
Ketukan di pintu kembali terdengar. Dengan cepat Hanif membuka pintu. Joko dan Ria berdiri mematung di depan ruang rawat inap Ariq.
“Ini yang ditunggu.” Hanif segera mengambil kantong dari tangan Joko. “Silakan masuk.”
Joko dan Ria berjalan berdampingan mendekati tempat tidur Ariq. Dengan cepat Faiq melangkah mendekati Hani.
“Wah, jagoan tulang lagi bobok manjah ya…” dengan santai Joko menggoda Ariq yang kini sudah mulai tersenyum atas tingkah konyolnya.
Ria duduk bersama Wulan di sofa yang berada di ruangan itu. Hanif tersenyum melihat Faiq yang sedikitpun tidak beranjak dari sisi Hani.
“Terima kasih atas kedatangan kalian.” Ujar Faiq tulus. Ia tidak ingin dibilang tuan rumah yang tidak punya sopan santun karena tidak menyapa tamu yang berkunjung.
“Kami akan segera kembali. Semoga mas Ariq cepat sembuh ya.” Ria mengelus punggung tangan Ariq.
“Terima kasih tante.” Ariq tersenyum saat Ria dan Joko berpamitan pulang.
“Eh, tadi Tulang sempat mampir ke toko. Nih buat jagoan tulang.” Joko mengulurkan kotak mainan mobil tobot terbaru yang ia beli tadi.
“Terima kasih tulang.” Ariq merasa senang mendapat mainan baru yang sangat ia inginkan, karena ia masih enggan menerima pemberian Faiq.
Sepeninggal keduanya, Wulan langsung menyuapi Ariq dan memberinya minum obat. Sedangkan Hanif, Hani dan Faiq menghadapi menu makan siang yang sudah disiapkan Wulan.
Mata Hani berbinar saat melihat nasi Padang yang kini terhidang dan sangat menggugah seleranya. Hanif menyadari tatapan Faiq yang tidak suka.
“Mas Faiq tenang saja, aku yang bayarin nasi Padang ini. Joko hanya mengantarnya ke mari. Karena ia berencana menjenguk Ariq, jadi sekalian ku titipi…”
Senyum langsung terkembang di wajah Faiq. Melihat Hani yang makan dengan semangat membuat ia pun lahap menikmati hidangan yang tersedia.
“Nanti sore aku akan mengantarkan pakaian ganti untuk mbak Hani.” Ujar Wulan begitu selesai membereskan sisa makan siang keempatnya.
“Sayang, sebaiknya kamu pulang. Tidak baik ibu hamil terlalu capek. Mas yang akan mengurus semua keperluan Ariq.”
“Mas, nggak mau bunda pergi.” Ariq menolak keinginan Faiq.
__ADS_1
“Bunda nggak akan ninggalin mas Ariq.” Hani membelai rambut putranya dan mengecup keningnya.
Faiq menatap keduanya dengan sedih. Tapi ia berusaha tetap tersenyum, mungkin Yang Kuasa masih mengujinya agar ia lebih bersabar untuk melunakkan hati putra sulungnya.
Senja mulai digantikan dengan kegelapan malam, keduanya bergantian saat melaksanakan salat Magrib. Hani kembali menyuapi Ariq makan malam. Ia ingin putranya segera sembuh. Karena pikirannya terbagi dengan Ali dan Hasya yang kini dititipkan sama Wulan dan Hanif.
Faiq menelpon Budi, mas ojol yang tetap setiap membantu jika ia memerlukan bantuan dadakan. Hani terkejut saat Faiq datang membawa sekantong makanan serta buah-buahan. Ia segera memindahkan semua ke dalam wadah yang tersedia.
Faiq menghampiri Hani yang masih menyuapi Ariq. Keduanya bingung melihat Faiq yang dengan santai duduk di samping Hani.
“Bunda sudah menyuapi mas Ariq. Sekarang giliran papa yang suapin bunda.” Ia mengulurkan sendok yang sudah berisi nasi lengkap dengan lauknya.
Hani membulatkan matanya, tak percaya dengan perlakuan Faiq terhadapnya.
