Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 22


__ADS_3

Adi terperangah mengetahui bahwa Faiq telah resmi melamar mantan istrinya. Mukanya merah padam menahan emosi. Ia mengepalkan  jemari tangannya. Matanya penuh amarah melihat Faiq yang menggendong Hasya  sambil menyalami tamu undangan satu demi satu yang mengucapkan selamat atas pertunangan mereka. Si kembar tampak sedang asyik menikmati hidangan bersama Hanif dan seorang perempuan muda yang memakai gamis. Ia juga melihat  Fery dan istrinya sedang berbincang serius dengan Darmawan dan Marisa.


“Wah, jadi menantunya tuan Darmawan janda, ya?” Gilang tertawa meremehkan. “Tidak ku sangka orang alim seperti putranya hanya memilih janda. Padahal banyak gadis yang lebih potensial untuk mendampinginya. Apa sih kelebihan janda itu?”


Adi tak mampu untuk berkata. Ia hanya diam tak menanggapi. Padahal dalam hati ia merasa kesal. Ingin rasanya ia merobek mulut Gilang yang telah menjelekkan Hani.


“Kita langsung salaman aja, yok.” Helen menggamit lengan Adi. Ia juga tak menyukai mulut ember Gilang. “Setelah itu kita langsung pulang.”


Adi menggangguk tak bersemangat, “Kami duluan ya.” Dengan pelan ia mengikuti langkah Helen menuju pasangan Faiq dan Hani yang masih berdiri bersama beberapa rekan Faiq. Matanya menatap Hani tanpa berkedip. Ia tidak tau perasaan apa yang kini hinggap dihatinya, karena tidak senang melihat mantan istrinya yang begitu cantik didampingi lelaki yang tidak kalah tampan darinya.


“Selamat ya, Tuan Faiq atas pertunangan anda. Kami tunggu undangan pernikahannya.” Helen tersenyum palsu. Ia menyeringai sinis saat memandang Hani, yang dibalas Hani dengan senyum tipis pada keduanya.


Adi melihat Hasya yang tidak mau turun dari gendongan Faiq, dengan mata bulatnya yang mengarah pada Adi.


“Dedek nggak mau salim sama om Aditama?” Faiq berusaha membujuk Hasya karena melihat Adi yang berdiri lama di depannya menatap Hasya dengan sendu. Ingin rasanya ia menggendong Hasya dan mencurahkan kerinduan yang terasa menyakitkan di dada.


“Ndak mahu. Dedek tatut.” Hasya mendorong dan menolak tangan Adi yang berusaha membelai rambutnya.


“Mas, yang antri banyak. Ayo!” Helen berkata dengan cepat. Ia merasa kesal melihat Adi yang terpaku melihat anak perempuan yang bergayut di leher Faiq.


Dengan langkah berat Adi meninggalkan kedua pasangan itu. Ia berpapasan dengan Hanif dan pasangannya serta si kembar.


“Terimakasih, berkat talak yang anda jatuhkan pada Hani, sekarang Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik. Saya selalu mendoakan, semoga kebahagiaan segera berpihak kepada anda sekeluarga.” Ujar Hanif sinis.


Adi terdiam, ia menatap si kembar yang sangat tampan dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu berwarna merah.


“Selamat malam, om.” Ariq menyapa Adi, karena melihat tatapan Adi yang tampak tak bersemangat, “Om kenapa sedih?”


Adi menggelengkan kepala berat. Ia mengelus rambut Ariq dengan lembut. Pandangannya beralih pada Ali yang menatapnya dengan heran. “Apakah om merindukan anak om yang telah tiada?” kini Ali yang bertanya padanya. Karena Ali teringat teman di kelasnya yang menceritakan kesedihannya ketika adiknya pergi untuk selama-lamanya.


Perasaan sedih mengiringi langkah Adi begitu meninggalkan ballroom hotel megah itu. Ia tak mempedulikan omelan Helen yang tertinggal di belakangnya, karena ia ingin segera sampai di mobil, dan menenggelamkan diri di ruang kerja di rumah. Ia sadar hatinya telah tertinggal di sana.


