
Ivan kembali ke kantor karena Roni memintanya segera datang. Sesampainya di sana ternyata bukan hanya klien yang dari Surabaya. Ternyata mereka kedatangan klien baru dari Lombok yang ingin menggunakan rumah produksinya membuat iklan tentang pariwisata Lombok yang berbeda dari yang telah ada. Walau pun kesal, akhirnya Ivan menemui klien barunya yang berasal dari Dinas Pariwisata Propinsi NTB.
“Saya Adam, bagian Promosi Pariwisata Daerah Lombok,” ujar lelaki yang usianya tampak lebih tua dari Ivan, “Ini Meri sekretaris saya.”
Perempuan muda itu memandang Ivan tanpa berkedip. Apalagi saat Ivan menyalaminya rasanya berat ia melepas tangan kokoh dengan aroma parfum maskulin yang begitu memanjakan indera penciumannya.
Dengan cepat Ivan menarik tangannya dari perempuan muda yang menatapnya penuh damba. Ia merasa kesal, tetapi karena berhadapan dengan klien, terpaksa ia harus menunjukkan sikap ramah, walau pun di dalam hatinya dongkol.
Setelah berbincang beberapa saat akhirnya ditemui kesepakatan bahwa pihak perusahaan menyanggupi membuat iklan untuk mempromosikan NTB sebagai salah satu destinasi pariwisata.
“Kebetulan kami masih di sini, saya ingin mengundang tuan Ivan untuk makan malam bersama,” ujar Adam dengan penuh harap.
“Saya ingin melihat jadwal hingga malam nanti,” Ivan menjawab sambil mengarahkan tatapan pada Gisel yang masih berdiri bersama Roni di sampingnya.
Meri menatap Gisel dengan raut tidak senang. Ia cemberut saat Gisel mendekat pada Ivan. Matanya memandang Gisel dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia merasa kalau kecantikan Gisel masih di bawahnya. Tapi karena Gisel adalah sekretaris lelaki yang telah membuatnya terpesona pada pertemuan pertama membuat Meri menunjukkan sikap permusuhan padanya.
“Baiklah tuan Adam,” Ivan mengangguk menyetujui undangan Adam, “Anda tinggal sebutkan tempatnya dan waktunya saya akan memenuhi undangan anda.”
“Terima kasih atas waktu yang tuan Ivan berikan pada kami,” Adam langsung bangkit dari kursi dan segera menyalami Ivan.
Ivan membalas jabat tangan Adam sambil tersenyum, “Saya juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang tuan Adam berikan pada perusahaan serta kerja sama yang telah terjalin ini.”
Begitu keduanya berlalu dari ruangan Ivan, Roni langsung mengomentari tindak tanduk sekretaris kliennya yang kelihatan terlalu agresif.
“Wah, bahaya bos sekretrisnya tuan Adam, seperti ulet keket,” mulut Roni tidak bisa dikontrol membuatnya langsung dicubit Gisel.
“Biarkan saja, mungkin tuan Adam menyukai servisnya,” jawb Ivan santai sambil membuka proposal kerja sama dari Adam yang terletak di atas meja kerjanya.
“Permisi tuan,” Gisel langsung pamit begitu Roni diminta Ivan duduk di hadapannya untuk membahas pekerjaan mereka.
Ia sangat tidak nyaman dengan tatapan Adam yang begitu intens memandangnya, belum lagi Meri sekretarisnya yang sok kecantikan.
“Wah, wajahnya cemberut ada apa yang?” celetukan Hari membuat kekesalan Gisel semakin meningkat.
Ia kesal sudah beberapa pekan ini Hari memang suka menggodanya. Kalau disuruh memilih ia lebih senang dengan Roni, tapi tampaknya kriteria Roni bukan pada dirinya. Sedangkan Hari, ia malas meladeninya karena setiap belokan kantor selalu ada pacarnya yang selalu menemani malam-malamnya.
“Pala lu peyang,” sambar Gisel kesal.
Melihat Gisel yang tak memandangnya membuat Hari berhenti di meja kerjanya. Tatapannya fokus pada Gisel yang masih memeriksa berkas di atas meja dengan wajah ditekuk.
“Ntar malam keluar yuk?” Hari menatap Gisel dengan penuh harap.
“Nggak bisa. Aku dan Roni mendampingi bos makan malam bersama klien baru dari Lombok,” jawab Gisel cepat.
