Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 157 S2 (Dapat Menantu Bonus Cucu)


__ADS_3

Khaira merasa kesal dan sedih atas pelecehan yang kembali dilakukan Ivan terhadapnya. Ia menangis sejadi-jadinya di kamar saat mengingat perlakuan Ivan padanya setengah jam yang lalu, dan kini bukan hanya ia sendiri tapi orang lain juga melihatnya.


Ia menangis teringat kembali dengan sosok Abbas yang begitu melindunginya, dan tidak pernah berbuat kurang ajar padanya. Bagaimana mungkin, lelaki yang mengaku bahwa dia teman dekat almarhum tapi tidak menghormati dirinya malah melecehkan dirinya, yang saat ini Khaira masih trauma dan takut jika berada di dekatnya.


Khaira menepuk dadanya yang kembali sesak. Tidak ada tempat untuk ia berbagi kesedihan. Ia tidak ingin membuat saudaranya merasa cemas akan nasibnya. Ia sanggup menahan penderitaan seorang diri. Ia harus kuat.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Khaira segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, tak lupa ia memanjatkan doa buat Abbas agar mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Karena kelelahan sejak pagi membantu persiapan untuk acara pernikahan Junior kini Khaira merasa mengantuk dan segera merebahkan diri di tempat tidur. Tak lama kemudian ia pun terlelap dengan pulas.


Di saat tengah malam Khaira terbangun. Tiba-tiba ia ingin menikmati nasi goreng mang Kasim yang berjualan di perempatan depan rumah. Padahal selama ini ia paling tidak suka mencium aroma bawang putih yang selalu membuatnya merasa sesak.


Khaira bangkit dari pembaringan dan membuka pintu depan untuk menemui pak Asep penjaga pos depan rumah untuk membelikan apa yang diinginkannya.


“Ada apa non?” pak Asep merasa heran melihat nona rumah menemuinya di saat semua penghuni rumah sudah melayang di alam mimpinya masing-masing.


“Tiba-tiba saya pengen makan nasgor mang Kasim pak. Bisa tolong belikan buat saya, untuk pak Asep juga,” Khaira mengulurkan uang lima puluh ribuan ke tangan pak Asep.


“Wah, non Rara kaya orang ngidam aja…. “ pak Asep tertawa sambil menyambut uang dari tangan Khaira.


“Hamil …. ?” Khaira tercekat.


Ia kembali ke rumah dengan perasaan berkecamuk. Apakah yang dikatakan pak Asep itu benar? Bagaimana jika ia memang benar hamil? Apa yang harus ia lakukan?


Khaira terpaku sedih menghadapi nasi goreng yang telah terhidang di hadapannya. Keinginannya untuk menikmati nasi goreng yang ada langsung sirna mengingat perkataan pak Asep. Ia kembali ke kamar dengan perasaan sedih.


Kembali Khaira menangis. Betapa menyedihkan dirinya setelah Abbas tiada. Pola asuh dan perlindungan yang berlebihan dari keluarga dan saudaranya membuat Khaira tidak mengetahui kejamnya dunia luar, dan kini ia sendiri telah mengalami itu semua.


“Ya Allah apa yang harus ku lakukan jika benar-benar hamil?” Khaira bersimpuh di samping tempat tidurnya sambil memeluk kedua lutut.


Kini ia ketakutan, tidak tahu harus berbicara dengan siapa? Matanya nyalang tidak bisa tidur memikirkan rencana yang akan ia lakukan. Dengan cepat Khaira mengambil wudhu melaksanakan salat tahajud, kemudian ia lanjutkan dengan mengaji. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan pikirannya. Hanya kepada Rab-Nya sang pemilik hati, kepada-Nya lah ia akan mencurahkan semua beban yang terasa menghimpit dada membuatnya tidak bisa bernafas dengan benar.


Setelah sedikit tenang Khaira mulai membaringkan kembali tubuhnya di peraduan. Matanya menatap plafon kamar sambil memikirkan langkah yang ia ambil jika ia terbukti hamil. Ia mengambil ponsel dan mulai berselancar mencari info seputar orang hamil, dan tetap berharap semoga gurauan pak Asep tidak menjadi kenyataan.

