
Di dalam perjalanan menuju kantor, Adi termangu. Bayangan ketiga anaknya dan Hani telah mengganggu perasaannya. Tanpa terasa setitik air mata jatuh membasahi pipinya. Si mungil yang ia tolak kehadirannya, justru wajahnya telah terikat di hati Adi. Ia ingin memeluk dan mencium bocah mungil itu, dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
“Ya, Allah… apa yang telah kulakukan?” ia mengusap mukanya dengan gelisah. “Apa yang terjadi, jika mama mengetahui kebenaran ini?” batinnya lirih.
“Tuan, anda baik-baik saja?” Johan merasa khawatir melihat Adi yang lemah tak bersemangat, dengan mata terpejam menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Adi mengusap wajahnya dengan kedua tangan berusaha menghilangkan kegundahan yang menderanya.
“Jo, apakah tindakanku salah karena telah menceraikan Hani?”
Johan terdiam tak berani menjawab. Dari awal ia telah memperingatkan bossnya itu. Tapi Adi begitu keras kepala. Linda dan Helen telah membutakan hati dan pikirannya.
Mobil telah sampai di basement perusahaan, tapi Adi masih enggan untuk keluar dari mobil. Ia masih memejamkan mata dengan pemikiran yang kalut. Kepalanya terasa pecah memikirkan kenyataan yang baru ia sadari. Tapi nasi telah menjadi bubur.
“Aku melihat sendiri, gadis kecil itu sangat mirip denganku. Bagaimana mungkin aku menyangsikan bahwa dia darah dagingku?” Adi mengusar rambutnya dengan kasar. “Aku kesepian, Jo. Pencapaianku selama ini tidak mendatangkan kebahagiaan dalam hidupku. Pernikahanku dengan Helen, tidak seperti yang orang lain bayangkan. Aku kesepian. Aku merasa ada yang telah membawa pergi kebahagiaan yang pernah kurasakan…”
“Bagaimana dengan nyonya Helen, bukankah sekarang dia hamil lagi?” Johan berusaha mengingatkan Adi. Walaupun ia tau kenyataan yang sebenarnya.
Adi menatap ke luar dengan nanar, “Sekarang dia sedang hamil 2 bulan. Aku sudah tidak berharap banyak lagi. Dengan usia 38 tahun resikonya sangat besar. Sementara mama masih tidak mengakui keberadaan si kembar. Tapi jika mama mengetahui bahwa anak perempuan itu …”
“Almarhum papa anda telah mengetahui hal ini sebelum kematiannya. Dia meminta saya untuk melakukan tes DNA saat bayi perempuan nyonya Hani berumur 6 bulan. Tuan besar juga mengetahui bahwa nyonya besar dan nyonya Helen tidak pernah memberikan tunjangan pada si kembar begitu anda bercerai dengan nyonya Hani.”
“Astaga.” Adi terperanjat mendengar perkataan Johan. Rasa marah bergelora di dalam hatinya mendengar kenyataan yang membuatnya tidak berharga sama sekali karena telah menelantarkan anak-anaknya. Apa kata dunia jika mengetahui seorang pengusaha terbesar di negeri ini telah menelantarkan darah dagingnya tanpa memberikan tunjangan untuk masa depan anak-anak dan istri yang telah ia ceraikan.
__ADS_1
“Karena itulah tuan besar mewariskan rumah besar itu serta semua saham yang dia punya untuk cucu-cucunya.” Johan berkata dengan gamblang, “Tuan besar sedih saat mengurus baliknama sertifikat tanah dan rumah untuk ketiga cucunya. Ia menangis saat pertama kali mengunjungi mereka di rumah makan kecil peninggalan orang tua mbak Hani.”
Adi merasa geram, kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun, “Aku akan meminta pertanggung jawaban mama dan Helen atas perbuatan mereka.”
“Sabar, Tuan. Kondisi kandungan Nyonya Helen bermasalah. Apa anda ingin kehilangan anak lagi. Pikirkan perasaan istri anda dan nyonya besar yang sudah lama ingin menimang cucu…”
Adi meremas rambutnya dengan gusar. Ia benar-benar marah sekarang. Selama ini ia begitu bodoh, telah dibutakan oleh kebohongan mamanya dan Helen. Dengan kasar ia meninju dashboard mobil beberapa kali, sebagai pelampiasannya.
“Untung mobil mihil…” batin Johan sedikit kesal melihat perbuatan bossnya.
Sesudah makan malam, Adi tidak kembali ke kamar tidur. Ia langsung ke ruang kerja. Pikirannya benar-benar kalut. Memandang wajah Helen dan mamanya membuat jantungnya ingin meledak. Akhirnya ia menenggelamkan diri di ruang kerja dan mengunci pintunya dari dalam. Ia tak ingin siapapun mengganggu kesendiriannya.
Bagaimana ia bisa menyangsikan bahwa si mungil adalah putrinya. Sedangkan ia tau, bahwa Hani tidak pernah berhubungan dengan siapa pun. Tapi foto kedekatan Hani dengan lelaki yang telah menikah dengan sepupu Fery, apa yang terjadi diantara keduanya? Bagaimana mereka bisa berdua pada saat bersamaan? Berbagai pertanyaan bergayut di kepala Adi. Kepalanya terasa berat tidak sanggup memecahkan misteri yang telah terjadi.
