Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 317 S2 (Suami Sangat Siaga)


__ADS_3

Selama perjalanan menuju kediaman mereka Ivan terus memandang dasboard untuk memantau kondisi Khaira yang memejamkan mata di kursi penumpang. Ia menghela nafas berkali-kali, memikirkan perkataan yang akan ia ucapkan pada Khaira.


“Yang kita makan dulu yuk .... “ akhirnya ia harus memutuskannya walau tanpa persetujuan sang istri.


“Gak laper,” jawab Khaira cepat tanpa membuka matanya.


Ivan mengusap jidatnya dengan perasaan serba-salah. Ia harus lebih tegas, karena ini menyangkut dua nyawa yang sangat ia inginkan. Tanpa menunggu persetujuan Khaira, ia segera memutar  mobil dan memasuki sebuah rumah makan Padang yang berada di pinggiran kota.


Khaira membuka mata saat mobil berhenti tiba-tiba. Ia melihat Ivan sudah membuka pintu belakang mobil dan mengulurkan tangan untuk mengangkatnya.


“Mas, aku mau pulang ..... “ Khaira masih menolak tangan Ivan yang terulur padanya.


“Tidak sayang, kita makan dulu. Seharian ini kamu belum makan siang,” Ivan berkata pelan namun penuh penekanan, “Pikirkan calon bayi kita.”


Dengan malas Khaira turun dari mobil dan berjalan pelan meninggalkan Ivan yang termangu di belakangnya.


“Wah, kalau sudah ngambek gini ngalahin Embun .... “ senyum tipis terbit di wajah Ivan saat berguman melihat kelakuan sang istri.


Khaira tidak berselera melihat menu nasi Padang yang sudah terhidang dengan cepat di hadapannya.. Tatapannya beralih pada teh es yang tampak begitu menyegarkan. Ia langsung meraih dan meminumnya hingga ludes tak bersisa.


Senyum terkembang di wajah Ivan melihat kelakuan sang istri. Ia segera membuka jas yang menutupi tubuh  kekarnya dan menyampirkan di  kursi samping yang tak terisi.


Tubuh kekarnya yang hanya terbalut kaos polos hitam, membuat beberapa mata perempuan yang berada di dalam rumah makan Padang tersebut jelalatan.


Dengan santai Ivan berpindah duduk di samping sang istri. Ia langsung meraih piring  dan mulai memotong rendah yang tampak menggugah selera. Khaira hanya melihat perbuatan suaminiya tanpa ada keinginan untuk melakukan hal yang sama.


Ivan  mengisi sendok dengan nasi dan rendang yang telah dipotong rapi. Di luar dugaan Khaira sendok yang telah berisi terulur padanya.


“Ayo, anak kesayangan ayah maem dulu ya .... “ seperti membujuk Embun yang tidak mau makan begitulah perlakuan Ivan pada Khaira.


Mata Khaira langsung membulat. Ia mulai mendengar bisik-bisik di belakang yang mengatakan ia belagu. Untuk menghargai usaha suaminya, akhirnya Khaira membuka mulut.


“Eh,  kok rasanya enak .... “ batin Khaira dalam hati.


Ivan merasa lega, karena usaha tidak mengkhianati hasil. Istrinya mau makan karena ia suapi.


“Manja banget sih. Kalo aku yang jadi istrinya, dua puluh empat jam siap untuk menyuapi suami. Service plus ....” bisik-bisik itu terdengar di telinga Ivan.


“Maklum Bu, istri saya lagi hamil. Jadi susah makannya. Kalo gak disuapin ayah gak mau makan .... “Ivan berkata dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya.


Kelompok perempuan yang berjumlah empat orang di belakang mereka merasa tidak nyaman mendengar ucapannya. Apalagi wajah mereka belum terlalu tua dengan sapaan ibu yang membuat mereka merasa kehilangan muka.

__ADS_1


“O ya .... maaf Mas,” seorang perempuan yang Khaira tau sejak awal kehadiran mereka di rumah makan tersebut langsung menjawab perkataan Ivan.