“Ayolah, sayang. Mas tak ingin terjadi apa-apa dengan kamu dan dedek bayinya. Besok pagi, saat Wulan datang kita akan kontrol.” Faiq memandang Hani penuh harap.
“Bunda, dedek juga perlu makan.” Ariq menyentuh tangan Hani.
Selama kehamilannya dan ngidam makan nasi Padang, baru kali ini Hani merasakan nikmatnya makan nasi Padang. Atau mungkin karena yang membelikan dan yang menyuapinya adalah suami yang sangat ia rindukan.
Tak terasa air mata menetes di wajahnya. Faiq terkejut melihat mata indah istrinya mengeluarkan butiran air.
“Bunda kenapa menangis?” Ariq menatap Hani dengan penuh tanya.
Hani menggelengkan kepala. Ia mengusap kepala Ariq, “Bunda sedih karena kita tidak bisa makan bersama mas Ali dan Dedek…”
Faiq merasa bukan itu yang membuat Hani meneteskan air mata. Ia mengulurkan kembali suapan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sendu istrinya.
“Jika mas Ariq sudah keluar dari rumah sakit, kita akan liburan bersama. Hanya ada papa, bunda, mas Ariq, mas Ali dan dedek Sasya.”
Ariq menatap wajah Faiq, “Benarkah papa?”
“Ya, kita akan menginap selama dua hari. Mas Ariq dan mas Ali boleh pilih lokasinya.”
__ADS_1
Senyum bahagia muncul di wajah Ariq. Mereka selama ini memang tidak pernah pergi liburan bersama. Melihat wajah Ariq dengan rona bahagianya, Hani akhirnya menghabiskan nasi Padang dari tangan sang suami.
“Bunda tidur sama mas, ya.” Pinta Ariq manja.
Hani menganggukkan kepalanya dengan senyum tersungging di wajahnya.
Setelah salat Isya, tanpa banyak bicara Hani segera membaringkan tubuhnya di samping Ariq. Tempat tidur itu cukup untuk menampung keduanya. Faiq yang baru masuk setelah berbicara panjang lebar dengan pak Arman dan Handoko mengenai pekerjaan tersenyum melihat kedua orang yang sangat ia cintai tidur sambil berpelukan.
Walaupun ia belum bisa berdekatan dengan Hani, tapi melihat sikap Hani yang mulai hangat membuatnya merasa bahagia. Ia tidak menginginkan yang lain lagi sekarang. Berkah sakit yang dialami Ariq membuat mereka semakin dekat.
Faiq kembali menghubungi Rudi. Selama beberapa hari ini ia hanya membalas chat dari Rudi tanpa berniat menghubunginya. Faiq duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.
“Wah, yang udah ketemu sangkar. Bagaimana parangnya udah diasah belum?” Rudi langsung menembak Faiq membuatnya agak dongkol.
“Gajimu ku potong.” Ancam Faiq cepat.
“Jangan gitu dong, bos. Kasihanilah pegawaimu yang fakir ini…” Rudi tertawa terkekeh-kekeh. “Mendengar ucapan bos, aku yakin parang masih dalam sarungnya.”
“Betul! Puas kamu menertawakanku?”
“Sorry, bos.” Terdengar nada serius Rudi. “Sekarang posisi di mana? Kedengaran adem…”
“Putraku yang sulung opname di rumah sakit. Dia terkena tipes. Aku dan Hani yang menjaganya. Bagaimana perkembangan perusahaan serta orang-orang yang terlibat dengan kehidupan keluarga kami?”
“Perusahaan aman terkendali. Pak Arman dan Handoko memang patut diandalkan. Bu Linda sudah kembali ke Indonesia. Kondisinya mulai stabil. Kemarin aku sempat ketemu tuan Aditama. Ia sempat menanyakan kabar kalian.”
“Syukurlah.” Faiq menghela nafas lega, “Jika keadaan sudah memungkinkan, aku akan mengajak Hani dan anak-anak kembali ke Jakarta.”
“Apa bos nggak ingin mendengar kabar mantan bini muda?”
“Tak usah ngelantur. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka.” Faiq melirik jam tangannya. “Sudah pukul 11 malam. Selamat malam, Rud. Assalamu’alaikum.”
“Ok, bos. Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
__ADS_1