
Tiga tahun telah berlalu dengan segala problematika kehidupan yang dilalui keluarga kecil Khaira dan Ivan. Untuk menjaga keutuhan keluarga yang telah terbina, sedapat mungkin Ivan menghindari berinteraksi dengan lawan jenis.
Usaha yang ia jalani bersama ustadz Hanan dan Berli meningkat pesat. Permintaan akan perumahan islami semakin menjanjikan dengan banyaknya pasangan yang telah hijrah dan menginginkan hunian yang lebih nyaman dan membuat pemiliknya selalu menjalani kehidupan dengan lebih terarah.
Ia tidak terlalu memusingkan urusan kantor, yang telah sepenuhnya ia serahkan pada Danu untuk mengurus semua mobilitas perusahaan. Ia datang hanya sekali dalam seminggu untuk memeriksa dan menandatangani laporan keuangan serta menghadiri pertemuan dengan klien yang sangat mendesak.
Tidak sembarang orang yang bisa memasuki ruang kerjanya. Ia sengaja membatasi siapa pun yang ingin bertemu. Teringat masa lalu dan segala prahara yang pernah terjadi dalam rumah tangganya membuat Ivan lebih berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan..
Senyum tak lepas dari sudut bibir Ivan, ketika melepas kepergian si kembar yang pagi ini telah dijemput mas Ali dan akan menghabiskan weekend di rumahnya. Ia merasa bersyukur dengan keakraban dan kekeluargaan yang begitu erat ditunjukkan saudara iparnya.
Semenjak si kembar mulai memasuki masa sekolah dasar, membuat mereka semakin tergantung dengan papanya. Tiada waktu yang tersisa bagi Ivan untuk bermanja pada sang istri, karena waktunya tersita buat si kembar, khususnya Embun yang tak bisa jauh darinya jika sudah kembali dari sekolah.
Malam ini ia hanya ingin bemanja dengan sang istri yang juga masih aktif di pondok, walau pun jadwalnya sudah tidak terlalu padat. Ivan meminta kepada ustadzah Fatimah agar membatasi jam mengajar Khaira. Ia tidak ingin istrinya terlalu lelah dengan segala aktivitasnya di pondok. Karena ia sudah ingin merasakan memiliki bayi lagi, walau pun mereka tidak melakukan program khusus.
Ia dan Khaira berharap pengen menambah momongan, karena ia pun sangat menyukai anak kecil. Tapi ia yakin, segala sesuatu sudah diatur yang Kuasa. Ia dan Khaira hanya bisa berusaha dan slalu semangat untuk membuat semuanya terjadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ivan masih memeriksa beberapa berkas penandatanganan pembangunan hunian islami yang akan dibuat beberapa unit lagi karena ada pesanan khusus dengan tipe yang lebih besar dari standar bangunan yang telah mereka tawarkan selama ini.
Sekarang memang waktunya untuk menandatangani beberapa proyek yang akan segera direalisasikan oleh konsultan perusahaannya. Ia tersenyum melihat grafik penjualan yang terus meningkat dalam setiap tri wulan.
Ketukan di pintu menghentikan aktivitasnya. Ivan mengangkat wajah begitu Danu masuk dan tiba di hadapannya.
“Permisi Bos, ada seseorang yang ingin bertemu,” Danu berkata pelan sambil menganggukkan kepala dengan sopan.
Ivan mengerutkan jidat, berusaha mengingat apakah ia ada membuat janji temu sebelumnya. Danu menyadari arti tatapan wajah Ivan.
“Maaf Bos, beliau seorang perempuan dan manajer cabang bank yang menjadi relasi kita selama ini, “ Danu menjelaskan dengan cepat, “Sudah tiga hari beliau menunggu ingin bertemu anda.”
“Ok, lima menit.” Ivan berkata tegas.
Ia melirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul 11.15 Wib. Sekitar 20 menit lagi ia akan menjemput Khaira dan membawanya makan di luar sekalian.
“Assalamu’alaikum ustadz Ivan .... “ sapaan lembut menyapanya begitu seorang perempuan ramping berhijau kekinian memasuki ruangannya.
__ADS_1
Ivan memandang perempuan cantik di depannya berusaha mengingat sesuatu. Tetapi ia tak mempunyai kenangan sedikitpun tentang sosok yang memandangnya dalam keadaan kagum.
“Mas lupa sama aku?” perempuan itu sok akrab langsung berdiri di depan meja kerja Ivan.
“Faktor usia membuatku melupakan semua masa lalu yang tak menguntungkan buatku,” Ivan berkata datar sambil bersedekap tangan di dadanya melihat tingkah perempuan yang masih berdiri santai dengan senyum mautnya.
“Aku Intan. Tetanggaan kita sewaktu mas dan dan keluarga masih di rumah Bintaro.”
Sekelebat bayangan melintas di benak Ivan. Ia mengingat seorang gadis manis yang sering bermain di rumahnya kala ia masih awal SMA, sebelum kepindahannya ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah.
