
Khaira membuka mata ketika merasakan nafas memburu di dadanya. Ia terkejut melihat Ivan yang sudah seperti bayi besar menempel di tubuhnya. Ia sudah tidak bisa bergerak. Suaminya sudah sepenuhnya menguasai dirinya. Entah sejak kapan pakaiannya dilucuti Khaira sudah tidak ingat.
Ia jadi merinding merasakan sentuhan-sentuhan lembut yang begitu memabukkan. Khaira memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan ******* akibat perbuatan suaminya. Ivan memang number one.
Sejenak keduanya saling menyatukan jiwa dan raga di keheningan siang menjelang sore itu. Suasana mendung membuat mereka enggan untuk keluar dari kamar dan saling memanjakan satu sama lain.
“Jangan ditahan, lepasin aja .... “ Ivan tersenyum menyadari bahwa Khaira sudah membuka mata, “Aduuuh .... “
Khaira tersenyum melihat Ivan yang meringis karena cubitannya di perut sang suami. Ia merasa puas melihat Ivan menggosok perutnya yang memerah.
“Tega banget sih Bunda .... “ Ivan geleng-geleng kepala melihat Khaira masih dengan senyumnya yang lepas melihat suaminya meringis.
Dalam hati ia merasa bahagia, karena sikap Khaira sudah tidak kaku dan mulai menerima dan membalas semua yang ia lakukan. Bagaimana ia tidak merasa senang, kesempatan baginya untuk membayar tiga tahun waktu kebersamaan yang hilang antara mereka berdua untuk mereguk manisnya madu asmara.
Tanpa banyak bicara Khaira mengikuti alur permainan suaminya. Ia membiarkan Ivan mengeksplor semua yang ada didirinya. Menolak pun akan percuma, karena ia sudah mengenal suaminya, seorang lelaki pemaksa dengan sejuta pesona.
Ia tidak tau, apakah ia melakukan karena cinta atau melepas kewajiban sebagai seorang istri. Melihat wajah penuh harap yang tergambar di wajah Ivan saat memandangnya membuat Khaira merasa iba dan membiarkan semua perlakuan Ivan terhadapnya.
Ia menatap Ivan yang kini berada di atasnya. Wajah suaminya dengan kumis dan brewok tipis menghiasinya membuat Khaira membenarkan ucapan Hasya, bahwa Ivan semakin menawan dan berkharisma.
Khaira jadi malu mengakui bahwa ia mulai merasakan ketertarikan yang sama. Ia memejamkan mata tak mampu membalas tatapan Ivan yang memandangnya penuh puja saat mulai bergerak turun naik dengan pelan.
“Bukalah matamu sayang .... “ disela permainannya sesempatnya Ivan berkata.
Ia bahagia melihat sorot kelembutan yang mulai terpancar di mata bening istrinya. Tak mungkin ia membagi dengan siapa pun anugerah yang telah ia miliki dengan segala pesona yang membuatnya tak bisa berpaling.
Semburat merah langsung merona di wajah Khaira mendengar ucapan suaminya. Perlahan ia membuka mata. Keduanya saling bertatapan dengan lekat dan penuh pemujaan. Ivan mengayuh bahtera secara perlahan khawatir menyakiti pemilik keindahan ragawi yang kini pasrah dalam ritme yang ia ciptakan. Ia ingin menggapai puncak tertinggi surgawi bersama bidadari yang telah dianugerahkan hanya untuknya dan akan ia jaga selama nyawa masih dikandung badan.
Begitu bahtera cinta kembali ke dermaga, Ivan terlelap dengan senyum yang tak lepas dari wajah tampannya.
Khaira segera bangkit dari pembaringan. Tubuhnya terasa lengket setelah memenuhi semua hasrat suaminya. Ia segera menutupi tubuh polos Ivan yang kini mendengkur setelah badai usai dan ombak kembali ke tengah lautan.
Ia berdecak sambil menggelengkan kepala saat melihat tubuhnya penuh bercak abstrak lukisan cinta di kaca wastafel akibat ulah suaminya yang mengurungnya seharian di kamar. Khaira segera menyudahi mandi karena belum melaksanakan salat Asar.
