Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 85


__ADS_3

Kembali Faiq menghela nafas berat, ia telah mengingkari janjinya untuk mengajak Hani dan anak-anak makan malam di luar. Malahan ia turut merayakan ulang tahun Dewi yang tidak ada hubungan apapun dengannya.


“Ya, Allah…Rara sayang, kini aku harus menanggung akibat perbuatanku yang telah berbohong dan menyembunyikan masalah ini darimu…” tak terasa air mata menetes di wajah Faiq yang hingga saat ini ditumbuhi kumis dan jenggot karena belum sempat cukuran.


“Nak, pulanglah dulu.” Suara lembut Marisa membuat Faiq tersadar dari lamunannya.


“Ibu…” Faiq menegakkan tubuhnya. “Saya akan menunggu hasil tes Rara.”


“Coba kamu bersihkan dirimu. Walaupun Rara belum mengingatmu, setidaknya tampakkan penampilan terbaik dirimu, jangan kusut seperti ini.”


Mendengar ucapan Marisa membuat Faiq lebih bersemangat, “Baiklah ibu. Aku akan mengikuti saran ibu. Walaupun Rara belum mengingatku setidaknya kesan pertamanya padaku cukup baik.”


Marisa merasa terenyuh mendengar perkataan Faiq. Ia berusaha menyemangati Faiq yang tampak kehilangan arah selama Hani dalam keadaan koma.


Satu jam kemudian Faiq telah kembali lengkap membawa makanan ringan untuk ibunya. Ia terkejut ternyata ibunya tidak sendiri, Adi dan Hanif juga berada di sana.


Dari kejauhan mereka melihat beberapa perawat didampingi seorang dokter spesialis  radiologi mendorong brankar menuju kamar inap Hani.


Melihat ketiga lelaki sebayanya yang berada di depan kamar Hani, dokter yang bernama Thomas berhenti.


“Siapa suami nyonya Hanifah Az Zahra?”


Dengan cepat Faiq berdiri, “Saya dok.”


“Perkenalkan saya dr. Thomas Fernandes, Sp. Rad. Saya yang bertanggung jawab atas hasil MRI istri anda. Saya ingin membicarakan hal penting dengan anda. Mari ikut ke ruangan saya.”


Faiq menganggukkan kepala menyetujui. Keduanya berjalan berdampingan menuju ruang praktek dr. Thomas yang letaknya berada di lantai dasar rumah sakit.

__ADS_1


Faiq mengamati ruang kerja dr. Thomas yang lumayan luas. Di atas meja kerjanya Faiq melihat sebuah figura keluarga yang sangat manis. Foto dr. Thomas bersama seorang bocah perempuan cantik.


Setelah melepas snelli dan menyisakan kemejanya, dr. Thomas duduk di hadapan Faiq. Ia meraih foto digital yang dihasilkan dari pemeriksaan MRI Hani.


“Dari pemeriksaan yang telah tim kami lakukan, istri anda positif mengidap amnesia anterograde. Amnesia anterograde adalah amnesia yang membuat seseorang menjadi sulit menyimpan ingatan baru pasca mengalami peristiwa pemicu tertentu. Amnesia ini bisa bersifat sementara maupun permanen.”


Faiq terhenyak mendengar penjelasan dr. Thomas. “Apa penyebab istri saya mengalami amnesia tersebut dok?”


“Dari hasil MRI dan kasus yang terjadi pada istri anda, ia mengalami cedera otak traumatis. Kerusakan pada bagian otak besar yang terletak di lobus temporal atau hipokampus. Hipokampus berfungsi untuk membentuk dan mengatur ingatan serta mengambilnya kembali saat dibutuhkan. Selain itu pandangan saya pribadi merasa istri anda juga mengalami tekanan emosi. Ia tidak ingin mengingat hal-hal yang membuatnya sedih dan terluka.”


Faiq terhenyak. Kini ia mengetahui penyebabnya dan itu semua adalah kesalahan Faiq yang telah memberi peluang pada orang luar untuk menyakiti  istrinya.


“Ya, Allah apa yang harus ku lakukan?” Faiq bergumam lirih.


Ternyata diamnya Hani karena menahan kekecewaan atas sikapnya yang menyembunyikan bahwa ia membantu Dewi dan membiayai pengobatannya selama berada di rumah sakit karena mengalami patah tulang.


Faiq menggelengkan kepala dengan cepat. “Apa yang dibicarakan dr. Eva dengan istri saya, dok?” Ia semakin penasaran mendengar perkataan dr. Thomas.