__ADS_1


Siang itu Ivan menemani kliennya yang berasal dari Makasar untuk makan siang di restoran mewah Meat and Grill. Ia ditemani Roni sedangkan kliennya Sudarsono bersama asistennya Edo.


Saat menu mulai disusun di meja, tiba-tiba Ivan merasakan mual yang luar biasa. Aroma bumbu panggang serta bawang putih membuat perutnya seperti diaduk-aduk membuatnya tak tahan untuk segera ke toilet.


“Maafkan saya …. “ dengan cepat Ivan berjalan ke luar ruangan, “Mungkin masuk angin karena sudah beberapa hari ini terlewatkan makan.”


Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan wajah agak pucat.  Karena menghormati klien yang akan menikmati makan siang Ivan terpaksa menahan rasa mual yang terasa sangat menyiksanya.


Sudarsono menatap wajah Ivan sambil tersenyum tipis. Ia adalah lelaki yang sangat berpengalaman, dengan tiga putri dan 4 cucu membuatnya yakin bahwa Ivan bukanlah masuk angin biasa.


“Ku rasa istri anda sedang mengandung. Yang anda alami sekarang namanya hamil simpatik,” ujarnya santai penuh perhatian, “Untuk mengurangi rasa mual bisa diminumkan teh hangat atau air jahe hangat.”


Ivan tak percaya mendengar perkataan Sudarsono. Ia berpandangan dengan Roni sambil menggelengkan kepala.


Roni memandang Ivan dengan tajam. Ia tidak menyangka bosnya akan mengalami kesialan seperti ini. Padahal ia sudah tau bahwa bosnya sudah tidak berhubungan dengan perempuan lain.


“Putra saya semuanya laki-laki, dan ketiganya mengalami persis yang terjadi pada anda,” Sudarsono  meminta pelayan untuk menyiapkan teh hangat bagi Ivan yang masih merasa bingung dengan apa yang ia alami.


Pikiran Ivan kini tertuju pada Khaira. Selama ini sebelum bersama Khaira, ia selalu memakai pengaman saat kebersamaan yang terjalin antara ia dan Sandra. Dan ia melakukan hubungan itu lima minggu yang lalu, setelah selama berbulan-bulan putus dari Sandra. Jadi  ….


Khaira memandang test pack yang barusan ia beli sebanyak 5 pcs. Ia ingin mencoba kelimanya untuk mengetahui kebenaran perkataan pak Asep. Ia juga merasa cemas, karena selama ini haidnya selalu lancar. Tapi bulan ini, sudah hampir 5 minggu ia belum kedatangan tamu bulanannya.


Khaira terduduk di lantai kamar mandi dengan berurai air mata saat melihat kelima test pack yang ia coba berdasarkan petunjuk penggunaan semuanya bergaris dua.


“Ya  Allah, janganlah Kau uji hamba-Mu di luar kesanggupan hamba …. “ Khaira memukul-mukul perutnya dengan kedua tangan, berharap tidak ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya.


Bagaimana ia menghadapi keluarga besarnya jika mereka mengetahui kehamilannya tanpa seorang suami. Mereka pasti akan merasa malu, dan Khaira tidak ingin terjadi hal tersebut. Haruskan ia menggugurkan janin yang kini mulai bertumbuh di dalam rahimnya.


“Ya, Allah. Hamba tidak ingin menambah dosa hamba lagi. Tunjukkan jalan terbaik bagi hamba-Mu yang hina ini ya Allah….”


Setelah puas meratapi nasibnya kini Khaira keluar dari kamar mandi. Sudah seharian ia tidak keluar dari kamar. Rasa lapar kembali menyerangnya. Ia harus mulai berpikir untuk menyusun rencana selanjutnya.

__ADS_1


Saat tiba di ruang makan, hanya oma dan bu Ila yang berada di sana. Semenjak menikah Junior memang tinggal bersama istrinya. Tiga minggu lagi mereka akan berangkat  ke Inggris.


Tiba-tiba ide cemerlang muncul di benak Khaira, kenapa ia tidak mengikuti Junior dan Afifah saja. Tapi lama kelamaan keduanya akan tau, dan pasti keluarga besar juga akhirnya mengetahui permasalahan ini.


