
Kini di sinilah mereka berada dalam ruangan VIP restoran mewah di dalam mall megah tersebut. Danu pun sudah berkumpul bersama mereka. Ia merasa heran melihat dua lelaki asing berada di tengah-tengah keluarga kecil si bos. Ivan memperkenalkan keduanya dengan cepat.
Setelah makanan datang, mereka langsung menyantapnya. Tetapi Khaira terlebih dahulu menyuapi si kembar yang tampak semangat menikmati makan malam mewah yang dipesan Danu sebelum mereka memasuki ruangan.
“Saya sangat penasaran dengan masa muda bundanya si kembar,” Ivan langsung memandang Iqbal begitu mereka sudah menyelesaikan makannya dan bersandar dengan nyaman di posisinya masing-masing.
Melihat keramahan yang ditampakkan suami Khaira, Iqbal pun merasa nyaman. Ia tersenyum mendengar pertanyaan Ivan sambil mengarahkan pandangan pada Deddy.
Khaira sudah cemberut mendengar percakapan yang terjadi. Ia paling tidak suka kehidupan pribadinya diungkit. Tapi ia tidak bisa protes, ia tidak tau maksud tersembunyi suaminya mengetahui seputar masa lalunya.
“Gak ada yang istimewa di masa laluku,” ujar Khaira pelan.
Danu bergeser menjauh tidak ingin terlibat dengan percakapan yang menjurus pribadi kehidupan nyonya muda.
“Bos, saya ngrokok dulu,” Danu pamit ke luar.
Ivan membalas dengan anggukan. Ia merasa Danu tidak nyaman mendengar pembicaraan mereka. Dan ia cukup puas karena Iqbal tampak santai menghadapinya yang sudah menekan emosi agar tidak cemburu akan masa lalu Khaira. Ia akan memposisikan diri sebagai teman Iqbal untuk membuatnya nyaman bercerita kebersamaan mereka di masa lalu. Karena ia melihat diantara dua lelaki yang diakui Khaira teman kampus, hanya Iqbal-lah yang paling rame.
“Ayah, ade mo bobo,” Embun sudah menggosok-gosok matanya.
“Mas, sebaiknya kita pulang aja. Kasian Fajar dan Embun sudah capek …. “ Khaira tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk sesuatu yang tidak penting.
“Bobo di sini sama ayah Sayang …. “ Ivan meraih Embun dan membaringkan di pangkuannya.
Fajar pun mulai keletihan dan menyandarkan tubuh mungilnya ke pangkuan bundanya. Khaira mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
Ivan tidak akan melewatkan pertemuan dengan Iqbal. Kapan lagi ia bisa mendengar cerita tentang masa lalu sang istri yang ia sendiri tidak pernah mengetahuinya. Ia mengedipkan mata sambil tersenyum melihat sorot protes yang tergambar di mata bening Khaira.
“Apa tuan Alex dan Rara menikah karena perjodohan? Padahal yang saya tau, anda mempunyai pacar,” Iqbal tak bisa menahan rasa ingin taunya. Tatapannya beralih pada Khaira, “Padahal aku tuh udah yakin kalau kamu akan menikah dengan Abbas. Kalian sudah berhubungan sangat lama dan Abbas cinta mati sama kamu.”
Laura terdiam mendengar percakapan yang terjadi. Deddy pun hanya menyimak percakapan antara Ivan dan Iqbal.
“Sudah jodohnya saya menikah dengan Rara,” Ivan menjawab diplomatis, “Dan ini si kembar Fajar dan Embun buah cinta kami.”
Selama ini ia memang tidak pernah mengetahui masa muda istrinya, dan kini ia sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Ia dapat melihat kesedihan di wajah Khaira saat mendengar nama Abbas disebut. Dalam hati kecilnya masih terselip rasa cemburu pada almarhum.
“Cantik seperti papanya, ganteng seperti mamanya,” Iqbal menatap si kembar bergantian dengan penuh kekaguman, “Lucu juga ya kalau ingat masa lalu …. “
“Kenapa harus membicarakan masa lalu?” Khaira berusaha memotong percakapan yang tidak penting ini, “Seperti gak ada omongan lain saja.”