Ia malas meladeni playboy cap ulat bulu di kantornya itu. Ia sekarang sudah tobat, nggak ingin bermain-main lagi. Umurnya juga sudah cukup untuk memulai hubungan yang serius. Ia ingin memiliki keluarga sederhana tapi aman dan tenteram tanpa gangguan.
Melihat keseriusan Gisel, tak ayal Hari langsung duduk di hadapannya. Ia kini tertarik dengan sekretaris bosnya itu. Saat ini pun Hari mulai ingin mencari pasangan yang serius dan siap menerima dirinya dengan segala kekurangan yang ada. Ia juga merasa capek bermain terus, sementara orang tuanya di kampung memintanya untuk segera menikah.
Dari sekian banyak perempuan di kantor yang biasa menghangatkan ranjangnya, pilihan Hari jatuh pada Gisel, apalagi melihat sikapnya yang sekarang lebih santun dan mulai memperbaiki diri khususnya dari segi pakaian. Hal itulah yang membuat Hari sekarang cenderung mulai menampakkan perasaan sukanya pada Gisel.
Tepat jam lima sore Ivan dan Roni keluar dari ruangan. Keduanya masih terlibat perbincangan yang serius, tanpa menghiraukan keberadaan dirinya di meja kerja Gisel.
Sontak Hari langsung berdiri cepat. Ia merasa heran melihat bosnya jam segini sudah berniat pulang, apa mentang-mentang karena pengantin baru ….
“Ngapain lu di sini?” Roni mencecarnya pertanyaan begitu Ivan berlalu tanpa memandang keberadaan Hari di meja sekretarisnya.
“Pengen kencan sama neng geulis ini,” ujar Hari santai.
“Lu mau Sel sama cecunguk yang isi botolnya udah menyebar kemana-mana?” Roni langsung menatap Gisel.
“Mulutmu itu,” Hari merasa Roni menjatuhkan harga dirinya di depan perempuan calon masa depannya, “Gue udah tobat. Pengen mulai hubungan serius.”
__ADS_1
“Yang benar?” Roni menatapnya tak percaya, “Atau kamu sudah ketularan bos Ivan? Aku sangat bersyukur mendengarnya.”
Gisel mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar pembicaraan kedua lelaki lajang yang seolah-olah menganggapnya tidak ada.
“Tapi yang mau ditembak gak nyadar-nyadar,” Hari melirik Gisel yang menulikan telinganya pura-pura tidak mendengar percakapan keduanya.
“Senjatanya kurang canggih,” ujar Roni sambil tersenyum lebar. Pandangannya kini beralih pada Gisel, “Nanti jam 7 malam ku jemput di apartemen. Jangan sampai terlambat. Aku tidak mau kita dipelototin bos karena terlambat datang.”
“Hei, kalian mau kencan ya?” Hari kini menatap keduanya tak percaya melihat kekompakan keduanya yang sudah bersiap untuk pulang.
“Siapa bilang kencan? Kami mendampingi bos untuk makan malam bersama klien.” Roni berkata dengan santai. “Aku pulang dulu, silakan lanjutkan obrolan kalian.”
Gisel sebenarnya malas meladeni Hari, tapi karena kerjaannya belum selesai, dan lagi Hari juga asisten yang menggantikan Ivan bila tidak berada di tempat, terpaksalah ia duduk menyelesaikan pekerjaan yang hingga satu jam ke depan.
Sementara itu di gerai Kara Jewellery, setelah drama makan siang bersama di kafe, tepat jam 2 siang Khaira kembali ke gerai Kara Jewellery. Ia sekalian ingin beristirahat di kamar yang berada di dalam ruang kerjanya di sana. Pekerjaan memeriksa laporan di dua tempat yang berbeda membuatnya merasa kelelahan.
Andini memasuki ruangan sambil membawakan segelas teh hangat permintaan Khaira. Ia tidak melihat Khaira di dalam ruangan, tapi pintu kamar yang biasa digunakan bosnya untuk beristirahat tampak terbuka. Tanpa melihat ke dalam kamar, Andini langsung ke luar. Ia yakin bosnya sedang salat Ashar.
Begitu selesai salat rasa kantuk tak bisa Khaira elakkan. Tanpa melepas mukena, Khaira langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia tidak ingat berapa lama ia tertidur. Rasanya sangat nyaman sekali.
Ivan yang melihat posisi istrinya masih berada di gerai Kara Jewellery, akhirnya memutar mobilnya singgah ke pusat perbelanjaan terkenal untuk menjemput sang istri. Ia ingin Khaira mendampinginya makan malam bersama kliennya malam ini.
