Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 13


__ADS_3

Linda mendatangi Adi di ruang kerjanya. Malam ini terasa sunyi. Begitupun perasaan Adi yang kini termenung di meja kerjanya. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam 12 malam. Ia membiarkan Helen yang sudah dari tadi menunggunya untuk tidur.


“Kamu belum tidur, Kenapa tidak pindah ke kamar?” Linda langsung duduk di hadapan Adi yang tidak merubah posisi kepalanya yang menghadap plafon ruangan dengan mata terpejam.


Ia menghela nafas dengan perasaan gundah, kemudian menegakkan posisi tubuh untuk menghadap Linda, “Mama sendiri kenapa belum beristirahat? Tidak baik untuk kesehatan mama.”


Linda memandang Adi dengan raut sedih, “Mama tidak bisa tidur, bayangan anak perempuan kecil di restoran tadi mengganggu mama.”


Adi menatap Linda dengan heran, “Apa yang mama pikirkan?” Ia berkata dengan lembut, melihat mamanya yang semakin tua dan tak bersemangat semenjak ditinggal papanya membuat ia merasa cemas.


Mata Linda berkaca-kaca, “Entahlah. Saat memandangnya, mama merasa ingin memeluknya. Wajahnya mengingatkan mama pada saat kamu masih kecil. Mama merasa sedih, karena tidak bisa mendekatinya…” ujar Linda lirih.


Adi terdiam mendengar perkataan ibunya. Bagaimana bisa ia dan ibunya merasakan perasaan yang sama saat melihat Hasya yang merupakan putri sahabatnya. Setiap memandang wajah bocah polos itu, perasaan rindu ingin menyentuh dan memeluknya itu begitu  kuat.


“Kamu sudah tiga tahun menikah dengan Helen, tetapi sampai saat ini Helen belum bisa memberikanmu keturunan. Dua kali ia hamil, tetapi selalu keguguran, apa tidak ada obat untuk menguatkan rahimnya. Kamu semakin tua, Tama. Kamu dan Helen sudah tidak muda lagi, di usia yang menginjak 38 tahun, paling tidak kamu sudah memiliki seorang putra.”


Ia gelisah, bagaimana ibunya melupakan bahwa dia memiliki putra kembar yang hingga saat ini tidak pernah ia sadari keberadaan mereka. Kerinduan pada si kembar tiba-tiba menggerogoti hatinya. Ia sakit, karena menahan kerinduan kepada kedua putranya, yang sejak kecil sangat jarang bercengkrama dengan mereka.


Ia membuka laci meja kerja papanya yang terkunci. Ia mengernyitkan dahi saat melihat sebuah map kuning yang terbungkus dengan rapi. Di tariknya map itu dan dibuka perlahan-lahan.


“Tes DNA siapa?” Adi penasaran dengan hasil tes yang berada di tangannya. Ia membaca dengan cermat hasil 99,438% akurat.  Ia menarik lebih dalam, beberapa lembar foto berjatuhan di lantai.


Dengan cepat Adi mengambil foto yang bertebaran di lantai. Ia melihat foto si kembar yang sedang bermain. Tampak Hani memangku bayi perempuan yang sangat lucu. Adi tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.


“Kenapa perasaan ini terasa menyakitkan?” batin Adi lirih. Ia mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


Linda melihat perubahan pada raut putranya. Ia mengambil foto dan berkas yang berserakan di atas meja kerja yang kini digunakan Adi, “Kalau saja Helen tidak mengalami keguguran, mungkin anakmu sudah berumur 3 tahun.” Linda memandang foto itu dengan seksama. Ada kerinduan yang terselip di hatinya melihat si kembar yang tampak sehat. Tapi keegoisannya membuat Linda meletakkan kembali foto itu.

__ADS_1


“Cari dokter yang paling hebat untuk mengobati istrimu. Percuma kaya dan terpelajar kalau tidak bisa memberikan keturunan. Kalau tidak berhasil, kamu harus menikah lagi, cari perempuan yang bisa memberimu anak.” Linda berkata tanpa berpikir panjang.


“Apa mama lupa, kalau aku sudah mempunyai anak?” Adi berusaha mengingatkan mamanya bahwa ia telah mempunyai cucu lain.


“Kita tidak ada sangkut pautnya lagi dengan gadis miskin itu. Begitu kalian berpisah, bukankah segala kewajiban telah kita penuhi. Jadi mama nggak mau keturunan gadis itu. Bawa Helen berobat hingga dia melahirkan anakmu.”


Adi terdiam mendengar ucapan Linda. Ia ingin berontak dan melawan perkataan ibunya. Tapi masih ada hati yang harus ia jaga. Adi merasa serba salah. Kerinduan kepada si kembar tiba-tiba datang mengusik pikirannya. Apalagi saat melihat penampilan Hani yang kini telah berubah. Perpisahan selama dua tahun membuat Hani lebih dewasa dalam bersikap dan berpenampilan. Adi tidak tau apa yang terjadi dengan perasaannya saat bertemu Hani setelah perpisahan yang terjadi.


Siang itu Marisa dan kawan-kawannya sengaja mengadakan reunian bersama sahabat SMAnya  di Café and resto A2H. Rekan mereka yang bernama Anggraeni telah merekomendasikan mereka untuk  berkumpul di sana.


