
Tatapan Ivan mulai terpaku pada satu titik. Antara percaya dan tidak, ia melihat sosok yang telah coba ia lupakan sedang menikmati makan siang dengan santai bersama beberapa orang lelaki dewasa yang posisi duduknya tidak jauh dari mereka.
Ivan tidak mempercayai penglihatannya. Perempuan yang di kafe Abbas tampak sederhana, tapi yang duduk sekitar 4 meter dari hadapannya kelihatan lebih berkelas dengan busana elegan yang tampak modis seperti pekerja kantoran.
“Tuan Ivan …. “ Shena menepuk pundak Ivan yang terpaku tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ya,” selera makan Ivan langsung hilang. Ia meletakkan sendok dan garpu dengan cepat, dan meraih gelas air putih langsung meminumnya hingga tandas.
Hatinya merasa panas. Ia kesal dengan apa yang ia lihat. Dengan santainya janda Abbas berbincang dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya yang kelihatan berbeda dari biasanya. Kini ia bersama laki-laki yang berbed
“Bukankah itu Peter?” Ivan mengenal laki-laki yang duduk di sebelah kiri Khaira, “Kenapa mereka berdua bisa berada di tempat ini?”
Berbagai pertanyaan menggantung di kepalanya melihat kedekatan mereka, ditambah lagi lelaki mapan yang duduk si sebelah kanan janda Abbas yang tampak memandang perempuan di sampingnya dengan tatapan penuh makna.
Ivan tak bisa mengendalikan perasaannya. Ia kesal menahan perasaan pada perempuan muda jandanya Abbas, sedangkan perempuan itu tidak pernah memandangnya lebih dari 3 detik. Benar-benar memacu adrenalinnya.
“Mr. Ariq, terima kasih atas jamuan makan siangnya.” Peter tidak menyangka bahwa saudara Khairalah yang menjamu mereka makan siang di restoran mewah itu.
Ariq tersenyum dan menganggukkan kepala, “Saya juga mengucapkan terima kasih karena memberikan kesempatan pada adik saya untuk berkembang secara maksimal.”
“Dia mempunyai kemampuan untuk itu,” Peter menatap Khaira sambil menyunggingkan senyumnya.
Sebelum berpisah, Peter sempat menyalami Ariq, kemudian ia menatap Khaira dengan lekat, “Sampaikan salam hormat saya buat suami anda Mrs. Abbas Setyawan.”
Ariq mengerutkan kening saat melihat Peter dan Robert berlalu dari hadapannya. Ia menatap Khaira dengan raut bingung.
__ADS_1
“Jangan menatapku seperti itu,” Khaira segera menggandeng tanganAriq untuk berlalu dari ruangan. Ia ingin segera kembali ke gerai, untuk menyampaikan kabar gembira pada rekan kerjanya yang lain.
Saat hendak keluar dari restoran, keduanya berpapasan dengan rombongan Ivan yang juga telah menyelesaikan makan siangnya.
“Tuan Ariq,” Marcel yang kenal baik karena perusahaan kosmetik miliknya juga mendapat suntikan dana dari perusahaan Ariq menyapanya dengan sopan saat keduanya berhadapan.
Ariq tersenyum membalas sapaan Marcel sambil menganggukkan kepala. Ia mengenal Marcel serta Shena yang sering berkunjung ke perusahaannya. Tatapan Ariq mengarah pada sosok tegap yang memandangnya dengan raut tak bersahabat.
“Tuan Ivan, kenalkan tuan Ariq beliau ini penanam modal terbesar pada perusahaan saya,” Marcel memperkenalkan keduanya.
Ariq mengulurkan tangannya yang disambut Ivan dengan datar dan kaku. Tatapan Ivan sesekali memandang Khaira yang tak sedikit pun memandangnya.
Khaira tau bahwa tatapan Ivan lurus menatapnya. Tapi melihat perempuan modis yang berdiri di samping Ivan seolah-oleh menunjukkan kepemilikan atas sosok tegap itu membuat Khaira hanya mengganggukkan kepala sekilas tanpa senyum terhadap Ivan.
“Maafkan kami harus kembali secepatnya.” Ivan tersenyum sambil menganggukkan kepala pada Khaira. Keduanya pamitan dan beranjak meninggalkan restoran dengan sorot tajam yang tak berkedip memandang kepergian mereka.
