Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 134 S2 (Mencoba Bangkit)


__ADS_3

Senyum Khaira terkembang saat menggendong putra Hasya yang kini  berumur 10 hari. Kesedihannya sementara terlupakan melihat bayi menggemaskan yang kini berada dalam pelukan. Ia terus menyium pipi gembul kemerahan yang wanginya membuat Khaira merasa tenang. Suasana pagi itu di rumah Hasya benar-benar tenang karena semua sudah beraktivitas kembali.


Sudah 3 hari Khaira  menginap di rumah Hasya semenjak acara aqiqahan. Ia sangat terhibur dengan kehadiran Baby A panggilan kesayangan untuk Ameer Aqila Reval yang berarti pemimpin yang adil dan penyayang. Ia tak henti-hentinya mengagumi kesempurnaan ciptaan Allah yang kini berada dalam gendongannya.


“Udah de, nanti kamu cape.” Hasya duduk di sampingnya sambil memandang Baby A yang mulai menangis karena merasa lapar.


“Aduh lutuna anak bunda …. “ ujar Khaira sambil terus menyiumi bayi mungil itu tanpa mempedulikan tangisnya yang mulai nyaring.


Hasya membiarkan Khaira yang menyebut bunda pada dirinya khusus untuk Baby A. Jika itu bisa membuat Khaira terhibur ia tidak akan mempermasalahkannya. Malahan ia merasa senang jika kehadiran Baby A mendatangkan kebahagiaan bagi adik perempuan satu-satunya itu.


“Rasanya berat bagiku untuk kembali bekerja jika masa cuti telah berakhir,” Hasya berkata lirih sambil mengambil Baby A dari pangkuan Khaira karena sudah waktunya mimi susu.


“Aku siap jadi babby sitter tuk Babby A.” Khaira langsung menawarkan diri, “Nggak boleh sembarangan mencari pengasuh anak di zaman sekarang ini. Bisa-bisa bukan hanya anaknya suaminya malah ikut kecantol.”


“Kamu jangan sembarangan ngomong de.” Hasya merasa kesal mendengar ucapan Khaira, walau ia percaya omongan adiknya banyak benarnya.


“Aku berkata berdasarkan fakta. Emang sih aku yakin cinta mas Valdo pada mbak, tapi zaman sekarang orang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.” Khaira berkata dengan penuh semangat.


Senyum cerah terbit di wajah Hasya mendengar perkataan Khaira. Kini ia yakin dengan rencana ketiga saudaranya untuk membawa Khaira keluar dari sangkar hibernasinya, membuat Khaira kembali pada jati dirinya yang selalu bersemangat untuk hal-hal baru.


“Mana mbak sanggup membayar gaji seorang pemilik gerai permata Kara Jewellery\,” cibir Hasya sambil menyus*kan Babby A yang langsung menghis*p p*ting dengan kuat membuat Hasya meringis menahan perih karena kali pertama inisiasi untuk Babby A. Ia tidak menyangka keinginan untuk memberikan ASI ekslusif bagi Babby A ternyata tidak mudah\,


“Nggak dibayar juga nggak masalah. Boleh ya mbak aku mengasuh Babby A. Aku kesepian di rumah …. “ Khaira memohon penuh harap.


“Boleh  asal …. “ Hasya mulai menjalankan rencananya agar Khaira keluar dari zona aman yang selama ini ia lakukan dengan hibernasi di dalam kamar.


“Asal apaan sih?” Khaira penasaran mendengar ucapan Hasya.


“Aku siap melepas Babby A setiap Rabu dan Sabtu itu jadwal yang ku berikan untukmu.” Seringai licik terbit di bibir Hasya.


“Kok cuma dua hari? Sisanya kemana mbak?”


“Lo kan harus kerja Romlahhh …. “


Khaira mendengus tak senang mendengar ucapan Hasya. Ia menatap Babby A dengan lekat. Ia tak bisa menolak keputusan saudarinya. Dari pada tidak sama sekali ia terpaksa mengangguk menerima keputusan Hasya.


“Berapa kilo bobotmu turun. Kelihatan kurusan sekarang.” Kini Hasya menatapnya lekat. Rencana awal sudah berjalan tinggal melanjutkan rencana berikutnya.


“Nggak nimbang juga. Tapi pakaian yang biasanya XL udah turun M sekarang,” Khaira berkata pelan sambil membelai rambut Babby A yang kini terlelap dalam buaian Hasya.


“Cakep!” Hasya mengacungkan jempolnya pada Khaira, “Sekarang kamu udah kembali ke bentuk ideal.”

__ADS_1


“Emang ngaruh?” Khaira mencibir sambil kembali mencium pipi gembul Babby A.


