Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 146 (Menuju Malam)


__ADS_3

Ivan menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur king size di kamar suite tempatnya menginap. Bayangan Khaira tak bisa ia tepis. Begitu mudahnya perempuan muda itu memporak-porandakan hatinya, sementara sang pelaku begitu santai dan tidak mengacuhkannya seolah mereka tidak saling mengenal.


Tapi kenyataannya memang seperti itu. Selama ini ia dan janda Abbas memang tidak pernah berkenalan secara formal. Dan ia terlalu meremehkan penampilan janda sahabatnya itu. Apakah ia kini terkena karma ucapannya sendiri?


Apakah salah jika ia mencintai janda sahabatnya sendiri? Seperti kata Denis, jika menikahinya mampu menghapus rasa bersalah, kenapa ia tidak melakukannya? Dan itu bukan perbuatan dosa.


Ivan menatap langit-langit kamar hotel. Tatapan sayu mata bulat dengan senyum mengembang sempurna tampil memukau di hadapannya, membuatnya tak bisa memejamkan mata.


“Siapa laki-laki yang bersamanya tadi?” Ivan menggelengkan kepala tak percaya, “Begitu banyak laki-laki yang hadir di hidupmu, bahkan Denis salah satunya.”


Malam itu dilewati Ivan tanpa bisa memejamkan mata. Bayangan Khaira dalam segala suasana terus menemaninya sepanjang malam, hingga ia dapat memejamkan mata begitu melihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 4 pagi.


Khaira tertegun saat menikmati sarapan pagi bersama ketiga saudaranya. Ia tidak menyangka ketiganya akan kembali ke Indonesia sore ini.


“Mas, apa nggak bisa esok pagi?” ia menatap Ariq dan Ali penuh harap.


“Nggak bisa dek, ada masalah penting di perusahaan yang nggak bisa mas tinggalkan.”  Ariq menatapnya dengan raut penuh kekhawatiran.


“Apa aku ikut pulang sekarang?” Khaira menatap Ariq dan Ali bergantian.


“Jangan! Kamu harus melanjutkan mimpimu. Nasib orang lain sedang dipertaruhkan di tanganmu malam ini.” Rheina berusaha menguatkannya.


Ali menatap Khaira dengan lekat, “Mas yakin kamu mampu. Berjuanglah. Kamu pasti bisa.”


Ariq tercenung sesaat, rasanya ia pun tidak yakin melepas putri kesayangan keluarga mereka di belantara Paris walau hanya untuk satu malam ini.


“Aku akan menelpon rekanku Charles untuk segera mencarikan jasa yang memberikan pengawalan padamu mulai keberangkatan kami hingga kepulanganmu nanti.” Ariq mulai menghubungi rekan bisnisnya yang mempunyai klien yang menyewakan jasa body guard.


Akhirnya senyum terbit di wajah Ariq begitu yang ia inginkan terpenuhi. Ia menatap Khaira dengan perasaan lega.


“Saat keberangkatan kami, mulai sore ini selama 24 jam telah ada 2 orang body guard yang akan menjagamu selama masih berada di sini,” Ariq berkata dengan raut sedikit tenang, “Kalau perlu mas akan menghubungi rekanmu yang tadi malam, agar ia bisa mendampingimu selama mengikuti pagelaran nanti malam.”


Anwar yang kebetulan juga baru keluar dari kamar menuju kafetaria untuk menikmati sarapan pagi merasa senang karena melihat Khaira bersama ketiga saudaranya berada di tempat yang sama.


“Wah, kebetulan. Yang baru diomongin sudah muncul. Emang jodoh kali,” Rheina membisiki Khaira yang tidak mengerti dengan ucapannya.


“Anwar …. “ Khaira terkejut melihatnya kini berdiri di hadapan mereka.


“Assalamu’alaikum, boleh saya ikut gabung sarapan di sini?” suara Anwar yang bernada ramah langsung mendapat sambutan hangat dari semuanya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Mereka menjawab dengan kompak.


“Silakan duduk,” Ariq berdiri untuk mempersilahkan Anwar duduk bersama mereka.


