
“Apa lagi yang kau lakukan di sini?” Adi kesal dengan kedatangan Faiq, yang sejak pagi sudah mengganggu aktivitasnya di kantor.
“Aku merindukanmu.” Jawab Faiq cuek, “Hanya kamu keluargaku yang tersisa di sini. Bagaimana kabar tante Linda”
“Huh!” Adi mendengus kesal. “Mama keadaannya semakin membaik.”
Ia tau, Faiq hanya ingin mencari info tentang Hani dan anak-anaknya. Walau harus ia akui, orang suruhan yang ia bayar untuk mencari keberadaan Hani sampai saat ini belum bisa menemukan alamat mereka.
“Syukurlah. Ku harap penyakit tante Linda segera hilang.” Faiq dengan seenaknya menyelonjorkan kakinya di atas meja sofa yang ia duduki sekarang.
“Dasar tamu kurang ajar.” Walaupun kesal, Adi tak bisa berbuat apa-apa. Karena seperti yang dikatakan Faiq, mereka berdua sudah seperti saudara karena terikat oleh anak-anak mereka.
Adi meminta Giska sekretarisnya untuk membawakan dua gelas kopi ke dalam ruangannya. Taklama kemudian sang sekretaris masuk lengkap dengan kopi dan camilannya.
“Silakan, pak.” Giska meletakkan dua gelas kopi di hadapan Faiq.
Faiq memandang penampilan sekretaris Adi dengan kening berkerut. Pakaiannya sungguh seksi, dengan potongan rok di atas paha, membuat paha mulusnya mengundang siapapun ingin mengelusnya.
“Astaghfirullah…” Faiq mengucap dalam hati, pagi-pagi udah mendapat sarapan suegerr…
“Kamu tertarik sama sekretarisku. Kita barteran.” Adi menyindirnya sambil menghenyakkan tubuh di samping Faiq. “Dia lajang, jadikan milikmu. Dan kembalikan milikku.”
Mendengar ucapan Adi, Faiq tertawa kecil. Tanpa menunggu tawaran Adi ia langsung menyeruput kopinya.
“Bukankah bang Tama sudah terbiasa main dengan sekretaris? Ku rasa sudah saatnya bang Tama mencari pengganti nona Helen.” Faiq berkata sekenanya tanpa melihat perubahan wajah Adi.
“Kau tidak usah menyebut nama Helen. Dia telah kembali ke Australia. Karena disanalah keluarganya.”
__ADS_1
Setiap mengingat nama itu, darah Adi terasa bergolak. Bagaimana tidak, ia telah dibohongi yang membuat harga dirinya hancur tak berbekas. Akibat perpisahan yang terjadi antara ia dan Helen, persahabatan ia dan Gilangpun menjadi pecah tak bersisa.
Tatapan Adi berubah sinis mendengar sindiran Faiq, “Aku pernah mendengar seseorang berkata, ‘yang cantik banyak tapi yang tulus itu susah.’ Dan aku menginginkan milikku yang tulus, karena aku sudah menyadari bahwa dialah yang terbaik yang pernah ku miliki.”
Faiq balas menatap Tama, “Aku tak akan melepaskan milikku yang kudapatkan dengan susah payah, walau ditukar dengan apapun tak akan ada pengaruhnya.”
“Bukankah sudah ku katakan, kita akan bersaing dari awal.” Adi memotong ucapan Faiq dengan cepat.
“Aku keberatan. Hani adalah istriku. Walau harus ku akui, masalah anak kita akan bagi waktu untuk bersama. Dan itu tak bisa kutolak.“
Adi menatap Faiq dengan sinis, “Kita lihat saja nanti. Pada akhirnya terserah Hani memilih pada siapa ia akan melabuhkan hatinya…”
“Itu tak akan terjadi. Buktinya bang Tama telah mencuri start dengan pergi ke Medan untuk mencarinya.” Tembak Faiq cepat.
“Dari mana kau tau aku dari Medan? Apa kau memata-mataiku?” Adi merasa tidak senang karena Faiq mengetahui setiap langkahnya.
“Kenapa kau tidak mencari sendiri?”