Khaira memalingkan wajah melihat perempuan yang berbicara pada suaminya dengan mata tajam.


Perempuan muda itu tersenyum sambil menganggukkan wajah pada Khaira dengan pandangan tak nyaman. Khaira pun membalas menganggukkan kepala sekedar membalas kesopanan yang ditunjukkanya.


Satu piring telah bersih. Ivan merasa puas karena Khaira telah menghabiskan makanan yang ia pesan tinggal tersisa satu piring lagi.


“Ayo Dek, masih satu piring lagi. Ntar malam kita akan lembur ....” bisik Ivan ke telinga Khaira sambil meniupnya, “Mumpung mbak dan masnya nginap di rumah papa.”


Glek!


Khaira tersedak mendengar bisikan suaminya. Cubitan mendarat di pinggang Ivan membuatnya meringis kecil.


“Ih, Bunda sadis amat .... “


Ivan menggelengkan kepala tak percaya dengan perbuatan istrinya. Tapi melihat senyum puas dari binar yang tergambar di wajah ayu Khaira membuat hatinya lega. Sudah tidak ada raut kekesalan yang ada hanya sinar kepuasan karena berhasil membuatnya kesal.


“Maafkan ayah ya dek, karena melewatkan waktu makan siang adek. Kalau tau gini, mendingan ayah di rumah aja,” ujar Ivan sambil membelai perut Khaira yang masih datar dengan mesra sambil menatap mata istrinya  lekat.


“Adeknya disayang, bundanya kagak ....”  Khaira berkata dengan wajah cemberut sambil menghapus bekas minuman di bibirnya dengan tisu sebelum memakai cadarnya kembali.


“Eh .... “ Ivan menahan tangan Khaira dengan cepat.


“Kalo Bunda cara sayangnya beda, gak bisa diliatin di depan umum,” Ivan berkata dengan senyum terkembang.


“Itu sih maunya mas aja ....” Khaira memanyunkan bibirnya membuat Ivan gemas pengen segera mengurung diri di kamar, berdua aja tapi.


“Bunda kan udah hafal  maunya ayah,” Ivan berkata sambil tergelak membuat Khaira kehabisan kata-kata.


Tanpa sadar piring kedua sudah bersih, tetapi bukan ia sendiri yang menikmati. Ivan juga menikmati makan siang dengan menu nasi Padang bersama dengannya.


Kini Ivan  meletakkan  sendok dengan perasaan puas, karena membuat istrinya telah menghabiskan makanan  untuk membayar waktu makan siang yang telah  dilewati tadi.


Di dalam mobil, Khaira tidak menolak saat Ivan membukakan pintu di jok depan.  Saat Khaira hendak memasang seatbelt, Ivan meraihnya dengan cepat tak lupa mendaratkan ciumannya di kening sang istri sambil mengedipkan sebelah mata.


Dengan cepat Khaira menutup hidung saat parfum kembali terhirup olehnya. Matanya terpejam untuk menahan nafas dan  gejolak dalam perut yang baru saja terisi.


“Maafkan ayah .... “  Ivan berkata dengan perasaan khawatir.


Khaira hanya menggelengkan  kepala dengan mata tetap terpejam dan  menyandarkan tubuhnya ke jok kursi. Dengan sigap Ivan mengatur posisi kursi agar istrinya merasa nyaman. Ia pun membuka jendela agar angin sepoi-sepoi di bawah kerindangan parkiran restoran bisa masuk untuk mengusir aroma yang membuat Khaira tidak nyaman.

__ADS_1


“Terima kasih ... “ lirih Khaira tersenyum dalam kelegaan setelah  pasokan oksigen dari hembusan angin membuatnya lega.


“Kita pulang sekarang?” Ivan bertanya dengan hati-hati agar mood istrinya tetap stabil.


Khaira terdiam sesaat. Suasana berubah hening. Hanya desauan angin yang terdengar menjadi kidung di siang menjelang sore tersebut. Wajah ceriwis Hasya tiba-tiba memenuhi kepalanya.