“Kamu itu banyak mematahkan hati laki-laki, tapi gak nyadar aja. Ingat gak dengan William ketua BEM yang ngejar-ngejar kamu saat itu?“ Iqbal tersenyum saat Khaira mendelik melihatnya dengan raut tak senang.
“Apa istriku sepopuler itu?” Ivan semakin tertarik mendengar ucapan Iqbal yang penuh semangat.
“Siapa yang gak kenal Khaira Althafunnisa,” Iqbal tersenyum mengingat masa lalu mereka. “Hanya Abbas yang bisa mengalihkan dunianya.”
Ivan terdiam. Ia tau, perlu waktu untuk meyakinkan Khaira dan membuatnya melepaskan semua kenangang tentang Abbas. Bahkan setelah semua yang terjadi, nama Abbas yang masih melekat kuat dalam benak istrinya.
“Bagaimana kabar Abbas sekarang?” Iqbal akhirnya menatap Khaira dengan rasa ingin tau yang besar, “Sudah lama aku tidak bertemu dan mendengar kabar tentangnya.”
“A Abbas telah pergi mendahului kita,” Khaira berkata lirih.
“Innalillahi wainnailaihi roji’un. Maafkan aku Ra. Terlambat mengetahuinya,” Iqbal berkata dengan perasaan tak nyaman.
Deddy pun mengucapkan kalimat yang sama mendengar ucapan Khaira. Ia sama seperti Iqbal yang menyangka bahwa Abbas-lah yang menjadi pendamping Khaira.
Khaira memandang Ivan yang menatapnya dengan penuh makna. Ia tidak ingin membicarakan almarhum Abbas terlalu lama, ia juga harus menjaga perasaan suaminya.
__ADS_1
“Kamu tau Ra, sampai saat ini William masih sering menanyakan kamu, Margo juga ….”
Ivan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Iqbal. Baru kali ini ia mendengar bahwa banyak laki-laki yang menginginkan istrinya di masa lalu. Jangan-jangan ….
“Apa tuan Iqbal juga pernah suka dan tertarik dengan istri saya?”
“Mana saya berani, ibarat pungguk merindukan bulan. Benarkan Ded?,” Iqbal tersenyum yang dibalas pelototan mata Khaira, “Saya dan Rara hanya teman tapi mesra, soalnya ada Abbas yang selalu menjaganya …. “
Laura merasa kesal mendengar pembicaraan para lelaki yang begitu menyanjung perempuan yang telah membuat kuncup di hatinya layu sebelum berkembang.
“Kamu itu Bal, dari dulu gak berubah. Pengen tak kuncirin mulutmu,” Khaira udah kesal dengan mulut Iqbal yang lemes.
Iqbal dan Deddy tertawa bersamaan mendengar ucapan Khaira.
Ivan terpaku melihat gaya bicara istrinya dan Iqbal seperti tanpa sekat. Yang ia tau, hanya Anwar-lah teman dekat istrinya di masa lalu, tapi ternyata ….
“Saya itu dekat dengan Rara ini paling untung. Perut selalu kenyang, gak perlu cuan tuk beli makanan semua datang ke pangkuan. Deddy juga kebagian. Jangan bilang tidak ya, Ded,” Iqbal tersenyum mengingat masa semester dua perkuliahan mereka, “Walau saya harus kucing-kucingan dengan Abbas.”
Khaira semakin cemberut mendengar Iqbal yang makin ngalor ngidul pembicaraannya, walau tidak semuanya salah. Ia tau, semua lelaki yang disebutkan Iqbal memang sering menggodanya tapi Abbas berhasil menjaganya dari godaan para player di kampusnya.
“Kamu sudah menikah?” Khaira langsung memotong ucapan Iqbal.
“Masih menunggu jandamu,” jawab Iqbal sambil terkekeh. Ia bisa melihat wajah Ivan yang kembali memerah, “Canda tuan Alex, mana berani saya mengganggu milik anda.”
