cepat.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hanif masih duduk bersama para keponakannya di teras depan rumah. Ia sudah mendengar cerita Ariq tentang masalah yang terjadi dalam rumah tangga Khaira dan Ivan.
Hanif menghela nafas pelan. Mendengar cerita Ariq rasa marah sempat bergolak di dadanya. Tapi sebagai orang tua satu-satunya yang tersisa, ia tidak boleh menurutkan emosi. Ia harus bisa menjadi penengah diantara ponakan yang sudah ia anggap seperti anak-anaknya sendiri. Dan ia mengharapkan keponakannya bisa menghadapinya dengan kepala dingin.
“Riq, dalam setiap rumah tangga selalu ada pasang surut dan masalah yang tak bisa kita hindari,” Hanif mulai berkata pelan, “Berat ringannya masalah tergantung cara masing-masing menghadapinya.”
“Yang kami tidak terima, kenapa Ivan harus berbohong pada Rara tentang kepergiannya ke Singapura. Selain itu dari awal harusnya ia berterus terang bahwa ia membiayai pengobatan anaknya yang sedang sakit.” Ariq masih meninggi saat berbicara.
“Ingat sekarang kita sedang berkabung. Jangan sampai almarhum oma kalian tidak tenang karena pertikaian yang terjadi antara kalian …. “ Hanif berusaha meredam emosi Ariq.
“Kepergian oma juga karena perbuatan Ivan,” Ali menyela dengan cepat.
“Hei, jangan menyimpulkan terlalu cepat. Rejeki, jodoh dan maut itu adalah rahasia Allah. Semua akan diambil Allah sesuai dengan kehendak Allah. Kita tidak akan pernah mengetahui kapan nyawa kita diambil.”
“Kami tidak bisa melihat Rara sedih. Ia sudah pasrah menjalani semua. Ia menunggu keputusan Ivan dan siap mengambil resiko apa pun yang diputuskan Ivan,” Ali menyela pembicaraan pamannya dan Ariq.
“Kita sebagai hamba ciptaan Allah tidak boleh mendahului takdir,” Hanif berkata sambil menghela nafas, “Berdosa besar jika kita berusaha memisahkan orang yang sudah terikat tali pernikahan. Karena perceraian adalah sesuatu yang halal tetapi sangat dibenci Allah.”
“Setiap rumah tangga itu tergantung istri. Jika seorang istri reda dengan segala permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga maka surga-lah balasannya,” kembali Hanif menghela nafas dan mengeluarkan secara perlahan, “Kita biarkan keduanya menyelesaikan permasalahan ini. Tetap hormati apa pun yang menjadi keputusan mereka berdua. Allah tidak akan memberikan cobaan bagi hamba-Nya diluar batas kemampuan seorang hamba. Dan jika mereka mampu menghadapi ujian hidup, maka yakinlah janji Allah pasti bersama dengan orang-orang yang sabar.”
Perasaan sedih terus menyelimuti Ivan yang melihat Khaira dipapah Fatih menuju ke kamarnya di lantai atas. Ingin rasanya ia memeluk istrinya untuk memberikan kekuatan atas kesedihan yang sekarang sedang mereka alami.
Sepanjang sore hingga ke malam ini ia yakin tidak ada sesuap nasi bahkan seteguk air yang dinikmati istrinya, karena ia sendiri pun sama. Tidak ada keinginannya untuk menikmati makanan, semua terasa hambar.
Laras menepuk pundak putranya dengan perasaan sedih. Ia telah mengetahui permasalahan yang terjadi antara putranya dan menantunya. Ia sempat ikut mendengar perbincangan antara Hanif dan saudara menantunya.
Ada sedikit rasa bahagia saat mengetahui bahwa dirinya telah memiliki cucu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi masalahnya tidak sesepele itu, perlu pertemuan keluarga untuk membahas dan menemukan jalan keluar yang terbaik untuk semua pihak tanpa harus ada yang tersakiti.
“Banyaklah memohon petunjuk kepada Allah, pasti kamu akan mendapatkan jalan terbaik untuk rumah tanggamu,” Laras mengelus bahunya dengan pelan, “Mama yakin Khaira akan menghormati segala keputusanmu.”
“Terima kasih ma,” Ivan menjawab dengan tak bersemangat.
“Mama pulang dulu. Sampaikan salam mama buat Khaira,” ujar Laras pelan.
Tanpa berbicara pada Ivan, Ariq, Ali dan Fatih berjalan melewatinya yang masih duduk sambil membaca chat Hari yang mengatakan bahwa ia telah mengurus semua keperluan Claudia dan putranya.
Valdo duduk di sampingnya sambil melirik ponsel Ivan sekilas. Ia yakin pasti Ivan sedang memantau kondisi putranya yang mulai membaik dan sudah ia bawa ke Indonesia.
“Bagaimana keadaan putramu?” Valdo pura-pura tidak mengetahui kondisi Bryan.
__ADS_1
Ivan menghela nafas berat. Ia menatap Valdo dengan perasaan berkecamuk. Tidak ada salahnya ia bercerita dengan suami kakak iparnya ini. Ivan yakin mungkin Valdo bisa diajak bertukar pikiran tentang masalah yang ia hadapi.
“Tentu sebagai seorang ayah, mas Valdo pasti akan khawatir jika putranya mengidap penyakit kronis …. “ Ivan berkata dengan wajah muram.
“Bagaimana dengan Rara? Apa kalian akan berpisah karena kamu telah memiliki putra dari perempuan masa lalumu?” Valdo tak ingin membuang waktu. Ia harus tau keputusan Ivan yang akan ia sampaikan pada iparnya nanti.
“Mana mungkin saya melepas Rara,” Ivan menjawab cepat, “Saya yakin Rara akan menerima Bryan di dalam rumah tangga kami dan memperlakukannya sebagai anak sendiri.”
