Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 120


__ADS_3

Faiq masih memeriksa berkas laporan yang di letakkan Rudi di atas meja. Siang itu Handoko sedang bertugas di luar kota melihat progress pembangunan cabang hotel syariah di kota Bandung.


“Bos, nampaknya asisten pak Handoko sudah mengundurkan diri,” ujar Rudi pelan sambil menyusun beberapa berkas yang sudah ditandatangani Faiq, “Ku dengar seminggu yang lalu ia sudah dilamar seorang duda. Dan akan menikah akhir bulan ini.”


“Siapa?” Faiq bertanya dengan tangan yang masih sibuk menandatangi berkas yang sudah selesai ia periksa.


“Bu Latifa,” jawab Rudi santai, “Tiga hari yang lalu ia menghadap bagian HRD. Apa bos menolak cintanya?”


Faiq menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan unfaedah Rudi. Ia pun enggan menanggapi pertanyaan Rudi.


“Walau udah tua, masih banyak yang senang dengan bos. Duren sawit. Duda keren, sarange duwit.” Rudi berkata sambil cengengesan.


Faiq memandang Rudi sekilas, senyum terbit di wajahnya. Tanpa berkomentar ia melanjutkan menandatangani berkas.


“Apa bos nggak kepingin menikah lagi? Sudah empat  tahun lho bos menduda. Apa nggak takut karatan?”


Faiq menatap tajam pada Rudi yang mulutnya seperti cabe. Tapi memperkerjakan Rudi membuatnya sangat terbantu. Rudi sangat memahami ritme kerjanya. Dan tingkahnya yang konyol menjadi hiburan sendiri bagi Faiq di saat ia benar-benar suntuk.


“Banyak laki-laki di luaran sana yang memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap pasangan mereka yang telah pergi. Begitupun aku. Anak-anak adalah sumber kebahagiaanku. Ariq dan Ali sudah mulai kuliah. Aku harus bisa mempersiapkan keduanya untuk melanjutkan usaha almarhum bang Tama, untunglah mas Bimo dapat diandalkan. Dia memang pekerja keras. Walau terkadang gaya hidupnya yang membuatku khawatir. Semoga ia segera menemukan jodoh yang terbaik untuknya.”


Rudi terdiam mendengar perkataaan Faiq. Ia tau, kalau sudah menceritakan keenam anaknya maka Faiq akan bersemangat. Segenap hati dan jiwanya hanya memikirkan tumbuh kembang putra-putrinya.  Bahkan ia rela meninggalkan rapat jika mendapat telpon dari Marisa jika ada hal yang menyangkut anak-anaknya atau sekedar rapat orang tua siswa di sekolah.


“Hasya baru kelas 2 SMA. Fatih dan Khaira juga akan tamat SMP, sedangkan Junior akan naik kelas 5 SD.”  Mata Faiq berkaca-kaca saat mengucapkan itu, “Jika aku menikah, aku nggak akan bisa memantau perkembangan mereka. Merekalah cahaya hidupku.”


Rudi tinggal manggut-manggut mendengar perkataan Faiq. Ia sudah tak bisa lagi menyela. Ia juga tau kalau Latifa mencintai bos mereka, karena ia juga turut andil saat malam itu Latifa bisa berada di dalam ruang kerja Faiq.


Niatnya sih baik, ingin agar Faiq membuka hati dan dapat melupakan Hani untuk memulai hidup baru dengan perempuan yang sudah mencintainya sejak lama. Tapi apa daya, Faiq tidak tertarik dan tetap kokoh dengan keyakinannya.


“Bos memang papa teladan dan dapat diandalkan. Almarhumah mbak Hani pasti bangga  melihat bos berhasil mengantarkan anak-anak mencapai cita-cita mereka.”


“Aamiin, terima kasih Rud. Kamu selalu jadi teman terbaik untukku,” puji Faiq tulus.

__ADS_1


 


 


Pagi itu Ariq terbangun begitu azan Subuh sudah berkumandang. Ia langsung mengambil wudhu dan keluar kamar. Ali beserta Fatih dan Darmawan sudah menunggu karena mereka akan salat berjama’ah ke masjid.


“Papa kemana belum kelihatan?” Fatih memandang sekelilingnya belum melihat sosok Faiq di antara mereka.


“Mungkin papamu terlalu capek. Opa rasa tadi malam jam 10 baru kembali dari kantor. Biar papamu salat di rumah aja. Yok, keburu  di masjid sudah iqamat …. “ Darmawan menggiring cucu-cucunya untuk segera ke masjid.


Darmawan, Marisa dan keenam cucunya sudah siap di meja makan untuk menikmati sarapan pagi tapi sosok Faiq belum hadir di antara mereka.


“Kakak …. “ Marisa memanggil Hasya yang mulai menyendok nasi goreng ke piringnya, “Panggil papa gih, sampai sekarang belum nampak. Jangan-jangan masih ketiduran. Papamu itu, kalau udah kerja sampe lupa waktu.”


“Baik oma.” Dengan senyum lebarnya Hasya berjalan menuju kamar Faiq yang terletak paling depan.


“Pa, papa … sudah ditunggu sarapan ….” panggil Hasya dengan pelan sambil mengetuk pintu kamar.


“Ih, papa jam segini masih tiduran aja. Udah siang juga kalee ….” Hasya tersenyum kecil terus mendekati tempat tidur.


Tidak ada pergerakan sedikit pun dari tempat tidur. Hasya memandang papanya yang masih diam di tempat tidur. Biasanya cukup dipanggil sekali Faiq langsung bereaksi.