Ia tidak sanggup melihat wajah sedih semua saudara yang sangat menyayanginya serta oma yang selalu membelanya sejak kecil. Dan yang pasti bu Ila pasti akan kecewa dengan kehamilan yang terjadi padanya.


Wajah Anwar tiba-tiba melintas di benaknya. Senyum tipis terbit di wajah Khaira mengingat sahabat dekatnya itu. Kenapa ia tidak minta bantuan Anwar saja. Ia harus membuat alasan yang tepat agar saudaranya mengizinkan ia untuk bepergian ke luar negeri.


Melanjutkan pendidikan. Akhirnya Khaira merasa lega setelah rencananya mulai tersusun sempurna. Ia akan menemui  mas Ariq dan mas Ali terlebih dahulu untuk menyampaikan keinginaannya melanjutkan pendidikan S2 di negeri paman Sam. Dengan menjual nama Anwar ia yakin Ariq dan Ali tidak akan keberatan melepasnya ke Amerika.


Sementara itu Ivan termangu di ruang kerjanya. Percakapan yang terjadi saat perjamuan dengan tuan Sudarsono membuatnya mempercepat keinginannya untuk menikahi Khaira dan ia tak ingin menundanya lagi.


Laras tiba-tiba datang ke kantornya siang itu untuk menagih janjinya pada Ivan. Waktu yang telah ia berikan pada Ivan untuk memperkenalkan pasangannya dan membawanya ke rumah telah habis. Ia akan memaksa Ivan untuk menerima perjodohan yang akan ia atur dengan rekan sosialitanya.


“Mama …. “ Ivan terpaku melihat mamanya kini duduk dengan santai di hadapannya.


“Mama ingin menagih janjimu untuk segera membawa pasanganmu ke rumah. Dua bulan lagi umurmu sudah 33 tahun. Kamu harus segera menikah dan beri mama seorang cucu. Jadi jangan menolak apa pun yang mama katakan,” Laras berkata datar tanpa senyum. Ia lelah menunggu Ivan yang masih tetap jalan di tempat dengan hubungan asmaranya.


Ivan tak berkomentar, pikirannya masih teringat dengan Khaira yang kemungkinan saat ini sedang mengandung anaknya, dan ia sangat yakin akan hal itu. Apalagi selama beberapa hari belakangan ini ia mengalami mual-mual di pagi hari. Dan reaksinya menjadi berlebihan saat mencium aroma masakan yang berbau bawang. Padahal seumur hidup ia tidak pernah mengalaminya.


“Kamu kenal Meita putrinya om Baskoro temanmu saat masih SMP.  Dia sekarang seorang dokter gigi. Mama minta kamu menemuinya besok siang. Mama dan mbak Yuli mamanya sudah sepakat untuk makan siang bersama.”


Ivan dengan cepat menolak keinginan mamanya. Ia harus berterus terang sekarang. Ia tidak ingin menundanya lebih lama.


“Aku tidak ingin menemui siapa pun, karena aku sudah punya pilihan sendiri. Mama tidak perlu pusing lagi memikirkannya. Aku tidak hanya memberi seorang menantu buat mama, tapi juga seorang cucu yang telah lama mama idamkan.”


Mata Laras langsung membulat mendengar perkataan Ivan yang terasa ambigu di telinganya. Dapat menantu bonus cucu, berarti ….


“Astaga Ivan, perempuan mana yang telah kau hamili. Kau telah merendahkan mamamu sendiri jika berbuat nista hingga membuat perempuan itu hamil,” Laras geleng-geleng kepala mendengar ucapan Ivan, walau pun dalam hati ada setitik kebahagiaan yang membuat hatinya merasa hangat.


“Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Ibu jangan khawatir, aku akan membawa ibu untuk  melamarnya di depan saudaraya bahkan keluarga besarnya.” Ivan berkata dengan yakin. Ia pasti melakukan itu. Dengan kejadian ini Khaira tidak akan bisa menolak dan menghindarinya lagi.

__ADS_1


Jangan lupa vote di hari Senin, like, kritik dan saran akan selalu author tunggu. Sayang semua muach .....


__ADS_2