Tiada lagi kebahagiaan yang ia idamkan. Selama  ini ia telah mengejar kebahagiaan yang semu, hingga melupakan anugerah terindah yang telah diberikan Yang Kuasa  dalam hidupnya. Hatinya kini terasa hampa. Adi memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerja.


Siang itu Linda bermaksud mengunjungi Marisa. Ia ingin menukar koleksi berliannya dengan edisi terbaru. Sudah lama ia tak mengunjungi  Marisa. Jadi sengaja ia menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya dengan rekan sosialitanya. Karena sudah terbiasa keluar masuk kantor Marisa, Linda kadang tak mengacuhkan karyawan yang menyapanya.


“Selamat pagi, nyonya?” suara lembut menyapanya begitu memasuki ruangan kantor Marisa yang sangat simple tapi anggun dan berkelas.


Linda terpaku melihat Hani yang menyapanya, saat ia membuka pintu ruangan. Ia melihat keadaan sekitarnya, tidak tampak Marisa, hanya ada Hani yang sedang duduk dan membuka majalah melihat-lihat contoh perhiasan.


“Apa yang kamu kerjakan disini?” Linda menatap Hani dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia menyadari tidak ada lagi kesan kampungan dari wajah mantan menantunya itu. Malah terlihat makin bersinar.


“Saya hanya …”


“Walaupun tubuhmu dibungkus pakaian mahal. Aroma miskin tetap melekat, dan kamu tak akan bisa menyembunyikannya. Kalau saja almarhum suamiku tidak bermurah hati, kalian tetaplah orang hina yang tidak pantas berdampingan dengan kami. Walaupun pada kenyataannya setelah diceraikan putraku kini kau telah menjadi seorang janda kaya.” Linda berkata dengan sinis. “Kenapa kita harus bertemu di sini. Aku akan mengalami kesialan karena harus bertemu  debu di tempat sepert ini.”


Hani hanya terdiam mendengar  perkataan Linda yang ia anggap sebagai angin lalu. Ia sudah kebal, dan tidak ingin  menjawab perkataan Linda. Dia menganggap Linda hanya orang asing yang tak ia kenal. Jadi tidak ada rasa marah ataupun kebencian atas sikap Linda padanya. Ia melemparkan senyum tipis sambil menundukkan kepala dengan sopan dan segera melangkah meninggalkan Linda.


Marisa yang berada di koridor dan hendak masuk ruangannya terkejut melihat Hani yang berjalan ke luar, “Kamu ingin kembali ke kantor, Ra?” ia mengernyitkan dahi, karena urusan memilih cincin pernikahan untuk Faiq dan Hani belum selesai.


“Saya ingin memberitahu ibu, ada nyonya Linda yang menunggu di ruangan.” Hani menceritakan kedatangan Linda. “Ayo sini sama Bunda, sayang.”

__ADS_1


“Biar sama oma aja.” Marisa tidak mengizinkan Hani membawa Hasya. Ia merasa terhibur dengan kedatangan si mungil di tempat kerjanya. “Ayo kita hadapi bersama mantan mertua sombongmu itu. Ibu pengen lihat bagaimana sikapnya terhadapmu.”


Hani terkejut mendengar nada Marisa yang terdengar sinis. Padahal ia tidak pernah menceritakan perlakuan Linda terhadapnya pada siapapun. Ia tak berani menjawab perkataan Marisa. Dengan tenang ia mengikuti langkah Marisa menuju ruangannya.


“Tamunya tolong dibikinin teh, Rin?” Marisa meminta pegawainya membuatkan minuman untuk tamunya.


“Biar saya aja, bu.” Hani memohon pada mertuanya.


“Baiklah. Terima kasih, sayang.” Marisa tersenyum padanya.


