
Dengan helikopter milik Bali A** yang membawanya ke Bali untuk menemui sang istri, maka saat ini pun Ivan membawa sang istri kembali ke The Lombok Lodge dengan alat transportasi yang sama. Sebelum kedatangannya bersama Khaira, Ivan meminta Hari untuk mengganti kamar miliknya. Ia tidak ingin menempati kamar yang telah digunakan orang lain, apa lagi itu asistennya.
Khaira merasa tidak enak hati melihat Ivan membawa tas travelling yang memuat semua pakaiannya.
“Kenapa nggak titip room boy aja mas?” Khaira menahan langkah Ivan yang membawa tasnya dengan santai
“Lebih ringan tas ini. Pemiliknya saja sanggup ku angkat sampai ke kamar,” Ivan tersenyum sambil melirik nakal yang dibalas Khaira dengan cibiran.
Khaira tak berani lagi berkomentar. Setiap ucapannya menjadi bumerang yang membuat Ivan semakin sering menggodanya. Tinggal cubitan kecil di perut suaminya yang membuat Ivan senyum Ivan semakin lebar sambil membelai kepalanya dan mendaratkan kecupan singkat di sana.
Khaira merasa senang saat Ivan membawanya ke kamar yang akan mereka tempati selama di Lombok. View-nya yang langsung menghadap laut memanjakan mata. Ia memejamkan mata sambil menghirup udara laut yang terasa menyegarkan di pagi yang segar itu. Rooftop kamar yang luas membuatnya merasa nyaman.
Ivan menatap Khaira dari dalam kamar mengamati setiap gerak gerik istrinya. Ia baru saja menghubungi Hari untuk mencarikan mobil. Ia telah berjanji pada sang istri untuk membawanya ke tempat-tempat wisata. Dua hari mengurung Khaira di kamar membuatnya merasa bosan, sedangkan dirinya jangan ditanya, seminggu pun ia sanggup selama sang istri selalu ada di sisi.
Dengan pelan Ivan melangkah mendekati Khaira yang berdiri memejamkan mata menikmati kesegaran udara tepian pantai yang mengarah ke laut. Ombak yang berkejaran di tepi pantai membuat irama alam menenangkan hati yang melihat dan merasakan.
“Jadi jalan atau tidak?” Ivan sudah memeluk Khaira dari arah belakang.
“Jadi dong,” dengan cepat Khaira menjawab.
Ia sudah bosan terkurung di kamar selama dua hari. Ia antusias mendengar cerita Ivan bahwa hari ini akan melihat syutting terakhir Bagong cs yang akan mengambil gambar tarian tradisional di pantai Lombok serta pusat cindera mata di Sekarbela. Khaira penasaran dengan bengkel tempat para pengrajin perhiasan yang dikelola Dewa.
Ivan menggandeng tangan Khaira saat mendekati krunya yang sedang melakukan syutting Tari Gandrung Lombok. Khaira yang jarang berada dalam keramaian merasa senang dengan tarian yang ia lihat secara langsung.
Ivan sedang berbincang dengan Bagong, tapi matanya tampak serius menatap keberadaan sang istri yang berdiri di samping Hari melihat dengan tatapan terpesona keluwesan para penari perempuan yang berpasangan dengan penari laki-laki.
“Wah, wajah bos kelihatan cerah. Efek sudah ketemu sang istri,” sesempatnya Bagong mengomentari penampilan Ivan yang lebih fresh dari biasa.
Ivan tersenyum tipis, “Kebahagiaan yang sempurna,” ujarnya dengan raut bahagia.
“Bagaimana dengan barisan para mantan bos?” Beno iseng bertanya melihat tatapan Ivan yang tak bergeser melihat Khaira yang serius berbicara dengan Hari.
“Nggaklah. Semua itu masa lalu.” Ivan duduk di kursi Bagong yang menyutradarai film dokumenter itu.
“Saya permisi bos, menemani Parjo,” Bagong bangkit dari kursi, “Tinggal setengah jam lagi syutting berakhir.”
“Saya jadi penasaran dimana bos ketemu istri?” Beno mengikuti tatapan Ivan yang tak berkedip menatap Khaira yang tampak antusias mendengar cerita Hari yang membawanya berkeliling melihat-lihat para penari serta alat musik tradisional pengiringnya.
