Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 165 S2 (Pengakuan Ivan)


__ADS_3

Valdo terperanjat mendengar cerita Hasya ketika keduanya telah berbaring di peraduan. Bagaimana bisa Alexander Ivandra seorang pengusaha entertainment terkenal yang hidupnya selalu dikelilingi perempuan cantik, telah melakukan pelecehan terhadap adik ipar mereka yang sangat tertutup dan namanya tidak pernah muncul di permukaan.


Hasya sampai heran dengan sikap suaminya. Akhirnya ia pun bangun dan duduk berhadapan dengan Valdo yang kini tampak mengerutkan kening berpikir keras.


“Mas mikirin apa sih?” Hasya jadi penasaran melihat sikap suaminya yang penuh teka-teki.


“Mas ingat dengan Denis. Dia pasti akan kecewa mendengar semua ini.” Valdo  menceritakan pembicaraan yang pernah terjadi antara ia dan Denis.


“Mas juga sih, kenapa harus cerita tentang Rara pada orang lain,” Hasya tinggal geleng-geleng kepala mendengar pengakuan suaminya, “Sekarang mas pusing sendiri kan. Pokoknya aku nggak mau tau.”


“Jangan gitu dong yang. Gini-gini aku juga mikirin nasib Rara. Aku juga sedih melihatmu murung,” ujar Valdo memelas. Jemarinya mulai berselancar.


“Alasan …. “ Hasya mencibir melihat kelakuan suaminya yang mulai melanjutkan aksi dengan tatapan maut dan rayuan yang membuat telinganya gatal.


“Jadi gemes dengan istriku ini.”


Valdo mulai mendekatkan wajahnya pada Hasya yang masih memanyunkan bibirnya melihat dirinya  yang kini mendusel-duselkan hidungnya ke leher istrinya.


Akhirnya Hasya mulai terhanyut dengan permainan Valdo. Ia  mulai melayani suaminya dengan sepenuh hati dan perasaan. Bukankah menyenangkan suami adalah ladang pahala bagi istri, dan Hasya selalu mengingat pesan almarhum bunda yang selalu menasehatinya untuk selalu mematuhi perkataan orang tua jika belum menikah, dan harus patuh pada suami dan melayani semua keinginannya selama masih dalam koridor  agama dan tidak menyimpang dari norma yang berlaku baik agama maupun masyarakat.


Pagi  Minggu yang cerah. Khaira menemani Aqeela bermain di ruang keluarga, sedangkan Babby A dibawa Diah ke taman belakang untuk berjemur. Sudah seharian ia bermain. Rumah tampak sepi karena Hasya dan Valdo baru saja pergi.


Khaira tidak mengetahui, bahwa siang ini akan diadakan pertemuan di rumah oma Marisa. Ariq telah menyepakati bersama saudaranya yang lain serta paman Hanif untuk melakukan pertemuan tanpa melibatkan Khaira. Apa lagi setelah mendengar cerita Hasya bahwasanya Khaira akan menerima keputusan yang akan diambil saudaranya. Mereka mengundang Ivan untuk membahas kelanjutan hubungannya dan Khaira di masa depan.


Sebelumnya Ariq telah menceritakan keadaan Khaira pada oma Marisa dan Bu Ila. Keduanya berlinang air mata saat mengetahui musibah yang menimpa Khaira. Mereka pun tidak bisa berbuat banyak, hanya menyerahkan semua keputusan yang terbaik pada Ariq. Dan mereka akan mendukung apa pun yang dilakukan Ariq demi kebaikan Khaira dan janin yang ada di dalam kandungannya.


Tepat jam 10 Ivan datang memenuhi undangan Ariq. Ia berpakaian santai dengan menggunakan kaos oblong dilapisi kemeja kotak-kotak  dengan celana jeans biru menambah sempurna penampilannya.


Hasya sempat terpana memandang sosok menjulang yang kini berdiri di hadapannya. Walaupun masih ada bekas lebam yang mulai memudar, tapi tak mengurangi kadar ketampanannya yang terpahat di wajahnya.


“Astaghfirulahhaladjim …. “ buru-buru Hasya memalingkan muka.


