Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 199 S2 (Kencan Dadakan)


__ADS_3

Ivan bercekak pinggang. Ia merasa kesal dengan kliennya di Singapura yang tidak puas dengan hasil kerja pegawainya. Pasangan Crazy Rich keturunan Indonesia yang ingin melakukan pre-weeding dengan membuat video merasa kurang puas dengan hasil yang dibuat. Mereka meng-claim dan ingin menuntut ganti rugi.


“Aku ingin Bambang kemari!” Ivan berkata dengan kesal.


Roni yang berada di dalam ruangan langsung ke luar bersama Gisel. Mereka tidak ingin mendengar kemarahan Ivan yang berkepanjangan.


Tak lama kemudian Bambang sebagai penanggung jawab masuk bersama Remi dan Memez asistennya.


“Coba kamu ceritakan, kenapa  Mr. Jhony ingin meng-claim video yang telah selesai di-release?” kejar Ivan langsung begitu ketiganya sudah duduk di hadapannya.


“Mr. Jhony ingin merubahnya menjadi foto-foto saja yang disatukan,” ujar Bambang santai, “Dan beliau bilang ingin anda yang memotretnya langsung.”


“Cih!” Ivan mendengus kesal.


Ia mengenal Jhony dengan baik. Keduanya sempat bertemu saat ada pertemuan sesama pengusaha muda di Singapura. Ivan yang memang hobby fotografer saat itu masih menyempatkan diri untuk memotret pemandangan indah dan selalu membawa kamera kesayangannya kemana-mana.


Hingga kala itu Jhony berkata, “Jika aku menikah kelak, aku ingin kamu yang foto untuk pre-wedding nya.”


“Bayarannya mahal,” ujar Ivan saat itu.


“Seharga Ferrari-pun aku siap,” tantang Jhony.


Ivan tinggal geleng-geleng kepala mengingat percakapannya ketika itu. Ponselnya langsung berbunyi. Tertera nama J. Sinaga. Itu adalah kepanjangan dari nama Jhony Sinaga.


“Hallo  Jhon,” Ivan mengangkatnya dengan cepat.


“Bagaimana dengan tawaranku? Aku ingin kau yang melakukan,” ujar Jhony dari seberang  sana.


“Apa aku punya pilihan?” Ivan masih berusaha menawar. Ia merasa keberatan jika harus meninggalkan istrinya seorang diri.


“Aku memegang kata-katamu. Ku tunggu malam ini di apartemenku. Kebetulan malam ini aku dan Sela kosong. Kita bisa lakukan pemotretan.”


Ivan menghela nafas berat. Untuk kali ini ia tidak bisa menolak. Jhony telah banyak membantunya dalam  pengembangan New Star Corps. Ia akan meluangkan waktunya  untuk pergi ke Singapura.


“Baiklah. Aku akan berangkat sore ini,” Ivan akhirnya membubarkan Bambang dan timnya untuk segera berkemas.


Roni kembali masuk ke dalam ruangan begitu Ivan memanggilnya lewat ponsel. Ia bingung melihat Ivan yang masih terpaku di kursi kerja sambil memandang ponsel.


"Ron, menurutmu apa yang membuat perempuan itu merasa senang?"


"Mana saya tau, bos. Bos kan udah sering bersama wanita. Mosok bertanya sama saya yang masih jomblo ini .... " Roni memandang Ivan dengan raut bingung.


"Aku tidak tau bagaimana membuat Rara bisa memandangku sebagaimana almarhum Abbas. Dia bukan seperti perempuan lain yang pernah ku kenal."


Roni ikut-ikutan termenung mendengar curahan hati si bos yang tampak galau.


"Aku akan ke Singapura, paling lama 2 hari. Rasanya berat bagiku meninggalkan Rara sendiri."


"Bos udah mulai bucin? Wajar sih." Roni mulai nyerocos semaunya.


"Almarhum Abbas dulu sering cerita kalau ia dan nyonya Rara biasa nonton bioskop bersama," ujar Roni santai, "Setiap habis nonton biasanya Abbas semangat kembali untuk bekerja."


"Apa kamu tau tempatnya di mana?"


"Mana sempat saya untuk bertanya bos. Abbas hanya bercerita kalau ia mau nonton aja, yang lainnya tidak."