Beno yang terkenal dengan sifat player-nya 11 12 dengan Hari adalah para pengagum wanita. Keduanya tidak akan menolak kehadiran wanita yang dengan suka rela menghangatkan malam-malam mereka.
“Perlu waktu yang lama meyakinkannya untuk membuka hati padaku,” Ivan berkata jujur pada Beno.
“Kelihatan kalau dia memang perempuan istimewa,” Beno tak melepaskan tatapannya pada Khaira.
__ADS_1
Setyo bagian mixing yang paling alim diantara Bagong cs jadi tertarik mendengar pembicaraan bos dan rekannya. Ia juga sempat mendengar cerita ada seorang perempuan yang telah membuat bosnya senewen karena menolak cintanya.
“Assalamu’alaikum .... “ Khaira kembali ke studio mini dimana suaminya berada.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Semua menjawab kompak karena penasaran ingin melihat wajah perempuan yang telah menolak cinta bos mereka.
Dengan cepat Ivan bangkit dan menghampiri Khaira merangkulnya dan membawanya duduk di kursi tunggal di samping Setyo.
Khaira tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan sopan pada bawahan Ivan yang menatapnya penuh arti.
Seketika ruangan menjadi hening. Mereka sibuk berkomentar dengan pikiran masing-masing. Mereka mengakui bahwa pilihan bos memang yang terbaik. Pantas saja Ivan tak bisa jauh dari sang istri. Wajah ayu semakin dipandang semakin memikat, dengan tutur halus dan menyejukkan.
“Mas, barusan mas Dewo menelpon memintaku segera ke Sekarbela,” suara lembut Khaira seperti angin surga membuat pegawai Ivan saling berpandangan dengan mengacungkan jempol, “Mas Hari bersedia mengantarku ke sana. Aku penasaran melihat bengkel yang selama ini mengolah perhiasan serta permata yang di kirim di gerai.”
Ivan tak senang mendengar perkataan istrinya. Ia memandang Hari dengan tajam. Hari mengerti arti tatapan bosnya, yang menandakan bahwa sang bos tidak mengizinkan mereka pergi berdua.
“Sayang, kita akan ke sana sesudah Zuhur. Bagong dan tim akan syutting di sana mulai jam 1,” Ivan berusaha berkata dengan tenang. Ia melihat Beno dan Setyo cengengesan menyaksikan interaksi dirinya dan sang istri.
Khaira melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 12. Tinggal 20 menit memasuki waktu Zuhur.
“ Baiklah mas. Aku akan memberitahu mas Dewo,” tanpa mempedulikan perubahan raut suaminya Khaira langsung menghubungi ponsel Dewo.
“Assalamu’alaikum mba Rara .... “ Dewo menjawab ponsel dengan antusias.
“Baiklah mbak Rara, kami tunggu,” Dewo menutup telpon dengan perasaan kecewa.
Dengan santai Khaira berjalan mendekati Ivan yang berdiri memandang Bagong dan Parjo untuk membuang kekesalan hatinya. Keduanya datang sambil membawa kamera yang digunakan untuk syutting karena pengambilan video tarian lokal telah selesai dilaksanakan, dan mereka akan berpindah lokasi mulai jam 1 siang.
“Mas .... “ Khaira mengaitkan lengannya di tangan kanan Ivan sambil menyandarkan kepalanya di lengan kokoh itu.
Senyum tipis tergambar di wajah Ivan melihat Khaira yang bermanja padanya. Hal yang tidak pernah dilakukan istrinya selama ini.
“Wah, rupanya nyonya Rara ada di sini. Pantas sudah berapa hari ini tuan Ivan tidak kelihatan bersama kita.” Adam yang muncul bersama Meli dan 3 orang teamnya menyapa Ivan yang masih menatap kelakuan istrinya.
“Lagi memanjakan istri,” ujar Ivan santai.
Khaira memandang suaminya. Bukannya ia yang dimanjakan, malahan ia harus bekerja keras melayani sang suami yang banyak kemauannya, maklum sudah puasa lama. Melihat sorot tajam istrinya, membuat Ivan tersenyum sambil mengedipkan mata.