Hasya yang kebetulan mendekati suami dan adik iparnya langsung duduk di samping Valdo dengan wajah tegang mendengar perkataan Ivan.
“Saya melihat mbak Sasya sangat menyayangi Aqilla. Saya yakin Rara juga bisa menyayangi Bryan seperti putranya sendiri,” Ivan berkata pelan berusaha meyakinkan kakak iparnya.
“Masalahnya bukan hanya itu, Bryan masih memiliki seorang ibu. Apa kamu yakin Claudia tidak mengharapkan lebih atas keinginanmu untuk membawa Bryan dalam rumah tangga kalian?” Hasya memandang Ivan tajam, “Apa lagi kami mengetahui bahwa ia sudah bercerai dengan suaminya.”
“Kalian harus percaya padaku. Aku akan memberikan kompensasi pada Claudia untuk biaya kehidupannya di masa yang akan datang, sehingga dia tidak mengganggu kehidupan kami.”
“Van, kamu bisa mengatakan itu dengan yakin. Kita tidak akan tau apa yang direncanakan Claudia untuk mendapatkan keinginannya,” Hasya masih tidak mempercayai perkataan Ivan.
“Aku mengenal Claudia dengan baik. Dia tidaklah seburuk yang kalian sangka,” ujar Ivan meyakinkan, “Dia hanya menginginkan kesembuhan Bryan, yang lain tidak.”
Hasya mengedikkan bahunya mendengar perkataan Ivan. Ia yakin perasaan Ivan benar-benar tulus pada Khaira. Dan ia berharap semoga apa yang dikatakan Ivan tentang Claudia benar. Setelah terlibat percakapan ringan lainnya Hasya mulai menguap, tangisan Babby A yang kamarnya tepat di samping ruang mereka duduk bersama sayup-sayup terdengar.
Hasya dan Valdo berpamitan pada Ivan untuk kembali ke kamar. Kini tinggallah Ivan sendiri di sofa ruang keluarga itu. Ia merasa tidak enak untuk menyusul Khaira di kamar, mengingat sikap iparnya yang mencoba menjauhkan ia dari sang istri.
Karena tidak bisa menahan kantuk dan kelelahan yang sudah menyerang tubuhnya, akhirnya Ivan mulai merebahkan diri di sofa panjang itu dengan berbantalkan lengan kirinya sementara tangan kanannya menutup wajahnya.
Ariq sempat berbicara dengan Valdo via telpon mendengarkan hasil pembicaraan Ivan bersama Hasya dan Valdo. Ia masih enggan berbicara langsung dengan Ivan. Hatinya dongkol dan masih menyimpan kekesalan atas ketidak jujuran Ivan kepada Khaira. Tapi setelah mendengar perkataan Hasya dan Valdo ia sedikit lega, dan yakin bahwa Ivan tidak mungkin menyakiti adiknya.
Karena merasa haus, Ariq keluar dari kamarnya yang berdampingan dengan kamar Khaira. Ia turun ke bawah untuk mengambil air putih. Saat menuruni tangga ia terkejut melihat Ivan yang tertidur di sofa tanpa bantal dan selimut, sedangkan cuaca sangat dingin karena sedang turun hujan yang sangat lebat.
Rasa amarah yang sejak awal terkumpul di benaknya langsung luruh melihat keadaan Ivan. Kini ia menyadari perasaan Ivan pada Khaira memang tidak bisa dianggap remeh. Ariq mendekati Ivan dan langsung menepuk pundaknya.
“Van …. “
Belum ada jawaban dari Ivan, hanya dengkuran halus yang terdengar dengan hembusan nafas teratur yang ia dengar.
“Hei bangun. Kenapa kamu tidur di sini?” akhirnya Ivan mengguncang pundak Ivan dengan kuat.
“Ada apa mas ….?” Ivan membuka mata terkejut melihat Ariq berdiri di hadapannya. Tidak tampak kemarahan lagi di sorot matanya.
“Pindah tidur di kamar istrimu sana,” Ariq mengisyaratkan dengan telunjuknya. Ia merasa kasihan melihat Ivan yang tampak kedinginan di sofa tersebut.
Ivan menatap Ariq bingung. Rasanya tak percaya mendengar Ariq menyuruhnya pindah ke kamar menyusul Khaira. Hal yang ia inginkan sejak awal. Tapi melihat permusuhan di wajah-wajah iparnya seharian tadi membuatnya menahan diri.
“Apa kamu betah tidur di sofa ini?” Ariq kembali menatapnya dengan malas, “Terserah kamu.”
Ariq meninggalkan Ivan melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman. Ia sampai melupakan rasa haus karena terlibat percakapan singkat dengan Ivan.
Dengan perasaan senang Ivan melangkah menaiki tangga menuju kamar sang istri yang begitu ia rindukan. Rasa kantuknya langsung hilang begitu memasuki kamar.
__ADS_1
***Malam readerku tersayang. Mungkin ada yang kecewa karena ada pelakor. Sedikit author mau curhat nih\, sebenarnya kalau di novel ada pelakor memang seperti itulah kesehariannya. Ngeri-ngeri sedap kalo cerita ada pelakor atau orang ketiga. Di kehidupan Ivan dan Khaira bukan sosok orang ketiga yang ingin author kedepankan\, tapi bagaimana perjuangan Ivan untuk kesembuhan putra semata wayang yang tidak ia dapat dari istri yang sangat ia cintai. Kalaupun ada yang protes\, yah kadang apa yang kita inginkan tidak selalu kita dapatkan. Jadi tetap dukung ya\, semuanya pada akhirnya Cinta akan menemukan jalannya kembali. Sayang reader semua .... ***