“Selamat siang mbak,” melihat seorang perempuan muda berpakaian tertutup yang menyambut kedatangannya membuat Ivan yakin bahwa itu adalah bidadari yang diceritakan Denis, dan ia sudah berhadapan dengan ketiga malaikat versi Denis sang penjaga permata langka yang tidak lama lagi akan menjadi miliknya.


“Silakan masuk,” Hasya mempersilahkan Ivan mengikuti langkahnya menuju ruang kerja milik almarhum papanya yang sudah lama tidak digunakan, tetapi tetap dijaga karena selalu dibersihkan asisten rumah tangga setiap hari.


Saat memasuki ruang kerja yang lumayan luas, Ivan melihat ada 6 orang lelaki yang ketiganya sudah Ivan kenal dan satu orang yang pernah ia lihat saat bersama Khaira. Kini ia ingat lelaki itulah yang mendampingi Khaira pada saat kematian Abbas di rumah sakit. Tapi Ivan tidak mengenal seorang lelaki yang umurnya jauh di atas mereka, dan seorang lelaki yang duduk berdampingan dengan kakak perempuan Khaira. Ia tidak berani menebak, karena saat melihat foto di galeri keluarga Ariq, sosoknya berbeda dengan wajah kedua orang tua Khaira.


“Silakan duduk tuan Alexander Ivandra,” Ariq berusaha bersikap formil pada tamu yang sudah mereka tunggu setengah jam yang lalu.


“Panggil Ivan saja,” Ivan berkata dengan cepat, ia berusaha mengakrabkan diri dengan semua yang berada di dalam ruangan.


“Cih!” Ali mendengus, dendamnya pada Ivan belum sirna walau pun sudah membuatnya babak belur 3 hari yang lalu.


Ivan memandang Ariq yang kini mulai membuka pembicaraan. Ia dapat melihat wajah-wajah tegang menatapnya dengan berbagai sorot yang berbeda, membuatnya tak bisa menebak apa yang ada di hati masing-masing.


“Perkenalkan ini paman kami Hanif. Beliau adalah saudar kembar almarhum bunda kami yang telah tiada. Dan yang ini dr. Rivaldo suami adik saya Hasya. Dan ini Junior adik bungsu kami.”

__ADS_1


Ivan mengangguk dan memasang wajah ramah dengan diliputi senyum. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama ini. Wajah datar dan sosok kaku yang sudah menjadi keseharian dalam hidupnya, yang mulai sekarang harus ia robah karena akan memasuki lingkungan keluarga calon istrinya.


“Calon istri …. “ perasaan hangat mengaliri segenap jiwa dan raga  Ivan mengingat tak lama lagi ia dan Khaira akan terikat benang pernikahan.


Ariq menatap Hasya sambil menganggukkan kepala. Sebelum kedatangan Ivan, Hasya telah menceritakan hasil pembicaraan antara ia dan Khaira dan semua pengakuan Khaira tentang peristiwa yang mendasari pelecehan Ivan terhadapnya. Walau pun ia tak menyalahkan Ivan sepenuhnya atas kejadian yang menimpa Khaira, tapi tetap saja ia merutuk keras perbuatan Ivan.


“Kami telah mendengar pengakuan Rara tentang semua yang kamu lakukan padanya,” Ariq berkata dengan sorot yang memandang Ivan dengan tajam, “Sekarang kami ingin mendengar cerita versimu tentang semua.”


Ivan mengerutkan keningnya seketika. Ia kurang memahami perkataan Ariq. Terlalu  banyak momen penting yang ia ingat tentang  Rara yang kini telah secara utuh memiliki jiwa dan raganya.


“Pada saat kamu membuat Rara hamil, pasti ada yang mendasari perbuatanmu itu. Kami ingin mendengar itu dari mulutmu sendiri,” Ali berkata cepat. Ia malas menunggu terlalu lama.


Ivan menghela nafas. Ia tak bisa menyembunyikan hanya untuk dirinya. Jika kejujuran yang ia lakukan membuat proses memiliki Khaira menjadi cepat, detik ini pun akan ia lakukan. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Ivan memulai cerita dari awal kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dan  Khaira.


