Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 153 S2 (Berusaha Mencari)


__ADS_3

Sudah tiga hari Ivan kembali ke Indonesia. Tempat pertama yang ia tuju tentu saja kafe Abbas. Ia yakin Khaira berada di sana. Ia tak bisa membohongi perasaannya yang kini merasakan kerinduan.


Pandangan Ivan mengitari ruangan kafe berusaha mencari sosok yang ia cari. Ari yang kebetulan baru keluar dari pantry melihat Ivan yang berdiri tegak mengamati suasana di dalam kafe.


“Selamat pagi tuan,” sapa Ari dengan sopan, “Ada yang bisa saya bantu?”


“Aku ingin bertemu Rara,” jawab Ivan singkat.


Ari mengernyitkan jidatnya. Ia merasa heran, karena selama ini ia tidak pernah melihat kedekatan antara keduanya. Dan tiba-tiba hari ini lelaki itu datang  untuk mencari nyonya bos, ada apa gerangan?


“Maaf tuan. Mbak Rara nggak ada di tempat.”


Ivan menghela nafas dengan perasaan kecewa, karena apa yang ia inginkan tak sesuai dengan kenyataan. Ia menatap Ari dengan tajam.


“Aku ingin tau alamat di mana ia tinggal. Bisa kau berikan alamatnya padaku?”


Ari terdiam. Ia ingat percakapan terakhir mereka di saat Khaira mengingatkan agar menutup akses dirinya pada siapa pun yang mencarinya.


“Yang saya dengar terakhir beliau bepergian ke luar negeri.” Akhirnya Ari memberi alasan kuat, karena Khaira memang  sempat chat pada Rani kalau ia akan ke Paris selama satu minggu.


“Kalau Rara datang kemari cepat beritahu saya.” Dengan cepat ia memberikan kartu namanya di tangan  Ari.


“Baik tuan.” Ari mengganggukkan kepala dengan cepat.


Ivan berlalu dari hadapan Ari dengan perasaan kecewa. Perasaan hangat yang sempat hinggap di hatinya saat memasuki kafe Abbas sirna seketika. Dengan langkah lunglai ia kembali ke mobil. Hari ini ia sengaja membawa mobil sendiri tidak bersama Roni. Ia belum siap mengatakan kepada Roni tentang perasaannya pada janda Abbas.


Sesampainya di kantor  dan memasuki ruangannya, Ivan menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia merasa kesal sendiri, tidak bisa menemui perempuan yang telah mengikat hatinya. Jangankan alamat, fotonya saja ia tak punya apalagi nomor ponselnya. Ivan memejamkan mata berusaha mengingat kembali kenangan di malam ia telah memiliki Rara seutuhnya.


Senyum kembali terbit di wajahnya. Bagaimana ia bisa melupakan kenangan indah yang selalu jadi mood bosternya saat keinginan lain tak terpenuhi. Mata bening, bibir penuh, dan  kulit mulus seperti porselen. Tiba-tiba Ivan teringat satu hal.


“Apakah Abbas tidak pernah menyentuhnya?” Ivan menggelengkan  kepala setelah menyadari bahwa dialah orang pertama yang memiliki kehormatan Khaira.


Putaran kejadian malam itu bermain di benak Ivan, seolah ia menonton secara live dari televisi. Ia tersenyum sendiri membayangkan perlawanan yang dilakukan Khaira saat berusaha menolaknya.


“Selamat siang tuan,” sapaan lembut menghentikan pengembaraan Ivan dalam dunia khayalannya.


Gisel sudah berdiri di hadapannya dengan senyum menawan. Parfum yang ia gunakan menguar membuat siapa pun yang terhirup akan merasakan hangat bahkan panas, karena ia sengaja memilih parfum yang biasa digunakan untuk meningkatkan gairah bagi penggunanya maupun orang yang terhirup aromanya.


“Apa jadwal saya siang ini?”  Ivan tak terlalu memperhatikan Gisel, karena ia merasa terganggu karena kedatangan Gisel telah menghancurkan khayalan yang indah kebersamaannya dan Khaira.