“Kebetulan kita semua berada di sini, bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Adam menawari mereka makan siang, karena waktu istirahat Bagong cs sudah tiba.
“Mas, sholat dulu....” Khaira berbisik pada suaminya.
“Share lock aja tempatnya tuan Adam. Saya dan istri sholat dulu,” Ivan mengangguk sambil menatap istrinya lekat bersamaan dengan timnya yang sudah membereskan segala peralatan dan memasukkan ke dalam mobil box untuk berpindah lokasi syutting.
__ADS_1
Ivan masih menunggu Khaira di masjid Jami Al-Umari Kelayu. Ia merasa senang karena Hari serta Bagong cs., juga turut melaksanakan salat bersama. Menikah dengan Khaira membuat hidupnya terasa lebih bermakna, dan perilaku positifnya juga menular pada bawahannya.
“Maafkan aku agak lama, tadi ngantri di toilet,” senyum Khaira mengembang melihat sang suami masih setia menunggu bersama dengan team Bagong cs.
“Serasa mendapat angin surga .... “ celetuk Beno tapi cukup terdengar di telinga Ivan.
Ivan memandang Beno dengan tajam, yang dibalas Beno cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
“Pesan satu yang seperti nyonya ya bos,” ujar Beno lagi membuat Setyo yang berdiri di sampingnya langsung memukul bahunya keras.
“Kalau mau yang seperti nyonya banyakin puasa sunah, sholat sunah, zikirnya dipanjangi,” ujar Parjo serius, “Dan yang tak kalah penting, itikafnya di masjid jangan di klub.”
Setyo tersenyum mendengar perkataan Parjo yang kebetulan banyak benarnya. Ia memang mengakui bahwa istri bosnya memang perempuan yang menatapnya saja membuat hati adem.
Ivan melirik pegawainya dengan tajam mendengar mereka membicarakan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, lelaki normal bawaannya memang seperti itu. Jika melihat yang bening dikit, naluri mereka langsung bangkit. Apa lagi yang seperti istrinya.
“Jadi kita berangkat sekarang?” Khaira merasa heran melihat suaminya kelihatan tak senang berada di antara pegawainya.
Tanpa berkata apa pun Ivan langsung menggandeng tangan istrinya meninggalkan Bagong cs yang tersenyum melihat gaya arogan bosnya muncul saat bersama sang nyonya.
Khaira melayani apa pun yang ingin dimakan suaminya saat di meja makan restoran. Semua makanan laut sangat mengundang selera. Ia menyadari tatapan Meli perempuan yang berpakaian paling minim di antara mereka yang berada satu meja yang berjumlah 12 orang di restoran terkenal di Lombok Timur tersebut, berkali-kali tertuju pada suaminya.
“Kamu tidak makan?” Ivan menatap istrinya yang kini mengisi gelas di hadapannya dengan air putih.
“Masih terasa kenyang sarapan di kamar tadi,” Khaira tersenyum tipis.
Di luar dugaan Khaira, Ivan langsung mengarahkan sendok di tangannya ke mulut Khaira.
“Makanlah, nanti di Sekarbela kemungkinan kita akan lama.” Ivan masih memegang sendok tak mengalihkan dari bibir Khaira.
Khaira membuka mulut menikmati suapan sang suami. Ivan tersenyum puas. Keduanya berbagi makanan di piring yang sama membuat yang lain berbeda pikiran dengan pemandangan yang terlihat di depan mata.
“Wah, bos sangat romantis. Bagaimana mungkin nyonya tak klepek-klepek .... “ Bagong menyudahi makannya karena sudah merasa kenyang sambil mengomentari pemandangan di hadapannya.
Meli menatap Hari yang tak mempedulikan kehadirannya. Ia merasa kesal, tak satupun dari lelaki dari luar kota itu memandangnya. Ia jadi kesal sendiri.
Ivan mengakhiri makan siang dengan lega. Semua sudah selesai dan akan berkemas menuju pusat kerajinan perhiasan dan permata Sekarbela.
***Salam Jum'at Berkah. Semoga readerku tidak bosan dengan kisah Ivan dan Khaira. Salam sayang untuk reader semua. Tetap dukung karyaku ya ... kritik\, saran dan vote selalu aku tunggu. Love love dah .....***
__ADS_1