Ia tidak menceritakan secara gamblang saat ia menodai Khaira, karena ia merasa kurang etis. Yang terpenting dan ia tekankan bahwa  ia sangat mencintai Khaira serta janin miliknya yang kini sedang dikandung Khaira.


“Saya rela menyerahkan semua asal Rara mau menerima saya,” Ivan menutup ceritanya dengan pasrah. Ia sudah mengakui semua dan menunggu keputusan mereka tentang langkah yang akan dijalani ke depannya.


Rasa kesal serta amarah tampak dari wajah-wajah lelaki yang mendengar pengakuan Ivan. Hasya yang sudah mengetahui dari bibir Khaira hanya terdiam tidak menanggapi, walau pun di hati ada rasa ingin memukul Ivan  karena telah memperlakukan adik kesayangannya serendah itu.


Tapi ia tidak bisa berbuat apa pun. Mendengar cerita dan kesungguhan Ivan akan perasaannya yang tulus terhadap Khaira, tak ayal membuat Hasya kembali teringat sosok Abbas. Ia merasa seolah-olah Abbas hadir di antara mereka dengan senyum ramah khas miliknya.


Valdo mengelus pundak istrinya yang tampak emosional mendengar cerita versi Ivan. Ia pun merasa kesal mengetahui kejadian buruk yang menimpa Khaira. Tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi. Kini tinggal meresmikan hubungan keduanya agar segera naik ke pelaminan.


“Kami akan membicarakan masalah ini dengan Rara. Ku harap kamu bisa memahaminya,” ujar Ariq setelah terdiam beberapa saat, mengingat bagaimana ia harus meyakinkan Rara untuk segera menerima lamaran Ivan.


Akhirnya ia meninggalkan kediaman Marisa dengan perasaan lega. Rasa bersalah karena merampas barang berharga Khaira kini mulai hilang secara perlahan. Ia yakin putusan yang akan diberikan saudara Rara tidak akan merugikan siapa pun. Dan Ivan berharap waktu segera menyatukan keduanya di pelaminan.


Siang itu Ivan baru saja menanda tangani perpanjangan kontrak kerja rumah produksinya dengan perusahaan dari Amerika yang akan membuat film di Indonesia. Ia cukup puas karena pertemuannya  tidak lama, dengan penanda tanganan kontrak jangka panjang hingga dua tahun ke depan.


Senyum lebar terbit di wajahnya sambil membaca kontrak yang kini sudah tersimpan dengan baik di atas meja.


Tiba-tiba pintu ruang kerjanya dihempaskan dengan kasar. Ivan terkejut melihat kemunculan Denis yang langsung berjalan ke arahnya dengan wajah diliputi kemarahan.


“Plak! Plak!”


Ivan tak bisa mengelak ketika dua tamparan Denis mendarat di wajahnya yang masih ada sisa-sisa pukulan saudara Khaira.


“Apa yang kau lakukan?” Ivan menggeram menahan amarah karena tidak menyangka Denis akan melakukan hal di luar dugaannya. Ia meraba wajahnya yang terasa panas.


“Itu  hukuman yang harus kau terima karena telah melecehkan Rara,” jawab Denis dipenuhi emosi, “Rasanya aku ingin menjebloskan dirimu ke penjara.”


“Lakukan saja. Karena sekarang akulah yang menjadi pemenangnya,” Ivan menjawab tak kalah lantang, apalagi ia merasa sudah di atas angin.


“Tak ku sangka kau tega menodai perempuan sebaik Rara. Bukankah kamu mempunyai banyak perempuan di hidupmu. Mengapa harus Rara?” Denis mengepalkan tangan ingin kembali menonjok wajah Ivan.


“Aku telah jatuh cinta padanya,” tandas Ivan cepat. Ia tidak ingin menyembunyikan perasaannya lebih lama, “Aku akan segera menikahi jandanya Abbas, karena ia telah mengandung benih keturunanku. Dan aku tak akan melepaskannya sampai kapan pun.”

__ADS_1


Kontan saja pengakuan Ivan membuat Roni yang berada di luar ruangan yang pintunya terbuka lebar akibat kedatangan Denis langsung terpaku. Kakinya terasa berat untuk dibawa melangkah.


