
Sementara itu Ivan yang masih berjuang mencarikan dokter terbaik untuk putra semata wayangnya mendapati kenyataan yang mengejutkan akan kondisi putranya selama jauh darinya.
Saat ini Claudia masih di apartemen. Sudah enam bulan mereka bermukim di sana, tapi belum ada perubahan signifikan atas kondisi tubuh Bryan yang semakin hari semakin kurus dan pucat.
Claudia pun merasa kesal, semenjak kejadian tempo hari ia tidak bisa mendekati Ivan, tubuhnya langsung bereaksi. Sehingga art-lah yang melayani Ivan selama mereka bersama di apartemen. Ivan pun lebih fokus merawat Bryan ketimbang memandang dirinya.
Ia pikir dengan membawa Ivan dan memisahkannya dari Khaira membuat ia bisa menggantikan posisi Khaira dan bisa mendapatkan kehangatan dari laki-laki masa lalunya. Tapi ternyata ia salah. Namun ia tetap memegang janji Ivan yang siap menikahinya jika Bryan sembuh dari penyakit, karena itu adalah janji Ivan pada putra semata wayangnya.
Selama bermukim di Jerman atas bantuan Edward, Ivan berhasil menemukan seorang dokter spesialis yang biasa menangani pasien yang mengidap penyakit Leukimia. Ia dan Edward kini berada di rumah sakit Helios, Berlin. Keduanya duduk di kafe setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani kasus Bryan
Rumah sakit Helios yang terletak di utara Berlin merupakan salah satu yang terbaik di Eropa. Pasien di seluruh dunia lebih memilih rumah sakit ini karena standar perawatan medis dan perawatan pasien yang tinggi.
“Kamu mengetahui bahwa selama ini bukan Claudia yang mengurus Bryan?” Ivan menatap Edward tak percaya setelah menemui dokter spesialis yang menangani putranya.
Edward mengunjunginya di rumah sakit, setelah Ivan beberapa hari terakhir ini membawa Bryan dan menempatkan putranya di salah satu paviliun perawatan anak, karena kondisi Bryan semakin menurun dari waktu ke waktu.
Edward mengangguk. Ia kasihan melihat Ivan yang kini kelihatan tidak terurus dengan wajah jenggotan dan kumisan serta postur yang lebih kurus.
“Mungkin pola pengasuhan Bryan di masa lalu yang membuatnya memiliki riwayat penyakit ini,” ujar Edward sambil menatap Ivan dengan prihatin.
“Apa lagi yang kamu ketahui tentang Claudia?” kejar Ivan penasaran.
Ternyata banyak hal yang disembunyikan Claudia tentang kehidupannya di masa lalu bersama sang putra.
“Saat berhubungan dengan George, dan mengetahui dirinya hamil putramu, Claudia ingin menggugurkan janin itu. Tapi ternyata Tuhan sayang dengan anakmu. George memutuskan Claudia, hingga ia melahirkan putranya dan menitipkan pada ibunya di pedesaan di Inggris. Sampai akhirnya ia menikah dengan Paul.”
Ivan tak percaya mendengar perkataan Edward. Ia hanya mengusar rambutnya berusaha menghilangkan rasa sakit di kepala karena cerita Edward.
“Saat Paul mengetahui bahwa Claudia tidak bisa hamil, akhirnya Claudia mengakui bahwa ia memiliki seorang anak denganmu. Paul tidak terima dan menceraikannya,” Edward kini menatap Ivan yang masih terpaku nanar menatap kejauhan.
Ivan benar-benar terkejut dan masih tidak percaya akan kehidupan kekasih masa lalu yang telah menelantarkan putranya.
“Ketika mengetahui kamu telah menikah dan bahagia dengan pernikahanmu, Claudia tidak terima. Ia ingin kamu bertanggung jawab atas segala pengobatan Bryan,” Edward berkata sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, “Tapi saat bertemu denganmu, keinginan Claudia berubah. Ia ingin kembali padamu dan memberikan keluarga yang utuh pada Bryan.”
Ivan terpekur mendengar cerita panjang lebar Edward. Tapi ia tak mempermasalahkan itu semua. Keinginannya hanya satu memiliki anak yang akan mewarisi semua harta yang ia miliki. Resiko apapun akan ia jalani selama Bryan bisa sembuh.
