
“Mas, jangan begini .... “ Khaira berusaha menahan wajah Ivan yang semakin dekat.
Mata Ivan berkilat dengan penolakan Khaira. Baru kali ini Khaira menahan hasratnya yang sudah naik ke kepala.
“Kau menolakku karena Fahri?” akal sehat Ivan seperti lenyap melihat kedekatan Fahri dan istrinya apalagi saat melihat Fahri menolong Khaira yang hampir jatuh, “Aku tidak menyangka kalian berjanji di tempat bahkan dengan pakaian yang sama.”
Dengan sekali tarikan Ivan melepas jilbab Khaira, membuat Khaira merasa kesal atas sikap Ivan yang semaunya jika telah dikuasai amarah.
Khaira mendorong tubuh Ivan dengan kuat, tanpa mempedulikan kegeraman suaminya atas sikap kasarnya. Ia bangkit dari pembaringan tanpa melihat wajah Ivan yang memandangnya dengan perasaan marah. Khaira melepas baju sari yang dipakainya hingga menyisakan dalaman. Kemudian ia kembali ke tempat tidur menghampiri Ivan yang menatapnya tak berkedip. Ia langsung duduk di sisi tempat tidur.
Ivan menelan ludah melihat Khaira dengan santai duduk di hadapannya. Pemandangan indah yang tersaji di depan matanya membuat Ivan tak bisa menahan diri. Tangannya meraih tengkuk Khaira.
“Sekarang katakan keinginan mas Ivan?” Khaira mencoba tarik ulur dengan suaminya, “Aku ingin mas melakukannya tanpa melibatkan emosi dan amarah.”
“Kau benar-benar membuatku gila,” Ivan tak sabar ingin mengarungi telaga merah merekah yang benar-benar menguji imannya, “Aku cemburu melihatmu bersama Fahri. Apa kalian sengaja berjanji datang kemari. Bahkan dandananmu ....?”
Ivan menatap wajah istrinya tanpa berkedip. Walau pun tanpa polesan, ia akui wajah Khaira begitu ayu saat dipandang. Tak bosan dirinya melihat kecantikan alami yang terpancar di wajah istrinya. Apalagi dengan make up yang terpasang sempurna di wajahnya hingga ia sendiri pun nyaris tak mengenali Khaira.
Khaira menahan tangan Ivan dengan kekuatan penuh. Tangannya sebelah kiri meraih selimut dan menutupi tubuhnya. Ia melihat Ivan mulai menarik nafas dengan cepat.
Ivan menarik selimut yang menutupi pemandangan yang menyegarkan matanya dengan sekali tarikan. Tapi pergerakannya telah diantisipasi Khaira sehingga ia tak berhasil menarik selimut yang menutup sebagian tubuh istrinya.
“Aku sudah mengingatkan mas sejak pagi bahwa malam ini ada undangan resepsi mbak Irene dan mas Rama. Sudah berapa kali aku hubungi nggak nyambung-nyambung. Semalaman ini aku terus berbohong untuk menutupi ketidak hadiran tuan Alexander Ivandra pada tante Indah dan Irene,” ujar Khaira sinis. “Emang semalaman suntuk bawa Bryan kontrol?”
Ivan tertegun. Pikirannya melayang beberapa saat yang lalu, saat ia meninggalkan Claudia dan Bryan di foodcourt untuk melaksanakan salat Magrib, ponsel sengaja ia tinggalkan di atas meja.
Dengan cepat ia bangkit meraih ponsel di dalam saku jas yang sudah ia lempar di atas sofa. Ia membuka ponsel dan melihat lima kali panggilan dari my angle. Ia memandang wajah Khaira yang masih menatapnya sinis.
“Maafkan aku,” Ivan mulai merendahkan suaranya. Ia tau semua kesalahannya karena terlalu menuruti keinginan Claudia hingga beberapa kali melewatkan janji bersama Khaira.