Ivan menajamkan pendengarannya mendengar perkataan Roni.


"Sampai saat ini aku belum pernah mengajak Rara makan malam, memberinya hadiah bahkan pergi bulan madu," Ivan menatap kejauhan.


"Wah, gimana sih bos. Dengan perempuan lain aja bos nggak itungan untuk pengeluaran, kok dengan istri sendiri seperti itu?"


"Rara perempuan yang tertutup. Aku tidak tau harus memulai dari mana. Pernikahan kami pun terjadi karena kesalahan yang ku perbuat," Ivan berkata dengan raut sendu, "Tapi kau harus tau Ron ... Aku sangat mencintai Rara."

__ADS_1


"Saya percaya bos," Roni menganggukkan kepala.


Ia sangat mempercayai kata-kata Ivan. Semenjak pernikahan mereka yang hampir tiga bulan, sikap Ivan mulai berubah. Ia lebih agamis, dan kearoganan dan kesombongan yang selalu ia tampakkan di dalam lingkungan kerja mulai hilang secara perlahan. Kemarahannya setiap keinginannya tidak tercapai mulai bisa ia kendalikan.


"Kenapa nggak bos ajak kencan aja sekarang. Mumpung baru jam sebelas," usul Roni tiba-tiba, "Kalau bioskopnya belum buka, sekalian bos sewa aja segedung. Pasti nyonya Rara akan terkesan."


"Bagaimana kalau saranmu meleset?"  Ivan menatap Roni dengan tajam.


"Yakinlah bos. Biasanya perempuan lebih suka dengan perhatian kecil...."


"Lagakmu itu Ron, seperti yang udah pengalaman saja."


"Biasalah,  sharing dengan almarhum Abbas ...."


"Baiklah Ron. Terima kasih atas sarannya," Ivan tersenyum, "Sekarang kamu boleh pergi."


Ivan membuka ponselnya dan melihat posisi sang istri masih di gerai. Senyum tipis tersungging di wajah Ivan. Muncul idenya untuk mengajak Khaira menghabiskan suasana sore dengan berjalan atau menonton. Hal yang sudah lama tak ia lakukan.


“Assalamu’alaikum ….” terdengar suara lembut membuat Ivan merasakan kedamaian.


“Segera bersiap ya. Aku ingin mengajakmu keluar?”


“Kemana?”


Ivan menutup telponnya. Ia tersenyum, pasti wajah kesal Khaira akan langsung tergambar di wajahnya karena ia langsung menutup telpon tanpa memberitahukan tempat yang akan mereka tuju.


Untung saja hari ini Khaira berpakaian semi formal, sehingga jika ingin keluar jalan-jalan pun tidak akan membuatnya salah kostum. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang baru pukul sebelas. Tumben  Ivan mengajaknya ke luar pikir Khaira saat merapikan riasan pada wajahnya. Tentu ia tidak ingin menampilkan muka kusut saat berjalan bersama suami. Ia harus selalu menampilkan yang terbaik, apalagi ia tau posisi suaminya sebagai pemilik perusahaan ternama.


Jauh-jauh hari Hasya telah mengingatkan dirinya untuk selalu menjaga penampilan. Jangan sampai penampilannya membuat orang lain merasa ilfil saat berada di dekatnya.


“Harus selalu sempurna, walau pun dengan orang yang tidak kita suka …. “


Ucapan Hasya masih terngiang-ngiang di telinganya. Bagaimana menjaga penampilan agar suami selalu betah dan tidak memandang perempuan lain. Dan yang tak kalah penting. Ahh ….


“Mbak, saya ada keperluan sebentar. Pamit ya ….” Khaira bangkit dari duduknya begitu melihat sang suami sudah berada di hadapan.


“Mau kencan ya?” Susi dengan sok taunya menatap Ivan dan Khaira bergantian.


Senyum tipis nyaris tidak kelihatan tersungging di wajah Ivan. Ia menatap pegawai istrinya sekilas, membuat Susi langsung menundukkan kepala.


“Huss, kamu itu.” Novi mencubit lengan Susi yang menbuatnya meringis.