Deddy tak menyangka dengan gurauan Iqbal. Ia tidak berani ikut menimpali pembicaraan yang terjadi, karena dirinya tak terbiasa bergurau seperti Iqbal.
“Siapa pun yang berani mengganggu milik saya, dan jika terdengar langsung di telinga saya, maka saya tak segan akan membuat perhitungan dengannya,” Ivan berkata dengan tegas. Tatapannya tajam pada Laura membuat Laura merasa tidak nyaman.
Khaira menyadari omongan suaminya ditujukan pada siapa, ia tidak ingin mengomentarinya.
“Wah, tak ku sangka ternyata suami Rara bukan hanya seorang pengusaha advertising. Tetapi ia mempunyai profesi lain,” Iqbal memandang Khaira sambil tersenyum.
“Ternyata seorang mafia. Ha ha ha ….” Iqbal tertatawa puas karena berhasil mengerjai semua yang berada di dalam ruangan VIP itu.
“Ha?” Khaira langsung memukul pundak Iqbal mendegar gurauannya yang tidak lucu.
Senyum kecut terbit di wajah Ivan. Ia cukup terhibur dengan perkataan Iqbal. Ia yakin teman Khaira bukan tipe pebinor dan tidak akan mengacaukan rumah tangganya.
“Apa pekerjaanmu sekarang?” akhirnya Ivan memulai kembali percakapan serius dengan Iqbal.
“Saya dokter bedah umum di rumah sakit ibu dan anak. Status lajang dalam pencarian,” jawabnya santai.
“Apa kamu mau bergabung dengan rumah sakit kanker anak yang sedang dikerjakan temanku?” Ivan bertanya dengan serius, “Rencananya aku juga akan mengajak Anwar.”
“Anwar Herwandi?” Iqbal terkejut mendengar Ivan mengenal Anwar teman satu fakultas saat ia belum pindah ke luar negeri.
“Bukankah kalian semuanya berteman?” Ivan melirik Khaira yang memandangnya tak mengerti, “Dia dokter jantung. Aku menghargai persahabatan kalian di masa lalu.”
“Wah, tawaran yang bagus,” Iqbal bersemangat mendengar ucapan Ivan, “Ra, kita bisa melanjutkan pertemanan dengan kemesraan …. “
“Hei, aku mendengarnya,” Ivan melotot kesal mendengar gurauan Iqbal.
“Posesif amat suamimu Ra,” Iqbal tertawa mendengar ucapan Ivan, “Canda tuan Alex.”
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Tak terasa hari semakin larut. Ia cukup senang dengan pembicaraan yang terjadi. Ia menatap Khaira lekat. Ia yakin Khaira telah berbahagia dengan jodohnya sekarang.
“Terima kasih atas undangan makan malamnya tuan Alex, Rara. Saya permisi,” Iqbal bangkit dan berdiri.
__ADS_1
“Saya juga tuan Alex,” Deddy pun bangkit dari kursi sambil menggendong Bobby yang juga telah tertidur, “Terima kasih karena begitu baik pada Bobby.”
“Tidak masalah tuan Deddy,” Ivan tersenyum ramah. Tetapi tatapannya langsung tajam saat Laura menatapnya dengan lekat membuat Laura langsung menundukkan wajah.
Dengan menggendong Embun yang sudah terlelap Ivan pun bangkit dari kursi. Ia mengulurkan tangannya pada Iqbal.
“Aku senang bertemu denganmu tuan Iqbal. Ku harap kita bisa bekerja sama, dan kamu tak menolak untuk bergabung di rumah sakitku.”
“Tawaran yang menggiurkan. Saya akan memikirkannya,” Iqbal tersenyum menyambut uluran tangan Ivan. Ia mengenal sosok suami Khaira sebagai seorang pengusaha yang sangat kompeten dibidangnya..
“Kecuali teman tapi mesranya, aku akan lebih waspada terhadapmu.”