“Bagaimana dengan Rara?”
Ivan tak bisa berkata apa pun. Ia tidak ingin membahas istrinya, karena akan membuatnya semakin membenci Rara yang telah mendorong Bryan hingga terjatuh di dalam air. Nasib baik ia cepat kembali, kalau tidak maka ia tidak akan melihat putranya lagi.
“Jangan pernah sebut namanya di depanku,” Ivan berkata kasar.
Edward terdiam. Ia tak berani berkomentar panjang lebar mengenai kehidupan Ivan dan istrinya. Padalah ia tau, seberapa besar cinta dan perjuangan Ivan untuk mendapatkan cinta dari sang istri. Keduanya akhirnya terdiam beberapa saat.
“Apa kamu akan menikahi Claudia?” Edward tak bisa menghilangkan rasa penasaran akan hubungan ketiganya setelah beberapa waktu kemudian.
“Aku sudah berjanji pada Bryan, jika ia pulih seperti sedia kala, aku akan memberikan keluarga yang utuh padanya.”
__ADS_1
Edward teringat pada Khaira perempuan yang telah membuat Ivan kehilangan akal sehatnya, dan kini akan ia lepas untuk mewujudkan keluarga idaman bagi putra semata wayangnya.
“Aku akan selalu mendukung apa pun yang terbaik buatmu,” Edward menepuk bahu Ivan beberapa saat kemudian untuk menguatkan sahabatnya, “Semoga kamu kuat menjalani semua ini.”
“Thanks, Ed.”
Pukul 10 pagi, Ivan dikejutkan dengan panggilan dr. Phillip yang mengatakan bahwa kondisi Bryan dalam keadaan kritis.
Claudia sudah menangis di kursi tunggu. Ivan masih berusaha menenangkannya, karena ia tidak bisa menyentuh apalagi memeluk Claudia, hingga akhirnya dr. Phillip keluar dari ruangan dan menghampiri keduanya.
“Bryan ingin bertemu dengan anda Mr. Alexander .... “
Claudia ingin mengikuti langkah Ivan, tapi dr. Phillip menahannya, “Maaf Mrs ... Bryan ingin berbicara berdua dengan daddy-nya.”
Dengan perasaan berdebar Ivan melangkah mendekati bed yang kini dipenuhi alat yang menopang kehidupan Bryan.
“Daddy .... “ Bryan memanggilnya dengan pelan.
Dengan cepat Ivan menggenggam jemari putranya yang semakin memucat.
“Daddy, aku minta maaf .... “
Ivan menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha menahan kesedihan melihat putra semata wayangnya yang bertaruh nyawa melawan penyakit yang telah menggerogotinya sejak lama.
“Aku sangat ... menyukai aunty Rara ... dia baik ....” suara Bryan mulai terbata-bata. Pandangan matanya semakin sayu.
“Maafkan aku ... dan mommy .... “
“Bryan .... “ Ivan berusaha menghentikan perkataan putranya.
Ia melihat dr. Phillip yang sudah siaga bersama perawat yang mulai mempersiapkan jika terjadi situasi memburuk.
“Aunty Rara ... ti... dak mendorong...ku. Mommy ... yang melakukannya ... Mommy ... benci ... pada ... aunty....”
Ivan menatap Bryan dengan nanar. Kenyataan yang tidak ia duga sebelumnya. Tangannya merasakan kesejukan pada tangan Bryan yang berada dalam genggamannya.
“Aku mencintai ... daddy. Aku ... menyayangi ... aunty...”
Bayangan mata sendu wajah istrinya kini terasa melekat di pikiran Ivan. Tak terasa air matanya menetes.
“Daddy ... “ suara Bryan makin melemah.
Ia memberi isyarat agar Ivan mendekatkan telinga di bibirnya. Dengan cepat Ivan melakukannya.
“Jika ... daddy ... ber ...temu ... aunty... katakan ... pa ...da ...nya... aku ... menya...yangi...nya... dan ... ingin ... men...jadi ... a ...nak ...nya...”
Ivan hanya menganggukkan kepala dengan bibir terasa kelu.
__ADS_1
“Aunty ... sa ... ngat ... ba ... ik ... pa ...da ...ku. Di ... a ... sa... yang ... pa ... da ... ku.”
