Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 178 S2 (Ujian Pertama Setelah Menikah)


__ADS_3

Khaira hanya diam mendengarkan cerita ipar-iparnya saat ia jatuh pingsan di ballroom. Ia tidak menceritakan apa yang ia alami dan ia lihat, cukup ia sendiri yang merasakan.


“Nggak nyangka ya  Ivan yang ku kenal dingin bisa seromantis itu,” Rheina mulai melebih-lebihkan ceritanya di depan iparnya.


“Emang mbak kenal dengan Ivan sebelumnya?” rasa penasaran membuat Hasya bertanya dengan serius pada Rheina.


“Kenal dekat sih ngga, tapi kami sempat satu kampus. Semester berikutnya Ivan pindah ke luar negeri,” Rheina menjawab dengan cepat, “Dari dulu tuh ia emang banyak penggemar.”


“Termasuk kamu juga kali,” sela Ira cepat.


“Nggak lah ya.” Rheina berkata cepat. Ia khawatir dicurigai iparnya, “Yang ku tau, saat di luar negeri ia sering gonta-ganti pasangan.”


“Hei, nggak boleh gibahin orang,” potong Ira, “Apa lagi ia sekarang sudah jadi keluarga dan saudara kita.”


Khaira hanya terdiam mendengar percakapan yang terjadi antara mereka. Ia malas menanggapi. Ia termenung mengingat sosok Abbas yang berdiri di pentas. Khaira menggelengkan kepala tak percaya bahwa itu hanya halusinasinya.


“De, kamu dari tadi tidak ada makan. Ini mbak bawain dari hotel,” Hasya segera membuka menu rice box with beef blackpepper dan  rice box with salmon metayaki.


Mencium aromanya membuat Khaira langsung mual, “Aku nggak mau makan itu.”


“De, kasian bayimu. Cobain dikit ya …. “ Hasya masih mencoba membujuk Khaira.


“Nggak mau,” Khaira langsung menutup hidungnya, berusaha menahan agar tidak muntah. Ia tidak kuat mencium aroma bawang.


Ivan baru kembali sambil membawa paper bag dua kantong.  Ia meminta Roni membawakan baju ganti, karena ia yakin malam ini akan menginap di rumah sakit. Saat di perjalanan pulang tadi ia melihat nasi goreng kambing. Aromanya begitu menggugah selera, dengan cepat Ivan membelokkan mobilnya dan memesan dua porsi.


“Ada masalah mbak?” Ivan melihat istrinya yang cemberut. Ia mendekat melihat Hasya yang kembali membungkus menu hotel yang sengaja ia bawakan.


“Ade nggak mau makan, kasian kan seharian tadi juga mbak liat hanya makan sedikit.” Hasya mengadu pada Ivan.


Dengan cepat Ivan membuka paper bag yang lebi kecil dan mengeluarkan nasi goreng yang aromanya menggugah selera, dan menyusunnya dengan rapi. Tampak binar mata Khaira melihat menu yang terhidang di nakas samping bed di mana ia berbaring.


Ivan berusaha menyembunyikan senyumnya saat melihat keantusiasan Khaira melihat menu yang tersaji di dalam box cantik.


“Ade pingin makan nasi goreng ini?” Hasya jadi penasaran melihat Khaira yang tak mengalihkan pandangan dari kotak yang tersusun di atas nakas, karena Ivan  buru-buru ke kamar mandi.


Mengingat Ivan yang membelinya, selera makan Khaira langsung hilang. Ia teringat foto-foto topless yang ditunjukkan Sandra saat bersama Ivan membuatnya jadi jijik.

__ADS_1


“Mbak, suruh ia keluar. Aku ngga ingin melihatnya.” Khaira kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi muka.


Hasya jadi bingung dengan tingkah adiknya. Barusan ia senang dengan menu yang dibawakan suaminya, tapi sekarang malah mengusirnya keluar.


Saat keluar dari kamar mandi Ivan tampak lebih segar karena sudah berganti pakaian santai, dengan celana tanggung dan kaos polos.


Rheina dan Ira saling berpandangan melihat adik ipar mereka. Junior tidak mengomentari pemandangan di depannya. Ia sibuk chatting dengan Afifah yang masih menginap di rumah orang tuanya.


“Jika mbak ingin pulang silakan. Hari  sudah larut juga,” Ivan melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Ia melirik ke tempat tidur melihat Khaira menutupi seluruh tubuh bahkan wajahnya dengan selimut. Membuat Ivan menatap Hasya dengan kening berkerut.


“Mba nggak tau apa yang buat ia ngambek. Tiba-tiba moodnya berubah,” Hasya mengangkat bahu, “Mungkin kamu membuatnya kecewa hari ini.”


Ivan terdiam. Ia tau kesalahan yang telah ia lakukan. Tapi semua adalah masa lalu.  Ia tidak bisa mengulangnya kembali. Yang dapat ia lakukan hanyalah  bertobat dan berjanji tidak akan pernah mengulangi kenakalannya di masa lalu. Sekarang saatnya menatap masa depan  dengan lebih baik.


Begitu Ariq dan Ali datang, sempat terjadi percakapan sebentar. Hingga akhirnya semuanya pamit untuk kembali ke hotel yang telah disewakan khusus malam ini.


Ivan tau Khaira belum tidur. Ia duduk di samping bed tempat tidur dan mendengar deru nafas Khaira yang terdengar berpacu. Senyum kecil terbit di bibir Ivan. Ia meraih box nasi goreng yang masih terasa hangat.


