Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 217 S2 (Terasa Ada Yang Berbeda)


__ADS_3

Ivan masih menandatangani laporan bulanan  yang sudah tersusun di atas meja kerjanya. Setelah beberapa berkas selesai, ia mulai membaca beberapa kontrak kerja sama yang  baru saja masuk.


Ketukan di pintu menghentikan aktivitasnya.  Roni berjalan dengan cepat dan mendekat ke arahnya.


“Selamat siang, bos.”


“Ada apa Ron?” Ivan merasa heran karena melihat Roni sangat terburu-buru.


“Di depan ada perempuan bule yang nekat bertemu bos. Dan dia sangat memaksa sekali.”


Ivan dengan cepat berdiri. Ia tidak yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya.  Roni mengikuti langkah Ivan keluar dari ruangan.


Ivan terkejut. Ia tidak percaya Claudia berani datang menemuinya di perusahaannya, sedangkan ia masih memikirkan cara lain untuk membantu pengobatan putra mereka tanpa harus bertemu langsung Claudia.


“Honey …. “ Claudia masih memanggil nama kesayangan saat mereka masih bersama di masa lalu.


“Sorry Claudia,” dengan cepat Ivan memotong perkataan Claudia.


Ia merasa tidak nyaman dengan pandangan Gisel dan beberapa staf yang menatap mereka dengan sorot ingin tau.


“Mari masuk ke dalam ruanganku,” dengan terpaksa Ivan mengajak Claudia ke dalam ruangannya. Ia tidak ingin stafnya mendengar pembicaraan peribadi mereka.


Claudia memasuki ruangan kerja Ivan dengan penuh kekaguman. Selama ia bekerja sebagai staf, baru kali ini ia melihat ruang kerja yang sangat elegan dan mewah dipenuhi furnitur berkelas dan penataan yang sangat menarik.


“Silakan duduk,” ujar Ivan datar.


“Tidak ku sangka kau menjadi seseorang yang sangat sukses,” Claudia menatapnya penuh kekaguman.


“Aku hanya meneruskan usaha almarhum papa,” jawab Ivan singkat.


Ia tidak ingin berlama-lama meladeni Claudia di dalam ruangan. Ia tau, tidak baik menjalin hubungan dengan sang mantan. Ada hati yang harus ia jaga.


“Apa tujuanmu menemuiku kemari?” Ivan tak ingin terlalu lama berprasangka. Ia ingin Claudia mengatakan langsung maksud dan tujuannya bertemu dirinya.


“Apa kamu tidak ingin mengetahui kabarku? Bukankah sebaiknya kita bernostalgia, mengenang romantisme masa lalu yang pernah terjadi …. “ Claudia mulai berdiri bermaksud mendekati Ivan.


Melihat sosok tegap Ivan yang tampak serius serta kematangan dan kedewasaannya, membuat ketampanannya berkali  lipat di mata Claudia.


Di luar dugaan Ivan, Claudia merangkulnya dan berusaha duduk di pangkuannya.

__ADS_1


“Aku sangat merindukanmu honey …. “ desah Claudia berusaha merangkul leher Ivan.


Dengan cepat Ivan menolak Claudia dan berdiri dari kursinya. Ia kesal atas kekurang ajaran Claudia yang tidak tau malu berbuat senekad itu padanya.


“Jangan melewati batas Claudia!” Ivan menatap Claudia tajam, “Aku sudah menikah.”


“Apa bedanya? Semua orang biasa melakukan itu. Aku siap menjadi simpananmu,” Claudia masih nekad mendekati Ivan yang kini berdiri bercekak pinggang dengan perasaan gusar.


“Kau tau, perasaanku tidak sama seperti yang dulu. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Aku sangat mencintai istriku.”


Claudia merasa kesal atas sikap Ivan yang begitu keukeuh tak tergoyahkan. Kecemburuannya terhadap perempuan yang telah berhasil memiliki Ivan seutuhnya begitu besar.


“Aku tau istrimu tidak bisa memberimu keturunan. Apa kamu tidak menginginkan putramu?” akhirnya Claudia mengalah dan merendahkan suaranya.


Ia tidak ingin Ivan menolaknya secara frontal. Ia akan merubah strateginya untuk membuat Ivan melihat padanya dengan senjata putra mereka.


Claudia membuka tas dan  mengeluarkan amplop besar, langsung meletakkannya di atas meja Ivan.


“Lihatlah putra kita, namanya Bryan Alexander. Umurnya sekarang 9 tahun.”


Rasa penasaran membuat Ivan mengambil amplop besar  yang diletakkan Claudia di atas mejanya. Dengan cepat ia membuka amplop tersebut.


Foto-foto yang ada memperlihatkan pertumbuhan Bryan sejak berumur satu tahun hingga kini ia berumur 9 tahunan. Perasaannya tersentuh begitu melihat foto Bryan yang terbaring di rumah sakit dengan selang infus yang menggantung.


“Apa yang terjadi pada putraku? Dan di mana dia sekarang? Aku ingin menemuinya,” suara Ivan mulai melemah melihat keadaan Bryan yang tampak pucat berbaring di bed rumah sakit.


Dalam hati Claudia merasa senang mendengar Ivan yang mulai mengakui keberadaan putranya. Ia akan memikirkan langkah selanjutnya agar Ivan segera meresmikan hubungan mereka. Tujuannya hanya satu memberikan keluarga yang utuh pada Bryan.