Adi bangkit dari kursi kerja dan berdiri mematung dekat jendela memandang ke luar. Ia tidak tau bagaimana perasaannya saat ini. Rasa marah bergolak di dadanya. Ia berjalan menuju rak buku yang terletak di belakang meja kerjanya. Diperhatikannya satu demi satu buku yang tersusun sempurna. Ia heran di antara buku yang tersusun rapi ada terletak foto si kembar bersama Hani. Ia tau, almarhum papanya seorang yang perfect dalam menyusun buku bacaan di ruang kerja merangkap perpustakaan pribadinya itu. Adi meraih foto tersebut. Ternyata di belakang foto itu ada kamera seri JVC GZ-R315DEK.
Ia meraih kamera tersebut, dan mencoba menghidupkannya, karena dilihat dari posisi awal nampaknya kamera itu dalam mode on. Adi mengerutkan keningnya, ternyata kamera tersebut tidak bisa dinyalakan. Ia segera menyimpan kamera tersebut ke dalam tas kerjanya. Adi kembali duduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya dengan kaki dinaikkan ke atas meja.
Bayangan wajah Hani dan ketiga anaknya mengganggu pikiran Adi. Perasaan bersalahnya begitu besar. Ia telah menyia-nyiakan ketiga buah hatinya dan begitu terobsesi untuk mempunyai anak dengan Helen. Padahal dalam hati kecilnya ia mengakui mulai merasakan ketenangan saat bersama Hani. Sifat lemah lembut Hani, telah mencairkan kekakuannya selama ini. Sejak kecil Adi telah dididik ayahnya dengan keras. Ia harus selalu unggul dan terbaik di segala bidang.
Saat pernikahannya ke 3 bulan, Hani langsung hamil. Adi memang tidak melibatkan perasaan selama pernikahannya mereka. Ia hanya menuruti keinginan ayahnya agar segera memiliki momongan. Cinta pertama yang kandas membuat Adi menutup diri, hingga di usia 32 tahun ayahnya menjodohkannya dengan Hani yang berusia 8 tahun lebih muda darinya.
__ADS_1
Perjumpaan kembali dengan Helen, telah menyisihkan perasaan Adi yang mulai menyukai Hani. Ia begitu terobsesi dengan cinta pertamanya, hingga melupakan Hani dan si kembar yang selalu menunggu kepulangannya dan ingin bermain dengannya. Namun kesibukan memperbesar perusahaan dan membuka cabang di beberapa wilayah membuat Adi jadi ambisius.
“Argh…” Adi mengusap wajahnya dengan kasar. Pertemuannya dengan Hani membuat ia bingung dengan perasaannya sendiri. Semenjak kepergian mereka dari rumah, tiada lagi senyum yang tercetak di wajahnya. Semua hanya tentang ambisi, pencapaian, dan kebanggaan. Mengingat wajah si mungil membuat kerinduan menggelegak di dada Adi, ditambah lagi si kembar yang kini semakin besar dengan wajah mereka yang sangat tampan perpaduan antara ia dan Hani.
“Apa kamu sudah memeriksakan kehamilan, Helen?” Linda membuka percakapan saat malam itu mereka selesai menikmati makan malam.
“Jangan khawatir, Ma. Bayiku baik-baik saja.” Helen mengusap perutnya yang belum terlalu tampak.
“Kamu sudah 2 kali keguguran. Di usia sekarang, rentan untuk hamil…” Linda berusaha menegaskan, karena yang ia amati Helen terlalu santai. Walaupun Adi sudah melarangnya untuk bekerja, tetapi ia masih sering keluar untuk janjian dengan teman sosialitanya.
“Yang tau kondisi itu, aku sendiri. Mama nggak usah sibuk ngatur.” Helen merasa kesal atas ucapan Linda. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamar tidur mereka yang berada di lantai atas.
“Lihatlah istri kesayanganmu. Udah 3 tahun, sikapnya tidak berubah, masih saja kasar tidak ada sopan santunnya dengan orangtua…” Linda mengeluh. Ia benar-benar pusing menghadapi Helen, tidak ada ketenangan selama mereka tinggal bersama. Padahal selama ini ia selalu mendukung Helen dan sangat membanggakan Helen pada rekan-rekannya maupun teman reuni SMAnya.
Adi tercekat. Ia teringat sosok Hani. Selama ini Hani begitu sabar dalam menghadapi kesombongan dan keangkuhan mamanya. Dia tidak pernah mengeluh, walaupun dalam keadaan hamil ia tetap melayani mertuanya dan suaminya, dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah ayunya.
Jika ia sedih, Adi hanya melihat sorot matanya yang sendu dan tak bercahaya. Ia tak pernah ada waktu untuk sekedar menanyakan apakah Hani sedang sedih ataukah bergembira. Yang ia tau hanya bekerja. Itu yang jadi prioritas dalam hidupnya.
__ADS_1