“Tuan  Adam dari Grand Permata ingin bertemu anda untuk penandatangan kerja sama pembuatan iklan property perumahan tepat jam 3 sore,” Gisel berusaha mendekatkan diri pada Ivan dengan menundukkan tubuhnya sehingga bodynya yang aduhai tampak jelas dengan sesuatu yang menyembul di balik blouse tipisnya.


“Kalau sudah selesai, tolong tutup pintu dan jangan ada yang mengganggu kesibukan saya hingga jam 3 sore,” Ivan langsung membalik kursi dan membelakangi Gisel.

__ADS_1


Melihat perbuatan bosnya membuat Gisel kesal. Entah sampai kapan bosnya bisa melihat kehadiran dirinya. Haruskan ia mulai merendahkan diri untuk menggaet sang Ceo ganteng tersebut sebelum janur kuning melengkung?


Gisel keluar dengan perasaan kesal karena belum mampu menggoyahkan hati bosnya untuk sekedar melirik dirinya apalagi untuk berbagi kehangatan, sangat jauh panggang dari api. Dengan kesal Gisel menutup  pintu.


Ivan teringat dengan Hari. Ia tahu saudara Hari seorang ahli IT terkenal yang bekerja mandiri. Tenaganya biasa digunakan untuk membuat pengamanan tingkat tinggi pada perusahaan besar. Selain itu, ia ingin Hari bekerja khusus untuknya mencari dan menyelidiki kediaman Rara, perempuan muda yang kini telah sepenuhnya mengisi hatinya. Dalam waktu 10 menit Hari sudah berada di dalam ruangannya. Ia merasa heran, karena tidak biasa bosnya itu memanggil dia ke ruang kerja Ivan.


Hari mengangguk dengan hormat begitu tiba di hadapannya. Ivan segera memintanya untuk duduk.


“Apa yang bisa saya lakukan untuk anda tuan?” Hari menatap Ivan dengan bingung.


“Mulai hari ini kamu tidak usah ke kantor lagi?”


Hari menatap Ivan bingung. Apakah ia dipecat? Tapi apa kesalahannya? Rasanya ia sudah bekerja dengan baik dan sangat hati-hati.


“Apa kesalahan saya sehingga anda memecat saya?” Hari bertanya dengan raut sedih.


Ivan tertawa mendengar pertanyaan Hari, “Siapa yang memecatmu?”


Hari menatap bosnya dengan raut tak mengerti, “Lantas kenapa saya tidak boleh datang ke kantor?”


Ivan langsung menyampaikan keinginannya pada Hari untuk mencari informasi tentang Rara pemilik kafe Damai Bersama. Ia juga meminta Hari menghubungi saudaranya yang bernama Yoga untuk membantunya mencari informasi secepatnya.


“Apa bos memiliki fotonya?” Hari mulai tertarik mendengar job khusus yang diberikan Ivan padanya.


Ivan menggelengkan kepala cepat, “Justru karena itulah kau ku pekerjakan. Ini hanya antara kau dan aku. Rahasia kita berdua.”


Begitu Hari keluar ruangan, Ivan dapat bernafas dengan lega. Ia ingin kembali berlayar ke alam lamunan mengingat kembali peristiwa yang sudah ia alami bersama Rara sebagai pengobat rindu di saat waktu belum berpihak padanya.


Sudah dua minggu Khaira mengurung diri di rumah. Ia masih enggan untuk keluar, jika ada hal yang berkaitan dengan Kara Jewellery, Andini lah yang datang ke rumah memberikan laporan serta penandatanganan perjanjian bersama para pengrajin berlian.


Ia masih tidak ingin bertemu siapa pun. Untuk ke kafe Abbas ia belum memiliki keberanian, ia masih khawatir bertemu dengan orang yang telah merampas kehormatannya secara paksa. Ia membaca laporan kafe hanya dari email yang dikirim Ari secara rutin.


Sementara itu Ivan semakin pusing karena tugas yang ia berikan pada Hari masih belum berjalan. Dengan tak sabar Ivan meminta Hari menemuinya untuk melaporkan sampai di mana progres pekerjaan yang ia lakukan.