Gerai sudah hampir di tutup. Ivan melihat para pegawai sudah mulai bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Matanya mengawasi setiap sudut, tapi tidak nampak bayangan sang istri. Akhirnya Ivan menghampiri Andini yang mulai mengunci lemari etalase yang berisi berbagai jenis perhiasan emas hingga berlian.
“Selamat sore tuan,” Susi terkejut melihat suami bosnya sudah berada di antara mereka.
“Mana istriku?” tanya Ivan datar.
Andini yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung berdiri tegak, mengetahui keberadaan suami bosnya yang menatap mereka dengan raut dingin.
“Maaf tuan, saya kira mbak Rara masih di ruangan. Sejak selesai salat Asar belum keluar hingga saat ini.”
Ia langsung berjalan menuju ruang kerja Khaira. Saat memasuki ruangan, pandangan Ivan tertuju ke bufet panjang yang berada di dalam kantor istrinya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Sudah tidak ada lagi ruangan pemujaan bagi almarhum sahabatnya.
Kini Ivan merasa lega. Ia berjanji akan menjaga kepercayaan almarhum Abbas, dan akan berusaha membahagiakan Khaira dan menjauhkannya dari hal-hal yang akan membahayakan kehidupan rumah tangga mereka berdua.
Ivan tidak melihat keberadaan sang istri. Matanya kini tertuju pada pintu kamar yang agak terbuka. Langkah kaki Ivan membawanya memasuki ruangan kamar yang sangat sederhana itu. Hanya ada tempat tidur single bed, lemari kaca, serta tempat salat, tidak ada furnitur lain yang berada di kamar yang tidak terlalu luas itu.
Tatapan Ivan terpaku pada sesosok tubuh memakai mukena dan masih terlelap di tempat tidur. Ia berjalan pelan mendekati Khaira. Sebelum membangunkan istrinya, Ivan menatap wajahnya dengan lekat. Setelah puas memandang wajah ayu yang masih terlelap dengan nyaman akhirnya Ivan mulai membangunkan istrinya.
“Sayang …. “ Ivan menepuk pipi Khaira dengan pelan.
Khaira langsung membuka mata. Ia terkejut melihat wajah suaminya begitu dekat hampir tanpa jarak di atasnya. Dengan cepat ia bangkit dari pembaringan, masih mengumpulkan separuh nyawanya yang belum sepenuhnya sadar.
Ivan tak bisa menahan senyum melihat kebingungan istrinya melihat dirinya berada di kamar kecil ruang kantornya.
“Apa kita akan menginap di sini malam ini hm …. ?”
Kini Khaira ingat dimana posisinya saat ini. Ia terkejut melihat mukena masih melekat di tubuhnya. Spontan Khaira membuka mukena untuk berganti pakaian yang ia gantungkan di dalam lemari kaca.
Mata Ivan membulat melihat pemandangan di depannya. Khaira tidak sadar bahwa ia hanya memakai tank top dengan leging press body. Ivan tak bisa berkata apa-apa. Jantungnya langsung berlari cepat, tak bisa mengalihkan pemandangan indah di depan mata.
Sontak Khaira tersadar dengan keadaan dirinya. Wajahnya memerah menahan malu. Dengan cepat ia mendorong Ivan yang masih terpaku memandangnya tanpa berkedip.
“Mas ihh!” Sekuat tenaga ia mendorong Ivan yang tegak seperti robot.
“Cium dulu,” Ivan menatap Khaira sambil jari telunjuknya menepuk bibirnya. Kapan lagi pikirnya mengerjai Khaira, apalagi sekarang sikaf istrinya tidak sekaku dulu.
Khaira melotot melihat kelakuan suaminya. Tapi Ivan tak bergeming tetap dengan gaya coolnya dengan tatapan lurus pada istrinya.
“Keluar dulu, ntar dikasi,” ujar Khaira dengan pipi semakin memerah.
__ADS_1
Rasanya Ivan ingin tertawa melihat Khaira yang tampak malu dengan wajah tertunduk sambil kedua tangannya menutupi dada yang putih mulus.
“Awas kalau ingkar!” ancam Ivan dengan wajah berusaha menahan senyum melihat Khaira yang kembali mendorongnya sekuat tenaga. Akhirnya ia mengalah dan keluar dari kamar.
Khaira menahan debaran jantungnya yang berdetak cepat. Ia tak mengerti, akhir-akhir ini jika berada di dekat suaminya jantungnya menjadi tidak normal. Apakah ada masalah dengan jantungnya?