“De, udah ihh! Kasian, nanti Babby A rewel lagi.” Hasya mendorong jidat Khaira yang kini kembali merapat pada pipi bayinya.


Sejenak mata Hasya menatap cincin berlian yang melingkar di jari manis Khaira. Selama ini ia belum pernah melihatnya, karena jarang berinteraksi dengan Khaira karena kesibukan masing-masing.


“Cincin kawinmu indah sekali,” pujinya tulus sambil menarik tangan Khaira untuk melihatnya dengan seksama.


Khaira tersenyum bahagia, “Inilah barang berharga peninggalan a Abbas yang akan selalu ku jaga seumur hidup.”


“Kelihatan limited edition. Aku penasaran saat mendengar mbak Rheina dan Azkia  menceritakan cincin mewah milikmu. Apa dipesan langsung dari luar?” Hasya mendadak kepo setelah melihatnya secara langsung. Ia sendiri belum memiliki cincin berlian seindah yang dimiliki adiknya.


“Mereka bilang apa?” tak ayal Khaira jadi penasaran mendengar cerita Hasya tentang cincin kawin yang diberikan almarhum Abbas padanya.


“Seperti yang mbak bilang barusan. Mereka mulai berselancar untuk mengetahui berapa jeti harga cincinmu. Setelah tau kalau harganya hampir 5 M, mereka angkat tangan ….”


Khaira tercenung sesaat. Otaknya bekerja cepat. Ia merasa cincin yang ia pakai adalah salah satu perhiasan yang  dimiliki  gerainya. Apalagi modelnya memang limited edition dan harganya bukan kaleng-kaleng. Ia ingat  beberapa kali memosting beberapa perhiasan edisi terbatas yang sengaja dipesan khusus untuk kalangan menengah ke atas.


“Mbak, aku ingin ke gerai sekarang. Ada yang harus ku periksa di sana.” Pikiran Khaira kini sudah fokus dengan Kara Jewellery. Ia ingin memastikan perasaannya yang mengatakan bahwa cincin yang ia pakai memang dibeli di gerai miliknya.


Khaira ingin mengetahui apakah Abbas memang sengaja membelikan cincin berlian itu sebagai mahar pernikahan dan bagian surprise darinya untuk pernikahan mereka. Dan ia hanya bisa memastikan hal tersebut dengan memeriksa laporan penjualan di gerai Kara Jewellery miliknya.


Begitu Andini mengantarkan apa yang ia minta, Khaira segera membuka dan memeriksa buku laporan penjualan dalam empat bulan terakhir dengan teliti. Banyak juga perhiasan yang terjual selama ia vakum dalam masa berkabung setelah kepergian Abbas. Ia berusaha mengalihkan pikiran dari bayangan wajah Abbas dengan fokus membuka lembar demi lembar tulisan yang ada di hadapannya.


Ia termenung saat menemukan apa yang berusaha ia cari. Jemarinya mulai mencocokkan tanggal pembelian cincin dan tanggal pernikahan hingga kepergian Abbas. Dengan ponselnya Khaira menghubungi Susi untuk meminta informasi lebih lanjut, karena ia tau, Susi-lah yang tugasnya mencatat laporan setiap ada perhiasan yang terjual.


Ketukan di pintu menghentikan kegiatan Khaira. Ia menunggu hingga Susi masuk dan duduk di hadapannya dengan wajah dipenuhi kekhawatiran. Melihat wajah Susi yang tegang tak ayal membuatnya tersenyum tipis.


“Kenapa pucat? Apa ada yang salah?” Khaira bertanya dengan santai berusaha mengusir ketegangan yang terjadi.


Susi menggeleng dengan cepat, “Tidak mbak,” jawabnya cepat.


“Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu tentang penjualan perhiasan yang ini,” Khaira segera menunjuk catatan yang telah ia tandai.


Susi dengan seksama membaca tulisan yang ia buat. Dengan gamblang ia menceritakan kronologis pembelian cincin berlian oleh seorang pria muda dengan pembayaran menggunakan black card.


“… pria itu menyebut nama Alexander  sesuai dengan yang saya tulis di nota dan buku itu mbak,” ujar Susi serius.


“Tolong panggil mas  Bagyo, aku ingin melihat cctv untuk mengetahui siapa lelaki muda itu,” Khaira merentangkan jemarinya di hadapan Susi, “Apa menurutmu cincin ini sama dengan yang telah terjual?”


Susi melongo melihat cincin berlian yang kini melingkar di jemari atasannya sang pemilik gerai permata.

