
Perasaan Khaira merasa tidak nyaman. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia semakin mundur melihat Ivan yang semakin dekat ke arahnya. Rasanya ia ingin mengubur diri ke jurang terdalam. Belum pernah seorang pun melihat ia berpenampilan seperti ini. Kedua tangannya mencengkeram bathrobenya dengan kencang.
Ivan tersenyum sinis melihat wajah perang yang terpancar dari sorot mata bening di depannya. Tak ayal jantungnya juga berdisko. Ivan menelan saliva, pemandangan yang sangat menguji iman.
“Kau begitu menikmati hidup semenjak kepergian Abbas.” Suara Ivan terdengar sinis membuat Khaira menatap sosok tinggi itu dengan berani.
Khaira menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ivan, “Terserah penilaian anda tentang saya. Itu tidak akan mengubah apa pun.”
Ivan semakin mendekat. Kini keduaya tak berjarak. Kecantikan alami yang tergambar di hadapannya membuat jantung Ivan berdetak semakin cepat. Kini ia mengakui bahwa bidadari Abbas memiliki kecantikan yang unik, membuatnya enak di pandang dan tak bisa teralihkan.
“Tolong keluar dari kamar saya.” Khaira memohon dengan penuh harap. Ia yakin lelaki di depannya masih memiliki hati nurani.
Ivan tertawa sinis, “Jangan sok suci! Entah sudah berapa banyak lelaki yang ada di hidupmu setelah kepergian Abbas.”
“Jaga mulut anda tuan!” Khaira menjadi emosi mendengar perkataan Ivan.
“Kau tidak hanya mempermainkan Abbas, tapi kau juga telah mempermainkan perasaanku. Jangan salahkan aku kalau ingin meminta pertanggaungjawaban atas semua yang telah kau lakukan.”
“Anda telah salah paham tuan. Bagaimana saya bisa mempermainkan anda, sedangkan saya tidak mengenal anda.”
“Hah! Tidak mengenalku?” Ivan tertawa sinis, “Seantero jagat tau siapa aku. Atau kamu sengaja melakukan ini agar aku tertarik padamu.”
Khaira membalas pandangan Ivan yang menatapnya dengan tajam penuh keberanian. Sedikitpun ia tidak takut, karena ia merasa tidak bersalah atas apa yang telah lelaki batu itu tuduhkan.
“Anda terlalu percaya diri. Mungkin bagi perempuan di luaran sana anda sangat terkenal. Tapi tidak bagi saya. Jadi tarik kembali perkataan anda.” Tanpa menghiraukan Ivan Khaira berjalan cepat menuju pintu kamar yang sudah dekat.
Ia terperangah melihat Ivan yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Tanpa berpikir panjang Khaira mendorong tubuh Ivan ke samping. Tapi sosok itu begitu kokoh tidak bergerak sama sekali.
“Sungguh sangat menarik,” Ivan tersenyum dalam hati melihat perlawanan Khaira.
__ADS_1
Ia semakin tertantang untuk menaklukkan perempuan muda di hadapannya. Rasanya tak ingin meninggalkan permainan ini sebelum ia puas menyiksa Khaira. Dan ia ingin melihat sampai dimana kekuatan perempuan muda itu, hingga menyerah kalah dan bertekuk lutut padanya. Ivan menyeringai tipis.
Khaira melotot memandang Ivan yang tersenyum sinis padanya. Ia bergeser ke sebelah kiri tubuh Ivan pun mengikuti setiap pergerakannya.
“Aku tidak tau apa yang membuat Abbas tertarik padamu. Sedikitpun tidak ada yang istimewa darimu.” Ivan berusaha mengingkari perasaannya, karena ia mulai terjebak permainannya sendiri.
Khaira masih berusaha mencari celah agar bisa melewati Ivan untuk kembali ke kamar. Rasa laparnya telah musnah bersama kekhawatiran yang teramat besar melanda pikirannya. Tidak ada lagi keinginannya untuk menyantap hidangan yang membangkitkan selera makan.
“Atau karena servis-mu yang membuat Abbas terpuaskan,” Ivan kembali memprovokasi Khaira membuatnya semakin emosi.
Sebuah gerakan tak terduga membuat Ivan terperangah. Ia merasakan pipinya panas karena sebuah tamparan kecil tetapi cukup bertenaga mendarat di pipi kanannya. Ia menatap wajah ayu di depannya yang kini memerah menahan amarah.
“Terima kasih atas pujian anda tuan Ivan yang terhormat. Sekarang silakan keluar dari kamar saya.” Khaira berdiri bercekak pinggang di hadapan Ivan. Ia kini benar-benar tersinggung mendengar ucapan tersadis dari sosok tegap yang telah membuatnya kesal sejak awal.
Bukannya keluar menuruti permintaan Khaira, kini Ivan merasa harga dirinya benar-benar ditantang oleh perempuan muda yang menatapnya dengan tajam.
“Permainan semakin menarik,” batin Ivan.