Ivan langsung menggenggam jemari Khaira membawanya berlalu dari gerai. Khaira melirik penampilan suaminya yang hanya menggunakan kemeja putih yang dilipat hingga ke lengan tanpa memakai jas dan dasi.


“Kita mau kemana mas?” tanya Khaira sambil menatap Ivan sekilas saat keduanya sudah di dalam mobil.


Ivan yang membantu memasangkan seal belt-nya tak menyia-nyiakan kesempatan. Bibirnya langsung meraup bibir penuh yang begitu ia rindukan.


“Mas ihh!” Khaira cemberut dengan serangan dadakan yang dilancarkan  suaminya membuat ia kesulitan bernafas.


Ivan tersenyum, karena merasa puas dengan keinginannya. Ia menyeka sisa saliva di bibir Khaira dengan jemarinya.


“Selama menikah kita belum pernah berbulan madu. Aku pun belum sempat mengajakmu dinner romantis. Anggap saja kita berkencan,” ujar Ivan santai.


Khaira mengerutkan jidatnya. Ia memandang Ivan yang mulai memutar mobil meninggalkan parkiran mall mewah tempat gerai permatanya berada.


“Apa itu perlu?” Khaira merasa apa yang disebutkan suaminya adalah sesuatu yang tidak penting.


“Biasanya perempuan suka dengan kejutan istimewa,” Ivan berkata santai sambil menatap lekat Khaira yang kini mulai memandang ke depan.


Khaira menghela nafas pelan. Ia ingin berbicara kalau dirinya bukan perempuan seperti itu. Tapi ya sudahlah ….


Ivan segera membawanya memasuki Pacific Place yang di dalamnya terdapat restoran mewah. Turun dari mobil ia segera memutar untuk membukakan pintu bagi Khaira.

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan istrinya ia langsung menggandeng Khaira memasuki restoran mewah menuju private room.


“Kita makan siang dulu ya,” Ivan segera menarik kursi untuk tempat duduk sang istri.


Khaira merasa tersentuh atas perlakuan Ivan yang begitu perhatian bahkan untuk hal-hal yang kecil, dengan sigap Ivan melakukan untuknya.


Ketika makan siang sudah selesai, Ivan kembali menggandeng tangannya keluar dari restoran mewah tersebut. Khaira tidak banyak bicara.


“Kita salat dulu, setelah itu baru nonton.”


Khaira berhenti mendengar perkataan Ivan. Ia terkejut mendengar Ivan mengajaknya nonton di siang hari seperti ini. Ia sendiri merasa heran, masa ada bioskop yang sudah buka di jam sibuk seperti ini.


“Apa bioskopnya buka jam segini?” Khaira menatap Ivan dengan raut  bingung.


Ivan mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan mata. Istrinya memang perempuan rumahan, belum mengetahui  betapa uang bisa mengendalikan segalanya.


“Serahkan pada suamimu,” senyum Ivan tercetak dengan sempurna.


Khaira mencibir mendengar perkataan Ivan. Ia segera memutar badan menuju tempat wudu perempuan, dan segera berwudu karena azan Zuhur mulai berkumandang.


Setelah melaksanakan salat, Khaira terpaksa mengikuti langkah suaminya yang tetap tidak melepaskan genggaman tangannya. Saat membeli cemilan, Ivan mengambil apa saja yang ia inginkan, sehingga tangannya penuh bawaan.


Ia sekarang seperti merasakan orang yang jatuh cinta untuk pertama kali. Perasaan bahagia tampak di wajah tampannya. Apa lagi membayangkan adegan penuh kemesraan yang bakal terjadi di dalam gedung bioskop.


Keduanya memasuki ruangan bioskop yang sepi dan lengang. Ivan sengaja menyewa dan meminta pengelola agar memutarkan film yang memang khusus untuk dirinya dan Khaira. Ia rela merogoh kantong hanya untuk memenuhi keinginannya  berdua sang istri di acara kencan dadakan mereka.


“Kenapa hanya kita berdua mas?” Khaira melihat kiri dan kanan yang sepi dari penonton yang lain.


Ia juga melihat kursi penonton yang sangat berbeda seperti yang selama ini  ia dan rekan-rekannya kunjungi bahkan saat bersama almarhum Abbas.