“Siapa perempuan muda itu ya? Apa tuan Ariq berpoligami?” Shena mengerutkan jidatnya saat melihat keakraban yang terjadi di hadapannya, “Wajarlah kalo ada perempuan yang mendekatinya. Tuan Ariq adalah pengusaha tajir yang usahanya menggurita.”
“Aku mengenal istrinya. Adik perempuannya juga telah menikah dengan seorang dokter bedah.” Marcel menambahkan, “Tapi perempuan yang bersamanya tadi juga menarik.”
“Aku juga nggak nolak kalau tuan Ariq menjadikanku nomor sekian.” Model yang bernama Dila ikut mengomentari pembicaraan keduanya.
Ivan mengeratkan kepalan tangannya. Kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Ia tidak terima dengan apa yang barusan mereka ucapkan. Ia harus membuktikan sendiri, apa benar janda Abbas demi kemapanan hidup menjadi istri siri seorang pengusaha mapan?
“Saya harus pergi. Ada yang harus saya luruskan. Roni lah yang akan menjemput kalian berdua.”
__ADS_1
Shena dan Marcel terkejut melihat perubahan sikap Ivan yang kembali kaku tak bersahabat. Padahal saat memasuki restoran wajahnya tampak biasa saja dan terkesan friendly. Tapi sekarang … mereka tidak berani menyimpulkan apa yang membuat pengusaha entertainmen nomor satu itu tampak marah.
Ivan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia terus mengikuti mobil BMW edisi terbaru yang ia yakini membawa sosok yang telah memporak-porandakan hatinya tak bersisa.
Ariq tidak menyadari kalau ia dan Khaira diikuti. Dengan santai ia membelokkan mobilnya memasuki mall megah dimana gerai Kara Jewellery berada di dalamnya. Ia kini merasa lega melihat Khaira sudah mulai beraktivitas kembali.
Saat Khaira menceritakan keinginannya untuk pergi ke Paris memenuhi undangan Agnes dan Beno serta menghadiri undangan Peter, Ariq antusias mendengarnya. Ia yakin bahwa Khaira telah keluar dari zona aman.
Dengan santai ia merangkul bahu Khaira saat akan memasuki mall megah tersebut. Ia ingin melihat apa yang telah diceritakan Khaira tentang perhiasan yang akan ditampilkan dalam pameran nanti.
Ivan kekesalannya semakin bertambah saat melihat lelaki lain yang merangkul Khaira yang kelihatan mesra di matanya.
“Kau bisa melupakan Abbas secepat ini. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku ingin melihat sampai sejauh mana kamu mampu mengkhianati Abbas,” batin Ivan dengan geram.
Ia menunggu selama hampir 2 jam di parkiran, tapi keduanya tidak muncul. Dengan kesal Ivan keluar dari mobil. Ia mulai memasuki mall tersebut berharap menemui keduanya. Ivan duduk di food court sambil menggunakan kaca mata hitam yang berada di saku jasnya.
Jemarinya mengepal semakin kuat saat melihat Khaira yang tertawa kecil mendengar perkataan Ariq. Keduanya yang berjalan beriringan keluar dari Kara Jewelly sambil membawa paper bag di tangan kiri dan kanan Khaira.
Ivan tidak mempercayai penglihatannya. Ia sangat marah mengetahui bahwa janda Abbas rela diperistri pengusaha mapan demi perhiasan berlian yang tidak bernilai dimatanya.
“Dasar perempuan matre. Semuanya sama,” makinya kesal.
Ivan merasa kemarahannya sudah naik ke ubun-ubun. Inikah bidadari yang selalu dibanggakan Abbas, akan setia mendampinginya sehidup sesurga yang menjadi jargon Abbas saat menasehatinya untuk mencari perempuan yang benar-benar tulus mencintainya.
“Aku tidak akan memaafkanmu yang telah mengkhianati Abbas. Aku akan membuatmu meminta maaf atas semua pengkhianatan yang kau lakukan pada sahabatku.” Ivan bertekad dalam hati untuk membalaskan semua perbuatan Khaira yang dianggapnya telah menyakiti almarhum sahabatnya.
__ADS_1