Ia terpaksa mengenakan kembali pakaian satu-satunya yang kusut tergerai di lantai setelah badai berlalu dan keadaan tenang di kamar yang menjadi saksi bersatunya dua insan yang telah terpisah karena berbagai godaan dan ujian kehidupan di masa lalu.
Setelah melaksanakan salat Asar Khaira melihat ponselnya yang sudah menunjukan jam empat sore. Ia segera melipat mukena dan menyiapkan sarung, peci serta baju koko suaminya.
“Mas, udah sore ntar waktu Asarnya habis lho .... “ Khaira berkata pelan sambil menepuk punggung suaminya.
“Sebentar sayang .... “ Ivan masih merasakan punggungnya kaku.
“Mas, udah hampir Magrib nii .... “ Khaira tidak mau kalah. Ia tidak ingin suaminya melewatkan waktu Asar yang tinggal setengah jam lagi masuk Magrib.
“Baiklah Bundaku sayang, tapi cium duluu .... “ Ivan memajukan bibirnya tepat di depan wajah sang istri.
Khaira geleng-geleng kepala dengan tingkah manja sang suami. Dengan cepat ia mendaratkan bibir untuk memenuhi keinginan sang suami.
Ivan melum*** dan menghi***nya dengan penuh gairah. Tak ada bosan-bosannya ia ingin terus bermesraan dengan sang istri.
“Massss .... “ Khaira dengan cepat mendorong dada bidang suaminya.
Ia sampai kehabisan nafas mengimbangi ciuman panas sang suami. Kalau diturutkan bisa-bisa akan terjadi badai yang akan kembali menggelorakan dan membuat panas kamar mereka.
“Sorry sayang, kelepasan .... “ Ivan terkekeh melihat wajah kesal dari sorot bening sang istri.
__ADS_1
Khaira hanya geleng kepala melihat Ivan yang bangkit berjalan dengan tubuh polosnya dari tempat tidur memasuki kamar mandi sambil tertawa renyah.
Saat Ivan melaksanakan salat Asar, Khaira langsung menghubungi ponsel Ira. Ia sangat merindukan si kembar. Sudah hampir dua hari ia berjauhan dengan keduanya membuat perasaan rindu begitu menyesakkan dada.
“Assalamu’alaikum .... “ suara lembut Ira menyambut panggilan Khaira.
“Wa’alaikumussalam Mbak,” Khaira segera menjawab, “Mana si kembar aku sangat merindukan mereka.”
“Fajar, Embun ... sini ada bunda nih .... “ Ira memanggil keduanya, “Lagi asyik main sama Khansa dan Fadhil, Ameer juga ada di sini sama Sasya dan Valdo.”
“Ayah .... “ suara kenes Embun langsung terdengar begitu ponsel diberikan Ira padanya.
Ivan yang baru selesai berdoa langsung bergegas mendengar suara putri kesayangan memanggilnya.
“Halo princess cantik ayah .... “ Ivan meraih ponsel di tangan Khaira dengan senyum mengembang.
“Ayah main syini sama ade, ada mbak Sassa ...” mata bulat Embun memandang ayahnya dengan mimik lucu.
“Besok pagi ayah baru bisa main sama princess kesayangan ayah yaa .... “ Ivan berkata dengan lembut, “Sini sayang ayah dulu, muaaahh .... “
“Muaaahhhh .... “ bibir mungil Embun menempel di ponsel Ira.
Ivan tertawa melihat kelucuan Embun. Kebahagiaannya semakin berlipat-lipat melihat semua kesayangannya kini sudah bersama.
“Embun sini .... “ suara Qeela memanggilnya membuat Embun langsung mengembalikan ponselnya pada Ira.
“Fajar mana mbak?” Ivan langsung menanyakan putranya yang tidak nampak sejak awal pembicaraan terjadi.
“Main perosotan sama Fadhil di samping,” ujar Ira, “Berapa hari lagi di sana?”
Khaira langsung meraih ponsel di tangan Ivan. Ia khawatir jawaban nyeleneh yang bakal diucapkan Ivan pada kakak iparnya, akan membuatnya diperolok saudaranya yang lain saat pulang.