Akhirnya percakapan penuh keakraban terjadi diantara mereka. Anwar merasa bahagia, karena kehadirannya  sangat diistimewakan saudara Khaira.


“Kami akan kembali ke Indonesia sore ini,” Ariq mulai berkata pelan saat menyudahi sarapannya.

__ADS_1


“Saya mungkin besok siang akan kembali ke Jepang. Seharian ini akan melihat-lihat tempat yang belum sempat saya kunjungi,” Anwar berkata dengan santai.


“Wah kebetulan, kenapa nggak barengan Rara?” Rheina mulai ingin memadukan keduanya supaya lebih akrab.


“Saya sih seneng aja kalau ada yang temenin,” Anwar melirik Khaira dengan penuh arti, “Agnes dan Beno sejak tadi pagi langsung berangkat honeymoon ke Bali. Apa kamu sempat bertemu mereka?”


“Agnes sempat chat aku mengatakan bahwa mereka akan menginap di Bali seminggu.”


Anwar mengangguk, “Benar. Beno juga mengatakan itu saat tadi malam. Bagaimana rencanamu hari ini. Apa kamu ingin  keluar bersamaku?”


“Maaf saya nggak bisa. Nanti malam akan menghadiri undangan.” Khaira berusaha menolak dengan halus. Ia tidak ingin Anwar menyalah artikan kedekatan mereka selama beberapa hari ini.


“Nggak seru kamu, de.” Rheina menatapnya dengan cemberut.


Anwar tertawa lirih mendengar penolakan Khaira, “Masih ada lain waktu. Saya biasa menikmati kesendirian.”


“Apa kamu nggak perlu teman untuk nanti malam de?” Ariq menatapnya dengan lekat, “Mas lebih yakin kalau kamu ada yang mendampingi.”


“Ada acara apa nanti malam?” Anwar jadi penasaran.


“Udah de, kamu minta temeni Anwar aja, biar mas-masmu pada tenang ninggalin kamu di sini.” Rheina berkata dengan santai,” Gini lho Anwar …. ntar malem kan si ade nih ada undangan menghadiri Paris Fashion Week di sini. Berhubung kita udah mau go sore ini, mungkin kamu bisa jadi patner si ade ….”


Anwar menatap Khaira, “Kamu nggak keberatan kalau aku temani?”


“Boleh.” Khaira menjawab cepat, “Kamu boleh jemput aku setelah Isya’ waktunya juga jam delapan malam.”


“Saya sangat menghargai undangan ini.”


Setelah melaksanakan salat Zuhur bersama akhirnya Khaira mengantar ketiga saudaranya hingga sampai di lobby hotel. Ia merasa sedih karena ditinggal. Tapi mengingat kata-kata Rheina, ia harus berjuang karena nasib pengrajin berlian dipertaruhkan di tangannya.


“Besok kan kamu akan kembali ke Indonesia  menyusul keluargamu.” Anwar menyadarkan kekalutan Khaira.


“Maafkan aku terlalu terbawa suasana.” Khaira berkata dengan lirih.


“Apa kamu ingin jalan denganku sebentar? Atau langsung beristirahat.” Anwar memandangnya penuh harap.


“Maafkan aku,” Khaira menatap Anwar sekilas, “Aku akan beristirahat untuk persiapan  nanti malam.”


“Jam berapa aku harus menjemputmu? Aku sendiri tidak tau kamu menginap di kamar nomor berapa?”


Dua orang bule tegap menghampiri keduanya   membuat  Khaira menghentikan pembicaraannya dengan Anwar.


“Maafkan kami,” dengan bahasa Inggris aksen Perancis keduanya menyapa Khaira yang masih duduk bersama Anwar di sofa lobby hotel.


“Ya …. “ Khaira menatap keduanya dengan santun sambil menyunggingkan senyum tipis.


“Kami berdua diperintahkan untuk mengawal  Miss Khaira selama menginap hingga kembali ke Indonesia. Dan kami harus menjamin keamanan dan kenyamanan anda selama di sini.”