“Teruslah bersikap seperti itu,” sindir Khaira ketus, “Aku akan menulikan telinga dan memejamkan mata jika bertemu kalian bertiga entah itu di mall, atau pun di tempat lain.”
Ivan terpaku mendengar perkataan Khaira. Ia tau, selama ini tidak pernah berterus terang dan melibatkan Khaira saat membawa Bryan kontrol, semuanya langsung di-handle Claudia. Ia yang sudah berjanji untuk pergi bersama Khaira, dengan seenaknya Claudia merubah jadwal dan meminta ikut bersama, dengan alasan ibu kandung Bryan-lah yang lebih tepat mendampingi saat membawa putranya bertemu dr. Farel.
Ivan tidak mempermasalahkan alasan Claudia, apalagi Khaira tidak pernah secara langsung memprotes tindakannya. Ia selalu beralasan demi kesembuhan Bryan sehingga menyepelekan perasaan sang istri.
Khaira segera merebahkan dirinya di pembaringan, menutup tubuhnya hingga kepala dengan selimut hingga. Drama yang terjadi malam ini benar-benar melelahkan. Ia tidak mungkin kembali ke rumah dengan kondisi seperti ini. Apa lagi pakaiannya sudah tidak berbentuk karena emosi tak dan kecemburuan tak berdasar Ivan membuat gaun sari-nya kehilangan bentuk.
“Yang .... “ Ivan terpaku melihat Khaira yang sudah membelakanginya dan menutup dirinya hingga tak terlihat.
Dengan cepat Ivan menyusul istrinya ikut masuk ke dalam selimut. Senyum tercetak di sudut bibirnya begitu memeluk tubuh hangat ramping yang membelakanginya tak bergerak. Ia menghujani kecupan di pundak mulus Khaira.
“Aku lelah menjalani drama seharian ini. Biarkan aku tidur,” ujar Khaira dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Melihat Khaira yang tak terpancing dengan sentuhan-sentuhan yang ia berikan, membuat Ivan mengalah. Kali ini ia akan menuruti keinginan istrinya, tapi lihat saja tiga empat jam ke depan, ia tidak bisa janji.
Pandangan Ivan lurus ke atas menatap plafon kamar president suite itu. Matanya tak bisa terpejam. Pikirannya bekerja mengingat apa yang telah ia lakukan seharian ini. Yang benar-benar ia sesali bahwa ia telah melupakan undangan tante Indah yang masih ada kaitan keluarga dengannya.
Hari sudah mengingatkannya sejak awal agar tidak melibatkan Claudia saat kontrol kesehatan Bryan. Seharusnya ia membawa Khaira ikut bersama mereka. Ia pun menyadari bahwa hubungan Bryan dan Khaira sudah terjalin dengan baik.
Khaira telah banyak mengorbankan perasaannya dalam menjalani rumah tangga bersama dirinya. Ia dengan setulus hati telah membantu merawat Bryan kurang lebih 4 bulan kebersamaan mereka.
Memang Claudia jarang menginap di rumah mereka, kecuali malam Minggu hingga Senin Claudia selalu ada di rumah mereka dengan berbagai drama yang ia mainkan. Bagi Ivan semuanya tidak berdampak. Claudia sudah tidak memiliki tempat di hatinya. Prioritasnya sekarang adalah kesehatan Bryan. Ia menginginkan semua yang terbaik bagi Bryan putra satu-satunya yang ia miliki.
“Hmm .... “ Ivan menghela nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.
Tatapannya beralih pada jam dinding yang telah menunjukkan pukul 12 malam. Senyum lebar langsung terbit di wajahnya. Ia rasa telah memberikan waktu yang cukup untuk Khaira mengumpulkan tenaganya yang terkuras seharian ini.
Tanpa membuang waktu Ivan langsung membalik tubuh istrinya dan mulai melancarkan aksinya untuk berbagi kehangatan dengan sang istri di kamar yang sengaja ia sewa untuk menghabiskan malam bersama.