“Ha ha ha …. “ Iqbal tertawa lebar mendengar ucapan Ivan. Mana mungkin ia berani mengganggu rumah tangga sahabatnya apalagi ia tau sepak terjang Ivan, “Semoga keluarga tuan Alex dan Rara selalu langgeng, dan diberi momongan yang banyak.”
Ivan tak dapat menahan senyum mendengar perkataan sahabat istrinya dan mengaminkannya di dalam hati. Ia pun mengharapkan yang sama.
Setibanya di rumah, Ivan membantu Khaira untuk mengganti dan menyeka si kembar dengan air hangat karena keduanya sudah tertidur dan tidak mungkin untuk mandi di malam hari. Ia pun segera membersihkan diri begitu melihat istrinya sudah berganti baju tidur.
Saat berbaring Ivan kembali teringat dengan percakapan dengan Iqbal, teman Khaira yang mempunyai selera humor yang cukup bagus.
“Mas tertarik dengan ucapan Iqbal yang mengatakan kamu dan dia TTM. Apa dia termasuk penggemarmu?“
Khaira yang sudah mau terlelap terpaksa membalik badannya menghadap suaminya yang belum bisa memejamkan mata.
“Iqbal itu memang anaknya lucu dari dulu. Hobinya gombalin anak gadis orang …. “ Khaira tak bisa menahan senyum saat mengingat percakapan yang terjadi saat makan malam bersama teman lamanya.
“Berarti masa mudamu pasti sangat menyenangkan dikelilingi para Kumbang yang silih berganti berdatangan.”
“Itu sih kamu Mas, yang selalu hinggap di setiap kembang,” Khaira kesal mendengar Ivan mengungkit masa lalunya.
“Dan aku tidak menyangka kamu memiliki teman tapi mesra …. “ Ivan menatap mata bening Khaira yang menatapnya dengan dahi berkerut.
“Itu sih Iqbal yang ngaco. Gak ada seperti itu. Dari dulu aku hanya setia sama A Abbas,” Khaira tidak menyadari ucapannya membuat wajah Ivan kembali memerah.
Menyadari suaminya yang tidak bersuara, membuat Khaira tersadar bahwa Ivan sangat sensitif dengan nama almarhum.
“Sudahlah Mas, sekarang hanya tentang kita dan si kembar. Mas harus yakin dengan perasaanku,” Khaira berkata dengan serius.
Ivan berusaha memasang wajah sedih, padahal dalam hati ia merasa bersyukur mendengar pengakuan Khaira. Tidak ada kekhawatiran lagi dalam dirinya. Khaira hanya miliknya.
“Ih, lucu kalo liat ayahnya ngambek,” melihat Ivan yang masih terdiam dengan wajah sendu membuat Khaira menghujani kecupan-kecupan ringan di wajah Ivan membuatnya langsung bersemangat.
“Bunda mancing nihhh ….” Ivan tak tahan dengan perbuatan Khaira.
Ia menahan tengkuk istrinya dan mulai melu*** telaga indah yang selalu membuatnya merindu untuk menikmati manisnya madu yang disambut Khaira dengan semangat.
“Masss…. “ Khaira memukul dada suaminya karena membuatnya kesulitan bernafas setelah ciuman yang dilakukan Ivan.
“Hanya aku yang boleh menjadi TTM-mu,” ujar Ivan setelah puas mengakrabi telaga madu yang selalu membuatnya candu.
“Apa itu?” Khaira tertegun mendengar ucapan suaminya.
“Teman tuk saling menghangatkan,” Ivan tersenyum setelah berhasil mengerjai istrinya.
“Aneh, gak nyambung banget,” Khaira mencibir.
“Tapi bunda senangkan?” Ivan mulai menaik-nurunkan alisnya dengan tatapan penuh hasrat.
__ADS_1
“Anda belum beruntung,” Khaira menyilangkan kedua tangannya sambil terkekeh dan langsung berbalik membelakangi suaminya.
“Nasib nasib, malam ini dianggurin …. “