“Putrinya tante Mila .... ?” Ivan langsung ingat dengan perempuan modis yang mengaku-aku sebagai calon mertuanya di masa depan.
“Syukurlah mas Ivan tidak melupakanku,” Intan berkata dengan semangat.
Tanpa rasa malu ia berjalan mendekat dan bersandar di meja yang menyisakan jarak setengah meter, sehingga hidungnya menangkap aroma parfum maskulin yang digunakan Ivan. Dengan sumringah tanpa rasa malu Intan memandang Ivan dengan lekat.
Melihat tingkah Intan membuat Ivan berdiri dengan cepat. Ia kesal karena Danu sudah keluar sejak awal meninggalkan perempuan yang tidak memiliki rasa hormat padanya.
“Maaf .... “ Ivan berkata tegas, “Jika ada urusan pekerjaan lebih baik kita membicarakan di sana.”
“Mas Ivan kok kaku sekali?” Intan masih berusaha akrab dengan lelaki yang sudah ia kagumi sejak menjadi tetangga mereka di Bintaro.
“Maafkan saya,” Ivan akhirnya merendahkan nada suaranya.
Walau bagaimanapun ia berusaha menghormati perempuan di hadapannya demi masa lalu sebagai tetangga yang baik.
“Aku gak nyangka kita bertemu lagi,” suara Intan masih ramah dan berusaha menarik minat lelaki berkharisma di depannya.
“Baiklah, demi masa lalu apa yang ingin dibicarakan dengan saya?” Ivan masih berbicara dengan nada formal.
Tatapannya hanya sesekali memandang Intan. Ia masih membaca beberapa proposal kerja sama yang masih tersisa.
“Mama titip salam sama mas Ivan. Katanya kangen dan pengen jumpa sama tante ....” ujar Intan seketika.
__ADS_1
Ia akhirnya menyadari sikap datar yang ditunjukkan Ivan terhadapnya. Tapi itu tak membuatnya kapok. Status lajangnya diusia 35 tahun membuatnya sangat selektif dalam memilih pendamping hidup.
Tapi saat tanpa sengaja membaca nama Ivan dalam proposal di bank tempatnya bekerja, kenangan masa lalu bangkit kembali. Membuat ia penasaran, sekaligus bersemangat untuk mengenang laki-laki yang pernah mencuri hatinya.
“Mama sudah lama meninggal,” Ivan akhirnya mulai berbicara santai mengenang almarhumah ibunya, “Terima kasih masih mengingat mama ....”
Intan merasa senang dalam hati mendengar nada suara Ivan yang terasa hangat di telinganya.
“Sudah belasan tahun tidak bertemu. Mas Ivan sudah sukses sekarang,” Intan berkata lembut mendayu dengan tatapan yang sangat memuja dan Ivan menyadari arti tatapan perempuan di depannya.
“Terima kasih. Saya telah memiliki keluarga dengan sepasang anak kembar,” raut wajah Ivan tampak bahagia saat mengatakan kebenaran tentang dirinya.
Intan berusaha menutupi kekecewaan dengan menampilkan wajah ramahnya, walau dalam hati tak bisa ia pungkiri rasa kecewa teramat dalam menerobos ke palung terdalam.
“Wah, selamat ya,” ucapan lirih meluncur di bibir tipisnya mendengar jawaban Ivan.
“Bagaimana dengan dik Intan?” Ivan menekankan kata ‘dik’ untuk menyatakan bahwa ia tidak akan membuka peluang bagi siapa pun yang akan menumpang dalam bahtera rumah tangganya dan Khaira.
Tapi bukan Intan namanya kalau tidak mencapai keinginan yang tiba-tiba hadir di kepalanya.
“Karena udah lama gak ketemu, kita makan di luar yok. Biar aku yang traktir,” Intan langsung beranjak, dan tanpa malu-malu berusaha meraih tangan kokoh Ivan yang terlipat di pahanya.
Ivan mengernyitkan dahi melihat keagresifan perempuan cantik di depannya. Ia sama sekali tak menduga dengan kelakuan Intan yang sok akrab terhadapnya.
“Maaf .... “ Ivan berkata tegas.
Ia menahan jemari Intan yang bergerak cepat, dengan raut tidak suka atas sikap Intan yang bertindak semaunya.
“Mas, tolong hargai niatku. Aku bukan perempuan murahan. Ini hanya sekedar makan siang,” Intan berkata penuh harap dengan raut sedih yang sengaja ia buat agar Ivan tersentuh.
Ivan menghela nafas, “Baiklah. Tapi aku tak bisa keluar. Biar Danu pesan menu di luar.”
“Mas, please .... “
__ADS_1
Dengan berat hati Ivan segera menghubungi Danu. Akhirnya ia menerima tawaran Intan dengan mengajak Danu bersamanya.
***Mohon maaf untuk readerku tersayang. Baru Up lagi. Tunggu detik-detik bab terakhir. Salam sayang semua ...***