__ADS_1
Claudia merasa senang karena sudah menemukan jalan untuk membuat Ivan membenci Khaira. Ia tau, sudah tidak ada sedikit pun perasaan Ivan yang tersisa untuknya. Tapi karena Bryan, ia yakin Ivan akan mempertaruhkan rumah tangganya demi anak satu-satunya yang ia miliki.
Setelah sarapan pagi bersama, Ivan langsung ke kantor. Khaira mengantar suaminya hingga ke beranda seperti biasa. Semenjak kehadiran Bryan dan Claudia di rumah, ia memang mengurangi aktivitasnya di kafe maupun di gerai. Ia masih ingin mengakrabkan diri dengan Bryan.
Perhatian serta kelembutan Khaira membuat Bryan mulai menerima keberadaannya. Keduanya terkadang terlibat perrcakapan yang cukup menyenangkan. Tapi justru melihat keakraban yang terjadi antara putranya dan Khaira membuat Claudia gusar.
Ia tau, tidak ada jalan untuknya mendapatkan Ivan. Tetapi dengan memperalat Bryan ia yakin hati Ivan akan goyah. Dan ia sudah mempunyai rencana matang untuk itu.
Claudia menyaksikan dari kejauhan saat Khaira dan Bryan bercakap-cakap dengan santai di taman samping rumah.
Senyum tulus yang terpancar di wajah Khaira membuat Claudia merasa panas. Ia tau, beberapa kali Bryan membicarakan Khaira dan memujinya sebagai perempuan yang baik dan tulus.
“Aunty Rara perempuan baik. Aku senang berbincang dengannya …. “ perkataan Bryan dua hari yang lalu benar-benar membuat Claudia memeras otaknya.
“Dia telah merebut daddy-mu dari mommy. Apakah perempuan seperti itu dikatakan perempuan baik?” Claudia menatap Bryan tidak senang.
“Bukankah mommy juga pernah menikah dengan daddy Paul?” Bryan menatap Claudia dengan bingung, “Bukan salah aunty. Aku senang melihatnya bersama Daddy. Mereka berdua sangat menyayangiku.”
“Bryan …. “ Claudia kembali meracuni pikiran putranya, “Tidakkah kau ingin mempunyai keluarga yang hanya ada kita. Bryan, daddy dan mommy tanpa ada orang lain di dalamnya.”
Bryan menatap Claudia dengan bingung. Selama ini ia tinggal bersama grandma yang telah merawat dan membesarkannya hingga berumur 9 tahun. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang yang lengkap dari seorang ayah atau pun ibu.
“Jika daddy dan aunty Rara memiliki anak, mereka pasti lebih menyayangi anak mereka dari pada Bryan.”
“Apakah itu benar mommy?”
Claudia mengangguk dengan yakin, “Daddy menyayangimu, tapi dia juga menyayangi aunty Rara. Perasaan mereka akan berubah padamu jika memiliki anak sendiri.”
“Aku ingin kita bersama daddy tanpa orang lain,” suara Bryan membuat kepercayaan diri Claudia meningkat.
Ia baru saja mengetahui rahasia besar yang disembunyikan Ivan terhadap istrinya. Jika Khaira mengetahuinya, mungkin perasaannya terhadap Ivan akan berubah, dengan demikian keinginannya untuk kembali bersama Ivan akan segera terwujud.
Senyum Claudia langsung terbit mendengar perkataan Bryan. Ia akan berusaha mewujudkan keinginan Bryan walau harus menggenggam bara di tangannya.
“Aunty, aku ingin melihat kolam renang.”
“Jangan Bry … aunty tidak ingin terjadi apa-apa padamu,” Khaira tidak ingin menuruti keinginan Bryan yang begitu bersemangat melihat birunya air di kolam renang, “Kalau Bryan sudah sehat, aunty ingin mencarikan guru privat yang akan mengajarkan Bryan berenang.”
