Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 208 S2 (Malam Pertama Kali Kedua)


__ADS_3

Dengan cepat ia berbalik ke belakang, dan melangkah dengan segera. Sudah kesal dengan sifat acuh Ivan, kini kekesalannya semakin meningkat karena Ivan tidak memberitahukan kehadirannya di acara pameran itu malah berbincang akrab dengan perempuan modis yang nempel dengannya.


“Sayang …. “ Ivan menghadang langkah Khaira yang cemberut, “Maafkan aku karena tidak memberitahukanmu.”


Khaira menatap wajah Ivan yang tersenyum menawan sambil memandangnya dengan lekat, tampak berbeda saat di ballroom yang seperti orang yang tidak emengenalnya.


“Kenapa tidak pergi saja sama perempuan tadi?” Khaira masih berusaha menghindari sosok tegap suaminya.


Ivan mengul** senyum, “Cemburu ya?” Ia masih menggoda Khaira yang semakin kesal karena tingkahnya.


“Nggak.”  Khaira menjawab dengan cepat,  masih memandang Ivan dengan sorot  permusuhan. Ia tidak terima Ivan mengacuhkannya hanya karena seorang perempuan yang selalu mengikuti langkahnya kemana pun hingga Ivan tidak menyapanya saat bertemu.


“Aduh yang  pengen dimanja dan disayang …. “Ivan mendekati Khaira dan ingin memeluknya.


Khaira berusaha mendorong tubuh Ivan. Jangankan bergeser, malah kini tubuhnya yang tertarik menabrak dada bidang suaminya. Dengan cepat Ivan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan.


“Aku sangat merindukanmu …. “ Ivan langsung menghujani kepala istrinya dengan kecupan-kecupan ringan, begitu  Khaira berada dalam pelukannya.


“Kenapa tadi pura-pura nggak kenal?” Khaira masih penasaran dengan sikap Ivan, “Malah sibuk berbicara dengan perempuan itu.”


Bibir Khaira mengerucut berusaha membuang kekesalan yang masih tersimpan di hatinya. Masih tergambar sorot tajam di matanya.


“Aku cemburu sama laki-laki yang selalu mengikutimu,” Ivan tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya pada lelaki hitam manis yang sok perhatian dengan istrinya.


“Mas Dewo?” Khaira mengernyitkan dahi mengingat hanya dialah yang selalu stand by mempersiapkan apa yang ia butuhkan.


Ivan merangkum wajah istrinya dengan kedua tangannya, “Jangan sebut nama laki-laki lain saat kita berdua….” Ivan menatapnya gemas.


“Tapi aku kan hanya mencintai mas Ivan …. “ tanpa sadar Khaira mengungkapkan isi hatinya yang berusaha ia sembunyikan.


Mendengar pengakuan istrinya yang selama ini hanya tersirat dari tatapan dan perkataannya membuat hati Ivan langsung membuncah bahagia. Ia menarik pinggang Khaira dan memeluknya erat.


Khaira yang semula menolak dan memukul dada suaminya kini diam tak bergeming. Ia pun merindukan pelukan hangat  Ivan dan aroma wangi maskulin tubuh suami yang selalu memeluknya di malam-malam panjang mereka.


Setelah puas memeluk tubuh sang istri kini Ivan melepaskan tangan kokohnya di pinggang ramping Khaira. Keduanya saling menatap dengan lekat mencurahkan perasaan rindu yang telah tersimpan selama hampir lima hari karena terpisah jarak dan waktu.


“Kita makan dulu ya, aku yakin kamu melewatkan makan karena sibuk mengurus acara tadi,” Ivan membelai bibir istrinya dengan jemarinya.


Dari foto-foto yang dikirim Herlan memang tidak tampak kalau mereka melakukan makan siang bersama. Memang seharian ini, Khaira tidak sempat untuk makan siang, ia hanya menikmati snack yang disediakan panitia di meja besar tempat mereka mengadakan rapat koordinasi, dengan segelas kopi latte sebagai pengganjal perut.