Bagaimana tidak, saat hamil si kembar  sodara perempuan satu-satunya itu yang paling over protektif  dan menjaganya dari segala hal yang mungkin akan membuat kandungannya bermasalah.


Ia mengatur segala asupan yang akan dikonsumsi sang adik demi pertumbuhan dan juga kesehatan calon bayi dan ibu yang mengandungnya, apalagi saati itu kondisi Khaira sedang berada di titik terendah.


“Aku ingin menginap di rumah mbak Hasya .... “ ujar Khaira menatap suaminya penuh harap.


Ivan tertegun dan menatap wajah Khaira yang memohon dengan penuh harap. Rencananya untuk bermanja malam ini nampaknya bakal tak kesampaian.  Kesabarannya benar-benar diuji, dan ia harus sanggup melewati semua  demi sang bunda dan calon debay yang kini diketahui telah bersemayam di rahim sang istri.


“Kita pulang dulu istirahat sebentar. Atau  besok pagi kita berangkat ....”  Ivan  mencoba mencari solusi lain.


Ia tak ingin istrinya merasa kelelahan, karena perjalanan menuju ke rumah iparnya akan memakan waktu yang tidak sebentar. Paling cepat  adalah enam  jam  jika tidak mengalami macet di jalan, apalagi sekarang akhir pekan.


“Maunya sekarang,” Khaira berkata dengan kesal  mendengar ucapan Ivan yang terkesan keberatan dengan keinginannya.


“Bunda kan masih capek, apalagi sekarang udah jam tiga sore ....” ujar Ivan lembut sambil mengusap pundak Khaira perlahan.


“Kalau mas gak mau, aku telpon  Fatih untuk menjemputku,” wajah muram  Khaira dengan mendung yang hampir runtuh tergambar jelas di bening matanya, “Aku tau ...  mas cape karena membawa klien makan di luar. Biar Fatih atau  mas Valdo yang datang menjemput ...”


“Maksud mas ...” Ivan tercekat mendengar suara Khaira yang bernada kecewa.


Dengan cepat ia meraih Khaira ke dalam pelukan begitu bulir-bulir bening mulai menggantung dan berderaian di pipi mulus sang istri. Ia kesal dengan dirinya sendiri karena telah membuat kecewa sang istri pada hari dimana ia mendapat kabar ba hagia untuk kedua kali dalam hidupnya.


“Maaf  ayah, maafkan ayah .... “ Ivan berkata dengan perasaan menyesal.


Ia merasakan dadanya basah karena istrinya yang menangis dalam pelukan.  Berkali-kali Ivan mengecup pucuk kepala Khaira yang masih terisak dengan segala penyesalan yang membuat dadanya terasa sesak.


“Kita akan ke tempat mbak Hasya sekarang,” Ivan berkata lembut sambil menyunggingkan senyum termanisnya  ketika Khaira sudah duduk kembali dengan tenang.


Tangannya tak lepas untuk menggenggam jemari sang istri yang kini mulai memejamkan mata setelah terjadinya drama beberapa saat yang lalu.


Selama perjalanan ia berkali-kali memandang wajah Khaira yang mulai terlelap dengan tenang. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membiarkan waktu berlalu tanpa Khaira di sampingnya.


Sekarang bukan hanya Khaira, tapi ada calon anaknya yang sedang bertumbuh. Ia tidak ingin kejadian seperti hari ini yang telah membuat istrinya meneteskan airmata terjadi lagi.


Mulai sekarang, ia akan menjadi suami siaga bagi Khaira, bahkan harus sangat siaga dan tak akan membiarkan hal-hal kecil merusak mood bumil kesayangannnya. Dan Ivan bertekad untuk menjadi yang terbaik bagi keluarga kecilnya.

__ADS_1


***Terimakasih reader kesayangan\, yang tetap setia pada kisah Ivan dan Khaira. Sayang untuk kalian semua...."


__ADS_2