“Wah, tempatnya menarik ya…” Marisa mengagumi penataan kafe dan resto yang sangat apik. Ia berjalan bersama Anggraeni melihat ke samping resto karena tertarik dengan taman dan kolam yang posisinya tak jauh dari resto.


“Saya sering bawa cucu-cucu saya main ke sini.” Anggraeni berkata dengan bangga. “Ownernya masih muda lho, jeng. Dan sangat ramah.”


Mata Marisa menatap seorang perempuan muda memakai gamis sambil berjalan membawa 3 balita bermain di taman tidak jauh keberadaan dari mereka. Ia terpaku melihat Hasya yang berlari-lari kecil, sehingga perempuan muda itu kerepotan.


Marisa memisahkan diri dari rombongan yang berjumlah 20 orang, dan kebetulan Linda tidak bisa datang, karena ada kegiatan lain yang tidak bisa diganggu.


Marisa berjalan mendekati mereka, “Selamat siang, nak.” Sapa Marisa lembut. “Apa dia putrimu?” Matanya terpaku menatap Hasya yang tertawa kesenangan karena tidak bisa ditangkap bundanya.


Hani menatap Marisa dengan heran. Ia tersenyum pada Marisa, “Benar, bu. Ada yang bisa saya bantu?” Hani bertanya dengan sopan.


Senyum lebar tersungging di bibir Marisa. Ia menyukai pilihan Faiq. Dan ia akan berjuang untuk menyatukan putranya dengan perempuan muda itu. Matanya berkaca-kaca menatap Hani.


“Bolehkah ibu memelukmu?” Marisa merentangkan kedua tangan. Naluri keibuannya begitu kuat untuk melindungi seorang anak yang mengalami peristiwa menyakitkan, apalagi setelah mengetahui kehidupan perempuan muda di depannya.


Dengan perasaan heran, Hani menyambut uluran tangan Marisa dan balas memeluk perempuan yang mungkin sebaya almarhum ibunya. Ia memejamkan mata merasakan kehangatan yang sudah lama tak pernah ia rasakan. Air matanya tiba-tiba menetes tak dapat ia bendung.

__ADS_1


“Kenapa kamu menangis, nak?” Marisa menatap mata bening itu dengan penuh perasaan. Ia seperti menemukan anak perempuan melihat sosok Hani yang begitu lembut dan tulus, kecantikannya sangat alami membuat hati Marisa begitu damai memandangnya.


Hani mengusap airmatanya sambil tersenyum lirih, “Saya teringat almarhum mama saya yang telah lama meninggal.”


Marisa mengusap bahu Hani dengan lembut, “Mulai hari ini anggaplah aku sebagai pengganti ibumu. Kebetulan ibu tidak mempunyai anak perempuan, hanya anak lelaki nakal yang sering menyusahkan ibu.”


Mendengar perkataan Marisa, Hani tersenyum lega. Ia memanggil ketiga anaknya yang masih bermain dengan asyik di kolam ikan kecil.


“Siapa nenek ini, bunda?” Ariq menatap perempuan asing yang berdiri di samping Hani. Ia merasa heran, karena selama ini tidak pernah ada orang lain yang berlaku akrab dengan bundanya.


“Panggil oma saja ya.” Marisa menjawab dengan cepat. Ia menatap satu demi satu wajah bocah yang berdiri di depannya dengan takjub.


“Baik, Oma.” Jawab Arik dengan sopan.


Hani memperkenalkan putranya satu persatu serta si mungil Hasya yang sedang makan coklat, sehingga pipi mentolnya belepotan, membuat mereka tersenyum atas kelucuannya.


Marisa mulai menilai wajah si kembar, Ariq lebih mirip Hani, sedangkan Ali perpaduan Hani dan mantan suaminya, dan si mungil memang replika Adi, hanya matanya  yang milik Hani. Kesedihan melingkupi hati Marisa, membayangkan nasib Hani yang hidup janda di usia muda  dengan mengurus ketiga putra dan putrinya. Ia mengurut dadanya yang tiba-tiba merasakan sakit. Ia yang mengetahui penderitaan Hani merasakan kesedihan luar biasa, apalagi perempuan muda yang berada di hadapannya itu, bagaimana ia menjalani harinya yang sangat berat?


“Ya Allah… kuatkanlah mereka berempat. Dan berikan perlindungan bagi mereka…” Marisa berdoa di dalam hatinya melihat pemandangan yang begitu mengusik dirinya.


Saat makan malam bersama Darmawan suaminya, Marisa bersemangat menceritakan hasil pertemuannya dengan Hani, perempuan muda yang ingin didekati Faiq. Ia berharap Faiq dan Hani berjodoh, karena ia menyukai Hani sejak jumpa pertama mereka, apalagi melihat anak-anaknya yang lucu dan menggemaskan.


“Papa jadi penasaran mendengar cerita mama.” Darmawan merasa antusias mendengar cerita istrinya. Ia sudah tidak mempedulikan status calon menantunya. Selama istri dan anaknya bahagia, ia akan mendukung mereka.


“Kalau ayah ada waktu, akan ibu ajak main ke tempatnya. Rupanya dia perempuan hebat, punya usaha sendiri. Ibu kagum dengannya, diusia muda mampu menjalani kehidupan yang berat dengan ketiga anaknya.”


“Minggu ini ayah akan atur jadwal. Kita berdua bisa berkunjung ke sana.” Darmawan berkata dengan lugas membuat Marisa bahagia mendengarnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2