“Bry ... “ Ivan berusaha mencegah Bryan untuk berkata-kata, karena nafasnya mulai turun naik tak menentu berpacu dengan waktu.
“Di ...a ... a ...kan ... men ... ca ... ri ... gu ... ru ... ji ... ka ... a ...ku ... sem ... buh....” Nafas Bryan semakin cepat dengan jemarinya yang semakin dingin dalam genggaman Ivan.
Ivan menggelengkan kepala tidak sanggup mendengar perkataan Bryan. Air matanya tak mampu ia bendung. Kini ia menangis di hadapan putranya.
“Dad ... “ genggaman tangan Bryan terlepas dari tangannya.
Ivan jatuh tersungkur menyadari bahwa nyawa Bryan sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kini ia tak mempedulikan Claudia yang menangis meraung-raung atas kepergian Bryan. Putra semata wayang mereka yang ia harapkan bisa mengembalikan Ivan dan cintanya.
Pada saat terpuruknya, bayangan Khaira semakin kuat mengikat. Mengingat perkataan Bryan membuat perasaan Ivan semakin sedih. Bagaimana tidak, ia telah meyangsikan kejujuran sang istri hanya karena hasutan Claudia yang selalu menjelek-jelekkan Khaira di depannya.
Hingga prosesi pemakaman Bryan yang dihadiri Edward dan beberapa rekannya, Ivan tidak mempedulikan Claudia yang terus merapat padanya. Kini dirinya mulai merindukan kehadiran sang istri. Hanya Khaira yang bisa menenangkan di saat dirinya berada di titik terendah seperti ini.
Untuk menghibur Ivan yang sedang berduka, Claudia mengundang Edward dan beberapa teman yang ada untuk berkunjung ke apartemen mereka.
Ivan ikut terhanyut dalam minum-minuman yang memabukkan yang disediakan Claudia. Berbagai makanan dan anggur ia hidangkan untuk menjamu sahabat Ivan.
Merasa dikelilingi Edward dan beberapa sahabat lamanya cukup menghibur Ivan, hingga ia tidak merasa terpuruk sendiri.
Ivan merasakan dirinya berada di dalam lorong yang sangat gelap. Ia tidak tau arah. Berjalan berputar-putar mencari sinar terang yang akan membimbingnya keluar dari tempat gelap.
“Kenapa kamu jatuh ke tempat seperti ini?” sebuah suara bass yang sudah lama tidak terdengar di telinganya kini menyapanya di tengah kegelapan.
“Abbas?” Ivan langsung memanggilnya, karena ia tau itu suaranya, “Abbas, tolonglah aku keluar dari kegelapan ini.”
“Berjalanlah lurus. Di sana kau akan menemukan cahaya terang. Ikutilah jalan itu, kamu akan menemukan jalan untuk kembali,” suara itu kembali datang membimbingnya.
Dengan keyakinan penuh Ivan berjalan mengikuti suara yang menuntunnya hingga menemukan setitik cahaya yang lama kelamaan semakin terang, hingga akhirnya Ivan menemukan jalan yang membawanya menuju sebuah tempat dengan pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan.
Sebuah taman yang sangat indah dipenuhi dengan berbagai bunga cantik bermekaran disertai kupu-kupu yang terbang dengan riang.
Ivan terkejut karena ia tak sendiri. Ia melihat Abbas menggendong seorang bocah lelaki yang sehat dan menggemaskan. Abbas berdiri sambil mengamati seorang perempuan yang sedang hamil duduk sendirian di taman.
“Abbas .... “ Ivan memanggilnya perlahan.
Abbas memandang Ivan dengan cepat. Ia tersenyum penuh kehangatan, dan langsung menjabat tangan Ivan.
“Kembalilah sekarang. Kalau tidak, kau tidak akan pernah menemukan Rara kembali,” Abbas langsung berkata dengan serius.
“Apa maksudmu?” Ivan tak mengerti dengan perkataan Abbas.
“Teruslah berjalan ke kanan. Di sanalah jalanmu untuk kembali,” Abbas langsung mendorongnya.
Dengan terpaksa Ivan mengikuti perintah Abbas. Ia terus berjalan hingga menemukan belokan sebelah kiri dan kanan. Tanpa berpikir panjang Ivan langsung berjalan ke arah kanan hingga sampai di sebuah bangunan sederhanan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
__ADS_1