Rasanya Ivan ingin melu*** telaga madu yang mengundangnya untuk segera berenang di sana. Tapi ia berusaha menahan. Ivan  yakin kalau tak menghentikan aksinya sekarang\, bisa jadi keduanya akan melewatkan makan malam\, sementara  mereka memerlukan tenaga ekstra untuk memulai sesuatu yang sudah sangat lama tertunda.


“Kenapa mas serepot ini?” Khaira mulai memandang kiri kanannya yang didekor begitu indah dengan aroma mawar yang sangat memanjakan indera penciumannya.

__ADS_1


“Aku teringat, dulu seseorang pernah berkata ingin menikmati dinner romantis diterangi seribu batang lilin dan seribu mawar mewah. Aku berusaha memenuhi keinginan itu,” ujar Ivan sambil menatapnya lekat.


Khaira tertegun. Ia mengingat ucapannya saat bersama Anwar ketika masih berada di Paris di malam kelam itu terjadi. Hatinya yang sempat merasa tidak nyaman, berusaha ia enyahkan. Toh perasaannya terhadap suaminya pun kini telah berbeda.


Ivan yang telah menyelesaikan makannya melihat wajah Khaira berubah. Dengan cepat ia berdiri dan segera berlutut di samping Khaira. Ia tak ingin suasana romantis yang terjadi malam ini berubah hanya karena ucapan tak penting darinya.


“Sayang …. jangan biarkan masa lalu mengganggu keutuhan rumah tangga kita. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu.”


Ivan bangkit dan menekan remote yang berada di samping bufet di dalam  kamar yang luas itu. Terdengar musik romantis mulai mengalun menambah syahdu suasana. Ia kembali menemui Khaira dan segera mengulurkan tangannya.


“Aku ingin menikmati malam ini hanya berdua denganmu,” Ivan berkata dengan mesra sambil menatap Khaira dengan lekat. Tangannya terulur, “Ku pastikan tidak akan ada yang mengganggu kebersamaan kita malam ini. Aku hanya milikmu seorang ….”


Khaira mengerti apa yang diinginkan suaminya. Ia pun menyambut uluran tangan Ivan. Dengan alunan musik romantis Ivan mulai membimbing Khaira mengikuti gerakannya. Keduanya berdansa saling bertatapan mencurahkan segenap rasa cinta dan sayang dari lubuk hati masing-masing lewat sorot mata yang memancarkan cinta.


Ivan menghentikan gerakannya begitu musik berhenti. Ia mulai mendekatkan wajah dan menyapu telaga madu yang sudah ia inginkan sejak tadi. Khaira membalas semua perlakuan suaminya dengan sepenuh perasaan. Ia melingkarkan kedua lengannya ke leher kokoh sang suami. Melihat perlakuan istrinya membuat Ivan semakin bersemangat.


Tangannya mulai bergerilya. Kerinduan serta keinginannya untuk memiliki  Khaira seutuhnya mulai malam ini dan malam-malam seterusnya telah mengikat kuat di otaknya.


Khaira melepaskan tautan kedua bibir. Ivan mengerutkan keningnya melihat gerakan cepat sang istri.


“Aku belum sholat Isya, mas sudah?” mata bening Khaira membuatnya menghentikan gerakan jarinya yang sudah menemukan spot favoritnya, “Rasanya tubuhku juga gerah.”


Dengan terpaksa Ivan melepaskan pelukannya. Rasanya berat bagi Ivan, tapi hanya tinggal sedikit waktu, Khaira akan jadi miliknya.


Saat selesai membersihkan tubuhnya baru Khaira menyadari bahwa dia tidak memiliki baju ganti. Hanya mukena yang selalu ia bawa kemana pun pergi. Dengan wajah malu ia keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dengan rambul dicepol. Ia berpapasan dengan Ivan yang sudah bertelanjang dada juga hendak membersihkan diri di kamar mandi.


Ivan menghela nafas berat, menghirup aroma segar wewangian yang menguar dari tubuh istrinya.