“Aunty …. “ Bryan menatap Khaira dengan mata berkaca-kaca.
Melihat keinginan Bryan yang besar untuk mendekati kolam renang membuat Khaira tidak tega. Dengan pelan ia mendorong kursi roda Bryan hingga berjarak satu setengah meter dari kolam.
“Sini cukup ya …. “ Khaira tersenyum sambil mengelus pundak Bryan penuh kasih.
“Terima kasih aunty,” Bryan merasa senang melihat air yang membiru di hadapannya, “Kapan-kapan aku ingin bermain di dalammnya.”
Khaira mengganggukkan kepala tersenyum sambil membelai pundak Bryan. Hatinya sangat tersentuh melihat ketabahan Bryan dalam menghadapi penyakit Leukimia yang bersarang di tubuhnya.
Tanpa keduanya sadari, tiba-tiba Claudia datang dengan cepat. Khaira tidak bisa menahan ketika kursi roda yang diduduki Bryan terdorong dengan kuat.
“Bryan .... “ Ivan tersentak melihat kursi roda Bryan meluncur ke dalam kolam renang.
“Bry …. “ Claudia menatap Khaira dengan penuh kemarahan, “Apa yang kamu lakukan pada anakku?“
Khaira terpaku tak percaya kursi roda Bryan meluncur masuk ke kolam renang. Ia tidak merasa mendorongnya. Malahan tangannya menahan kursi, tapi ada kekuatan lain yang tak mampu ia lawan sehingga kursi roda melaju dengan cepat.
“Byur …. “
Tanpa pikir panjang Ivan langsung menerjunkan diri ke kolam renang untuk menyelamatkan Bryan yang kini terjebak dan hampir lemas di dalam air.
__ADS_1
Setelah berhasil mengangkat Bryan tanpa mempedulikan keberadaan Khaira, dalam keadaan basah kuyup Ivan langsung melarikan Bryan ke rumah sakit. Ia tidak ingin terjadi sesuatu apa pun pada putra satu-satunya.
Claudia menyusul Ivan sambil melirik Khaira sinis. Ia berjalan sambil membusungkan dada saat melewati Khaira.
“Sekaranglah detik-detik kebersamaan kalian. Lihat saja, Alex akan segera meninggalkanmu,” ujar Claudia dengan tatapan meremehkan.
Khaira tercekat. Ia dapat melihat perubahan wajah Ivan saat menatapnya. Ada sorot penuh amarah ketika ia menyeburkan diri ke kolam renang untuk menyelamatkan Bryan. Hingga mereka membawa Bryan ke rumah sakit, Ivan tidak berkata sepatah pun padanya.
Semalam-malaman Khaira menunggu kepulangan Ivan. Tapi jangankan orangnya, Ivan pun tidak menghubunginya. Khaira pasrah menyerahkan semua nasibnya kepada Yang Kuasa.
Pagi itu ketika Khaira sedang mempersiapkan sarapan pagi seperti biasa, Ivan kembali dengan wajah datar tak bersahabat. Ia berjalan menghampiri Khaira yang masih sibuk menata hidangan di meja makan.
“Aku tidak menyangka kau tega melukai putraku satu-satunya,” Ivan menatap Khaira dengan tajam.
“Apa maksudmu mas?” Khaira terkejut melihat Ivan sudah berdiri di hadapannya.
“Selama ini aku berharap kamu bisa menerima Bryan dalam rumah tangga kita, karena dia adalah darah dagingku,” Ivan berkata dengan sinis, “Ternyata aku salah.”
“Mas, kamu salah paham. Aku tidak melakukannya .... “ Khaira berusaha membela diri, karena ia memang tidak melakukan apapun yang membahayakan kondisi Bryan yang memang tidak baik.
“Kau pikir aku tidak tau,” amarah Ivan sudah sampai ke ubun-ubun.