“Sejak satu tahun yang lalu Bryan didiagnosis mengidap Leukimia,” mata Claudia mulai berkaca-kaca saat menceritakan kondisi kesehatan Bryan yang tidak mengalami perubahan selama satu tahun terakhir, “Sekarang ia menjalani pengobatan di Concord International Hospital Singapura. George lah yang merekomendasikan rumah sakit kanker itu.”


Ivan merasakan kesedihan yang tiba-tiba mengusik perasaannya. Bagaimana bisa ia membiarkan putra semata wayangnya berjuang menghadapi penyakit di usia yang sangat belia.


“Sudah berapa lama dia dirawat di Singapura?” timbul penyesalan di hati Ivan karena terlambat mengetahui bahwa putranya mengidap penyakit yang mematikan, walau pun tidak sedikit yang sembuh karena semua sudah menjadi takdir ilahi.


“Tiga bulan yang lalu,” Claudia menunduk sedih.


Ivan mulai mengaitkan dengan cerita George. Ia yakin perceraian Claudia dan suaminya terjadi bertepatan dengan kepergian Claudia dan Bryan ke Singapura.


“Siapa yang menemaninya selama perawatan?” Ivan semakin penasaran dengan putranya.

__ADS_1


“Ada seorang nanny bernama Mercy. Aku sudah membayarnya sejak Bryan di diagnosis mengidap Leukimia …. “


Ivan terpekur. Ia tau, penyakit yang diderita putranya adalah sejenis kanker. Dan proses penyembuhannya memakan waktu yang tidak sedikit.  Ia akan membiayai seluruh pengobatan Bryan, karena hanya dialah putra yang ia miliki dan menjadi pewarisnya di masa depan.


“Siapa nama dokter yang menanganinya selama di Singapura?” Ivan tidak ingin menundanya lagi, “Aku ingin menghubunginya dan memberikan perawatan terbaik demi kesembuhan Bryan.”


“Dr. Leslie Chang, Sp.B.Onk,” perasaan Claudia semakin lega mendengar ucapan Ivan yang bersungguh-sungguh akan memperjuangkan kesembuhan putra mereka.


“Aku akan menemuinya dan memberikan perawatan terbaik untuknya,” ujar Ivan kemudian.


Senyum Claudia langsung terkembang. Ia percaya perkataan  Ivan yang akan memberikan perawatan terbaik pada putra mereka. Ini baru langkah awal. Ia yakin, jika Bryan berada di sisinya, maka akan mudah baginya menjauhkan Ivan dari istri kesayangannya.


Ivan termenung saat pagi itu sebuah chat masuk ketika dia baru saja selesai mandi. Khaira sedang mempersiapkan pakaian yang akan ia gunakan dan masih menunggunya untuk berpakaian. Ia berjalan menuju jendela kamar dan membalas chat yang masuk dengan wajah tegang.


Khaira merasa heran melihat Ivan yang berjalan menjauh sambil membuka ponsel. Perasaan Khaira sudah tidak nyaman, apalagi beberapa hari ini ia melihat beberapa nota berobat yang tersimpan di saku jas suaminya dengan nominal yang sangat besar. Khaira tidak berani bertanya, ia hanya menunggu keterus terangan Ivan.


Setelah menutup ponselnya Ivan kembali mendekati Khaira dan segera merentangkan lengannya untuk memakai kemeja biru muda yang telah disiapkan.


“Siang ini aku akan berangkat ke Singapura bersama Hari,” ujar Ivan begitu pakaiannya sudah terpasang sempurna.


“Berapa hari mas di Singapura?” Khaira mencoba mengungkit kepergian Ivan, karena selama ini jika bepergian kemana pun Ivan pasti akan mengajaknya.


“Sekitar dua hari.”


Khaira merasa sedih karena Ivan terlihat biasa-biasa saja setelah mengakhiri perbincangan mereka. Biasanya kalau Khaira tidak  ikut, ia akan bertanya tentang oleh-oleh yang diinginkan istrinya.


“Maaf  malam nanti aku tidak bisa menghadiri acara ulang tahun Babby A, karena ada keperluan,” ujar Ivan setelah kemejanya terpasang dengan sempurna, “Sampaikan salamku untuk mas Valdo dan mbak Hasya serta keluarga yang lain.


Khaira mengangguk pelan. Ia enggan menjawab perkataan suami. Perasaannya tiba-tiba mendadak melow mengetahui sang suami mulai  menunjukkan gejala sikap yang berbeda.


Memang Ivan selalu pulang tepat waktu dan tidak pernah lewat jam tujuh malam. Tetapi terkadang tengah malam suara ponsel membuatnya bangun dan berbicara berjam-jam di ruang kerjanya.


Hati istri mana yang tidak curiga?


Tapi Khaira masih berusaha menahan rasa ingin taunya. Ia tidak ingin mencurigai Ivan. Yang dapat ia lakukan hanya berdoa kepada sang Maha pembolak-balik hati untuk menetapkan hati suaminya agar tetap menjaga keutuhan rumah tangga mereka. Ia tidak ingin berprasangka buruk, sebelum ia melihat dengan mata kepala sendiri.


 


*** Ujian pernikahan mereka akan segera dimulai. Tapi author pun nggak akan membuat drama  yang berlarut-larut\, khawatir kita suedihnya berjama'ah.  Tul khan .... Dukung terus\, kritik\, saran dan vote-nya ya\, biar author semakin semangat untuk Up\, up\, dan up. Sayang reader semua ....."

__ADS_1


__ADS_2