__ADS_1


“Eh, nggak usah lebar tuh mulut. Ntar masuk laler lagi …. “ Khaira berkata santai membuat Susi segera menutup mulutnya.


Taklama kemudian Bagyo teknisi gerai merangkap satpam sudah berada di dalam ruangan menghadap keduanya sambil membuka menu cctv untuk melihat rekaman kejadian di gerai 4 bulan yang lalu.


Khaira menajamkan mata saat melihat sosok yang melakukan transaksi jual beli cincin berlian bersama Susi.


“Apa mbak mengenal pria itu?” Susi mendadak kepo karena tidak mengenal lelaki yang membeli cincin tetapi melihat cincin itu kini melingkar indah di jari atasannya.


Khaira mengangguk sekilas. Yang ia tau lelaki itu bernama Roni, yang membantu selama proses pengeluaran jenazah Abbas dari rumah sakit hingga pemakamannya. Setelah itu Khaira tidak pernah melihatnya lagi, walaupun pada kenyataannya Roni selalu memantaunya dari kejauhan.


“Terima kasih atas bantuan mbak Susi dan mas Bagyo,” Khaira tersenyum tipis setelah keinginan dan rasa penasarannya terjawab.


Jika suatu saat waktu akan mempertemukannya dengan Roni, ia ingin berbicara panjang lebar dan mengucapkan terima kasih atas semua yang Roni lakukan pada dirinya dan almarhum suaminya.


Sementara itu di ruang kerja Ivan telah kedatangan dua klien dari Perancis yang ingin membahas kerjasama pembuatan iklan perhiasan berlian terbaru dari perusahaan mereka. Ceo-nya yang bernama Peter tertarik dengan rancangan Ivan, sementara Robert asistenya hanya terdiam dengan wajah datarnya mendengar percakapan serius keduanya.


“Saya sangat tertarik dengan rancangan yang anda sampaikan,” Peter tersenyum senang mendengar penjelasan Ivan, “Ternyata apa yang dikatakan teman saya Mr. Robert bahwa perusahaan anda yang terbaik dalam bidang advertising. Dan saya siap memakai model anda sebagai bintang iklan jika ada yang tepat.”


“Anda bisa pilih sendiri sesuai keinginan anda dan tepat untuk mempromosikan brand yang anda miliki.”


Keduanya segera berjabatan tangan  erat dengan senyum terkembang di wajah masing-masing merasa puas atas kesepakatan yang telah dicapai kedua belah pihak.


“Sekarang sudah waktunya makan siang,” Ivan melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, “Kami akan menjamu anda berdua.”


“Saya ingin mencoba kuliner Indonesia. Grandma saya pecinta kuliner Indonesia dan terbiasa menghidangkan di perjamuan keluarga di Perancis,” Peter berkata dengan penuh semangat.


Mendengar ucapan Peter, Ivan mengerutkan keningnya tak percaya. Ia sudah merencanakan untuk menawari  keduanya ke restoran mewah yang menyajikan masakan Western atau pun masakan Jepang yang sudah mendunia.


“Anda pasti bisa merekomendasikan kuliner Indonesia lengkap dengan masakan ala rumahan?” dengan lancar Peter menanyakan hal tersebut pada Ivan, karena grand pa-nya memang asli Indonesia, “Aku tidak perlu restoran yang mewah, yang suasananya nyaman dan bersatu dengan lingkungan akan membuat selera makanku bertambah.”


“Ku rasa tempat yang akan kita kunjungi akan memanjakan lidah anda,” terbersit dalam pikiran Ivan untuk membawa kedua tamunya ke kafe milik almarhum Abbas. Selama ini ia melihat menu yang ditawarkan sangat menarik dan menggugah selera, walaupun ia sendiri jarang menikmatinya.


“Wah, aku sangat tertarik mendengarnya. Tidak sabar ingin ke sana,” Peter tampak bersemangat mendengar cerita Ivan membuatnya geleng-geleng kepala dengan keantusiasan bule pirang itu.


Ivan yang sudah lama tinggal di luar negeri memang mengagungkan masakan Western. Hanya sesekali ia menikmati makanan ala Indonesia jika pulang ke rumah mamanya. Ia kurang minat terhadap makanan Indonesia karena terlalu ribet dan membikin gemuk, sehingga ia jarang membawa klien ke restoran ala Indonesia.


Roni dan Gisel turut mendampingi Ivan dan kedua kliennya menuju mobil yang telah tersedia di depan lobi perusahaan yang siap membawa mereka ke tempat tujuan.


 


Dukung terus karyaku ya, vote, kritik, saran dan like akan terus ku tunggu untuk menambah semangat dalam dunia perhaluan. He he ... Sayang untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2