“Ngapain lu kemari?” Roni merasa heran melihat Hari yang tampak cemas memasuki ruang bosnya.


“Lagi ada kerjaan dikit,” jawab Hari cepat.


“Eh, lu nggak ngajak gue? Kita nggak temenan lagi?” kejar Roni.


Ia dan Hari memang rekan kerja, hanya beda tempat. Tetapi keduanya cukup dekat, hanya Roni lebih lurus jalannya, sedangkan Hari  masih suka bermain-main dengan perempuan. Dan untuk urusan beginian Ivan lebih cocok dengannya.


“Ini beda men, masalah hidup dan mati gue.”

__ADS_1


“Emang malaikat maut udah kirim chat ke lu?”


“Ah payah ngomong dengan lu mah. Gue cabut. Ntar di kirim bos Ivan ke Afrika kelamaan ngomong dengan lu.” Hari ngeloyor meninggalkan Roni yang terpaku menatap kepergian Hari.


“Bos mah sadis.” Gisel berkata sekenanya di depan Roni.


Ia dari tadi mendengar perbincangan kedua lelaki tampan itu tanpa dipedulikan seolah dia hanya obat nyamu diantara keduanya.


“Emangnya lu diapain sama bos?” Kini Roni menatap Gisel yang tampak kesal sambil menghempaskan dokumen di hadapannya.


“Aku udah berusaha kerja yang baik, tapi nggak pernah dikasi penghargaan.”


“Emang lu nya mau dihargain berapa?” Roni menatap Gisel dengan bingung.


Ia jadi heran, hari ini semua percakapan serba ambigu semua. Otaknya yang lurus susah memahami apa yang tersirat dari semua yang ia dengar hari ini.


“Kamu mah muka soleh, nggak perlu tau apa yang ku omongin.” Gisel menatap Roni semakin kesal. Tak ingin melayani Roni panjang lebar akhirnya Gisel pergi ke pantry untuk membuat minuman.


Ivan menatap Hari dengan tajam begitu asistennya itu duduk di hadapannya dengan wajah tegang.


“Sudah 10 hari sejak aku memanggilmu. Sampai hari ini belum ada laporan sama sekali. Apa yang terjadi?”


“Yang ini sulit bos,” Hari berkata dengan raut khawatir melihat muka Ivan yang kecut.


“Sulit bagaimana? Ku dengar sepupumu yang terbaik dalam bidang IT. Keahliannya dalam meretas program untuk mencari info sudah tidak diragukan lagi.”


“Tampaknya perempuan yang bos cari bukan orang sembarangan. Saya dan Yoga susah mencari akses tentang dirinya.”


“Kerjaan segampang itu saja sulit bagi kalian. Kamu sendiri, sampai detik ini belum bisa menemukannya. Lalu apa yang kamu lakukan?”


“Saya tiap hari nongkrong di kafe itu. Tapi tidak penah mendengar atau melihat perempuan yang bos ceritakan.”


“Bagaimana karyawan di kafe itu, apa sudah kamu tanya?” Ivan semakin penasaran mendengar perkataan Hari.


“Mereka tutup mulut bos,” ujar Hari cepat.


Ivan menggelengkan kepala tak percaya. Untung saja ia meminta Edward mengirim file cctv selama kegiatan berlangsung di hotel miliknya, sehingga melihat video yang dikirim mampu mengobati kerinduan pada sosok yang seperti hilang di telan bumi.


“Tetap cari dan ikuti. Jangan melapor sebelum ada berita bagus yang ku inginkan. Melihat wajahmu membuat mataku sakit.”


“Dasar bos tak punya perasaan,” batin Hari dalam hati.


Dengan cepat ia keluar dari ruangan yang membuat pikirannya terasa buntu. Bekerja dengan Ivan memang menyenangkan baginya. Selain gaji dan fasilitas yang didapat, ia bisa bermain dengan model serta artis yang ada di bawah naungan manajemen New Stars Corp.

__ADS_1


 


Dukung terus ya, vote, kritik, saran dan like.  Selamat mengikuti terus perjalanan cinta Ivan dan Khaira ...


__ADS_2