__ADS_1


“Terima kasih Mr …. “


“Joe dan Charles.” Keduanya serempak mengulurkan tangan hendak menyalami Khaira.


Khaira menangkupkan kedua tangannya. Ia melihat sosok tegap lelaki bule itu. “Perkenalkan ini teman saya Anwar.”


Kedua bule itu menyambut uluran tangan Anwar sambil tersenyum menganggukkan kepala dengan penuh hormat.


“Saya ingin kembali ke kamar sekarang,” Khaira menatap ketiga pria dewasa di hadapannya.


“Apa aku boleh mengetahui kamarmu? Nanti malam aku akan menjemputmu,” ujar Anwar penuh harap.


“Baiklah jika kamu ingin mengetahui kamarku. Mari ke atas.” Khaira mengajak Anwar melihat kamar tempat ia menginap di ikuti  Joe dan Charles.


Dengan santai mereka berjalan menuju lift. Anwar dan Khaira masih terlibat percakapan santai.


“Yang, ku mohon berilah kesempatan,” Sandra nekat mengikuti Ivan yang baru saja menemui Edward.


Ivan diam tak bergeming. Ia tak peduli dengan rengekan Sandra yang terus mencoba menarik perhatiannya. Ia melihat ponselnya membaca email yang dikirim Roni.


Karena di dalam lift hanya mereka berdua, Sandra menjadi nekat. Ia merapatkan tubuhnya memeluk Ivan dan langsung mencuri ciuman pada Ivan yang terpaku sesaat, karena tidak menyangka Sandra akan berbuat nekat seperti itu.


Pintu lift terbuka, Khaira terbelalak melihat pemandangan di depannya. Anwar juga menyaksikan kejadian itu dengan body guard yang mengikuti mereka.


Dengan kasar Ivan mendorong Sandra. Ia merasa jijik atas perbuatan Sandra. Apalagi disaksikan oleh seseorang yang telah meracuni pikirannya belakangan ini.


“Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu,” Ivan berkata dengan penuh kemarahan.


Ia menyadari bahwa hanya mereka berdua di dalam lift yang akan membawa Ivan kembali ke kamar president suitenya..


“Aku akan melakukan apa pun asal kau mau menerimaku kembali,” Sandra berkata dengan memelas. Ia masih berusaha merayu Ivan.


“Sudah terlambat. Kau sudah tidak berarti bagiku.”


“Tidak semudah itu kau membuangku. Hanya aku yang bisa memuaskanmu.” Sandra nekat mendekatkan diri kembali pada Ivan.


“Setelah keluar dari lift ini  kariermu akan berakhir. Camkan itu. Ucapanku tidak main-main.” Ivan menatap Sandra dengan penuh amarah.


Sandra menggeram dalam hati. Ia  merasa  Ivan hanya mengancamnya. Ia tau, sampai saat ini Ivan belum mempunyai kekasih. Dan Sandra sangat yakin bahwa Ivan masih mencintainya.


“Akan ku buat kau bertekuk lutut malam ini,” batinnya dalam hati dengan seringai licik di bibirnya saat keluar dari lift memandang Ivan yang berjalan meninggalkannya menuju


Saat Ivan menuju kamar tempatnya menginap. Ia melihat Khaira masih berbincang di lobby depan kamarnya bersama Anwar.  Ivan sudah mengetahui bahwa posisi kamar mereka berdekatan, saat ia melihat Khaira berjalan bersama Rheina.


Ia terkejut melihat dua orang lelaki tegap yang berdiri di depan kamar inap janda Abbas tersebut.


“Wah, sekaya apa lelaki itu sehingga menyewa body guard hanya untuk menjaga seorang janda.” Ivan tersenyum sinis menyaksikan apa yang ia lihat.

__ADS_1


Tapi tak ayal rasa penasaran membuat Ivan ingin memandang wajah ayu tersebut. Tapi apa yang ia dapat senyum meremehkan tampak tersungging di wajah yang membuatnya susah tidur semalaman.


Dukung, like, kritik, saran selalu aku tunggu. Sayang semua ....


__ADS_2