“Orangku levelnya masih di bawah. Ahli IT bang Tama lebih menjanjikan.” Faiq memuji kinerja pegawai Adi dengan tulus.
“Kamu memang orang yang tidak tau malu yang pernah ku kenal.” Dengus Adi kesal.
“Terima kasih atas pujiannya.” Sahut Faiq cepat. Ia tak peduli apapun yang dikatakan Adi, “Walaupun aku harus mengemis tiap hari akan ku lakukan. Yang penting bisa menemukan Hani dan anak-anak.”
Ponsel Adi berbunyi. Dengan cepat ia menyambutnya. Faiq memasang telinga dengan seksama. Informasi sekecil apapun harus ia dapatkan untuk mengetahui keberadaan keluarga kecilnya.
“Hallo dokter Yacob...” Adi menjawab telpon dengan perasaan khawatir.
__ADS_1
“Baiklah, besok sore aku akan berangkat ke sana.” Adi menutup telpon dengan wajah tak bersemangat.
“Apa yang terjadi dengan tante?” Melihat wajah Adi yang berubah sedih, tak ayal Faiq turut merasakannya.
“Kondisi mama kritis. Dia terus menyebut nama si kembar.”
Faiq turut prihatin mendengar perkataan Adi, “Semoga ada keajaiban untuk tante Linda. Hani dan anak-anak pasti sedih mendengar berita ini. Aku akan mengabari ibu dan ayah. Mereka kini berada di Paris. Semoga ibu dan ayah bisa mengunjungi tante Linda.”
“Terima kasih atas perhatian dan doamu. Semoga Allah memberikan kesembuhan pada mama.” Adi berdiri dekat jendela besar ruangannya. Matanya memandang jauh. Perasaannya berkecamuk.
Suara ponsel berbunyi memotong kesunyian yang tercipta diantara keduanya. Adi meraih ponsel yang berada di saku jasnya. Tetapi bukan itu yang mengeluarkan suara. Dengan cepat ia berjalan menuju meja kerja, dan ternyata ponsel satunya yang terletak di atas meja berbunyi. Adi menyambutnya dengan cepat.
“Hallo, Chandra…” Kening Adi berkerut. Ia membalik badannya membelakangi meja, matanya memandang jalanan ibu kota yang semakin padat merayap.
“Berastagi, Jalan Danau Singkarak. Baiklah. Terima kasih atas informasimu. Secepatnya aku akan ke sana.” Senyum bahagia terbit di wajah Adi mendapat berita dari orang kepercayaannya.
“Fix.” Faiq merasa senang seketika. Ia yakin bahwa Adi telah mengetahui keberadaan Hani dan ketiga anaknya.
Adi baru menyadari bahwa ia tidak sendiri. Saat ia membalik badan, wajah sumringah Faiq tergambar dengan jelas. Ia kecolongan, berita yang harusnya ia simpan sendiri, malah telah diketahui rival utamanya.
“Terima kasih atas kopi dan informasinya, bang. Tidak sia-sia aku mengemis padamu. Doakan saudaramu segera menemui keluarganya. Dan semoga perjalanan bang Tama ke Jerman besok lancar. Dan tante Linda segera diberi kesembuhan.” Faiq membungkukkan badan memberi hormat pada Adi dan langsung keluar ruangan dengan sejuta rasa bahagia.
“Sialan.” Adi melempar pulpen ke arah Faiq yang sudah menutup pintu dengan senyum lebarnya.
Mau bagaimana lagi, semua sudah menjadi ketentuan Allah. Adi yang berupaya mencari informasi keberadaan Hani dan anak-anak, tapi ia berada di kondisi mamanya yang sedang kritis. Berarti memang takdir Faiq-lah yang akan menemui mereka terlebih dahulu.
Walau pun ia marah atas perbuatan Faiq yang telah menikahi Hesti hingga menyebabkan Hani dan anak-anak pergi dari rumah, tapi semua bukan keinginan Faiq. Adi sangat mengetahui kronologisnya. Dan ia tau, Faiq lelaki yang bertanggung jawab. Ia akan mengikhlaskan Hani dan anak-anaknya bersama Faiq.
__ADS_1