Setelah detak jantungnya mulai normal Khaira segera mengenakan pakaian yang ia gantung di dalam lemari kaca. Ia kesal karena ceroboh untuk yang kedua kalinya, walau pun tidak terlalu fatal.
Ivan sudah menunggu sang istri keluar dengan menyandar di meja kerja Khaira. Senyum langsung terbit di wajahnya melihat Khaira yang berjalan ke arahnya dengan wajah tertunduk.
“Mana janjinya?” kejar Ivan cepat. Ia khawatir Khaira berubah pikiran.
Khaira menatapnya dengan pipi merona, “Pejamin dulu matanya.”
Ivan tak bisa menahan gelak tawanya. Kini ia mulai menyadari bahwa sikap Khaira memang agak kolokan dan manja. Mata Ivan langsung terpejam.
Khaira menatap wajah tampan laki-laki yang mulai memberikan rasa yang berbeda di hatinya. Dengan perasaan berdebar ia mendekatkan wajahnya pada sang suami.
Ivan masih menunggu dengan kedua mata terpejam. Satu menit, dua menit, empat menit berlalu. Tak sabar ia membuka mata. Khaira masih menatap wajah suaminya tanpa berbuat apa pun.
Dengan cepat Ivan menahan tengkuk istrinya dan menyatukan bibir keduanya. Ia tak bisa menunggu lebih lama. Telaga madu yang sudah menjadi candunya tak bisa ia biarkan menganggur lama. Ia merasakan pukulan di dada yang begitu kuat.
“Makanya kalau berjanji harus ditepati,” ujar Ivan menyudahi ciuman panjangnya dengan nafas masih tersengal.
“Mas nggak sabaran sih …. “ cetus Khaira cemberut dengan bibir manyun.
“Itu bibir mau di sedot lagi?” Ivan menyentuh bibir istrinya yang tampak bengkak karena ulahnya.
Khaira menatap suaminya dengan kesal. Tanpa berkata apa pun ia melangkah menjauhi Ivan.
“Hei, mau kemana?” Ivan keheranan melihat Khaira yang berjalan meninggalkannya.
“Aku nggak mau nginap di sini. Horor!”
Ivan tertawa mendengar jawaban ambigu istrinya. Dengan santai ia mengejar langkah Khaira dan langsung merangkulnya dengan erat.
“Malam ini kita makan malam di luar ya. Kebetulan ada undangan makan malam dari klien,” ujar Ivan begitu keduanya sudah di dalam mobil.
Khaira menatap Ivan dengan bingung. Bagaimana ia bisa mendampingi Ivan bertemu klien. Ia sama sekali tidak ada persiapan.
“Kenapa mas nggak bilang dari tadi?” protes Khaira.
“Tenang aja. Ini hanya makan malam biasa,” Ivan berusaha menenangkan istrinya, “Kita mampir ke butik aja buat cari gaun.”
“Nggak, mampir ke rumah mbak Rheina aja,” potong Khaira cepat, “Sekalian Magrib di sana. Pulang ke rumah terlalu jauh.”
Khaira menolak keinginan suaminya untuk mampir di butik. Hari juga sudah mau Magrib. Ia nggak ingin salat Magrib di jalan. Kebetulan yang terdekat adalah rumah mas Ali.
“Baiklah sayang,” Ivan mengangguk menuruti keinginan Khaira sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Khaira merasa tersentuh. Inilah yang ia rindukan. Hal-hal kecil yang biasa dilakukan Abbas saat kebersamaan mereka. Ia memandang Ivan yang menyetir dengan serius.
“Kenapa?” Ivan menatapnya menyadari tatapan Khaira yang fokus padanya.
Khaira menggelengkan kepala, tak sanggup berkata-kata. Mobil telah memasuki pekarangan rumah mas Ali. Ivan langsung mematikan mesin mobil. Keduanya saling bertatapan. Kini Ivan melihat sorot mata bening itu mulai menunjukkan sisi manusiawinya. Tidak tampak lagi sorot kemarahan atau pun kekesalan yang selalu tergambar di sana selama ini.
Ivan mencium kening istrinya dengan penuh perasaan dan langsung memeluknya penuh kehangatan. Ia merasakan tangan Khaira juga memeluknya. Hati Ivan langsung menghangat. Kini ia yakin Yang Kuasa mulai menggerakkan hati istrinya untuk menerima cintanya.
***Dukung\, like\, komen dan votenya jangan lupa ya ....***
__ADS_1