Tiada lagi deru nafas yang memburu. Suasana terasa hening. Ivan melihat tidak ada pergerakan di atas bed.


“Aku tidak ingin kau menyakiti bayiku. Sekarang makanlah, cukup kau membenciku. Tapi jangan bayi itu. Dia tak berdosa.” Ivan berkata sambil menghela nafas. Ia harus memiliki stok kesabaran yang banyak seperti yang dikatakan Ariq jika ingin meraih simpati istrinya.


Dengan pelan Ivan menarik selimut yang menutupi wajah Khaira. Rasanya ia ingin memeluk tubuh padat istrinya yang kini berbaring membelakanginya dengan bahu turun naik menahan isak tangisnya.


Ivan membelai rambut Khaira yang tidak tertutup hijab karena sudah terlepas saat membuka gaun pengantinnya tadi.  Tidak ada perlawanan dari Khaira, ia hanya diam dengan semua perlakuan Ivan sambil menggigit bantal agar suara isaknya tidak terdengar.


“Aku tau kesalahanku mungkin tidak bisa kau maafkan,” Ivan berkata pelan, “Aku hanya ingin menjalankan wasiat Abbas. Dia ingin aku menjagamu, memberikan kebahagiaan padamu. Hingga kau bisa melupakan semua tentang dirinya.”


Khaira kini tak bisa menahan isaknya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Abbas, justru dengan kehadiran Ivan yang sifatnya bertolak belakang dengan Abbas membuatnya semakin berat melepas semua tentang Abbas.


“Kriuk … kriuk …. “ suara perut terdengar cukup nyaring di ruangan VVIP yang hening itu membuat Ivan tak bisa menahan senyumnya.


Rasa lapar Khaira hilang berganti rasa malu. Ia tidak tau harus ditaro di mana mukanya. Perutnya tak bisa diajak kompromi. Dan keinginannya untuk menikmati nasi goreng yang dibeli Ivan begitu besar.


“Glek!” Khaira menelan ludah.

__ADS_1


Dengan cepat Ivan bangkit dari kursi dan menyembunyikan senyumnya dengan cepat. Ia meraih box nasi goreng yang mulai dingin. Tanpa berbicara dengan Khaira ia segera mengatur bed dengan menaikkan posisi sandaran.


Akhirnya Khaira merubah posisi tubuhnya yang awalnya miring karena sandaran bed mulai tegak membuatnya tidak nyaman. Kini ia  duduk dengan menyandar pada bantal. Dengan mata sembab dan tangan kanan yang masih terpasang jarum infus.


Kini Ivan duduk di samping bed dan mulai mengisi nasi goreng disendok. Ia segera mengulurkan sendok yang telah terisi ke bibir Khaira.


“Aku bisa sendiri,” dengan cepat Khaira menolak. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan lelaki batu yang kini telah jadi suaminya.


“Dengan posisi tangan kanan diinfus hanya membuang waktu saja,” Ivan mulai berkeras. “Jika kau tidak mau makan, aku akan melakukan apapun yang ku mau.”


Ia tau diancam sedikit saja Khaira pasti akan menurut apalagi dengan kondisinya yang kini tidak berdaya,  “Jangan pikir aku menyuapimu, tapi aku menyuapi anakku yang ada di rahimmu.”


Melihat mata hitam yang menatapnya penuh intimidasi membuat Khaira risih, akhirnya dengan pasrah ia membuka mulutnya tapi dengan pandangan ke arah lain.


Karena aromanya yang mengundang selera, tanpa sadar Ivan juga menikmati nasi goreng dan memasukkan ke mulutnya membuat Khaira mendelik kesal.


“Maaf, nasi gorengnya enak,” Ivan akhirnya tertawa kecil menyadari nasinya telah habis, “Jangan khawatir, aku membeli dua box.”


Saat Ivan kembali menyuapinya Khaira langsung menolak. Ia merasa kenyang sekarang. Tanpa berkata apa-apa ia meraih botol air putih di samping tempat tidur dan meminumnya hingga tandas. Khaira segera memejamkan mata sambil bersandar di bantal. Ia masih enggan berbicara dengan Ivan.


Menyadari Khaira yang sudah memejamkan mata dan menutupi wajahnya dengan selimut membuat Ivan paham. Ia kembali mengembalikan sandaran ke posisi normal.


Sementara itu di kamar hotel Grand Horisson Ariq, Ali, Fatih dan Hasya masih membahas fofo-foto asusila Ivan di masa lalu.


“Nggak nyangka ya mbak,” bisik Rheina pada Ira, “Kasian ade mendapat bekas orang.  Tak ku sangka tuan Ivan masih terlibat kisah masa lalunya.”


“Huss!” Ira mencubit lengan Rheina, “Setiap orang punya masa lalu. Semoga Ivan segera berubah dan menepati janjinya untuk membahagiakan ade.”


“Iya sih.” Rheina berkata sambil manggut-manggut, “Nggak nyangka juga ya  di hari pertama pernikahan ade dan Ivan sudah mendapat ujian seberat ini. Semoga setelah ini, keduanya dapat saling mengisi dan menguatkan.”


“Aamiin …. “


Masing-masing akhirnya berpisah di depan pintu kamar yang telah disewa khusus untuk keluarga selama perayaan pernikahan antara Khaira dan Ivan.


 


Mana nih vote, kritik, dan sarannya agar author lebih semangat lagi . Sayang untuk semua ....

__ADS_1


__ADS_2