Spontan Khaira mengencangkan kedua tangannya merapatkan bathrobe yang terlepas ikatannya. Melihat Ivan yang terpaku membuat Khaira berlari sekuat tenaga. Tapi dengan cepat Ivan menahan langkahnya dan langsung meraih tubuh ramping dan menghempaskannya ke tempat tidur.
Khaira menatap Ivan dengan perasaan khawatir. Ia tau posisinya kurang beruntung. Khaira berusaha turun dari tempat tidur. Tetapi lelaki yang dipenuhi amarah tersebut telah menghempaskan dirinya di tempat tidur dan mulai mengungkungnya.
“Ku mohon jangan lakukan itu,” Khaira tau, hanya kemurahan hati Ivanlah yang bisa membuatnya terlepas dari kondisi yang menyedihkan ini.
Tatapan Ivan yang tadinya dipenuhi amarah murah berubah. Ia tertegun sejenak menatap wajah tak berdaya yang menatapnya penuh harap.
Melihat Ivan yang tak bereaksi membuat Khaira memberanikan diri bangkit dan mendorong Ivan hingga sosok tegap itu terguling ke samping.
Amarah Ivan kembali memuncak, ia tidak menyangka perempuan muda di hadapannya cukup cerdik menyelamatkan diri dari kungkungannya.
__ADS_1
“Kali ini aku tidak akan melepaskanmu kucing nakal,” batin Ivan.
Ia bangkit dari tempat tidur, dan mulai membuka jas dan melemparnya ke sembarang tempat sambil berjalan menghampiri Khaira. Tatapan matanya tetap ke arah Khaira yang berusaha menjauh.
Khaira mulai tersudut, ia sudah tidak bisa bergerak kemanapun. Tubuhnya sudah mepet ke dinding. Sosok tegap Ivan telah mengurungnya membuat dirinya tidak berkutik.
Seringai licik terbit di wajah tampan Ivan. Ia meletakkan kedua tangannya di antara Kepala Khaira membuat perempuan itu semakin terjepit.
“Sekarang kau tidak akan bisa lari kemanapun,” Ivan menatapnya sinis, “Coba layani aku seperti yang kau lakukan pada lelaki yang ada di sekelilingmu.”
Khaira memandang Ivan penuh kebencian. Saat tangannya mulai terangkat untuk mendaratkan di pipi yang mempunyai rahang tegas itu, sebuah tangan kekar menangkap tangannya dan menyatukan kedua tangan itu di belakang punggung Khaira membuatnya tidak bisa berbuat apa pun..
Tatapan Ivan beralih ke bibir penuh berwarna pink alami yang membuatnya penasaran ingin mendarat untuk merasakan madu dari telaga yang sangat indah saat di tatap.
“Aku sangat membencimu.” Khaira berusaha melepas kedua tangannya yang ditahan Ivan sangat kuat.
Tanpa diduga Khaira, Ivan langsung menahan tengkuknya dengan sebelah tangan dan mulai mendaratkan bibirnya di telaga yang telah mengundangnya sejak tadi.
Khaira terperanjat atas serangan itu. Ia berusaha mengunci bibirnya dan mendorong tubuh tegap itu menjauh dari dirinya. Tapi apa daya, kekuatannya sangat tidak berimbang. Semakin ia melawan tubuhnya makin merapat pada dada bidang yang kini menekan dirinya.
“Kenapa rasanya berbeda? Terasa manis.” Batin Ivan dalam hati. Ia merutuk dirinya sendiri yang tidak ingin melepaskan tautan kedua bibir dan ingin mengeksplornya lebih dalam.
Khaira terua berusaha melakukan perlawanan membuat Ivan menggigit bibir itu dengan gemas\, dan akhirnya keinginannya tercapai. Akses telah ia peroleh dan Ivan mulai melum*** bibir pink penuh itu dengan bern****.
Melihat Khaira yang mulai tersengal tidak bisa bernafas membuat Ivan menghentikan aksinya.
“Bernafaslah dengan benar. Ternyata Abbas tidak pernah mengajarimu cara berciuman yang …,” Ivan terkekeh melihat Khaira yang melotot.
Khaira meludah ke wajah Ivan yang menatapnya sambil tertawa meremehkan. Ia merasa dilecehkan atas perbuatan Ivan. Selama ini ia dan Abbas tidak pernah melakukan hal kelewat batas, jangankan berciuman seperti yang telah dilakukan Ivan, mencium kening bahkan menggenggam tangannya adalah sesuatu yang belum pernah Abbas lakukan terhadapnya. Abbas begitu menyayangi dan menjaganya seperti kristal bening yang harus dijaga sebaik mungkin.
__ADS_1
Mohon maaf untuk readerku tersayang, karena tidak memenuhi ekspektasi kalian akan nasib Khaira. Tetapi author janji, apapun yang terjadi di bab selanjutnya, perjuangan Ivan akan semakin berat untuk mendapatkan cinta Khaira. Jangan marah sama author ya.
Dukung terus, vote, like, kritik dan saran, agar author semangat update demi kisah perhaluan Khaira dan Ivan. Love untuk semua .....