Sambil menggandeng Hasya di tangan kirinya, Marisa mendorong pintu kantor. Begitu masuk dalam ruangan, ia ingin menggendongnya, tapi si mungil malah langsung berlari-lari melihat-lihat ruang kerja Marisa yang tampak adem dan nyaman.


“Maafkan aku, tadi masih nemenin dede ambil mainan di mobil. Udah lama nunggunya?” Marisa langsung duduk di hadapan Linda.


“Barusan nyampe.” Linda memandang Hasya yang masih asyik bermain sendirian, di sofa tunggal. Mulut mungilnya bersenandung menyanyikan lagu anak-anak.


“Aduh cucu oma, udah pintar nyanyi, judulnya apa sayang?” Marisa merasa gemes, akhirnya ia mengangkat Hasya dari kursi dan membawanya ke pangkuan.


“Tatu, tatu… tayang unda…” jawab Hasya dengan imutnya. Ia tak mempedulikan pandangan Linda yang mengarah padanya.


Linda kembali tertegun memandang Hasya dari dekat. Wajah Adi benar-benar melekat di paras si mungil itu. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa wajah  balita itu begitu mirip dengan putranya. “Kok, balita ini bisa ikut kamu?” ia jadi penasaran.


“Dia adalah cucuku.” Ujar Marisa bangga sambil mencium pipi cubbynya dengan gemas. Ia membelai rambut kriwil Hasya dengan penuh kasih sayang.


Linda mengerutkan jidatnya dengan wajah penuh keingintahuan. “Bukankah putramu masih lajang. Dan yang ku tau, batita ini putranya teman Adi.”


“Faiq akan segera menikah dengan bundanya Sasya. Sedangkan Fery dan Gigi bukanlah orang tuanya, tetapi teman bundanya.” Marisa menjelaskan dengan gamblang. “Aku sangat terhibur dengan kehadiran si cantik ini. Apalagi di usia sekarang, sangat menyenangkan bermain bersama cucu perempuan yang cantik dan menggemaskan ini.” Marisa menghujani pipi Hasya dengan ciuman-ciuman lembut membuat Hasya memandang Marisa dengan kesal.


“Ih, cucu oma nakal…” Marisa mengelus pipinya sambil meringis tapi tetap tersenyum melihat tingkah lucu Hasya.


Linda menyimak omongan Marisa, berusaha memahaminya. Ingin rasanya ia membelai rambut si mungil yang masih asyik dengan mainan dan lagu yang dinyanyikannya.


“Permisi, bu.” Hani masuk sambil membawa dua gelas tes hangat beserta cemilan yang telah disiapkan Arin karyawan Marisa.


“Terima kasih, sayang. Ayo duduk sini, mama kenalin dengan sahabat mama sejak SMA.” Marisa menarik tangan Hani dan mengajaknya duduk di samping mereka. “Kenalkan Rara, calon menantuku. Dia adalah ibu si mungil ini.”


Linda terkejut  setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Ia menatap Hani dan Hasya secara bergantian. Kini ia paham, mengapa wajah si mungil begitu mirip Adi, karena memang darah daging putranya. Kesedihan tiba-tiba menyergap hati Linda. Apa yang bisa ia banggakan sekarang, menantu kesayangannya sampai saat ini belum memberinya cucu. Sementara mantan menantunya yang telah memberinya cucu telah ia buang. Dan ia kini dihadapkan dengan kenyataan bahwa si mungil yang telah mengganggu pikirannya adalah cucunya sendiri.


“Maafkan aku, karena saat pertunangan mereka kemarin nggak ngundang kamu. Tapi putramu dan istrinya datang.” Marisa menghentikan lamunan Linda, “Bulan depan mereka akan menikah. Ku harap kamu bisa datang.”


Linda tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, matanya berkabut saat melihat Hasya yang kini pindah duduk di pangkuan Hani. Menantu yang selalu ia remehkan, kini akan menikah lagi dan akan menjadi menantu temannya sendiri seorang pengusaha berlian. Apa yang harus ia katakan kepada Marisa, karena ia tidak pernah bercerita apapun pada temannya itu.