Tampaknya hasutan Claudia sudah merasuki pikiran jernihnya. Ia menatap Khaira dengan mata merah menahan kemarahan. Harapannya untuk bersama Khaira dengan membawa dan merawat Bryan bersama hingga dewasa tidak bakal terwujud.
“Aku sangat mencintaimu Rara. Tapi aku juga menginginkan anak yang sampai saat ini belum bisa kau berikan.”
Khaira tercekat mendengar ucapan Ivan. Ia menatap suaminya dengan nanar menunggu perkataan Ivan selanjutnya.
“Aku akan berjuang untuk kesembuhan putraku. Aku sanggup melepaskan semua yang ku miliki demi putraku satu-satunya.”
“Kita akan meujudkan itu bersama, mas. Aku akan menyayangi Bryan seperti putraku sendiri.”
Ivan menatap Khaira tanpa perasaan. Ia yang mencoba bertahan di tengah pernikahan yang sampai saat ini belum dikaruniai anak, tapi melihat perlakuan Khaira terhadap putra semata wayangnya membuat perasaannya kecewa.
“Aku akan melepasmu, “ ujar Ivan datar.
Amarah yang tertanam di dadanya membuatnya tega mengucapkan hal itu pada istri yang sangat ia sayangi. Claudia telah berhasil mencuci otaknya untuk membenci istri yang telah ia perjuangkan selama ini demi kebersamaan mereka.
“Kenapa kau setega ini mas? Bagaimana pernikahan kita? Rumah tangga kita?” air mata Khaira mengalir deras saat mengatakan itu.
Ivan tak mempedulikan perkataan dan tangisan istrinya. Hatinya telah beku. Keinginan untuk mempunyai anak serta kehadiran Bryan telah membuat perasaannya terbagi. Ditambah racun yang telah disebar Claudia membuat sempurna keinginan Ivan untuk pergi membawa Bryan dari rumah megah mereka.
“Aku akan membawa Bryan berobat. Aku tak peduli walau pun hartaku habis. Demi kesembuhan Bryan semua akan ku lakukan.”
Khaira memandang suaminya dengan perasaan sedih. Ia merasa ucapan Ivan adalah akhir dari hubungan mereka.
Ivan menatap Khaira datar, “Semua di rumah ini adalah milikmu. Aku tidak tau kapan akan kembali. Pengacaraku akan mengurus semua. Kalau pun aku kembali, mungkin semuanya akan berubah.”
“Apa maksud mas mengatakan ini?” Khaira berusaha meyakinkan pendengarannya. Ia harus kuat bahkan menghadapi resiko terburuk atas ikatan pernikahan mereka, “Apakah mas tidak memikirkan perasaanku?”
“Jangan membuatku semakin membencimu setelah apa yang telah kau perbuat pada anakku.”
Khaira menelan ludah dengan getir, “Aku menerima semua keputusanmu mas,” suara Khaira tercekat di tenggorokan.
Ia telah mencoba menahan Ivan dan membuatnya memikirkan perjalanan rumah tangga mereka yang baru berumur tiga tahun. Tapi bukan sifatnya untuk mengemis pada lelaki yang sudah tidak menginginkannya. Ia harus kuat. Ia harus mampu membuktikan bahwa tanpa Ivan pun ia mampu untuk menjalani hidup. Toh, ini bukan yang pertama kali ia alami.
“Jika suatu saat kita bertemu, anggap saja kita dua orang asing yang tak saling mengenal,” Ivan berkata datar tanpa perasaan.
Khaira menggigit bibir dan menekan dadanya yang terasa nyeri. Inilah akhir dari rumah tangga yang telah mereka lalui selama ini.
__ADS_1
Tanpa menoleh padanya Ivan melangkah dengan cepat menuju kamar Claudia yang membereskan semua pakaiannya dan Bryan.
Dengan nanar Khaira menatap kepergian suaminya yang membawa beberapa tas besar milik Claudia dan Bryan langsung memasuki mobil yang sudah menunggu untuk membawanya langsung ke rumah sakit.