Bagaimana Ivan mengenal Rara jandanya Abbas bahkan sekarang telah mengandung benihnya. Sejak kapan Ivan menjalin hubungan dengan Rara? Dan kapan mereka bertemu hingga berhubungan yang mengakibatkan Rara hamil?


Roni menggelengkan kepala. Otaknya tidak mampu menebak pertanyaan yang kini menggelayuti pikirannya. Dengan menyeret langkahnya Roni memasuki ruangan Ivan yang masih bersitegang dengan Denis.


“Apakah yang saya dengar itu benar bos?” Roni tak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama.


Ivan terkejut menyadari keberadaan Roni diantara ia dan Denis. Kini ia dapat melihat sorot kesedihan dan kekecewaan tergambar di wajah asistennya.


“Aku benar-benar tidak terima atas perbuatanmu pada Rara. Semoga Rara bisa melihat siapa dirimu sebenarnya. Kamu bukan pria tepat untuknya.” Denis berkata dengan penuh emosi.


“Terserah apa pun perkataanmu. Kami akan segera menikah, karena saudaranya telah menerima lamaranku,” Ivan berkata dengan cepat.


“Ku do’akan kau segera menerima karma atas perbuatan bejatmu,” Denis berlalu dengan cepat.


Berada di dalam ruangan bersama Ivan membuat tensinya naik. Apalagi menyadari bahwa perempuan yang telah memikat hatinya telah akan dan bakal dimiliki Ivan orang yang telah menikungnya di persimpangan.


Roni berdiri di hadapan Ivan yang masih memandang kepergian Denis dengan bercekak pinggang. Satu nyamuk pengganggu telah diusir, kini satu lalat masih menunggu dengan perasaan berkecamuk, dan Ivan dapat  melihat wajah kusut Roni yang menatapnya dengan sorot tak bisa ditebak.


“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya Ivan tajam dengan pandangan mengintimidasi Roni.


“Apa benar mbak Rara mengandung anak bos?”  tanya Roni to the point.


“Faktanya memang seperti itu. Tunggu saja kelahirannya,” tandas Ivan.


Ia melihat Roni mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasanya ia ingin menertawai wajah Roni yang kelihatan bengong tidak tau harus mengucapkan apa. Kini ia memahami arti pandangan Roni. Seperti  Denis, mungkin tanpa ia sadari bahwa Roni juga menyimpan perasaan khusus terhadap Rara.


“Mungkin dalam satu minggu ke depan kamu harus meng-handle pekerjaanku. Aku akan disibukkan dengan persiapan pernikahan dengan Rara,” Ivan berkata semaunya membuat Roni semakin galau.


“Selamat bos. Semoga pernikahan bos dan mbak Rara samawa. Saya akan selalu mendoakan kebaikan untuk bos dan mbak Rara,” ucap Roni tulus.


Walau pun kesal, tapi ia harus berlapang dada. Mungkin memang Rara adalah bidadari surga yang dikirim Allah untuk meluruskan jalan Ivan yang selama ini terlalu banyak belokan dan tikungan yang ia tempuh sehari-hari.


Ivan tidak menyangka Roni akan mengucapkan selamat dengan tulus padanya. Ia sudah berprasangka bahwa Roni pun akan menghadiahinya tonjokan seperti yang dilakukan Denis dan saudara Khaira. Ia masih terdiam menyambut uluran tangan Roni yang menyalaminya.


“Abbas akan bahagia di tempatnya jika bos bisa membahagiakan mbak Rara.”


Ivan akhirnya tersenyum mendengar perkataan serta  doa yang diucapkan Roni dengan tulus padanya.


“Terima kasih atas dukunganmu, Ron. Kau lah sahabat terbaik setelah Abbas yang ku miliki hingga saat ini.” Akhirnya Ivan memeluk Roni dengan erat berbagi kehangatan yang kini mengalir di hatinya.


“Hei, apa yang kalian lakukan?” Gisel terpaku melihat dua lelaki berpelukan di hadapannya.


Ia tidak menyangka akan melihat hal tersebut. Pikiran negatif mulai bermain di otaknya melihat pemandangan ganjil yang terpampang di depan mata.


Happy always readers, love love and love forever .....

__ADS_1


__ADS_2