“Assalamu’alaikum…” suara bariton mengejutkan keheningan ruangan itu.  Langkah tegap terdengar mendekati mereka.


“Waalaikumussalam.” Jawab mereka bersamaan.


“Papa…” tanpa memperdulikan semua yang ada, Hasya melompat turun dari pangkuan Hani langsung berlari ke arah  Faiq, yang kebetulan datang membawa si kembar Ariq dan Ali sekalian untuk makan siang bersama.


“Selamat siang, tante.” Faiq menyapa Linda dengan sopan, sambil menggendong Hasya disertai si kembar yang mengikutinya dari belakang.


Faiq mengusap kepala Hani yang tertutup hijab dengan lembut. Senyum manis tersungging di wajah tampannya. Hani membalas senyuman Faiq. Ia telah mantap dengan keputusannya akan membalas segala perhatian Faiq, karena  sikap Faiq terhadap ketiga buah hatinya begitu tulus dan penuh kasih sayang.  Ia akan mencurahkan segala cinta kasih yang ada di hatinya demi keutuhan keluarga barunya kelak.

__ADS_1


Linda hanya menganggukkan kepala. Mulutnya tak sanggup untuk mengucap sepatah katapun. Matanya hanya mengamati pemandangan yang begitu hangat di depannya. Ia melihat rona kebahagiaan yang terpancar di wajah Marisa. Perlakuan lembut Marisa terhadap Hani juga tak luput dari pengamatannya. Keluarga konglomerat itu begitu perhatian memperlakukan mantan menantunya juga cucu-cucu yang tak pernah ia akui selama ini. Rasa hangat sekaligus sedih menjalar di hati Linda melihat Ariq dan Ali yang bermanja dengan Marisa.


“Oma, papa bilang hari ini kita makan siang bersama.” Ariq mendekati Marisa langsung mencium tangannya yang diikuti Ali.


“Salim dulu gih sama temen oma…” Marisa memberi isyarat pada Ariq dan Ali sambil tersenyum pada Linda.


“Baik oma.” Ariq dan Ali bergantian menyalami Linda. Keduanya segera duduk di samping Hani.


Faiq dengan memangku Hasya juga menghenyakkan tubuhnya di hadapan Hani yang agak jauh duduknya dari Linda dan Marisa.


Linda terpaku menyaksikan pemandangan itu. Cucu-cucunya akan segera menemukan keluarga baru. Dan mereka kelihatan sangat bahagia. Ia melihat sendiri, bagaimana perlakuan Marisa dan Faiq terhadap cucu-cucunya dan mantan menantunya begitu tulus dan penuh kasih.


Keegoisan membuat Linda tidak pernah sedikitpun mencurahkan kasih sayang pada kedua cucu kembarnya yang tampak sehat dan sangat tampan. Perpaduan sempurna wajah Hani dan Adi. Bahkan cucu perempuan yang merupakan duplikat Adi, yang telah mencuri hatinya, kini berada di pelukan orang lain. Dan mereka bahkan tidak mengenalinya.


Inikah rasanya tidak diakui? Linda merasa sesuatu hilang dari hatinya. Ia yang seharusnya menikmati masa tua dengan bermain bersama cucu-cucunya. Dan melihat kesempurnaan malaikat kecil ciptaan Allah yang membuat siapapun kagum akan ketampanan dan kecantikan mereka, tapi kenyataannya sekarang? Ia masih menunggu menantu kesayangannya yang sedang hamil memasuki usia empat bulan.


“Rara sayang? Apa kamu sudah memilih cincin untuk pernikahan kita?” Faiq bertanya dengan lembut  sambil mengamati Hani yang masih memilih cincin yang sesuai untuknya.


“Aku nggak tau mau pilih yang mana, semuanya bagus.” Hani masih asyik membolak-balik majalah itu. Sementara Faiq tersenyum tipis melihat kebingungan Hani.