“Mangga Indramayu dan kerupuk bonggol pisang boleh .... “ Ira merasa senang Khaira menawarinya oleh-oleh khas Indramayu.
“Siap Mbak,” Khaira menyanggupi keinginan Ira.
Selepas salat Magrib di kamar, Ivan menuruti keinginan Khaira untuk membeli oleh-oleh yang akan mereka bawa untuk kepulangan esok pagi. Tak lupa Khaira membelikan mainan untuk si kembar dan ponakannya yang lain. Walau pun harganya tidak seberapa, tapi ia selalu mengingat momen dimana saudaranya pun selalu berbuat yang sama setiap bepergian dari mana pun.
Mereka tidak pernah mempermasalahkan harga dari apa yang dibawakan, tetapi kebersamaan dan berbagi itulah yang diutamakan dari setiap barang yang jadi oleh-oleh setiap bepergian.
Keinginan Ivan untuk kulineran di kota Indramayu akhirnya kesampaian. Ia membawa Khaira mengitari sepanjang jalan menikmati malam, dan mampir di masjid untuk melaksanakan salat Isya.
Tepat jam sembilan malam keduanya kembali ke hotel setelah memenuhi mobil dengan pusat jajanan dan oleh-oleh khas Indramayu serta mainan untuk si kembar dan sepupunya. Apa pun yang diinginkan Khaira sedapat mungkin Ivan menurutinya, karena ia pun banyak keinginan yang akan ia lakukan untuk menghabiskan malam bersama.
Begitu sampai di kamar Khaira bergegas ke kamar mandi. Ia tidak menunggu Ivan yang masih berbincang dengan Roni yang kebetulan mengunjungi keduanya begitu Ivan mengabari bahwa mereka masih menginap di hotel.
Setelah membersihkan diri Khaira kembali ke kamar. Ia melihat gaun seksi yang tergantung di dalam lemari. Ia tidak peduli, karena tidak ada pakaian lain langsung menggunakannya. Ia yakin, serapi dan setertutup apa pun yang ia kenakan, kalau sang suami sudah menginginkannya semua akan berakhir di lantai.
Merasa lelah dengan keseharian dan habis mutar menikmati malam di kota Indramayu, akhirnya Khaira segera menjatuhkan diri di pembaringan. Rasa capek, lelah sekaligus mengantuk telah membuatnya terlelap segera dalam pelukan malam.
Jam sebelas malam Ivan kembali ke kamar. Roni baru saja pulang setelah mengunjunginya dan membawakan beberapa box oleh-oleh untuk kepulangan mereka besok pagi. Melihat suasana kamar yang hening membuat Ivan geleng-gelang kepala.
Ia yang sudah berharap banyak untuk menghabiskan malam ini berdua dengan Khaira tinggal menghela nafas kecewa melihat sang istri sudah terlelap di dalam selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Ivan segera membersihkan diri untuk segera bergabung bersama Khaira. Ia membiarkan sang istri yang terlelap dan mulai membuka ponsel untuk melihat beberapa pesan dari Danu yang memintanya untuk meninjau proyek yang sudah berjalan tujuh puluh lima persen dari rancangan awal.
__ADS_1
Ia menyanggupi untuk datang melihat progres proyek kerjasama dengan Berli. Ia pun akan menceritakan semuanya kepada Khaira, dan berterus terang alasan dibalik pembangunan rumah sakit kanker untuk anak yang didedikasikannya atas kepergian Bryan.
Jam tiga subuh Khaira sudah tidak bisa tidur, karena helaan nafas Ivan yang memburu terdengar di telinganya. Melihat gerak-gerik Khaira yang terbangun atas ulahnya membuat senyum terbit di wajah Ivan.
“Gak bisa tidur,” ujarnya sambil membelai punggung Khaira dengan lembut.
Khaira sudah menduga apa yang diinginkan suaminya. Ia langsung memeluk tubuh Ivan dan merapat dengan santai.
“Akhirnya berguna juga hadiah kecil dari Hari,” Ivan menyingkap selimut dan melihat Khaira yang menggunakan baju tidur seksi yang semakin menyegarkan matanya.