“Sabar .... “ monolognya dalam hati sambil menatap sekilas Khaira yang tidak berani mengangkat wajahnya.


Saat Ivan sudah di dalam kamar mandi, Khaira mulai membuka lemari pakaian suaminya. Senyum mengembang melihat beberapa pakaian Ivan tergantung dengan sempurna. Ia meraih kemeja putih dan memakainya dengan cepat. Lengan kemeja ia gulung hingga setengah siku. Tubuh rampingnya tenggelam dalam kemeja putih Ivan  hingga setengah paha.


Tatapannya bergeser melihat pakaian dalam yang berjejer rapi. Dengan  perasaan malu  ia mengambil salah satunya. Dari pada tidak memakai apa pun lebih aman menggunakan yang ada, dan Khaira  yakin Ivan tidak akan memarahinya karena menggunakan barang pribadi miliknya. Entah apa yang terjadi kemudian ia tak peduli.


Setelah selesai Khaira langsung memakai mukena untuk menunggu Ivan salat berjamaah. Ia pun menyusun sajadah yang ia lihat di dalam lemari, tak lupa kain sarung dan baju koko yang kini selalu dibawa Ivan kemana pun ia pergi telah diletakkan di atas tempat tidur.


Senyum tipis terbit di wajah Ivan melihat  semua sudah dipersiapkan sang istri. Dengan cepat ia memakai semua yang sudah tertata di atas tempat tidur. Dengan hikmat Ivan mengimami salat Isya. Kemudian dilanjutkan salat sunnah dua rakaat.


Dalam doanya Ivan berharap semoga keluarga yang baru terbina selalu dalam lindungan Allah, dan jika mereka segera diberikan kepercayaan untuk mendapat momongan Ivan mengharapkan keturunannya menjadi anak saleh dan saleha.


Khaira segera meraih tangan suaminya begitu Ivan selesai membaca doa. Tatapan Ivan begitu teduh saat memandang wajah istrinya. Ia mencium kening Khaira dan memeluknya dengan erat.


Setelah Ivan melepaskan pelukannya, Khaira memberanikan diri membingkai wajah suaminya. Ia menatap kedua mata hitam kelam yang menatapnya dengan penuh kasih. Ia masih mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun suaminya.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun buat suamiku yang ke-34,” dengan pelan Khaira mulai mencium pipi kiri, kemudian pindah ke pipi kanan suaminya, “Semoga Allah selalu melindungi mas Ivan dimanapun berada. Maaf ya, aku belum menyiapkan kado buat mas .... “


Perasaan terharu langsung hadir di sanubari Ivan. Ia merasa kali inilah ulang tahun teristimewa yang ia rasakan. Ia tidak memerlukan hadiah dan kado mahal, tetapi pendamping yang ia impikan berada di sampingnya sudah menjadi kado terindah yang ia miliki.


Mata Ivan terpaku saat melihat penampilan Khaira yang menggunakan kemeja putihnya dengan rambut terurai indah.


“Maafkan aku, karena tidak membawa apapun kemari. Mas juga sih, nggak bilang mau ngajak aku nginap di sini .... “ pipi Khaira langsung merona saat menyadari tatapan suaminya yang tak teralihkan.


“Jadi mau nginap di sini malam ini?” sifat  konyol Ivan mulai lagi. Entah kenapa ia begitu senang menggoda istrinya.


Melihat penampilan Khaira menggunakan kemejanya hingga memperlihatkan paha mulusnya membuat jiwa Ivan sudah terbang ke sana kemari. Dengan perlahan ia berjalan mendekat. Khaira tidak bergeming melihat Ivan yang kini berdiri di hadapannya. Ia tidak akan menolaknya.


Jantung Ivan berdetak cepat, ketika menyadari dibalik kemeja putih yang digunakan istrinya tercetak pegunungan yang indah menunggu sang pendaki untuk menggapainya. Dengan mengul** senyum Ivan menatap wajah istrinya yang merona.


Mata Khaira mendelik kesal mendengar godaan suaminya. Ia cemberut dan membalikkan badan untuk berjalan.