Ivan mengulum senyum. Ia mengecup jemari istrinya dengan mesra. Hingga lampu gedung dimatikan keduanya langsung duduk. Kursi  penonton yang bisa diubah menjadi sofa bed membuat Ivan puas. Ia tak merasa rugi walau pun harus membayar 2 kali lipat dari harga normal.


Selama ia berhubungan dengan Sandra, mereka tidak pernah memiliki waktu kencan ke bisokop seperti ini. Biasanya makan malam romantis dengan hadiah mahal yang akan berakhir di atas ranjang. Tapi sekarang ….


Ivan ingin merasakan indahnya jatuh cinta dengan kencan orang biasa. Walau pun menyewa bisokop untuk berdua tidak bisa dikatakan kencan biasa. Ia teringat saat masa-masa Abbas masih bekerja bersamanya. Saat itu ia pengen Abbas mengantarnya ke apartemen Sandra, Abbas langsung menolak karena ia ingin pergi bersama kekasihnya.


“Maaf bos, saya akan keluar bersama Rara,” senyum Abbas mengembang, “Mau nonton bisokop.”


“Seperti ABG saja,” Ivan mencibir, “Biar bisa bermesraan ya?”


“Pinginnya seperti itu bos. Tapi kami keluar rombongan, mana mau Rara saya ajak keluar berduaan saja. Khawatir yang ketiganya ada setan.” Abbas tertawa kecil.


“Dasar perempuan kampungan …. “


Mengingat perkataannya yang begitu meremehkan perempuan yang sekarang menjadi istrinya membuat Ivan merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Ia menatap Khaira yang mulai fokus memandang layar yang mulai menayangkan film romantis Holywood.


Ia mulai merapatkan tubuhnya pada sang istri. Dengan santai Ivan mulai membaringkan tubuhnya dengan posisi tangan berada di pinggang Khaira.


Melihat adegan mesra yang terjadi di layar membuat hawa panas melingkupi diri Ivan. Ia bangkit dari tidurannya dan mulai melihat reaksi istrinya. Tapi yang dipandang tetap diam seribu basa, asyik dengan tontonannya bahkan camilan yang ada di pangkuannya juga lebih menarik dari apa pun yang ada di sekelilingnya.


Bukannya Khaira tidak tau  dengan gerak-gerik suaminya. Perasaannya pun berdebar tak menentu. Jantungnya mulai berdetak cepat. Saat film sudah setengah perjalanan dan mulai dihiasi dengan adegan romantis kedua pemeran utama, ia merasakan jemari Ivan yang melingkari pinggangnya.


Khaira berusaha tetap tenang atas tindakan suaminya. Melihat adegan kiss, perasaan Khaira semakin tidak nyaman.  Ia merasakan Ivan bangkit dan duduk semakin rapat dengannya.


Melihat  Khaira yang tetap diam tak berkutik, Ivan mulai merangkulnya dengan erat. Ia dapat melihat kegelisahan Khaira, karena ia mendengar helaan nafasnya yang memburu. Senyum  tipis terbit di wajah Ivan. Ia mulai menghujani pundak Khaira dengan kecupan-kecupan lembut.


“Masss ….”  karena  tidak tahan dengan kelakuan suaminya, Khaira langsung mengalihkan pandangan dari layar bioskop.


Saat Khaira mulai memprotes tindakannya dan menatap padanya, Ivan tak membuang kesempatan. Ia langsung menyergap telaga madu dengan penuh semangat. Tangan kanannya menahan tengkuk istrinya untuk tak memalingkan wajah darinya.


Karena bawaan suasana  tenang dan musik romantis yang menjadi sound track film  membuat Khaira terbawa perasaan. Ia membalas semua perlakuan suaminya dengan perasaan membuncah. Keduanya saling mereguk manisnya madu dan melum** satu sama lain. Perasaan cinta tercurah dalam ciuman manis yang begitu indah dan penuh kelembutan.


 

__ADS_1


***Maafkan author yang baru sempat up ya. Dunia nyata membuat author jumpalitan menghadapi kenyataan kerjaan menumpuk. Tapi demi reader kesayangan yang selalu memberi like\, komen dan vote-nya\, author usahain untuk up di hari Senin ini. Sayang reader semua ....***


__ADS_2