Dr. Thomas menceritakan apa yang telah ia dengar dari dr. Eva, tanpa dikurangi sedikitpun.


“Apa yang harus saya lakukan sekarang dok? Saya sangat mencintai istri saya…” Mata Faiq berkabut saat menanyakan itu. “Apakah istri saya bisa disembuhkan?”


“Kemungkinannya sangat kecil. Saat ia terjatuh dari tangga  kepalanya menghantam tangga dan mengalami benturan yang sangat keras. Dan itu menyebabkan cacat pada otak besar istri anda.”


Rasanya Faiq tidak sanggup mendengar ucapan dr. Thomas. Tatapan matanya kosong. Ia tidak tau harus berkata apa. Allah telah mengabulkan doanya memberikan kesempatan pada Hani dan anak-anaknya untuk tetap berada disisinya.


“Tapi sebagai orang yang beragama yang dapat kita lakukan hanya berdoa bukan? Hanya do’alah yang mampu mengetuk pintu langit. Dan saya yakin tuan Faiq sangat mengerti akan hal itu.”

__ADS_1


Faiq terpekur tak berdaya mendengar perkataan dr. Thomas. Ia mematung memikirkan nasib pernikahannya yang baru seumur jagung tapi sudah dihantam berbagai cobaan, yang tentu saja akar dari permasalahannya adalah Faiq sendiri.


Dari lubuk hati Faiq yang terdalam sangat menyesali peristiwa yang menimpa Hani. Ia marah pada dirinya sendiri, karena kembali membuat istrinya kecewa dan terluka, dan kali ini akibatnya benar-benar fatal.


Faiq teringat saat  melihat kuitansi dan nota berobat yang lupa ia buang disimpan Hani di atas meja riasnya, tatapan matanya menuntut keterusterangan Faiq. Tapi apa yang ia lakukan? Bukannya berterus terang, tanpa perasaan berdosa Faiq membuangnya ke tempat sampah.


Di malam itu, sepulangnya dari rumah sakit karena telepon mendadak dari Hesti membuat Faiq melupakan istrinya yang sedang hamil dan mengidam menunggunya pulang karena mengharapkan oleh-oleh yang ia bawa.


Tapi apa yang terjadi?


Mata bening itu menatapnya penuh kekecewaan, dan ia tak mampu untuk menghilangkan rasa kecewa Hani, walau harus Faiq akui, ia pun sedih karena mengingkari janji pada istrinya.


Hingga Ningsih menceritakan bahwa Hani tidak makan apapun sejak siang hari, karena menunggu rujak cingur yang telah ia janjikan. Dia akan makan pada saat suaminya kembali dari Surabaya.


“Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Berikan kesembuhan pada istri hamba. Mulai detik ini Hamba berjanji di hadapan-Mu ya Allah, tidak akan hamba biarkan sedetik pun istri hamba jauh dari sisi hamba. Hanya kepada-Mu lah hamba bermohon dan meminta. Perkenankanlah doa hamba yang penuh dosa ini.”


Air mata Faiq mengalir dengan deras, dalam sujud panjangnya ia meminta pengampunan atas segala dosa-dosa yang telah ia perbuat pada istrinya. Kebohongan yang ia anggap sepele, malah jadi bumerang dan hampir menghilangkan nyawa istri dan anak-anaknya.


Bayangan  wajah Hani yang menatapnya sendu tak bisa lepas dari pelupuk mata Faiq. Kini ia benar-benar merasakan kesedihan teramat dalam. Istri yang sangat ia cintai kini tidak mengenalnya, bahkan melupakan bahwa mereka telah menikah dan baru memiliki sepasang anak kembar.


“Jika ini caramu menghukum atas kebohonganku selama ini, aku akan menerimanya sayang. Tapi ku mohon jangan terlalu lama kau menghukumku. Berikan aku kesempatan kali ini, dan aku tidak akan  menyia-nyiakan dirimu dan anak-anak kita.” Faiq berucap lirih dalam hati.


Saat  ia kembali ke kamar Hani, Faiq melihat istrinya telah tertidur pulas setelah mengalami prosedur pemeriksaan yang telah dilakukan pihak rumah sakit. Ia berdiri di samping tempat tidur Hani memandang wajah ayu itu dengan berbagai perasaan.


Wajah Hani tampak tenang dalam tidurnya. Jemari Faiq membelai wajah istrinya. Rasanya sedetikpun ia tidak sanggup untuk menjauh dari Hani. Bagaimana ia akan menjalani hari esok jika Hani terus menolak keberadaannya. Faiq benar-benar tidak sanggup memikirkannya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2