Ivan menahan tubuh Khaira dan membaliknya dengan cepat. Ia  melu*** bibir ranum yang tampak mengerucut karena kesal atas ucapannya barusan.


“Mana mungkin aku membiarkan istriku keluyuran malam ini. Aku akan mengajaknya lembur semalaman,” ujar Ivan ketika melepaskan tautan bibir mereka.


Pipi Khaira merona mendengar ucapan suaminya. Ia pasrah membiarkan Ivan melakukan apapun terhadap dirinya. Khaira telah merelakan diri dan hidupnya pada suaminya, karena ia tau sudah kewajibannya untuk patuh dan taat pada suami.


Dengan pelan Ivan mulai membaringkan tubuh istrinya ke tempat tidur king size yang dipenuhi dengan kelopak mawar merah. Ia kembali melum** telaga madu yang sudah menjadi candu baginya, dan mulai melepas pakaian yang melekat.


Khaira memejamkan mata, merasa malu menatap mata kelam sang suami yang tak mengalihkan tatapan darinya. Ia membiarkan  jemari-jemari Ivan yang dengan lincah melepas kancing kemeja yang menutupi aset miliknya. Khaira tak kuasa menolak, ia pun menginginkan sentuhan penuh cinta  dari sang suami.


Ivan segera menutupi tubuh mereka dengan selimut. Kini ia  kembali menjatuhkan bibirnya pada telaga madu untuk memberikan kenyamanan, karena melihat perubahan wajah Khaira  ketika dirinya memulai pendakian ke puncak asmara yang selama ini selalu tertunda. Ia tau ini adalah kali kedua bagi istrinya. Dan Ivan tak ingin menyakiti Khaira dan membuatnya trauma dalam berhubungan.


Air mata Khaira tampak menetes ketika telah menunaikan tugasnya sebagai seorang istri pada Ivan. Rasa sakit, terharu dan sebagainya bercampur baur menjadi satu. Kini dirinya merasa lega telah menjadi milik Ivan seutuhnya.


“Sayang .... “ Ivan yang baru saja menetralkan gemuruh di dadanya karena merasa bahagia bahwa  Khaira telah menyerahkan diri dan membalas semua perlakuannya dengan tulus.


Khaira menatap lekat wajah Ivan yang kini berada atasnya. Ia melihat sinar gairah masih menyala di wajah sang suami. Ia hanya menganggukkan kepala ketika Ivan menatapnya dengan penuh damba.


Malam ini adalah malam teristimewa dalam hidup Ivan. Ia telah mendapatkan kado terindahnya. Apalagi Khaira memahami keinginannya dan membiarkan apa pun yang ingin ia lakukan untuk mengisi malam panjang mereka berdua.


Dua jam telah berlalu. Jam dinding telah berdentang sebanyak 12 kali. Badan Ivan terasa lengket. Kelelahan karena telah menghabiskan tenaga di landas pacu membuatnya tersenyum dengan puas.


Ia menatap Khaira yang kini tertidur lelap di dalam pelukannya. Kebahagiaan berlipat-lipat mengisi hati sanubari Ivan. Tiada lagi yang ia butuhkan sekarang. Dunia seolah ada dalam genggaman. Dengan lembut ia mencium kening mulus istrinya.


Senyum terbit di wajahnya mengingat semua adalah usul Roni, sehingga mereka berdua dapat menikmati malam bersama.  Saran  mbak Hasya yang selalu ia tanamkan dalam hati agar ia bisa bersikap dengan tulus membuat Khaira kini telah menerima dirinya dengan penuh keikhlasan. Khaira bukan hanya merubah dirinya tetapi juga dunianya, dan Ivan tak ingin membayangkan kalau sampai Khaira menjauh dari hidupnya.


 

__ADS_1


***Semoga reader selalu mendukung author ya. Maafkan adegan uwu-uwunya nggak sesuai ekspektasi kalian. Ntar nggak bisa up kebanyakan sensor. Tetap semangat ya .... ***


__ADS_2