“Dingin .... “ Khaira menarik selimut dari tangan Ivan untuk menutup tubuhnya kembali.
“Ada aku yang akan menghangatkan,” senyum terbit di wajah Ivan.
“Hm .... “ Khaira mencibir melihat tangan Ivan yang mulai bergerilya.
“Botol udah full, harus dikosongkan,” Ivan berkata dengan santai.
Khaira mendelik mendengar ucapan ambigu suaminya. Belum sempat ia menjawab, Ivan sudah membalik posisi keduanya. Kini tubuhnya sudah berada di atas Ivan.
“Udah lama gak liat kamu di posisi ini. Aku sangat menginginkannya,” perkataan Ivan membuat rona wajah Khaira berubah.
Ia malu untuk memulai. Walau pun semua telah kembali normal, tetap saja Khaira merasakan bahwa dirinya masih dan terus berproses untuk kembali seperti dulu saat pernikahan yang penuh dengan kehangatan dan kemesraan dalam rumah tangga mereka.
Melihat Khaira yang pasif membuat Ivan sadar, bahwa memang dirinya yang harus memulai kembali untuk membuat Khaira seperti dahulu. Ia tidak bisa mengharapkan Khaira melakukan semua keinginannya untuk menghangatkan ranjang mereka yang telah lama dingin.
Tanpa membuang waktu Ivan segera menuntaskan hasrat yang sudah ditahannya sejak tadi malam. Ia tak mempedulikan beberapa waktu berlalu untuk melanjutkan kemesraan dengan istri mumpung masih berada di hotel.
Jam sepuluh pagi keduanya telah memasuki kompleks perumahan mewah kediaman Ariq. Ivan tersenyum melihat Khaira yang terlelap di sampingnya. Tangannya tak terlepas terus menggenggam jemari sang istri dan menciumnya dengan wajah cerah.
Begitu mobil berhenti Khaira langsung membuka matanya yang masih terasa berat. Ia merasakan tubuhnya remuk, ulah siapa lagi kalau bukan sang suami yang tetap segar malahan semakin bugar setelah olahraga pagi yang mereka lakukan.
Karena anak-anak masih liburan sekolah, rumah Ariq masih dipenuhi bocah-bocah yang pada ngumpul dikediamannya.
“Assalamu’alaikum ....” Khaira langsung memberi salam begitu memasuki rumah.
“Wa’alaikumussalam,” Ira menyambut keduanya dengan senyum lebar.
“Mbak, oleh-olehnya bantuin bawa .... “ Khaira merasa kasian melihat Ivan yang sedang mengeluarkan tumpukan barang dari bagasi mobil serta di jok belakang yang sudah full.
“Wah seperti mau pindahan. Banyak banget,” senyum Ira semakin lebar melihat semua yang ia inginkan sudah ada di depan mata.
“Pak Roni juga mengantarkan oleh-oleh tadi malam,” Khaira menceritakan dengan semangat, “Mana si kembar, Mbak?”
“Fajar, Embun ... ayah dan bunda sudah datang niiih .... “ Ira memanggil keduanya yang berlarian dengan semangat.
“Dedenya mana?” suara kenes Embun membuat Khaira tersentak.
Ia menatap Ira dengan kening berkerut tidak menyangka dengan pertanyaan yang diajukan Embun saat menyambut kepulangan mereka.
Ivan tersenyum sambil memandang lekat Khaira.
Ira tertawa kecil, “Itu kerjaan miminya yang bilang kalo kalian berdua sedang membuatkan adik untuk mereka, makanya kalian belum bisa pulang kemaren.”
“Astaghfirullahhaladjim .... “ Khaira mengelus dadanya mendengar perkataan Ira yang menjawab tanpa dosa, “Mbak Sasya .... “
__ADS_1
Ivan langsung meraih Embun dan menghadiahinya dengan ciuman-ciuman kecil di pipi cubbinya.
“Sabar ya princess cantik. Dedenya lagi proses. Tak lama lagi Embun dan mas Fajar akan jadi seorang kakak,” ujar Ivan sambil mengedipkan mata pada Khaira yang membuat Khaira memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Ivan yang tanpa dosa.