Linda menelan ludah. Begitu lembut lelaki muda itu memperlakukan mantan menantunya. Sementara ia sendiri, tidak pernah membiarkan Adi repot mengurusi anak dan istrinya. Adi terlalu sibuk dengan perusahaan, hingga segenap pikiran dan jiwa raganya hanya untuk kepentingan perusahaan.


“Maafkan kami, Lin. Silakan nikmati teh dan cemilannya.” Marisa dari tadi mengamati sikap sahabatnya itu. Ia mengetahui dengan jelas kesedihan yang tergambar di sorot mata Linda. Marisa ingin memberi pelajaran pada sahabatnya itu yang memang suka meremehkan orang lain.


Dengan cepat Linda meminum teh hingga kandas. Ia tidak ingin menyaksikan kebersamaan itu lebih lama. Hatinya merasa sakit. Selama ini ia adalah orang terpandang dan dari keturunan sultan, sehingga siapapun tidak berani berkutik terhadapnya. Tapi kali ini, cucu-cucunya yang nota bene darah dagingnya sendiri, tidak peduli padanya, bahkan tidak mengenalnya.


“Lebih baik aku pergi. Maaf telah mengganggu acara kalian.” Linda terburu-buru mengambil tas yang tergeletak di atas meja. Tanpa menoleh ke belakang, ia berjalan dengan cepat, dan bertekad tak akan kembali lagi ke gedung ini.


Hani menatap kepergian mantan mertuanya dengan sendu. Ia memandang ketiga anaknya. Ia merasa sedih melihat sikap Linda yang tak peduli dengan cucu-cucunya sendiri.


“Sayang…” Faiq menyenggol bahunya. Ia memahami kesedihan Hani. Mata sendu itu tampak berkaca-kaca. Ia ingin memeluk, tetapi Faiq tau diri, Hani begitu membatasi diri. Untuk  memegang tangan Hani pun ia belum memiliki keberanian.


“Maafkan ibu sayang, harus melibatkanmu dalam situasi ini.” Marisa memeluk Hani dengan iba. Ia menepuk bahu Hani dengan pelan memberi kekuatan padanya. “Kamu bisa mengandalkan ibu, ayah dan Faiq. Ibu  harap tidak ada air mata lagi sesudah pernikahanmu kelak. Karena kami akan memberikan kebahagiaan untukmu dan anak-anakmu.”


Hani hanya mengangguk dalam pelukan Marisa. Ia merasa terlindungi atas perlakuan Marisa, tiada kekhawatiran lagi yang kini ia rasakan.


“Unda tenapa?” Hasya menatap Hani yang menghapus linangan airmata yang mengalir di pipinya.


Faiq tersenyum mendengar pertanyaan Hasya, “Bunda nangis karena udah laper, dari tadi nungguin oma lagi ada temennya.”


Hani mendelik kesal mendengar candaan Faiq. Ia memukul bahu Faiq dengan kuat. Matanya melotot kesal ke arah Faiq.


“Ih, unda. Ndak tayang papa.” Hasya melotot ke arah bundanya melihat perlakuan Hani terhadap Faiq. Ia mengelus bahu Faiq yang habis dipukul Hani.


Faiq tertawa lebar melihat  kelakuan Hasya, membuat lesung pipinya tercetak tipis. Ia menghujani pipi Hasya dengan ciuman-ciuman lembut di pipi kiri dan kanannya, membuat Marisa dan Hani ikut-ikutan tertawa.


“Papa, kapan makan siangnya? Mas udah lapar.” Ariq mulai protes karena dari tadi tidak ada pergerakan mereka untuk meninggalkan ruangan itu. Ia dan Ali sudah sepakat untuk memilih menu yang beda dari biasa.


“Oh ya, papa sampai lupa. Yok, kita bersiap sekarang.” Faiq bangkit dari duduknya. Ia menggandeng tangan Hasya yang menolak untuk digendong. “Wah dedek udah gede sekarang, nggak mau papa gendong lagi ya?” Faiq mengusap pipi cubby itu dengan gemes.


 

__ADS_1


 


__ADS_2