“Papa ….” Hasya memanggil lebih kencang dari biasa, tapi belum ada gelagat bahwa Faiq akan bangun.


“Oma, opa, kenapa papa tidak menjawab?” teriakan kencang Hasya membuat semua yang berada di ruang makan datang memenuhi ruang kamar Faiq.


Marisa tergugu di samping tempat tidur Faiq saat Darmawan membuka selimut. Tampak wajah Faiq tersenyum teduh dengan posisi tangan dalam keadaan qiyam.


Sesaat Darmawan merasa dejavu, mengingat sosok almarhumah menantunya. Dengan cepat ia meletakkan jemari di hidung Faiq untuk memastikan perasaannya. Ia segera menghubungi dr. Agus yang rumahnya masih satu kompleks dengan tempat tinggal mereka.


Sepuluh menit kemudian dr. Agus sudah tiba di kediaman mereka. Begitu dia memeriksa nadi dan pernafasan Faiq, dr. Agus menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Innalillahi wainnailaihi rojiun …. “ Darmawan berkata dengan lirih.


Marisa terhenyak tak mampu berkata apa pun. Anak lelaki kebanggaannya terlebih dahulu meninggalkan mereka semua. Sontak saja keheningan menjadi duka. Tangisan menyayat hati Hasya serta Khaira memecah kesunyian yang terjadi.


Suasana rumah yang tadinya sepi kini mulai ramai dengan tamu yang berdatangan bertakziyah. Berita kepergian Faiq yang tiba-tiba mengejutkan semua orang, baik dari keluarga dekat, rekan kerja hingga klien di perusahaan. Teman sekantornya saat bekerja di pengadilan agama juga datang untuk menyampaikan turut berbela sungkawa atas kepergian Faiq.


Rudi membuka kain untuk melihat sosok bos sekalian teman dekatnya itu. Wajah tampan Faiq kelihatan bersih dengan senyum tersungging di bibirnya.


“Anda senang akan bertemu  dengan sang bidadari yang begitu anda rindukan, bos.” Rudi bergumam dalam hati sambil  menutup kain ke wajah Faiq. Hatinya mencelos merasakan kesedihan yang tiba-tiba menyergap di dadanya.


Faiq adalah bos terbaik yang ia kenal. Selama mereka menjadi rekan kerja, bahkan hingga ia menjadi anak buahnya, sudah terlalu banyak kebaikan yang dilakukan Faiq, tidak hanya kepadanya tapi siapa pun yang memerlukan bantuannya, tanpa segan dan pilih kasih ia membantu mereka.


Di pemakaman Darmawan, Marisa dan keenam cucunya masih khusu’ mendoakan kebaikan untuk almarhum Faiq yang kini telah disemayamkan berdampingan dengan almarhumah istrinya.


Marisa menghapus tetesan air mata saat menaburkan bunga. Dadanya terasa sempit, sehingga untuk bernafas pun terasa sakit. Ia harus kuat, cucu-cucunya masih memerlukan bimbingannya. Kepergian Faiq adalah takdir yang harus mereka jalani. Mungkin sudah sampai di sini batas yang telah ditetapkan Allah untuknya.


Darmawan menepuk pundak istrinya. Ia mengetahui kedukaan yang tergambar jelas di wajah istrinya.


“Lihatlah cucu-cucu kita. Mereka begitu tabah menghadapi kepergian papanya. Jangan sampai melihat kita membuat mereka menjadi lemah. Kita lah sumber kekuatan mereka. Faiq telah mendapatkan kebahagiaannya. Dia telah tenang di alam sana.” Darmawan berkata pelan sambil menggenggam jemari istrinya.


Marisa mengangguk lemah. Ia segera bangkit mengikuti langkah suaminya. Keenam cucunya mengikuti langkah mereka menuju mobil yang terparkir di kompleks pemakaman. Sesekali ia menoleh ke belakang, berusaha membuang kesedihan yang masih memberatkan hati dan pemikirannya.


Kini tatapan Marisa kembali ke depan. Ia memandang keenam cucunya yang berjalan berdampingan. Ariq dan Ali  kini mulai dewasa. Tanggung jawab keduanya tidak ringan. Sepulang kuliah mereka harus mengikuti Bimo untuk memulai mempelajari bisnis yang ditinggalkan almarhum ayah mereka.


Keduanya sangat bertanggung jawab. Tidak hanya dalam urusan sekolah, di dalam pekerjaan pun mereka dapat diandalkan. Hanif juga turut membantu Bimo dalam mengawasi kedua ponakannya. Sedangkan Hasya menjadi pribadi yang ceria. Ia selalu jadi kesayangan Linda. Ia lebih dekat dengan eyangnya, karena Linda selalu memanjakannya. Tapi Hasya tetap dalam koridor yang bisa bertanggung jawab.


Untuk ketiga putra-putri almarhum Faiq, Marisa dan Darmawan begitu mengawasi dengan ketat. Karena ketiganya masih usia belia. Dan Darmawan tidak ingin memanjakan ketiga cucunya dengan materi semata. Ia ingin mereka mandiri dan belajar hidup sederhana, serta selalu bersyukur dan tak lupa berbagi seperti yang selalu dilakukan almarhum papanya.


Darmawan menutup malam itu dengan bersujud di tikar sembahyangnya, meminta kepada Yang Kuasa untuk selalu memberikan kesehatan dan umur yang berkah agar mampu mendampingi cucu-cucunya menjadi orang yang berguna sesuai keinginan kedua orang tua mereka.


 

__ADS_1


 


__ADS_2